
Pagi-pagi sekali di kantor, seorang ceo sekelas Justin sudah kena omel bule sinting macam William, membuat pria itu bingung sebenarnya disini siapa sih bosnya. Kenapa sepertinya dirinya sering sekali kena omel dari pria bule itu akhir-akhir ini. Belum lagi percakapan antara dia dan sang istri semalam masih membuatnya kesal setengah mati. Untung sudah sarapan. Pikirnya.
"Apa-apaan ini." William membanting surat kontrak iklan yang tertulis nama Justin di sana. "Seorang pemilik perusahaan menjadi bintang iklan untuk produknya sendiri? Ya Tuhan Justin." William memegangi keningnya sendiri, raut wajahnya tampak frustrasi.
Justin melirik sekilas pada sahabatnya itu, kemudian berdecak. "Bukan masalah besar, Will. Aku bisa mengatasinya sendiri."
Justin tahu akan ada dua kemungkinan setelah iklan ini beredar, mendapat tanggapan bagus dan harga saham yang melonjak, atau mendapat tanggapan buruk dan di cemooh. Tapi kan baru kemungkinan, dan belum tentu buruk juga.
"Memangnya kalian tidak punya bintang lain?" Tanya William, Justin menjelaskan tentang kekacauan yang ia perbuat dan mengakibatkan seseorang kabur. Selain bertanggung jawab menggantikannya apalagi yang bisa ia perbuat.
"Aku tidak tega, Will," ucap Justin setelah menceritakan betapa kecewanya sang istri saat syuting itu terancam gagal.
"Ya Tuhan. Sejak kapan kau menjadi budak cinta." William tampak tidak percaya.
Justin bangkit dari duduknya melangkah ke depan meja dan menyandarkan tubuhnya di sana. William berdiri di hadapannya. "Kau tidak pernah tahu betapa aku luluh saat melihatnya meminta sesuatu. Aku lemah." Justin menyentuh dadanya sendiri.
William mengernyit, sepertinya sahabatnya ini sudah gila. "Dulu kau tidak seperti ini, Just. Kau punya pendirian."
"Kau tidak akan mengerti jika belum merasakannya sendiri, Will. Untuk itu, cari lah pasangan yang benar. Seriuslah. Menikah itu menyenangkan asal kau tahu."
William yang semula sibuk dengan kertas-kertas di tangannya sontak menoleh, "aku masih ingin bebas," ucapnya, kembali menekuni tulisan di kertas yang ia pegang.
"Semalam aku ke apartemenmu." Justin mengalihkan topik obrolan.
"Kau sudah memberi tahu." William menjawab dengan acuh.
"Bersama Serena." Justin menambahkan, dan seketika membuat pergerakan tangan sahabatnya itu terhenti. Hanya sesaat, karena setelahnya pria bule itu kembali berucap.
"Cepat atau lambat, dia juga akan tahu."
"Serena bertekad akan mencarikan pasangan untukmu."
Mendengar itu William tertawa mendengus, "untuk satu malam, boleh lah," jawabnya yang mendapat tendangan di kaki yang tidak sempat ia hindari, pria bule itu berdecak kesal.
"Terserah kau saja lah." Justin menyerah, kemudian kembali ke kursinya.
"Kau jangan terlalu percaya pada Samuel, dia itu punya predikat yang buruk." William mengingatkan, sejak kuliah dulu, pria bule itu memang tidak senang dengan Samuel, dan Justin juga tahu akan hal itu.
"Sejauh ini, aman."
"Tetap saja, kau harus berhati-hati."
***
Kali ini Nena harus berbangga hati, setelah beberapa minggu kemudian, iklan yang ia bintangi ternyata mendapat sambutan baik di masyarakat, selain produk sabun love yang memang bagus, kemesraan antara ceo muda yang jarang sekali tertangkap kamera, kini malah membintangi sebuah iklan dengan sang istri yang begitu cantik. Begitu yang Nena baca di setiap kabar berita. Bahkan sesekali, keduanya sering menjadi trending topik di akun lambe lumrah saat kedapatan makan malam di restoran ternama yang diabadikan dengan hengpon jadul, begitu penuturannya.
Nena jadi tersenyum sendiri, selama ini suaminya memang terkenal amat misterius, selain tidak aktif di medsos, dirinya yang tampan itu juga jarang sekali mengunggah foto selfie.
Setelah produk sabun love yang laris di pasaran, kini pasangan Justin Nena mendapat tawaran untuk membintangi sebuah iklan produk unggulan, yang ditolak secara sopan oleh suaminya itu.
Nena sudah berjanji untuk menuruti sang suami, seingin apapun ia membintangi sebuah produk kecantikan, jika itu harus berpasangan dengan pria lain Nena harus menolaknya. Dan jika dia harus membujuk Justin lagi , itu tidak akan pernah terjadi, suaminya itu amat sibuk mengurus perusahaannya sendiri.
Kali ini Nena yang kembali mendapat tawaran membintangi iklan lagi dari Samuel, membuat wanita itu harus menghadiri undangan dari pria blasteran rekan suaminya itu. Berhubung produk kali ini tidak melibatkan pemain pria, Justin menyetujuinya.
Nena sedikit takut, dia merasa tatapan Samuel kepadanya itu agak berbeda, dan saat mengatakan hal itu kepada Justin, suaminya itu hanya menyuruhnya untuk tidak berburuk sangka.
Nena duduk dengan tidak nyaman di dalam ruangan Samuel yang luas itu, pasalnya, sejak kedatangan Nena dan menyuruh wanita itu duduk di kursi depan mejanya, Samuel beranjak dari duduknya dan mengunci pintu.
Hal itu tentu membuat perasaan Nena menjadi tidak karuan, dia mengambil ponsel mengirim pesan pada Justin. Baru hanya satu kata yang berhasil ia kirim lewat Wa, setelah itu Samuel merebutnya dan duduk di atas meja.
"Kita bertemu lagi Serena," ucap Samuel sembari menyentuh pipi Nena.
Nena reflek menghindar, "kamu, tolong jangan kurang ajar," ucapnya.
Samuel tertawa, melemparkan ponsel Nena ke seberang meja hingga jatuh berantakan. Melihat itu Nena tahu. Tidak ada itikad baik dari pria di hadapannya itu. Wanita itu beranjak dari duduknya dan melangkah ke pintu.
Namun Samuel lebih dulu menghadangnya, membuat langkah wanita itu terhenti, kemudian berkata. "Mari kita membuat kesepakatan bersama."
Nena tidak berminat membahas apapun kali ini, dia hanya ingin keluar dari ruangan itu, namun, demi untuk tidak menunjukan rasa takut, wanita cantik itu berusaha untuk tetap tenang. "Maksud kamu apa?" Tanyanya.
"Aku bisa mengorbitkanmu menjadi bintang besar, artis terkenal, atau kau ingin memainkan sejumlah peran layar lebar, aku bisa," tuturnya yang membuat Nena membuang muka, dia muak. Pria yang berdiri di hadapannya itu, tercium kebusukannya. "Kalau kau mau, jadilah wanitaku." Samuel menambahkan.
Nena menoleh, menatapnya tidak percaya. Bagaimana bisa si brengsek ini menawarkan hal semacam itu pada istri temannya sendir. "Jika kamu pikir aku akan mau, kamu salah. Carilah perempuan yang lain. Permisi." Nena kembali melangkah ke pintu, dan Samuel mencengkram tangannya.
Nena sigap menginjak kaki Samuel kemudian berlari dan berhasil memutar kunci. Namun Samuel lebih dulu menarik lengannya dan membenturkan tubuh Nena pada dinding di samping pintu yang gagal terbuka.
Merasakan nyeri di punggungnya Nena meringis, dan Samuel dengan kasar mencengkram dagunya membuat wanita itu mendongak. "Bajingan!" Bentaknya yang ditanggapi dengan seringai jahat di wajah tampannya itu. Nena akui, Samuel ini memang tampan, tapi wanita itu bersumpah tidak akan pernah menyerah untuk melawan. "Lepaskan!" Hardiknya lagi.
"Aku tidak menerima penolakan, Sayang," ucap Samuel, Nena yang memberontak dengan mudah ia bekukan. Kedua tangan wanita itu dikuncinya ke belakang dengan satu tangannya. Sedang tangan satunya berpindah ke tengkuk Nena. Wanita itu terus memberontak.
"Suamimu itu amat sibuk, sayang. Mari kita bersenang senang."
"Aaarrgh!" Nena menjerit yang dirasa percuma, saat pria gila di hadapannya mulai mencumbu lehernya.
Samuel kembali menatap wanita di hadapannya penuh minat, "kau terlalu cantik untuk diabaikan, sayangku," ucapnya yang membuat Nena merasa jijik. Baru kali ini, Nena merasa benci pada kecantikannya sendiri.
"Lepaskan atau aku akan berteriak." Nena tidak menangis. Dia tidak akan sudi bahkan hanya untuk terlihat lemah.
"Berteriaklah, sayang. Ruangan ini kedap suara. Bahkan kau mendesah pun tidak masalah," ucap Samuel, Nena membulatkan matanya galak, saat pria itu menyerang bibirnya.
Tengkuk Nena yang dicengkram kuat, membuat dia tidak bisa apa-apa, tapi jika harus menikmati, Nena tidak akan pernah sudi.
Saat Samuel menggigit bibir Nena, memaksa membuka untuk menjamah perkakas mulutnya. Wanita itu menggigit lidah Samuel dengan sengaja, hingga pria brengsek itu reflek melepaskannya.
Samuel yang merasa kesakitan ia lampiaskan dengan menampar wajah wanita di hadapannya itu.
Nena tersungkur, pipinya terasa kebas, perih. Rasa besi bercampur anyir di ujung lidahnya membuat ia tahu, sudut bibirnya berdarah. Wanita itu merasa pusing, dan percakapannya dengan sang ayah ketika masih belia terbayang-bayang di ingatannya.
"Nena yang nakal ayah, pukul aja. Nggak apa-apa."
"Anak perempuan itu tidak boleh kena pukul."
"Kalo nanti Nena dipukul orang, gimana?"
"Maka ayah akan membunuh orang itu dengan tangan ayah sendiri."
"Ayah." Nena bergumam lirih, airmatanya mulai jatuh, dia ketakutan.
Belum bisa menguasai keadaannya sendiri, Nena kembali harus merasakan cengkraman di lengannya saat Samuel menariknya ke sofa, membanting tubuh wanita itu dan menindihnya.
"Brengsek! Lepaskan aku." Nena meludah jijik pada pria di hadapannya, Samuel yang semakin marah kembali menampar wajahnya, merobek pakaian yang ia kenakan. Dia terus meronta.
Nena menangis, saat pria brengsek di atasnya itu terus berusaha melemahkan pertahanannya. Nena pernah merasakan situasi seperti ini sebelumnya, saat dulu Justin tengah kalut. Tapi rasanya tidak semenakutkan ini, rasanya tidak semenjijikkan ini.
"MAS JUSTIN!" Nena menjerit sekuat tenaga. Dan suara pintu terbuka membuatnya merasa lega.
Seseorang dengan marah mengepalkan tangannya. "SAMUEL!!!" Bentaknya.
***iklan***
Netizen; Ya elah pake segala iklan lagi, gedeg banget gue, kan senapsaran thor.
Author: Sengaja, lagian udah kepanjangan entar yang baca mumet.
Netizen; Nena benci sama kecantikannya sendiri thor. Padahal gue aja kepengen cantik.
Author; Gue udah cantik biasa aja.
Netizen ; Kok gue enek ya dengernya, rada mual gimana gitu.
Author; Mabok kali lo sama kecantikan gue, makanya jangan deket-deket sono.
Netizen; Idih, Eh itu btw yang bentak si Samsul sapa thor.
Author; Ya Salaaam nama udah bagus-bagus, pusing gue nyari tu nama biar cocok buat orang ganteng blasteran.
Netizen ; iya maapin thor lupa. Bukan Samsul ya, siapa dah.
Author ; Saepul.
Netizen; Oh iya, itu yang dateng bang Entin ya.
Author; Nggak tau juga, mungkin William kali, kan dia yang benci sama tu orang. iya ngga.
Netizen; Ya mana gue tahu Marfuaah... Kan elu yang nulis gimana si.
Author; eh iya. Tapi kalo yang dateng Ardi gimana menurut lu. Kaget nggak yang baca.
Netizen; Bukan kaget lagi, kejang iya. Nggak nyambung lah goblo, nggak logis banget, gue sleding juga nih.
Author; Ya Allah Baim Dizolimi.
Netizen; Bodo amat.