
Gilang dan Pelangi mengurung diri di kamar hingga lewat tengah hari. Bukannya mereka lupa waktu, hanya saja setelah bergumul dengan gairah keduanya merasa lelah hingga kembali jatuh tertidur dan baru terbangun saat hujan mulai reda, meninggalkan bulir-bulir bening di dedaunan dan kaca jendela yang terlihat mengilap karena terpaan sinar matahari.
Pelangi bangkit berdiri setelah sebelumnya ia menyingkirkan lengan Gilang yang masih memeluk tubuhnya, kemudian ia meraih jubah tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk menyiapkan air hangat di bathtub. Pelangi ingin membersihkan diri dari keringat yang beberapa waktu lalu membanjiri tubuhnya. Bukan hanya keringatnya saja, tapi keringat Gilang juga telah mengguyur setiap jengkal tubuhnya.
Pelangi tersenyum membayangkan hal menyenangkan yang baru saja ia nikmati bersama dengan sang suami. Dulu sekali saat baru saja menikah dengan Gilang, Pelangi sama sekali tidak menyangka jika hubungannya dengan Gilang akan berjalan sebaik ini, mengingat pernikahan mereka adalah pernikahan terpaksa dan penuh dengan drama serta tipu muslihat. Apalagi saat itu Gilang masih berhubungan dengan Gisel yang merupakan kekasih Gilang selama lima tahun terakhir, yang menyebabkan Gilang menjadikan status Pelangi sebagai istri kontrak tanpa sepengetahuan Farhan.
Pelangi menghela napas sembari mengelus perutnya yang mulai membesar. "Sehatlah sampai hari kelahiranmu, Sayang." Pelangi bergumam seorang diri. Belakangan ini ia memang suka sekali bicara pada bayinya, berharap si bayi dapat mendengar semua yang ia katakan. "Beruntung sekali anak mama karena memiliki papa yang sangat baik dan penyayang," tambahnya.
"Terima kasih, aku juga beruntung sekali karena memiliki istri yang begitu cantik dan seksi." Gilang seperti biasa, selalu muncul tiba-tiba dan mengejutkan Pelangi.
Pelangi yang sejak tadi duduk di tepi bathtub tentu saja terkejut. Ia mengelus dada dengan wajah cemberut. "Lain kali jangan begini. Aku kaget tahu."
"Maaf," ujar Gilang, kemudian memeluk tubuh Pelangi dari Belakang. "Apa airnya sudah penuh?"
"Belum. Apa kamu tidak lihat?"
"Tidak. Bagaimana aku bisa melihat air di dalam bathtub jika saat ini hanya ada kamu di mataku, Pelangi."
Pelangi tersenyum, kedua pipinya seperti terbakar sekarang. Gilang memang pandai sekali membuatnya tersipu malu seperti gadis remaja yang sedang termakan rayuan gombal.
"Berhentilah menggodaku dan keluar sana. Aku ingin mandi, Gil," ujar Pelangi.
Gilang tidak mendengarkan apa yang Pelangi katakan. Pria itu malah melepas jubah tidurnya dan masuk lebih dulu ke dalam bathtub dan duduk dengan nyaman di dalamnya. Beberapa saat kemudian Gilang mengulurkan tangan, meminta Pelangi untuk masuk juga. "Ayo kita mandi bersama."
Pelangi mendengkus kesal. Bukannya ia tidak ingin, tetapi ia takut jika nanti mereka melewati batas. Bukannya mandi, mereka malah melakukan hal itu lagi, padahal dokter sudah mengatakan bahwa melakukan hubungan suami dan istri harus dibatasi selama trimester pertama kehamilan.
"Kemarilah, Sayang. Aku tidak akan melakukan yang aneh-aneh, aku hanya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu di setiap detiknya."
Pelangi pun luluh. Ia segera meraih telapak tangan Gilang dan ikut masuk ke dalam baththub yang air hangatnya sudah hampir terisi penuh.
Ya, tidak ada salahnya menikmati waktu bersama di mana pun dan dalam kondisi apa pun, karena tidak ada satu orang pun yang mengetahui apa rencana Tuhan ke depannya. Jika hari ini Tuhan masih menyatukan sepasang sejoli, besok belum tentu.
***
Jika Gilang dan Pelangi tengah sibuk dengan romansanya yang sudah berada di titik tertinggi sebuah hubungan. Lain halnya dengan Amara dan Toni. Meski Toni belum menyukai Amara sebanyak rasa suka yang Amara miliki untuknya, Toni berusaha untuk membuka diri setelah mendengar Amara bergumam saat mereka dalam perjalanan menuju kantor tadi.
Selama ini kehidupan Toni memang didedikasikan untuk pekerjaan dan mengurusi urusan Gilang yang sedikit merepotkan. Itulah tugasnya sebagai asisten pribadi Gilang, sehingga ia tidak memiliki banyak waktu untuk dirinya sendiri, apalagi untuk seorang wanita. Namun, kali ini ia mencoba untuk memulai sebuah kencan, jika makan siang bisa disebut sebagai kencan maka hari ini adalah hari pertama Toni melakukannya selama hidupnya, dan Amara adalah wanita pertama yang ia ajak untuk makan siang bersama.
Tok, tok, tok.
Ketukan di pintu ruangannya membuat Toni terkejut. Ia melirik jam yang sudah menunjukan pukul 12.15, artinya sekarang adalah jam istirahat.
Toni merapikan dasinya dan menyisir rambutnya dengan jemari sebelum ia berteriak, "Masuklah!"
Ceklek.
Amara membuka pintu dengan ragu-ragu sebelum melangkah masuk ke dalam ruangan Toni.
"Masuklah, Amara, jika hanya ingin mengintip seharusnya tidak usah ketuk pintu," ujar Toni.
Mendengar ucapan Toni, Amara segera membuka pintu lebar-lebar dan melangkah dengan cepat menyeberangi ruangan hingga tiba di depan meja Toni.
Amara menerima kopi instan pemberian Toni, lalu meminumya hingga habis tak tersisa.
"Kehausan, ya?" tanya Toni, sambil menopang dagu di atas tangannya.
Amara mengangguk. "Aku sengaja tidak makan dan minum sejak pagi."
"Kenapa?" tanya Toni.
Amara diam saja. Mana mungkin ia mengatakan bahwa dirinya sengaja tidak makan dan minum agar makanan yang pertama kali masuk ke dalam perutnya adalah makanan dan minuman pemberian Toni.
Melihat Amara diam saja, Toni segera bangkit dari kursinya dan meraih tangan Amara. "Ayo kita makan siang."
Amara mengangguk dan mengikuti langkah Toni. Ia senang sekali karena kali ini Toni menyentuhnya, menggandengnya menyusuri koridor menuju elevator tanpa ragu. Toni seolah tidak peduli pada pendapat orang lain yang pasti akan memberikan penilaian buruk padanya. Terutama pendapat dan tatapan sinis karyawan wanita yang selama ini menjadi penggemar rahasia Toni.
Akan tetapi kebahagiaan yang baru saja dirasakan oleh Amara seketika menghilang saat ia dan Toni berpapasan dengan beberapa pria bertubuh besar dan berpakaian serba hitam yang berjalan tepat di belakang Surya Permana.
"Halo asisten Toni," ujar surya, sembari melambaikan tangan.
Plak.
Belum Lagi Toni balik menyapa, sebuah tamparan mendarat di Pipi Surya, membuat pria berwajah licik itu meringis dan menatap penuh amarah pada Amara yang telah berani bertindak kurang ajar padanya.
Toni menarik Amara agar menjauh dari Surya. Tatapan Toni yang tajam menatap langsung ke dalam mata Amara. "Apa yang kamu lakukan, Ra?" desis Toni.
Alih-alih menjawab pertanyaan Toni, Amara justru memandang Surya dengan tatapan jijik sembari berkata, "Itu hadiah untukmu karena kamu telah berani meremas bokong Pelangi."
"Kamu tidak tahu siapa aku, ya?" bentak Surya, sambil melangkah maju menghampiri Amara, sebelah tangannya terangkat tinggi, bersiap untuk melayangkan sebuah tamparan untuk Amara yang terlihat tidak takut sama sekali.
(Adayang penasaran gimana, sih, visual Surya Permana? Ini, nih, guys)
"Ya, aku tahu Anda adalah pria yang terhormat, karena itulah aku menjadi semakin sebal. Bagaimana bisa pria terhormat seperti Anda melakukan hal yang tidak terhormat pada seorang wanita!"
Wajah Surya terlihat semakin memerah karena amarah, ia mengayunkan lenganya, bersiap untuk menampar pipi Amara. Namun, Toni dengan cepat mendorong tubuh Surya.
"Jangan berani macam-macam, Pak. Anda juga tidak sepantasnya membuat keributan di sini, kalau sampai Pak Farhan tahu, dia pasti akan menghentikan segala bentuk kerjasama yang telah kita sepakati. Setelah kejadian beberapa bulan lalu, saat Anda dengan sengaja membawa Gilang pergi ke luar kota, sejak saat itu Pak Farhan dan Pak Gilang kehilangan kepercayaan pada Anda. Tinggal masalah waktu sampai mereka berdua menarik Anda ke kantor polisi." Toni berusaha memperingatkan Surya, agar pria itu bisa lebih menjaga sikap.
Akan tetapi, bukannya merasa takut, Surya justru tertawa terbahak-bahak. "Toni, Toni, terima kasih atas peringatannya. Tapi, biar kuberitahu kamu informasi rahasia. Hem, bagaimana, ya, memulainya." Surya sengaja mengulur waktu agar Toni semakin penasaran. Ia ingin menghadirkan sensasi yang dramatis saat Toni mendengar apa yang akan ia katakan.
Toni dan Amara tidak peduli pada sikap Surya yang sebenarnya terlihat mencurigakan. Keduanya kembali bergandengan dan melewati Surya begitu saja, seolah Surya hanyalah bayangan yang tidak penting.
"Kalian tidak mau tahu? Serius!" Surya berteriak. Ketika dilihatnya Amara dan Toni tidak memedulikan teriakannya, Surya kembali berteriak. "Perusahaan ini akan menjadi milikku setelah jam istirahat berakhir!"
Bersambung ....
Huhuhu, Ayah Farhan Andreas, yang sabar, ya. Perusahaan udah jatuh ke tangan Surya, tuh. 😢😢