OH MY BOSS

OH MY BOSS
KITA HARUS PINDAH



γ€€


γ€€


Setelah dilepaskan di depan pintu yang membuatnya berkesempatan melempar sang adik dengan sendal, Nena mengikuti Justin ke dalam.


"Kenapa sih, Mas? Kok narik-narik aku ke kamar, bikin Ardi tambah rese aja," omel Nena.


Justin yang semula sibuk dengan isi lemari di hadapannya menoleh. "Rese kenapa?" Tanyanya, menghampiri sang istri.


"Ardi pikir kita itu mau nerusin yang semalem."


"Emang semalem ngapain?"


Pertanyaan Justin tidak mendapat jawaban dari istrinya, Nena tampak menunduk malu, dari raut wajahnya seolah bilang 'lelepin ajah Hayati di rawa-rawa, Bang' dan hal itu membuat pria yang masih memakai baju tidur itu mencondongkan wajahnya mendekat hingga Nena berjengit mundur.


Justin tersenyum geli. "Tolong siapkan baju, saya harus ke kantor," Titahnya kemudian mengambil handuk.


"Mas mau ngantor? Aku ikut nggak?"


"Kecuali kamu mau berhenti jadi asisten saya, terserah," ucap Justin kemudian keluar dari pintu.


Nena menggerutu kesal. "Orang itu, kapan sih ngomongnya bisa dimengerti secara langsung."


Baju Justin tidak terlalu banyak, beruntung pria itu meninggalkan beberapa setelan kerja saat sering menginap di rumah Nena, dan itu ada di lemari kamar Ardi, Nena pun keluar kamar dan bersamaan dengan itu suara teriakan dari dalam kamar mandi membuatnya terkejut dan menghampiri suaminya.


BRAK!


Saat pintu terbuka paksa, Nena ikut panik. Justin berlari dengan rambut basah, wajahnya tampak pucat, beruntung suaminya itu tidak lupa melilitkan handuk di pinggangnya.


"Ada apa sih, Mas?" Tanya Nena.


Justin memegang ke dua bahu wanita itu dengan napas yang memburu. "Kita harus pindah," ujarnya.


"Emang ada apa?" Sesak Nena, melihat suaminya yang tampak pucat sekali membuatnya semakin khawatir.


"Ada binatang di kamar mandi."


Nena menghela napas berat, ya ampun. Wanita itu menurunkan kedua tangan sang suami dari pundaknya. "Tikus?" Tanyanya yang malah membuat Justin semakin pucat pasi.


"Ada yang seperti itu juga?"


"Aku nanya, Mas."


Justin mengusap wajahnya kasar, membersihkan tetesan air dari rambut yang sebenarnya membuat ia semakin terlihat seksi. "Serangga terbang," jawabnya.


"Kecoa?" Tanya Nena, menahan tawa. Dan saat suaminya itu mengangguk gelaknya terlepas juga.


"Lucu, yah?"


"Bukan gitu, Mas. Ya ampun cuma kecoa doang kamu sampe pucet gitu."


"Tapi dia terbang, hampir ke muka saya." Justin menjelaskan dengan sungguh-sungguh kemudian melangkah pergi menuju kamar Nena. Hal itu membuat Nena merasa iba, seorang Justin, bertemu dengan binatang penghuni kamar mandi tentu hal yang baru untuk pria itu.


"Eh, Mas. Emang udah selesai mandinya." Nena bertanya sembari berlari-lari kecil mengejar suaminya, Ardi sudah berangkat sekolah dan sang ibu keluar entah kemana. Kehebohan itu hanya mereka berdua yang tahu.


"Sudah." Justin menjawab dengan nada terpaksa.


"Udah pake sabun mandi?" Tanya Nena, tawanya sudah mereda.


"Nggak sempat."


Di dalam kamar, Nena yang masih tampak canggung dengan keberadaan sang suami hanya bisa duduk memperhatikan Justin berganti baju, memasang kancing satu persatu yang dirasa tidak perlu ada yang bantu. Mungkin pria itu sudah terbiasa sendiri.


Justin menolehkan pandangan pada Nena. "Kamu bisa bantu saya pasang dasi?"


Nena sigap berdiri, dengan hati-hati menyimpul dasi, wanita itu pernah memakaikan untuk ayahnya beberapa tahun yang lalu, dan saat Ardi menghadiri acara tertentu pun dia yang membantu adiknya, tapi memasang dasi untuk suami jelas berbeda, terlebih lagi beberapa bulan kemarin pria itu adalah atasannya.


Ya Allah, masang dasi doang kenapa bisa sesusah ini sih, lebih gampang masang tali jemuran deh.


Justin melingkarkan tangan kanannya di pinggang Nena, yang membuat wanita itu semakin gugup, pasang dasi bak dirasa uji nyali, tangannya semakin gemetaran.


"Kamu takut?" Tanya Justin.


Nena yang belum sepenuhnya paham dengan maksud sang suami hanya menggeleng pelan.


Dalam jarak sedekat itu yang Nena takutkan hanyalah detak jantungnya yang mungkin terdengar berparade oleh pria di hadapannya. Wanita itu berpikir, 'masa sekarang sih, udah rapi juga.


"Kalo kamu belum siap buat ketemu orang kantor, saya bisa berangkat sendiri."


"Eh."


***


Nena tidak memakai setelan kerja seperti biasanya, hanya gaun terusan selutut tanpa lengan yang dipadukan blazer dengan warna senada. Justin bilang dia hanya akan memimpin rapat sebentar dan pergi lagi.


Mungkin Justin benar, Nena memang belum siap untuk bertemu rekan kantornya setelah kehebohan di pesta pernikahannya kemarin. Entah terlalu gugup atau takut, wanita itu tidak memperhatikan langkahnya saat turun dari mobil Justin dan malah tergelincir nyaris jatuh. Merasakan sakit di pergelangan kakinya, Nena tahu dia pasti terkilir.


"Kamu nggak apa-apa?" Tanya Justin, dengan khawatir memegangi sang istri.


"Nggak apa-apa kok, aku nggak usah ikut rapat deh, Mas duluan aja." Nena yang merasa langkahnya akan menghambat sang suami memberi usul, membuat pria di sampingnya itu merasa dilema.


"Tapi kamu bisa jalan, kan?"


"Bisa kok, nanti aku nyusul ke ruangan Mas aja."


Justin tampak ragu, namun saat melirik jam di pergelangan tangannya , pria itu menghela napas berat. Sebentar lagi terlambat, dan dengan berat hati meninggalkan Nena setelah memberi pesan harus menghubunginya jika terjadi apa-apa.


Selepas kepergian Justin, Nena menyusuri lobby kantor dengan sedikit terpincang. Tidak banyak yang berubah dari beberapa hari yang lalu saat dia mulai cuti. Hanya saja sikap semua orang yang berpapasan atau mendahuluinya agak sedikit berbeda. Menjadi sangat ramah dan selalu menyapa, membuatnya ingin buru-buru cepat berlalu.


Saat di koridor kantor yang cukup sepi, seseorang memanggilnya. Nena menoleh.


"Ya ampun, Na. Gue kangen banget sama lo." Siska menubruk sahabatnya dan memberikan pelukan erat. "Udah jadi ibu bos sekarang, lo nggak lupain gue kan," tutur Siska setelah melepaskan pelukannya.


Nena tampak diam. Mengerutkan dahi, "maaf, Anda siapa ya?" guraunya yang berhasil membuat wanita cantik yang masih menenteng tasnya itu mencebik sedih.


"Nena!" Omel Siska yang disambut tawa geli sahabatnya. Siska menyikut lengan Nena. "Duileeh yang abis malem pertama. Jalannya beda," godanya yang diabaikan oleh wanita yang kini bersetatus Nyonya Adley.


"Gue keseleo tadi di parkiran." Sembari kembali melangkah, Nena mencoba meluruskan.


"Yaudahlah, Na. Nggak usah malu. Sama gue doang juga. Gimana-gimana? Lo ampe gempor gini sadis banget berarti ya, si ganteng nggak bisa–"


"Nggak usah ngaco." Nena membekap mulut sahabatnya. Membuat ocehan gadis itu terhenti seketika. "Gue beneran keseleo, tau," omelnya yang malah membuat Siska terkekeh.


"Ceritain dong, Na. Lo pelit banget deh."


Nena menghela napas berat. "Mendingan lo cepet Nikah aja deh, Sis. Gue ceritain ntar lo prakteknya susah."


"Sialan lo." Siska reflek menoyor pipi Nena seperti biasa. "Eh, maaf-maaf Ibu Bos, jangan pecat yah."


"Bonus akhir tahun lo gue potong setengah, mau."


"Weh gila. Sadis banget lo."


Keduanya terkekeh, kembali melangkah. "Lo sama Indra ada kemajuan, Sis?" Tanya Nena.


Siska mencebik sedih, saat Nena menoleh ke arahnya. "Gue males ngasih kode mulu. Jemuran aja nih, kelamaan digantung bisa ilang, apalagi perasaan gue."


Nena menepuk-nepuk pundak sahabatnya. "Sabar-sabar, nanti gue traktir makan siang, kalo ada kesempatan ya," hiburnya. "Buat nyadarin orang yang nggak peka tuh butuh banyak tenaga," Lanjutnya yang membuat Siska semakin keki.


"Sialan lo, eh tapi beneran ya. Entar gue tagih. Oiya gue lupa mau foto kopi berkas dulu." Siska menepuk keningnya sendiri. Kemudian berbalik. "Lo utang cerita malem pertama sama gue, Na." Teriaknya yang membuat Nena pura-pura tidak kenal pada gadis gila yang sialnya sahabatnya itu.


Lift menuju lantai di mana ruangan Justin berada, terbuka. Nena yang entah kenapa hanya sendiri masuk dan membiarkan lift kembali tertutup, mungkin seperti ini rasanya disegani. Padahal Nena tahu beberapa karyawan pasti juga ikut menunggu, herannya tidak ada yang mau ikut masuk, malah berpura-pura sibuk sendiri setelah menyapa. Yasudah lah.


Di tengah perjalanan, lift berhenti dan terbuka, seseorang yang paling tidak ingin ia jumpai saat ini, atau mungkin selamanya, masuk ke dalam. Nena melangkah keluar, namun pria itu menahan pergelangan tangannya dan benda persegi yang mereka tumpangipun kembali tertutup dan bergerak naik.


"Lepasin aku, Mas." Nena menarik lengannya dengan kasar.


"Aku minta maaf, Na. Aku bisa jelasin," mohon Bimo, Nena tampak enggan menatap pria itu. Dia benar-benar kecewa.


"Aku udah nggak butuh penjelasan. Semuanya udah jelas, kamu nggak usah repot bohongin aku lagi."


"Maafin aku, Na. Tolong." Bimo kembali hendak meraih tangan Nena, membuatnya berjengit mundur.


"Jangan sentuh aku." Bentak Nena. Dalam hatinya sebuah kata benci dan jijik terlintas. Sinetron sekali. Nena memberanikan diri menatap mantan calon suaminya itu dengan tajam.


Lift berhenti dan terbuka, Justin berdiri di sana, menatap keduanya dalam diam.


tolong jangan dilewatin like nya πŸ˜„