OH MY BOSS

OH MY BOSS
PENGAKUAN FARHAN



Alex mengetuk-ngetuk jemarinya di roda kemudi dengan malas. Ia menghitung dari satu sampai lima puluh, dimulai sejak ia mengirimkan pesan singkat kepada Gilang hingga bibirnya berucap '50' sembari menggerutu.


"Ah, sialan si Gilang itu. Apa dia tidak berniat untuk membalas pesanku! Apa tidak masalah baginya jika aku mengacaukan pernikahan Andrew? Dasar egois," gumam Alex, kemudian meraih ponsel yang sejak tadi ia letakkan di atas dasbor, dan mengeluarkan sim card dari dalamnya, lalu membuang kartu berukuran kecil itu keluar jendela.


Ya, Alex bukanlah pemain yang bodoh. Ia sudah berpengalaman dalam memainkan tipu muslihat. Seolah dapat menebak apa yang akan Gilang lakukan pada nomor ponselnya, Alex memilih untuk membuang kartu telepon ponselnya itu dan akan menggantinya dengan yang baru besok. Alex enggan mengambil risiko sekecil apa pun yang dapat membuat dirinya ketahuan kemudian tertangkap dan mendekam di penjara seperti Gisel.


Setelah puas mengomel, Alex menyalakan mesin mobilnya dan mulai meninggalkan kediaman mewah Gilang dengan cepat.


***


Suasana di gedung Andreas Group sangat ramai dan tegang hari ini. Tidak seperti biasanya di mana saat pukul 08.00 lobi akan terlihat sepi, karena para karyawan telah berada di ruangan masing-masing, tetapi tidak pada hari ini. Berita tentang kedatangan Farhan Andreas yang sudah lama tidak menginjakan kaki di kantor telah menyebar dengan cepat, membuat para karyawan penasaran dan tidak buru-buru masuk ke dalam ruangan mereka. Lagi pula, ada sebuah perintah yang meminta mereka semua untuk berkumpul di aula pada pukul 10.00, karena ada yang ingin Farhan sampaikan. Itulah sebabnya suasana terlihat tegang dan tidak ada satu pun karyawan yang berniat untuk melakukan pekerjaan hingga pukul 10.00 yang mereka tunggu-tunggu tiba.


"Apa yang akan pak ketua sampaikan, ya, hingga beliau meminta kita untuk berkumpul di aula?" tanya seorang karyawan bagian marketing pada rekannya. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang berlebihan, seolah dirinya akan menerima surah PHK pada hari ini.


Rekannya yang diajak bicara menggelengkan kepala dengan cepat. "Tidak tahu, tetapi terakhir kali hal seperti ini terjadi adalah beberapa tahun lalu, saat itu muncul orang asing yang mengaku sebagai pemilik Andreas Group yang baru. Ingat tidak? Apa jangan-jangan kali ini hal seperti itu akan terulang lagi."


"Shut, jangan bicara sembarangan. Aku harap kali ini tidak terjadi hal yang butuk pada perusahaan kesayangan kita. Pak Farhan dan Pak Gilang adalah pemilik sah perusahaan ini." Salah seorang karyawan memotong obrolan rekan-rekannya. "Ayo, kita ke aula sekarang, sebentar lagi jam sepuluh."


***


Di dalam perjalanan menuju kantor, Pelangi terlihat gelisah. Sejak tadi ia terus mengintip ke luar jendela mobil. Mengintip bagian samping kanan dan kiri, lalu depan dan belakang, barangkali ada kendaraan mencurigakan yang mengikuti. Tetapi tidak ada kendaraan lain yang mencurigakan terlihat di dekat kendaraannya. Hanya ada sedan milik Farhan, Toni, dan Andrew yang berjalan di depan dan belakang sedan yang sedang ia tumpangi bersama dengan Gilang.


"Berhentilah bertingkah seperti itu, Sayangku. Tidak ada yang mengikuti kita sekarang ini. Aku yakin itu." Gilang meraih telapak tangan Pelangi dan meremasnya dengan lembut.


"Tetap saja kita harus waspada. Orang jahat pasti berkeliaran di mana-mana saat ini. Gisel memang berada di penjara, tapi hal itu tidak menjamin keselematan kita, Gil. Aku yakin ada orang lain di balik semua ini, tapi siapa?" Pelangi menggigiti kukunya dengan gelisah, kedua matanya berair dan merah.


Gilang meraih tubuh Pelangi dan merangkulnya, ia tidak peduli pada kehadiran orang lain, yaitu sopir yang sedang mengemudi. "Shuut, tenanglah, Pelangi. Ada aku di sini."


"Justru karena ada kamu di sini. Bukankah tadi aku sudah mengatakan agar kamu tidak usah ikut. Apa kamu lupa kejadian satu tahun lalu, saat itu kamu dihajar habis-habisan dan hampir saja kehilangan nyawa. Aku takut, Gil, aku takut hal seperti itu kembali terulang. Bagaimana kalau sampai ada yang merebutmu dariku, hah? Dan akhirnya kita tidak dapat berjumpa lagi?" Pelangi sekarang menangis sesegukan, jelas sekali terlihat bahwa Pelangi masih trauma atas kejadian yang pernah menimpanya. Trauma itu kembali muncul sejak ia mendapat teror semalam.


Gilang mengelus punggung Pelangi, masih berusaha membuat tenang wanita itu. "Percaya padaku, Pelangi, kali ini hal seperti itu tidak akan terulang lagi. Percayalah padaku."


"Jangan tinggalkan aku lagi. Aku takut menjalani hari seorang diri, Gil, aku takut," lirih Pelangi.


"Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji." Gilang melepaskan pelukannya pada tubuh Pelangi, lalu mengusap pipi wanita itu yang basah karena air mata. Melihat keadaan Pelangi yang seperti itu membuat Gilang merasa kasih pada Pelangi dan tidak tega jika harus memaksa Pelangi menghadiri pertemuan yang akan ayahnya selenggarakan di kantor.


"Apa kamu ingin agar kita kembali ke rumah saja. Aku yakin ayah kan mengerti dan tidak keberatan jika kita pulang lebih dulu."


Pelangi menggeleng. "Tidak usah. Aku sudah tidak apa-apa."


"Kamu yakin?" Gilang kembali bertanya.


Pelangi mengangguk. "Maaf, aku membuatmu cemas. Tapi, aku sungguh tidak apa-apa."


Pelangi mengangguk, lalu mengikuti saran Gilang untuk mengatur napasnya dan mulai menyingkirkan ketakutan-ketakutan yang menumpuk di dadanya.


Beberapa saat kemudian mobil yang mereka tumpangi berhenti di halaman depan Andreas Group, tepat di pintu masuk utama gedung.


Seorang petugas yang berjaga di luar gedung, dengan sigap berlari menuju mobil dan membuka pintu mobil untuk Gilang, begitu pula dengan dua petugas lainnya yang menghampiri mobil Farhan dan Andrew. Sementara Toni dan Amara yang berada di mobil paling belakang segera keluar dari dalam mobil dan berjalan dengan cepat menghampiri Pelangi dan Gilang. Amara memang ditugaskan untuk mendampingi Pelangi sejak semalam, sementara Toni kembali menjadi asisten Gilang jika ada pertemuan yang dipimpin Farhan Andreas seperti sekang ini.


"Ada apa?" tanya Amara, khawatir, begitu melihat wajah pucat Pelangi.


Pelangi menggeleng. "Tidak ada apa-apa. Tenang saja." Pelangi berusaha untuk tersenyum agar Amara tidak khawatir.


"Katakan saja padaku jika kamu merasakan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, oke." Amara kembali berujar, yang dijawab Pelangi dengan cara mengacungkan ibu jarinya.


Farhan mulai melangkah memasuki bagian lobi gedung diikuti oleh Tito, Andrew, Gilang, Delia, Pelangi, Amara dan Toni.


Delia yang masih tidak mengerti kenapa dirinya dipaksa ikut ke kantor berjalan dengan tubuh gemetar di samping Andrew.


"Dingin?" tanya Andrew.


Delia menggeleng dan tersenyum. "Tidak."


Andrew mengusap puncak kepala Delia dengan lembut. "Tenanglah. Di dalam tidak ada monster, kok, jadi jangan gemetar begitu."


Delia berusaha menarik kedua sudut bibirnya agar membentuk sebuah senyuman yang sekarang ini rasanya sulit sekali untuk ia lakukan. Padahal biasanya ia selalu tersenyum. Namun, sekarang ia merasa sangat gugup. Hari ini adalah hari pertama ia menginjakan kaki di sebuah tempat yang luar biasa seperti gedung perkantoran Andreas Group sebagai seorang calon menantu dari pemilik perusahaan yang sedang ia datangi. Bagaimana ia tidak merasa gugup dan salah tingkah.


Setelah berjalan cukup jauh akhirnya mereka semua tiba di depan sebuah pintu melengkuk yang berukuran besar, pintu itu terlihat seperti gerbang karena ukurannya yang berkali lipat dari ukuran pintu kebanyakan.


Toni berlari menuju barisan paling depan, lalu membuka pintu dan membungkuk sedikit sebagai tanda bahwa Farhan dipersilakan untuk masuk. Farhan menepuk pundak Toni, ia menyukai Toni, karena Toni tahu bagaimana cara bersikap, saat di rumah Toni selali bersikap santai, tetapi saat di kantor Toni bersikap sangat hormat dan formal pada Farhan dan Gilang.


Setelah Farhan memasuki aula, segera yang lain menyusul hingga mereka semua tiba di bagian tempat duduk yang berada di baris paling depan. Farhan terus melangkah menuju podium dibantu oleh Tito, sementara Gilang dan rombongan mengambil tempat duduk di bagian paling depan.


Farhan berdeham, lalu mengetuk mikrofon untuk memastikan apakah mikrofon di hadapannya berfungsi atau tidak. Setelahnya, Farhan pun berujar, "Selamat datang semua. Terima kasih atas kehadiran kalian. Aku dan putra-putraku sangat menghargainya." Farhan menyunggingkan senyuman dan membiarkan gumaman-gumaman saling bersahutan sebelum akhirnya mereda.


Farhan tahu jika efek dari ucapannya pastilah akan membuat heboh. 'putra-putra' siapa pun yang mendengar pasti akan bingung, karena selama ini Farhan Andreas diketahui hanya memiliki satu putra.


"Nah, izinkan aku untuk melanjutkan ucapanku." Farhan berucap, membuat suasana kembali menjadi hening. "Putra keduaku akan menikah. Aku ingin mengundang kalian semua agar bersedia hadir di hari bahagia itu."


Aula kembali berdengung, seolah ada ribuan ngengat yang sedang terbang di ruangan besar itu.


"Dan ...." Farhan menggantungkan ucapannya, memberi kesempatan pada semua orang yang ada di aula untuk kembali tenang. "Pada hari ini, aku ingin mengumumkan bahwa posisi direktur yang selama ini kosong akan diisi oleh Andrew. Ya, Andrew Andreas, adik dari Gilang Andreas, putraku."


Bersambung ....