OH MY BOSS

OH MY BOSS
SEOLAH SEPERTI INILAH SEHARUSNYA



Amara bersandar pada sandaran kursi sebuah bar tempatnya bekerja. Jarinya mengetuk-ngetuk gelisah pada meja mengilap yang ada di hadapannya.


Setiap dua menit ia akan mengeluarkan ponselnya, dan mulai menimbang haruskan ia mengaktifkan kartu sim-nya yang lama sudah tidak ia aktifkan. Dulu saat ia memutuskan untuk pergi meninggalkan keluarga Andreas, Toni masih sering menghubunginya, memintanya untuk kembali dan memaafkan semua kesalahan yang telah diperbuat oleh keluarga Andreas.


Akan tetapi, bagi Amara kesalahan keluarga Andreas bukanlah kesalahan yang bisa dimaafkan begitu saja. Walaupun sang CEO sendiri yang memintanya dan berusaha membuatnya mengerti, tetap saja baginya tidak benar melupakan Pelangi dan membiarkan Gilang kembali berhubungan dengan Gisel hanya demi ketenangan dan fokus Gilang dalam bekerja. Apalagi baru belakangan Amara ketahui, bahwa Gisel adalah komplotan orang-orang yang berusaha mencelaki Pelangi. Walaupun pada akhirnya Gisel mengaku menyesal sembari menangis dan memohon ampun pada Farhan dan juga dirinya, tetap saja Pelanginya, sahabat tercintanya tidak akan pernah kembali.


Amara mengusap sudut matanya yang basah. Mengingat apa yang telah terjadi membuatnya kembali bersedih. Padahal sudah selama satu tahun ini ia berusaha melupakan kenangan menyakitkan itu, tetapi tetap saja saat pikirannya sedang kosong dan ia merasa hampa, bayangan Pelangi dan Toni kembali memenuhi kepalanya dan membuatnya rindu hingga rasanya ia ingin mati saja.


"Amara, dua tequela dan dua cocktail di meja nomor tiga belas." Seorang bartender bernama Roy menyerahkan nampan berisi empat gelas ninuman beralkohol dan meminta Amara untuk mengantar minuman itu.


Amara segera bangkit berdiri dan merapikan rok pendeknya, memasang senyum palsu dan mulai berjalan menuju meja nomor tiga belas.


"... Andreas Group! Ya, kudengar mereka membuka lowongan besar-besaran."


"Sudah kembali berjaya rupanya sekarang mereka."


"Ya, tidak sulit bagi Andreas Group untuk bangkit kembali. Duet anak dan ayah itu memang sangat klop."


"Gilang Andreas maksudmu? Ya, dia memang pengusaha muda berbakat. Aku dengar awal tahun depan dia akan menikah dengan kekasihnya yang model itu. Siapa namanya, ya?"


"Gisela."


"Ah, ya, ya, Gisela. Wanita cantik itu beruntung sekali."


Brak!


Amara meletakkan nampan dengan keras di atas meja, sehingga membuat isi gelas tumpah dan berceceran di meja.


Obrolan yang berasal dari meja nomor tiga belas itu membuat darah Amara mendidih. Untung saja ia tidak melempar gelas-gelas itu ke wajah para pelanggan yang mengatakan Gisela adalah wanita cantik yang beruntung.


"Hai, Pelayan, hati-hati dong!" protes salah seorang pelanggan, pria bertubuh tambun dengan perut yang super besar dan kepala selicin lantai mal.


"Maaf, Pak, vertigo saya kambuh," jawab Amara sembari membungkuk. Setelahnya, ia kembali ke mejanya dan melepas celemek yang ia kenakan. "Aku akan pulang, Roy, katakan pada bos kalau aku sakit kepala."


"Tapi jatah liburmu sudah habis, Ra. Kalau kamu pulang lebih awal lagi kali ini, sudah pasti kamu akan dipecat," ujar Roy, memperingatkan Amara.


"Tidak masalah. Aku tidak peduli pada apa pun kali ini." Amara berlalu pergi, meninggalkan Roy, tempat kerjanya, dan juga pelanggan-pelanggan bar yang pasti akan sangat dirindukannya.


***


Perjalanan menuju kediaman Andreas Group lumayan jauh dari tempat Amara tinggal sekarang. Setidaknya butuh waktu dua jam perjalanan dan harus berganti bus sebanyak dua kali. Namun, hal itu bukanlah hal yang sulit untuk dilakukannya, apalagi dirinya sedang dalam kondisi yang begitu marah sekarang, sakit hati dan kecewa. Hingga rasanya ia mampu melakukan apa pun saat ini juga. Termasuk terbang menuju kediaman keluarga Andreas jika memang mungkin.


Di dalam bus, Amara mengutak-ngutik ponselnya, mengatur agar sim dua yang ada di ponselnya kembali aktif.


Ketika sim lamanya itu kembali aktif, ada ratusan pesan yang masuk dan semua pesan itu ternyata pesan dari Toni. Amara menghela napas begitu membaca semua pesan yang Toni kirimkan. Kebanyakan hanya memintanya untuk kembali, tetapi ada beberapa pesan Toni yang membuat Amara berdebar saat membacanya.


Aku merindukanmu!


Sepi sekali tanpamu malam ini!


Kembalilah, kita bisa nonton dan makan malam bersama. Tidakkah kamu ingin menghabiskan banyak waktu bersamaku?


Semua pesan-pesan itu membuat bibir Amara melengkung membentuk senyuman. Tangannya gatal ingin membalas pesan dari Toni, tetapi urung ia lakukan. Urusannya dengan Toni bisa menunggu, yang mendesak baginya saat ini adalah urusannya dengan Gilang, Farhan dan Gisela. Bagaimana bisa Farhan sebagai orang tua Gilang tidak melarang pernikahan yang akan terjadi awal tahun depan.


Amara meremas ponselnya dengan gemas. "Tua bangka itu kurang ajar sekali," gumamnya.


***


Pelangi mengendap-endap menuruni tangga dari lantai dua menuju dapur yang berada di lantai satu. Jam yang menggantung di aula utama sudah menunjukan pukul 01.00 dini hari, semua orang sudah tertidur pulas di kamarnya masing-masing. Namun, tidak demikian dengan Pelangi. Perutnya yang lapar sejak tadi membuatnya bertindak nekat dan dengan berani ia berjalan menuju dapur untuk mencari makanan. Ia bahkan tidak peduli pada rumor yang mengatakan bahwa hotel tua itu berhantu.


Setibanya di dapur, Pelangi segera meraih dua lembar roti tawar, sebotol selai kacang dan juga sekotak susu segar dalam kemasan.


Ia mendekap semua makanan-makanan itu dan berlari keluar dari dapur. Tetapi, belum lagi kakinya tiba di tangga, tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang berdiri di dalam kegelapan.


"Ckckck, sejak kapan kamu jadi tikus dan mencuri semua makanan yang ada di dapur ?"


Pelangi mendongak dan mendapati Gilang sedang tersenyum jahil ke arahnya. "Kamu! Ehm, maksudku, Anda sedang apa di sini?


Gilang mengibaskan tangan di depan Pelangi. "Jangan gunakan panggilan formal padaku. Kita ngobrol seperti biasa saja. Lagi pula, kita ini sudah pernah tidur bersama, seharusnya hubungan kita lebih dekat, 'kan?" Gilang terkekeh, dengan kilat jahil di kedua matanya.


Pelangi mengembuskan napas dengan kasar. "Tidur bersama apanya? Kalau sampai ada yang dengar, pasti mereka akan salah paham dan akan ada yang datang lagi padaku untuk menanyakan berapa tarifku semalam."


Gilang mengangkat kedua bahunya. "Tidak akan ada yang berani melakukan hal itu padamu lagi setelah mereka melihat apa yang menimpa Cipto siang tadi," ujar Gilang. Ia lalu menatap semua benda yang ada di dalam dekapan Pelangi. "Tunggu di sini," titahnya, lalu ia berlari menuju dapur dan kembali setelah beberapa saat dengan sekotak roti tawar, sekotak susu segar, dan sebotol selai cokelat. "Aku alergi selai kacang," ujarnya, menatap botol selai yang ada di tangan Pelangi, kemudian melangkah menuju halaman depan.


Pelangi tanpa diminta pun refleks mengikuti langkah Gilang. Keduanya berjalan dalam diam, hingga mereka tiba di halaman samping yang luas. Terdapat beberapa kursi taman di sana, lengkap dengan meja bundar yang bisa mereka jadikan tempat untuk menaruh makanan.


Pelangi duduk terlebih dahulu, disusul oleh Gilang yang duduk di sebelahnya.


"Jadi bagaimana menurutmu? Setujukah kamu untuk menjadi asisten pribadiku?" tanya Gilang kemudian


"Asisten pribadi?" Pelangi terlihat bingung.


"Bukankah itu perjanjian kita. Apa kamu lupa?"


Pelangi menjentikan jarinya. "Aku ingat. Kalau kamu terbukti adalah seorang CEO, maka kamu akan menghukumku dengan menjadikanku sebagai pembantumu."


"Asisten, Raina, bukan pembantu." Gilang mengoreksi ucapan Pelangi.


"Ck, bagiku sama saja, Pak." Pelangi kemudian meraih selembar roti tawar miliknya dan mengoleskan selai kacang banyak-banyak di atas rotinya. Saat ia hendak menyuapkan roti itu ke mulutnya, Gilang merebut roti itu dari tangan Pelangi.


"Tidak sopan makan sendirian. Buatkan dulu punyaku, setelah itu kita makan sama-sama."


"Kamu kan bisa membuatnya sendiri."


"Untuk apa aku membuat sendiri kalau aku punya asisten."


Pelangi memutar bola matanya. "Itulah kenapa aku mengatakan kalau asisten sama saja dengan pembantu," ujar Pelangi, lalu segera meraih dua lembar roti dan mengoleskan selai cokelat di atasnya, menumpuknya dan memberikannya pada Gilang.


"Nah, kalau begini kan adil," ucap Gilang, sembari mengembalikan roti milik Pelangi yang langsung dilahap oleh wanita itu dengan rakus.


"Segitu laparnya, ya?" tanya Gilang, melihat Pelangi makan dengan begitu lahap.


Pelangi mengangguk. "Sebenarnya sejak pagi aku memang belum makan apa-apa."


"Oh, ya, kenapa?"


"Pagi tadi Pak Cipto membuat selera makanku hilang karena pertanyaan yang dia lontarkan padaku. Lalu, sejak siang hingga sore aku tidak bisa menelan apa pun. Banyak yang kupikirkan. Pertanyaan yang rasanya akan sulit bagiku untuk menemukan jawabannya."


Gilang menatap Pelngi dengan penuh perhatian sekarang. Ia merasa senang karena wanita itu bersikap terbuka padanya, padahal baru hitungan hari mereka saling mengenal. Tetapi Gilang tahu jika Pelangi merasa nyaman saat di dekatnya, sama halnya dengan yang Gilang rasakan. Seolah seperti inilah seharusnya.


"Apa sebenarnya yang mengganggu pikiranmu?" tanya Gilang.


"Entahlah. Aku pun tidak tahu. Aku hanya sering merasa kosong dan hampa."


Gilang mendekat, masih terus menatap Pelangi tanpa berkedip.


Embusan angin menerbangkan helai-helai rambut panjang Pelangi hingga helai-helai rambut itu mengenai wajah Gilang yang memang berada begitu dekat dengan wajah Pelangi.


Pelangi menjadi gugup. Jantungnya bagaikan hendak copot rasanya saat Gilang semakin mendekat ke arahnya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Pelangi, dengan kedua pipi yang bersemu merah layaknya buah cerry.


Gilang memiringkan wajahnya, menghidu bagian leher Pelangi yang jenjang. "Parfum apa yang kamu gunakan?" tanya Gilang.


Pelangi menghela napas, ternyata ia salah paham. Ia pikir Gilang akan menciumnya, tapi ternyata pria itu sedang membaui parfum yang ia kenakan.


"Ini parfum bayi," jawab Pelangi.


"Parfum bayi? Kamu punya bayi?"


Pelangi menggeleng. "Tidak. Aku hanya suka baunya."


Gilang kembali mendekat dan menghidu aroma itu dalam-dalam sambil memejamkan mata. "Aromanya sangat tidak asing. Aku seperti pernah mencium aroma ini juga, tapi entah di mana."


"Mungkin aroma parfum anakmu."


Gilang tertawa, tawa yang terdengar renyah dan menggoda di telinga Pelangi. "Aku bahkan belum menikah. Bagaimana aku bisa punya anak."


"Syukurlah," gumam Pelangi.


"Apa katamu?" tanya Gilang.


Pelangi menggeleng. "Tidak. Aku tidak mengatakan apa-apa," ujarnya, lalu kembali menyuapkan roti ke dalam mulutnya dan mengunyahnya sembari menahan senyum.


"Oh, ya, Raina. Bolahkah aku melihat botol parfumu besok?" tanya Gilang lagi, setelah beberapa saat ia dan Pelangi lalui dalam keheningan.


Pelangi mengangguk. "Tentu. Besok akan aku bawakan."


Bersambung ....