
Na! Matahari cerah banget, muka lo ko mendung gitu?" sapa Siska yang tidak membuat suasana hati Nena sedikit saja merasa lebih baik. Keduanya berjalan beriringan di halaman kantor.
"Bokap gue masuk rumah sakit semalem." Nena menyingkap poni lemparnya yang sedikit menghalangi penglihatan gadis cantik itu.
"Kambuh lagi," Tebak Siska, ada nada khawatir di kalimatnya itu. Nena hanya mengangguk lemah.
"Terus kenap—"
"Woy!! pagi-pagi udah rumpi, ngomongin gue ya!"
"Kebiasaan! Nggak usah nyari kesempatan mepet-mepet dah!" Umpat Siska saat Doni mengagetkannya dari arah belakang dan melingkarkan lengannya pada bahu gadis itu dan Nena, keduanya serentak menyingkirkan lengan pemuda tengil itu dari bahu mereka. "Kenapa lo masuk, Na. Lo izin aja jagain bokap lo," tutur Siska kemudian, melanjutkan kalimatnya yang terpotong gara-gara kedatangan mahluk astral. Doni.
"Ini ada apaan si? Kayaknya gue perlu tau dah." Doni menatap wajah kedua gadis di samping kiri kanannya secara bergantian dengan penuh selidik.
"Bokap Nena masuk rumah sakit semalem."
"Jadi calon mertua gue masuk rumah sakit?" Teriak Doni yang mendapat injakan sepatu dari Nena.
"Aww... Sakit, Yang. Kok kamu nggak bilang sih ayah kita masuk rumah sakit," Doni sok dramatis.
"Jangan mulai deh Don, gue lagi nggak asik diajak bercanda!" Sewot Nena.
"Iya-iya, kalo gitu kita menggalang dana aja di kantor buat bokap Nena," tutur Doni memberi ide.
"Nggak usah. Biaya rumah sakit udah ditanggung Pak Justin," ungkap Nena yang mendapatkan pertanyaan ’kok bisa?’ dari keduanya. "Ya paling pundi-pundi hutang gue bertambah," timpal Nena dengan memejamkan matanya, bibirnya menipis, coba mengingat buku kasbonnya itu sudah terisi berapa digit.
"Lo inget film jadul nggak? gara-gara banyak utang sama majikannya, akhirnya anak gadis yang punya hutang itu disuruh nikah sama Datuk maringgi, majikannya itu," Doni mulai ngaco otaknya memang minta diruqiah banget, pikir Nena. Gadis itu memberi tatapan sengit pada pemuda yang majang tampang sok polos itu.
"Yee itu sih mujur banget namanya, gue juga mau banyak utang di perusahaan ini kalo judulnya dikawinin sama si ganteng mah." Siska ikut-ikutan membuat pagi Nena semakin mendung.
"Kalian apa banget deh," Nena menghembuskan napas frustrasi. "Nggak penting tahu nggak."
***
"Kamu, Ardi kan?" Sapa Justin pada anak belasan tahun yang tampak gelisah menelpon seseorang di atas jok motornya. Anak itu menoleh, kemudian tersenyum ramah.
"Eh, Pak—"
"Panggil mas saja," potong Justin.
"Nanti saya saja yang mengantar kakak kamu, sekalian jenguk ayah kamu."
Mendengar itu Ardi seperti mendapat malaikat penolong untuk kedua kalinya, anak itu berterimakasih sebelum pamit undur diri dari hadapan Justin.
***
"Saya naik ojek online aja, Pak," tutur Nena saat Justin menjelaskan tentang adiknya yang pulang lebih dulu meninggalkannya, lebih tepatnya menitipkan kakak perempuannya ini pada Justin.
"Saya sudah terlanjur janji, masa kamu naik ojek, kamu mau membuat saya jadi pria yang tidak bertanggung jawab di hadapan keluarga kamu?"
Nena mengerjapkan matanya beberapa kali, bingung menanggapi kalimat retoris dari bosnya itu.
Apa sih?
"Saya cuma nggak mau ngrepotin Bapak."
"Tidak repot kok, hanya saja sebenarnya saya sudah ditunggu anak panti, tapi jika harus mengantarmu pulang lebih dulu, tidak masalah."
"Saya bisa ikut ke Panti dulu kalo gitu," tawar Nena.
"Tidak ditunggu ibu kamu?"
"Nggak! yang penting kasih kabar dulu, tapi hp saya ketinggalan di rumah, atau mungkin di tas ibu." Nena mulai berpikir, dimana dia semalam meletakan ponselnya.
"Pakai ini!" Justin menyerahkan ponselnya tanpa diminta, Nena tampak ragu-ragu, namun Justin meraih tangan gadis itu dan meletakkan benda persegi, keluaran terbaru itu di tangannya.
Nena mulai mengetik nomor ponselnya sendiri, yang mungkin berada pada ibunya. Gadis itu menautkan alisnya lucu, kemudian tampak sekuat tenaga menahan tawa, mengetahui ternyata nomornya sudah disave dengan nama...
"Kenapa?" Justin merasa ada yang aneh, Nena menggeleng, masih menahan tawa, mengembalikan ponsel mahal itu pada pemiliknya.
"Nggak ada yang ngangkat," ucapnya seraya menguasai diri dari perasaan gelinya. "Oh iya, nomor saya di kontak hp Bapak namanya tolong diganti yah, saya geli bacanya," tutur Nena kemudian melangkah lebih dulu meninggalkan Justin yang masih membeku di tempatnya.
Pria itu membuka ponselnya, mengecek daftar panggilan terakhir.
Si cantik molek
"Bule gila sialan!" Umpat Justin pada sahabatnya. Yang sudah menamai nomor gadis itu sedemikian rupa.
***