OH MY BOSS

OH MY BOSS
LUKA PADA JIWA



Pelangi masih tidak mengerti. Jujur saja ia pun baru pertama kali mendengar tentang Spinal Cord Injury, meski demikian ia merasa jika penyakit itu adalah penyakit serius yang seharusnya tidak menyambangi tubuh suaminya.


Pelangi menggenggam tangan Gilang semakin erat. Sedangkan sebelah tangannya membelai puncak kepala Gilang dan kepalanya ia sandarkan pada dada Gilang. Ia ingin Gilang tidak merasa sendiri. Ia ingin Gilang mengerti bahwa apa pun yang terjadi, ia tidak akan pernah meninggalkan Gilang.


Detak jantung Gilang yang teratur membuat Pelangi merasa tenang, merasa hidup. Ia sangat suka saat-saat ia bersandar pada dada Gilang dan mendengarkan juga merasakan detak jantung pria itu sembari menyesap aroma tubuh Gilang yang familiar di indera penciumannya.


Tanpa terasa, air mata Pelangi menetes. "Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Pelangi bergumam. Kesedihannya semakin menjadi saat ia tidak merasakan sentuhan tangan Gilang di puncak kepalanya. Biasanya saat ia menyandarkan kepala di dada Gilang seperti sekarang ini, Gilang akan menyentuh puncak kepalanya, tetapi sekarang tidak. Rasanya seperti mimpi buruk jika memang benar tubuh Gilang tidak lagi dapat digerakkan.


"Kamu begitu yakin jika semuanya akan baik-baik saja. Tapi kenapa kamu menangis?" tanya Gilang, saat ia merasakan tetesan air mata Pelangi yang hangat menembus pakaiannya.


Pelangi bangkit, lalu menatap Gilang di balik embun yang menyelubungi kedua matanya. "Bagaimana aku tidak menangis, Gilang. Bukankah semua ini sangat keterlaluan. Baru saja kita merasakan kebahagiaan, dan baru saja akan ada pesta besar di rumah ini, tapi lihatlah, Tuhan kembali mengirimkan cobaan untuk kita. Entah kapan penderitaan ini akan berakhir, Gil, entah kapan." Pelangi terisak di samping Gilang, tubuhnya merosot dan kembali kepalanya bersandar pada dada Gilang yang bidang.


Gilang ikut menangis. Untuk kedua kalinya Gilang merasa tidak berdaya. Saat Pelangi terjatuh ke jurang, ia hanya bisa memandang wanitanya itu di kejauhan tanpa bisa melakukan apa-apa, dan sekarang pun sama saja, ia tidak dapat melakukan apa pun padahal jaraknya dan jarak Pelangi begitu dekat. Untuk mengusap punggung Pelangi dan memenangkan wanita itu saja ia tidak mampu.


Ya, benar apa yang Pelangi katakan, entah kapan penderitaan akan menghilang dari kehidupan mereka.


***


Pelangi mengaduk cokelat hangatnya sejak beberapa menit lalu. Tidak bisa dikatakan cokelat hangat lagi karena asap yang mengepul dan menari-nari di atas cangkir kini telah menghilang.


Pelangi menghela napas, kemudian menyesap cokelat hangatnya sedikit demi sedikit. Suasana dapur yang sepi dan tenang terasa pas sekali untuk melarikan diri dari kenyataan. Pelangi memang memilih untuk keluar dari kamar saat dokter tiba bersama dengan Toni dan segera melakukan pemeriksaan pada Gilang. Karena jika ia terus berada di samping Gilang, air matanya akan terus mengalir, dan hal itu hanya akan membuat Gilang semakin sedih dan khawatir. Ia tidak ingin membuat Gilang menjadi sedih.


Pelangi bersandar pada sandaran kursi yang tengah ia duduki, ia membayangkan Kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin saja terjadi pada Gilang. Namun, bayangan-bayangan itu seketika menghilang saat seseorang menepuk pundaknya dengan keras.


"Apa yang sedang kamu lakukan sendirian di sini?"


Pelangi membuka mata, dan mendapati Amara tengah menatapnya sambil berkacak pinggang.


"Cokelat panas," ujar Pelangi. "Aku sedang menikmati cokelat panas."


"Sambil menangis?" tanya Amara, lalu menarik kursi di samping Pelangi dan duduk dengan nyaman di atasnya. "Ceritalah padaku, Pelangi. Kita sudah lama berteman, tapi sekarang kamu terasa seperti orang asing bagiku. Kamu tidak mau menceritakan apa pun lagi padaku. Padahal dulu kamu selalu mengatakan semuanya padaku. Apa yang terjadi? Apa kamu sudah tidak menyayangiku lagi dan tidak percaya padaku?"


Pelangi menghela napas, kemudian berkata, "Bukan begitu, Amara. Aku hanya tidak ingin jika kamu terbebani atas derita yang kualami. Dulu, pembicaraan kita hanya seputar hari-hari beratku dalam menghadapi rentenir yang berusaha mati-matian untuk memerasku. Tapi sekarang, setelah menikah permasalahan yang kuhadapi jauh lebih berat. Kamu tahu sendiri, aku bahkan hampir kehilangan nyawa beberapa waktu lalu saat seseorang mencoba untuk menghabisi nyawaku. Jika kamu berada di sekitarmu saat itu, mungkin kamu pun akan mengalami kejadian nahas seperti yang kualami."


Amara mengulurkan tangannya dan menyentuh punggung tangan Pelangi dengan lembut. "Katakan saja, Pelangi, aku akan menjadi pendengar yang baik sama seperti dulu. Bebanmu harus kamu bagi, jangan kamu simpan seorang diri. Aku pasti kecewa jika kamu tidak ingin berbagi padaku. Untuk apa aku ada di sini, menumpang tinggal di ruang besar ini jika kamu tidak menganggapku ada."


Pelangi menatap ke dalam mata Amara yang tulus, sahabatnya yang memang beberapa waktu ini jarak mereka terasa semakin renggang saja.


Pelangi menghela napas, lalu berkata, "Pertama, Arya berusaha untuk menjadikanku wanitanya. Tanpa ikatan pernikahan, dia ingin agar aku mengandung anaknya. Dia bahkan mengatakan akan membuat aku melakukannya atas izin Gilang, dan Gilang akan mengizinkanku karena Gilang tidak akan punya pilihan lain. Kedua, Gilang ... aku rasa Gilang, dia ... entahlah, aku belum bisa mengatakan apa-apa. Dokter sedang memeriksanya sekarang. Tapi, perlu kamu ketahui bahwa Gilang sedang sakit dan kondisinya tidak baik-baik saja."


"Oh, Pelangi, aku tidak tahu harus berkata apa. Keduanya begitu mengejutkanku." Amara merangkul Pelangi, membiarkan wanita itu menangis di dalam pelukannya.


"Gilang tidak dapat menggerakkan tubuhnya, Ra. Ini sungguh mimpi buruk bagiku. Gilangku tidak boleh mengalami cobaan seberat ini. Bagaimana caranya dia melewati hari-harinya sekarang?" Pelangi menangis sesegukan dalam pelukan Amara, sementara Amara terus berusaha menenangkan Pelangi.


"Shut, jangan mengambil kesimpulan apa pun sebelum kita mengetahui hasilnya. Kita tidak tahu apa yang terjadi pada Gilang, 'kan. Berdoalah, Pelangi, berdoalah agar semuanya baik-baik saja."


Pelangi mengangguk, kemudian ia menjauh dari Amara. "Apa yang kamu ketahui tentang spinal cord injury?" tanyanya.


Amara terdiam sejenak. Ia tahu penyakit itu. Dulu sekali sebelum bekerja sebagi office girl di kantor Andreas Group, ia bekerja merawat seorang pria yang menderita penyakit tersebut.


"Siapa yang menderita spinal cord injury? Biasanya seseorang yang habis mengalami kecelakaan atau terjatuhlah yang mengalami nya," tanya Amara, wajahnya tegang dan pucat pasi.


"Gilang bilang, kemungkinan besar dia menderita penyakit itu. Kemarin malam dia memang terjatuh di sebuah lubang galian."


Amara mengusap wajahnya dengan kasar. "Spinal cord injury adalah cedera pada saraf tulang belakang. Majikanku yang dulu menderita penyakit ini dan dia lumpuh total, karena memang kasusnya termasuk parah. Apa kamu yakin Gilang mengatakan bahwa kemungkinan dia mengalami cedera pada saraf tulang belakang."


Pelangi mengangguk dengan air mata yang membanjiri kedua pipinya. "Itulah yang Gilang katakan."


Amara kembali meraup Pelangi ke dalam pelukannya. "Shuut, tenanglah, tenang. Semua akan baik-baik saja. Ya, Tuhan, semoga ini semua hanya mimpi."


***


Delia tidak tinggal diam saat ia mendengar apa yang Amara katakan. Bukannya Amara tidak bisa menjaga mulut. Ia hanya sangat kesal pada pria bernama Arya yang telah berani melecehkan Pelangi, sehingga ia tidak bisa menyimpan berita itu untuk dirinya sendiri. Ia merasa bisa gila jika tidak membagi berita itu pada orang yang bisa dipercaya, maka menceritakan semuanya pada Delia adalah keputusan yang paling benar menurutnya. Setidaknya ada seseorang yang bisa diajaknya berdiskusi untuk membantu Pelangi menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi oleh wanita itu.


"Kalau dia begitu ingin punya anak. Kenapa dia tidak menikah saja. Dasar maniak!" omel Delia, sembari meremas kertas hias yang ia pungut dari meja yang ada di sebelahnya.


Saat ini Amara dan Delia sedang berada di ruang keluarga, membereskan ruangan yang berantakan dan penuh dengan sisa alat-alat dekorasi.


Delia mengernyitkan dahi. Ia sedikit pusing dengan bahasa Amara yang terputar-putar. "Menurutmu haruskah kita berdua memberi pria bernama Arya itu pelajaran. Kita bisa datang ke kantornya dan mengacau di sana, mempermalukannya agar seluruh karyawannya tahu kalau bos mereka itu memiliki kelainan, bagaimana?" Delia memberi saran.


Amara bersiul dan mengangguk setuju. "Kamu terlihat polos, tapi ternyata kamu sedikit barbar juga. Aku setuju denganmu--"


"Tapi aku tidak setuju."


"Aku juga tidak."


Toni dan Andrew memasuki ruang keluarga dan segera memotong percakapan antara Amara dan Delia.


"Jangan sekali pun bertindak tanpa memberitahu kami. Karena kalian tidak tahu bahaya apa yang sedang mengancam di luar sana." Andrew mencubit hidung mancung Delia dengan gemas, membuat pipi Delia merona karena malu.


"Dan kamu juga, Amara, jangan lakukan apa pun tanpa berunding denganku. Arya memang terlihat tidak berbahaya, tapi aku rasa pria itu adalah seorang psiko_pat." Toni mengetuk kepala Amara dengan buku jarinya.


Amara mengelus bagian kepalanya yang baru saja mendapat ketukan sayang dari Toni. "Bagaimana keadaan Gilang? Apa yang dokter katakan?" tanya Amara, ia keceplosan. Seharusnya ia diam saja, tetapi lagi-lagi mulutnya tidak dapat ia kendalikan dengan baik.


Toni menatap Amara dengan tatapan sendu. "Kita tunggu saja. Dokter harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Rotgen, MRI dan lain-lain. Dokter tidak bisa memvonis begitu saja tanpa melakukan pemeriksaan menyeluruh terlebih dahulu."


"Apa yang terjadi. apa kakinya masih belum bisa digerakkan?" tanya Andrew, yang masih mengira bahwa Gilang mengalami sakit kaki sehingga pria itu tidak muncul sepanjang pagi hingga sore hari.


"Bukan hanya kakinya. Aku rasa saraf tulang belakangnya bermasalah. seluruh anggota tubuh Gilang tidak bisa digerakkan. Dia bahkan tidak dapat merasakan sakit saat dokter mencubitnya."


"Jangan bercanda," timpal Andrew.


Toni mengusap wajahnya, ia terlihat lelah dan khawatir. "Pelangi dan Gilang memintaku untuk merahasiakan hal ini darimu dan Delia, karena mereka tidak ingin kalian menjadi khawatir dan berita ini bisa saja merusak kebahagiaan kalian yang akan menjadi pengantin dua hari lagi, tapi semakin ke sini aku rasa percuma saja jika aku merahasiakan hal ini dari kalian. Toh, pada akhirnya kalian akan tahu juga."


Andre syok. Ia jatuh terduduk di kursi yang ada di belakangnya. "Tidak mungkin hal itu terjadi pada Gilang, dia masih muda. Bagaimana jika ayah sampai tahu?"


Delia menyentuh pundak Andrew dan meremasnya dengan lembut. "Tabahlah, tabahlah," gumamnya.


"Itulah yang kupikirkan. Bagaimana caranya kita mengabari Pak Farhan. Aku takut dia akan terkejut dan kemudian jatuh sakit." Toni menghela napas dan mulai memijat pelipisnya. "Aku sungguh bimbang. Aku tidak tahu langkah apa yang harus kuambil sekarang."


Suasana menjadi hening. Tidak ada satu pun dari mereka yang bicara. Semua hanyut dalam pikiran mereka masing-masing hingga suara langkah kaki memecah keheningan disusul oleh suara napas yang terengah-engah memasuki ruangan. Detik berikutnya suara Pelangi menggema memenuhi seisi ruangan, diiringi dengan isak tangis yang memilukan.


"Gilang ... tolonglah, Ton, dia kesulitan bernapas."


***


Arya kembali menerima suntikan obat penenang untuk yang kesekian kalinya setelah sebelumnya ia mengamuk dan memohon untuk dilepaskan. Biasanya kondisi Arya yang memprihatinkan seperti ini akan berlangsung selama satu hari penuh, kemudian ia akan lupa pada apa yang telah terjadi dan kembali menjadi Arya yang normal, Arya yang baik, sederhana dan ramah.


Suster An mengelus dada saat Arya kembali menutup mata dan terlihat tenang bagai seorang bayi yang tertidur pulas.


"Kondisi seperti ini termasuk katagori apa, Dok. Aku tidak pernah melihat pasien yang mengalami gejala seperti yang Tuan Arya alami."


"Gangguan emosional, tentu saja. Aku pun sedang berkonsultasi dengan dokter lain dari Belanda. Kasus Arya termasuk langka, dan hingga saat ini hanya suntikan obat penenang yang dapat menghentikannya. Dia juga harus selalu diawasi saat emosinya kembali stabil." Dokter Zayan menjelaskan pada Suster An.


Suster An mengangguk. "Kehilangan kekasih untuk selamanya membuatnya jadi seperti ini."


Dokter Zayan melirik ke arah Suster An yang menatap Arya dengan iba. "Kehilangan adalah luka paling serius dalam jiwa seseorang. Jika dia rela dan menerima takdir, semuanya akan baik-baik saja."


"Siapa yang akan rela jika kebahagiaan yang tersuguh di depan mata tiba-tiba saja hilang direnggut oleh takdir. Aku pun akan gila jika menjadi dirinya."


"Satu hal lagi, tekanan dari ayahnya merupakan faktor utama hal ini terjadi pada Arya."


Suster An mengernyitkan dahi. "Tekanan? Apa tekanan masalah pekerjaan?"


Dokter Zayan menggeleng. "Bukan. Jika hanya masalah pekerjaan aku rasa Arya bisa mengatasinya. Tapi ini lebih sulit dari sekadar pekerjaan. Ayahnya memaksa Arya untuk memberikan penerus bagi keluarga mereka, sedangkan Arya tidak dapat melakukannya karena dia tidak ingin mengkhianati kekasihnya. Rumit sekali. Jadilah Arya mencari seorang wanita yang mau mengandung bayinya dan melahirkan bayi itu untuknya tanpa ikatan pernikahan."


Suster An menatap Dokter Zayan dengan mata melotot. "Serius? Seperti di novel saja."


"Serius. Dan inilah kenyataan yang ada. Dari yang aku dengar, Arya memilih wanita bernama Pelangi, tapi yang menjadi masalah adalah wanita itu sudah bersuami, dan Arya kesal pada kenyataan itu."


Suster An mendapat jawaban dari pertanyaan yang sejak siang tadi mengganggu pikirannya.


Bersambung.