OH MY BOSS

OH MY BOSS
SANG CEO



Pelangi menaikan sebelah alisnya, lalu mendorong kepala Gilang agar menjauh dari hadapannya. Entah dari mana ia mendapatkan keberanian seperti itu. Mungkin karena sejak awal pertemuan, bagi Pelangi si pria asing tidak layak untuk dihormati dan disegani karena masuk ke dalam kamarnya tanpa izin, jadilah ia tidak menaruh rasa segan sama sekali pada Gilang.


"Baiklah, Bos, kalau begitu cepat dorong gerobak ini. Jangan banyak bicara saja, sebelum aku mengadukanmu pada Pak CEO yang asli, dan mengatakan padanya kalau kamu itu terus mengaku-ngaku sebagai dirinya."


Gilang tidak mengatakan apa-apa lagi, karena menurutnya percuma saja berdebat pada wanita yang keras kepala. Sebagai gantinya, ia malah menuruti apa yang Pelangi perintahkan. Tanpa ragu, Gilang mendorong gerobak menuju tempat pembuangan di luar kawasan perhotelan. Itu berarti Gilang harus melintasi halaman depan yang luas, di mana banyak terdapat pekerja yang sedang melakukan pembongkaran pada jalan berpaving yang hendak direnovasi.


Dalam perjalanan menuju luar hotel, banyak pasang mata yang menatap Gilang dengan bingung. Beberapa berdecak kagum, karena sebagai seorang pimpinan, Gilang termasuk pimpinan yang memiliki tangan ringan dan juga rendah hati. Mana ada seorang pimpinan di perusahaan besar yang mau melakukan semua itu, kecuali Gilang.


Pelangi yang berjalan di samping gerobak agak keheranan, karena beberapa orang yang berpapasan dengannya dan Gilang selalu saja membungkuk hormat. Bahkan beberapa ada yang menghampiri Gilang dan menawarkan agar dapat menggantikan posisi Gilang untuk mendorong gerobak hingga ke luar gerbang hotel. Namun, Gilang selalu menolak dengan sopan dan mengatakan bahwa ia sedang dihukum oleh seorang nenek sihir. Sontak saja orang-orang yang mendengar langsung mengalihkan pandangan ke Pelangi, membuat Pelangi menjadi salah tingkah dan hanya bisa tersenyum kikuk. Meski demikian, otak Pelangi yang sedikit lemot tidak sampai menduga bahwa Gilang adalah benar-benar CEO seperti yang dikatakan pria itu beberapa saat lalu.


Sesampainya di tempat pembuangan, Gilang dan Pelangi bekerja sama untuk mengangkat ujung gerobak, agar rerumputan kering dan ranting yang ada di atasnya dapat meluncur dengan bebas dari dalam gerobak.


"Wah, tidak kusangka kalau kamu yang mengerjakan akan selesai lebih cepat," komentar Pelangi. "Tenaga pria dan wanita memang berbeda."


Gilang diam saja, ia sibuk menyeka keringat yang membasahi wajahnya dan kemudian menatap kedua telapak tangannya yang merah dan lecet.


"Ada apa?" tanya Pelangi.


"Kamu tidak lihat kalau ini lecet." Gilang menggerutu.


Pelangi menarik telapak tangan Gilang dan meniupi lecet pada telapak tangan pria itu, seolah tiupannya dapat menyembuhkan bekas memerah yang terlihat jelas di tangan Gilang.


"Aku punya salep untuk luka lecet seperti ini. Nanti akan kuberikan padamu. Lagi pula, kamu ini pria, baru kerja begitu saja sudah lecet."


"Pekerjaan yang kulakukan tidak menuntutku untuk melakukan semua ini," ucap Gilang. "Oh, ya, salep yang kamu katakan tadi antarkan saja ke kamarku di lantai dua."


"Lantai dua. Ternyata benar kalau kamu adalah staf dari kantor pusat, itulah sebabnya aku tidak pernah melihatmu sebelumnya," ujar Pelangi. Kemudian kembali berkata, "Baiklah aku akan ke depan kamarmu nanti untuk mengantarkan salep. Katakan nomor berapa kamarmu?"


"301," ujar Gilang kemudian berlalu pergi dari hadapan Pelangi. ia benar-benar tidak tahan dengan panasnya matahari yang begitu menyengat.


"Huh, dasar tidak sopan,." gerutu Pelangi, saat dilihatnya Gilang berlari menjauh, kembali masuk ke kawasan perhotelan tanpa pamit padanya.


***


Matahari sudah mulai menggeser posisinya, bersiap untuk kembali ke peraduan dan melukis cahaya kemerahan di langit yang cerah sebelum bulan merangkak naik dan menggelantung indah di langit yang gelap.


Pelangi yang baru saja membersihkan tubuhnya dan berganti pekaian, segera membongkar isi tasnya yang masih tergeletak di lantai, di samping tumpukan pakaian yang terlipat secara asal-asalan. Berusaha menemukan tabung kecil yang berisi gel bening berbau mint.


"Salep penghilang lecet," jawab Pelangi, tanpa menoleh ke Alia sama sekali. "Nah, ini dia," gumamnya, saat akhirnya ia menemukan apa yang sedang dicarinya.


Setelah menemukan salep itu, Pelangi bergegas keluar dari kamar dan berlari menuju kamar bernomor 301, sesuai yang dikatakan Gilang siang tadi. Ia sudah tidak sabar agar dapat melihat wajah pria itu lagi. Walaupun ia kesal pada pria itu, tetapi entah mengapa ia selalu ingin menatap wajah tampan pria itu setiap waktu.


Akan tetapi, belum lagi ia tiba di kamar bernomor 301, Pelangi berpapasan dengan rombongan dari kantor pusat yang sepertinya hendak kembali ke kamar. Dan di sanalah ia melihat Gilang, pria yang siang tadi ia paksa mendorong gerobak berisi rumput dan ranting kering. Gilang terlihat sibuk membaca sesuatu dari map berwarna biru yang ada di tangannya, sementara di samping kanannya seorang pria tua sedang sibuk menjelaskan sesuatu dengan cepat pada Gilang.


Pelangi meneguk saliva dan kembali memperhatikan penampilan Gilang yang jauh berbeda dengan penampilannya kemarin malam dan juga siang tadi. Kali ini Gilang mengenakan setelan formal, rambutnya disisir rapi ke belakang, berwarna hitam legam yang membuat wajah putihnya terlihat sedikit pucat, tetapi tetap tampan dan memesona.


Segala yang menempel pada tubuh Gilang terlihat mahal dan berkelas. Mulai dari arloji, dasi, pin dasi, sepatu, hingga jas, semua adalah barang brabded yang nominalnya memiliki banyak angka nol di belakang titik.


Pelangi buru-buru membalik badan selagi Gilang belum melihat dan menyadari keberadaannya, dan ia dengan gerakan secepat kilat berlari kembali menuju kamar.


Sesampainya di kamar, Pelangi menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dan mulai mengeluh tidak jelas sambil *******-***** bantal yang tidak bersalah.


"Ah, bodohnya aku, ya, Tuhan. Bodohnya aku. Apa yang harus kulakukan sekarang?! Apa!" Pelangi mengacak rambutnya dengan frustrasi dan kedua kakinya menendang-nendang ke sembarang arah.


Alia yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya tentu saja menjadi terganggu atas keributan yang Pelangi buat. "Ada apa, sih Raina? Kayak orang kesetanan begitu?" komentar Alia.


Mendengar suara Alia, Pelangi segera bangkit dari kasurnya dan menghampiri Alia dengan langkah cepat. "Eh, Alia, apa kamu pernah melihat wajah CEO dari Andreas Group secara langsung? Bagaimana wajahnya? Tingginya seberapa? Ah, atau sebutkan saja berapa nomor kamarnya." Pelangi memberondong Alia dengan banyak pertanyaan sekaligus, membuat Alia kebingungan.


"Pelan-pelan, Rain, pelan-pelan." Alia menepuk pundak Pelangi. "Ada apa memangnya? Kok tiba-tiba menanyakan tentang Pak CEO. Kamu terlibat maslah dengannya, ya?"


"Ck, jawab sajalah. Nanti kujelaskan sisanya." ujar Pelangi.


Alia menyerahkan ponselnya pada Pelangi. "Aku sempat memotretnya saat dia berpidato pagi tadi. Dia itu tampan sekali dan juga manis. Tubuhnya tinggi dan tatapan matanya itu loh ... ah, wanita mana pun pasti akan meleleh begitu mendapat tatapan darinya."


Pelangi menerima ponsel Alia dan mencari folder penyimpanan foto agar dapat melihat bagaimana tampang CEO Andreas Group yang sebenarnya. "Ya, Tuhan!" Pekik Pelangi, saat dilihatnya potret sang CEO yang sedang berpidato pagi tadi. Sosok di dalam potret itu tidak lain dan tidak bukan adalah pria yang semalam tidur di dalam selimutnya dan pria yang pagi tadi ia paksa untuk mendorong gerobak sampah.


"Kenapa?" tanya Alia, bingung.


"Mati aku, Alia, mati aku!"


Bersambung ....