
Nena memasuki kamarnya, dan disambut dengan tumpukan kardus besar yang dilapisi solasi, paket yang dimaksud adiknya, dan ternyata sebanyak ini.
"Dek! Yakin nih kurirnya nggak salah kirim barang?" Tanyanya pada sang adik yang masih saja menggosok motor kesayangannya itu. Dan setelah mendapatkan jawaban "mana gue tahu?" Yang sama sekali nggak memuaskan, Nena memilih menutup pintu dan mengecek isi kardus di hadapannya itu.
"Bukan bom kan ini?" Tanyanya pada diri sendiri, dan setelah kardus pertama terbuka, gadis itu kaget bukan main, isinya lima kotak berlogo merk sepatu, sama persis dengan miliknya yang nyemplung ke ember air butek.
"MasyaAllah!" Pekiknya, tangannya sedikit bergetar membuka kotak-kotak itu, dan isinya sama persis dengan yang tadi siang dicoba oleh kakinya. "Ini sih yang tadi siang gue cobain semua."
Kardus kedua berisi setelan baju kerja yang ia yakini harganya juga mahal. Beberapa kemeja dengan warna berbeda, rok span yang pasti tidak terlalu pendek, juga blazer dengan model yang tidak sama. Gadis itu teringat dengan seorang wanita berpakaian formal yang menemui Justin di toko sepatu.
"Jadi ini wanita yang kamu maksud?" ucapnya dan justin juga Nena menoleh, dengan santai Justin berdiri dari posisi berlututnya.
"Iya, tidak sulit bukan?" ujarnya yang Nena sama sekali tidak mengerti apa maksudnya, namun gadis cantik yang sempat mengenalkan diri sebagai manager Mall itu tampaknya cukup paham.
Dan kini Nena mengerti, atasannya itu pasti menyuruh dia untuk memilihkan baju-baju ini. Nena berdecak, entah mengapa dia merasa sedikit kesal.
Kembali dia membuka kardus terakhir dan isinya lebih mengejutkan lagi, satu set besar peralatan make up lengkap dengan sisir dan kaca, juga tidak ketinggalan sebuah alat yang Nena tahu ini untuk membuat rambutnya semakin terlihat cantik.
"Ni orang nyuruh gue buka salon apa gimana si?" Rutuknya dan langsung mengambil ponsel dan mengetikkan pesan pada bosnya yang aneh itu.
***
Di tempat lain, Justin yang memilih pulang kerumah orang tuanya disambut dengan keberadaan sang papa yang tidur di sofa ruang keluarga, pria paruh baya itu tidur dengan memeluk bingkai foto. Penasaran, perlahan justin menarik bingkai itu, sebuah foto bayi perempuan, terlihat dari anting-anting yang ia kenakan.
Pikirannya langsung menerawang jauh, menebak siapa foto bayi itu, dan entah mengapa bayangan keakraban sang papa dengan Karin, calon anak tirinya itu sontak memenuhi isi kepalanya, sang papa yang membelai kepala calon anak tirinya dengan penuh kasih sayang yang bahkan pada dirinya saja beliau tidak selembut itu, mungkinkah sebenarnya dia anak papanya?
Justin mendadak lemas, sandaran sofa dicengkramnya dengan begitu kuat, dia merasa benar-benar telah dihianati. Dan pria itu butuh air untung membasahi tenggorokannya yang mendadak gersang.
Masih memikirkan papanya dan si calon anak tiri, satu pesan masuk ke ponselnya,
Si cantik molek
Pesan dari Nena, entah mengapa kedua sudut bibirnya menghianati hati yang seharusnya masih dongkol pada sang papa. Justin membuka pesan si cantik, bukan tidak sengaja dia tidak mengganti nama kontak gadis itu, juga bukan karena malas. Tapi karena dia suka.
Justin menempelkan gelas air dingin ke bibirnya, meneguk sedikit sembari tangannya cekatan mengetik pasword pada hp keluaran terbaru itu. Membaca isi pesan, dan air yang nyaris menyentuh kerongkongannya mendadak seret, lantas dengan sempurna menyembur keluar.
***
Di tempat lain, Nena nampak merutuki dirinya sendiri, mengapa dia bisa selancang itu mengeirimkan pesan sedemikian rupa. Gadis itu terus saja mengetuk ngetuk kepalanya, dibacanya sekali lagi pesan whatsaap yang sukses terkirim bahkan sudah dibaca sang atasan.
Bapak mau ngelamar saya? dengan seserahan sebanyak ini?
Begitu pesan tidak tahu diri yang ia kirim, dan saat ponsel keluaran lamanya itu berdering tanda panggilan masuk, Nena reflek membuang hp yang nyaris masuk kategori butut itu ke atas kasur, entah apa yang akan terjadi akibat kelancangan pesan itu.
Dengan mengumpulkan segenap keberanian, gadis itu mengangkat panggilan dari sang atasan.
"Kenapa, Serena?"
Suara khasnya yang dalam nan menggetarkan, tertangkap di telinga Nena dengan begitu merdu, lidahnya mendadak kelu. Sulit sekali gadis itu mengucapkan sesuatu.
kenapa jadi nggak bisa ngomong si, rutuknya dalam hati.
"Memangnya kamu mau? Saya lamar?"
Jantung Nena merosot, suara Justin kembali membuatnya memejamkan mata, gadis itu masih memilih diam.
"Tolong jangan besar kepala dulu."
Dan kalimat itu begitu ampuh mengembalikan kesadaran Nena, gadis itu berubah keki, dan dengan bibir yang mengkriting sebal, gadis itu menjawab dengan luwesnya.
"Memangnya Bapak pikir saya akan besar kepala? tolong yah, Pak. Saya nggak bisa menerima semua ini, apa kata orang kantor nanti. Mereka pasti berpikir kalo saya itu simpenan Bapak." Sambarnya dengan berani.
Nena mengerutkan dahi, kalimat yang terlontar dari atasannya itu membuat hatinya sedikit tidak nyaman.
"Maaf, Pak. Tapi kalau boleh saya tahu, buat apa sih Bapak kirim barang-barang mahal ini buat saya, saya nggak pantes makenya," tutur Nena dengan nada suara yang lebih santai.
"Sebagai Assistant saya, penampilan kamu itu harus menarik. Makadari itu saya memberikan semua itu".
Nena merasa sedikit tersinggung dengan kalimat bosnya. Gadis itu mulai sewot.
"Terus, kalo menurut Bapak, penampilan saya kurang menarik, kenapa saya diangkat jadi assistant Bapak?"
"Karena kamu cantik."
Nena sontak menjauhkan ponsel yang ia genggam dari telinganya, merasa salah dengar dengan apa yang diucapkan atasan songongnya itu.
***
Di kamarnya, Justin tampak merutuki ucapannya sendiri, saat gadis yang entah mengapa dia lebih suka saat nada suaranya mulai galak, memilih diam seribu bahasa.
"Ngomong apa saya tadi?" tanyanya.
"Bapak inget-inget aja sendiri."
Terserahlah gadis itu akan berpikiran seperti apa, memang kenyataannya begitu, selain karena gadis itu cukup potensial juga tentunya.
"Karena saya butuh orang seperti kamu, Serena."
"Butuh kecantikan saya maksud Bapak?"
Dan sepertinya Justin telah salah bicara.
"Bukan begitu, kamu pintar dan berpengalaman, ide-ide kamu juga dapat saya terima dengan baik. Anggap saja itu hadiah dari saya karena kita menang tender."
"Bu Inggrit juga lebih berpengalaman, bahkan—"
"Tolong jangan membahas ini, intinya saya maunya kamu."
Kalimat Justin tampak ambigu, dan dia yakin, gadis di seberang sana pasti sudah mengerutkan dahi kebingungan, dan dia tidak peduli.
"Pak Justin."
Suara seorang gadis di sebrang sana terdengar begitu merdu mendayu-dayu tertangkap di telinga Justin, tubuhnya mendadak lemas.
"Iya Serena," sekuat tenaga pria itu menjawab dengan menekan gejolak dalam dadanya.
"Terimakasih banyak, Pak."
Ucapnya dan dengan bodohnya Justin mengangguk, tidak sadar bahwa gadis di seberang sana tidak mungkin mengetahuinya. Kalimat yang keluar dari mulutnya malah...
"Jangan dijual yah."
"Iya nggak bakalan saya jual, Bapak nggak usah takut."
Kembali suara di sebrang sana terdengar agak sewot, namun Justin sama sekali tidak menjauhkan ponsel di tangannya dari telinga. Pria itu hanya memejamkan mata dan tidak berhenti tersenyum. Saat panggilannya terputus, Justin melettakan ponselnya di depan dada.
"I love you," ucapnya, dan ia merasa terkejut saat menyadari kalimat yang keluar dari mulutnya sendiri.
"Astagfirullahaladzim."