OH MY BOSS

OH MY BOSS
KELUARGA 3



Justin menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah besar berlantai dua yang tampak mewah, Nena tahu saat suaminya itu mengatakan akan ke rumah tantenya, pasti bukan komplek perumahan biasa yang dia tuju.


"Ayo turun," ajak Justin, dilihatnya Nena tampak ragu. "Kenapa?" Tanyanya.


"Aku takut mereka nggak suka sama aku." Jawaban Nena membuat Justin tertawa pelan, Nena mengerutkan dahi bingung.


"Ini bukan cerita sinetron, yang di mana pihak perempuan tidak disukai oleh keluarga pihak laki-laki," ucap Justin, Nena terdiam. "Bagaimanapun juga, kamu itu keponakan mereka, seburuk-buruknya sikap mereka padaku, mungkin mereka bisa menghargai kamu sebagai keponakan kandung yang baru saja ketemu."


"Tapi tetep aja aku takut, Mas," balas Nena.


Justin mengusap pipi istrinya, menyalurkan ketenangan. "Ada aku, kamu nggak usah takut.  Dan apapun yang kamu dengar nanti, tolong jangan terpengaruh." Nena tersenyum kemudian mengangguk. Keduanya turun dari mobil.


Justin menekan bel, dan tidak lama pemilik rumah membukakan pintu, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat begitu cantik tersenyum pada mereka, ekspresinya tampak terkejut, senang barang kali. "Kamu Serena?" tanyanya. Kedua telapak tangannya menyentuh pipi wanita muda yang menurutnya mirip sekali degan mendiang sang adik. Nena pun mengangguk.


"Tante Linda," ucap Justin, bermaksud memberitahu Nena tentang wanita yang kini memeluknya. Sebelumnya Justin sudah menceritakan tentang mereka pada istrinya itu.


"Iya, ini Tante. Ayo masuk."


Rumah keluarga Adley yang ditempati Tante Linda bernuansa modern, terkesan mewah dengan barang-barang yang tertata apik di dalamnya, mereka melewati ruang tamu yang sepi. "Kalian sudah ditunggu di ruang keluarga," ucap Linda, tangannya terus menggamit lengan keponakan perempuannya. Hingga Nena berpikir bahwa Tante Linda itu tidak se-menakutkan yang ia bayangkan.


Di ruang keluarga tampak berkumpul beberapa wanita muda, yang Nena tebak mungkin anak-anak dari tante mereka, juga seorang wanita yang tampak sedikit lebih tua dari Tante Linda, duduk berdampingan dengan lelaki paruh baya yang mungkin suaminya. Nena dan Justin menyalami mereka satu-persatu.


"Ayo duduk." Seorang wanita yang Nena tahu bernama Rania, yang sangat mirip dengan Tante Linda mengajaknya duduk berdampingan. "Kamu sudah dewasa, begitu cantik seperti ibumu," ucapnya yang membuat Nena tersipu dan berterimakasih. "Pasti selama ini kamu melalui kehidupan yang begitu sulit, kan."


"Mbak!" Linda menegur sang kakak, membuat beberapa penghuni di sana menjadi canggung. Justin yang duduk di sofa tunggal tampak menatap kedua tantenya itu tanpa ekspresi.


"Memang benar, kan? Seharusnya Serena yang hidup mewah menjadi bagian dari keluarga Adley, bukannya...." Rania sengaja tidak melanjutkan kalimatnya, dengan sinis ia melirik Justin yang tampak membalas tatapannya dengan acuh.


"Jadi, Tante mengundang kami ke sini hanya untuk membahas tentang hal itu?" Justin mulai bersuara, membuat Linda menatapnya khawatir, sorot mata ketakutan ia tunjukan sebagai ungkapan bahwa dirinya tidak suka ada pertikaian di rumah besarnya, rumah keluarga yang pernah dulu ia tinggali bersama-sama.


"Saya lebih suka membahas hak waris keluarga Adley yang seharusnya bukan atas nama kamu," ucap Rania, nadanya begitu sinis, membuat Nena merasa ngeri berada di sebelahnya. "Bahkan mungkin siapa yang tahu, kamu menikahi keponakan saya karena ingin mempertahankan apa yang telah kamu nikmati selama ini."


Justin tertawa sumbang, tidak tersulut emosi dengan tuduhan Rania, pria itu menopang dagu bertumpu pada lengan sofa, tatapannya dibuat terkesan menjengkelkan. Malah kini tantenya itu yang terlihat emosi dengan tanggapan Justin.


"Jadi, Tante Rania yang terhormat, anda maunya nama Tante yang tertulis di surat wasiat. Bukan begitu? Atau nama suami Tante? Anak-anak perempuan tante barangkali?"


Rania yang mulai naik pitam dengan angkuh berdiri. "Lancang! Kamu, apa kamu itu tidak sadar posisi kamu itu sekarang apa?"


Suasana mulai panas, Wirawan yang merupakan suami dari Rania ikut berdiri, menenangkan sang istri yang menurutnya sudah sangat keterlaluan, sebenarnya bukan hal seperti ini yang mereka harapkan dari pertemuan keluarga yang bertahun-tahun bahkan seperti sudah ditiadakan.


"Mah, kita di sini bukan untuk berdebat, kita ingin bicarakan hal ini baik-baik, dan jika mama tidak ceroboh melaporkan Juan ke polisi, mungkin dia bisa menjelaskan semuanya, ini bukan salah Justin, Mah."


"Papa membela anak kurang ajar itu." Rania geram, telunjuknya mengarah pada Justin dengan tatapan benci.


Rania dengan terpaksa kembali duduk, "kalian benar-benar sudah dibutakan oleh anak itu."


"Tante," Justin meletakan berkas-berkas perjanjian surat wasiat  yang ia bawa ke atas meja. "Saya tidak lupa dengan posisi saya saat ini," ucapnya serius. "Bahkan mungkin Tante yang lupa dengan perjanjian surat wasiat dari kakek." Justin berdiri, melangkah perlahan menghampiri sofa yang Rania duduki. "Mungkin ini takdir kami, dan kenapa papa Juan  menukarkan kami, hal itu juga kurasa sudah menjadi bagian dari takdir. Seharusnya tante berterimakasih pada papa, karena jika tidak, Tante dan keluarga Tante tidak akan pernah merasakan hidup mewah. Karena tidak adanya anak laki-laki keturunan Adley, hak waris akan jatuh pada sebuah yayasan yang telah ditentukan oleh kakek. Apa Tante lupa?"


Rania berdiri, jaraknya dengan Justin berhenti hanya beberapa langkah. "Apa bedanya dengan hak waris ada di tangan kamu?" Tantangnya.


Justin memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. Bersikap setenang mungkin. "Om, apa Tanteku ini tidak tahu, perusahaan yang om pimpin itu, siapa yang berjasa atas kemajuannya, siapa pendukung di balik itu?"


Rania menoleh pada sang suami, yang tampak salah tingkah. "Apa maksud semua itu, Pa?" Tanyanya.


"Mah, tujuh puluh persen saham di perusahaan papah itu atas nama Justin, tapi untuk keuntungan perusahaan semua masuk rekening mama, Justin tidak meminta hak sepeserpun."


"Begitu juga perusahaan yang aku pimpin," salah satu wanita muda yang ternyata anak pertama Tante Rania ikut bersuara. Dan yang lain tampak mengangguk mengiyakan.


"Mungkin yang Tante tahu, semua hak waris kekayaan kakek jatuh padaku dan papa, tapi tanpa tante ketahui, kami tidak menikmati semuanya sendiri, bahkan yayasan yang kakek cantumkan di surat wasiat itu ikut mendapatkan hak juga." Justin menoleh pada Nena yang balik menatapnya dalam diam, mungkin istrinya itu merasa tidak harus ikut campur dengan masalah di keluarga barunya.


"Apah?" Rania tampak tidak percaya, kakinya yang mulai lemas membuatnya menjatuhkan diri ke atas sofa.


"Jadi, Tante. Jika Tante tidak ingin jatuh miskin karena semua kekayaan Tante dilimpahkan untuk sebuah yayasan. Tolong cabut tuntutan tante pada papa Juan." Justin mengulurkan tangan kanannya pada Nena, membuat wanita itu sedikit terkesiap, dan dengan bingung menyambut uluran tangan suaminya.


"Dan tentang saya yang menikahi Serena, saya mencintai Serena jauh sebelum saya tahu bahwa dia adalah keponakan Tante." Justin tersenyum pada Nena. "Semuanya sudah jelas, ayo kita pulang," ajak Justin, Nena mengangguk.


"Tunggu," Linda menghampiri keduanya dan menggenggam lengan Justin, "sebaiknya kalian tinggal lebih lama lagi, kita makan malam dulu," pintanya.


"Terimakasih atas tawarannya, Tante. Tapi kami harus segera pergi."


Linda beralih menatap keponakan perempuannya, "Serena?"


"Maaf, Tante." Nena menolak dengan sopan, terlalu lama terdiam membuat suaranya kian tenggelam dan lirih. Setelah berpamitan pada semua penghuni ruang keluarga itu, keduanya melangkah pergi.


Jan lupa like komen 🤣 Aduh aku berasa bawel banget ini. Mon maap ya soalnya kan ini cerita aku ikutin kontes, jadi mohon dukungan ya. Buat yg blom like komen scroll lagi 🤣🤣