
Tidak ada berita yang lebih mengejutkan yang pernah Andrew dengar sebelumnya selama ini. Bahkan ketika ibunya memberitahu kebenaran tentang status ayahnya yang masih hidup--sebelumnya sang ibu mengatakan bahwa ayahnya telah meninggal dunia--dan berasal dari orang terpandang, Andrew pun tidak terlalu terkejut seperti sekarang. Bahkan ketika tiba-tiba ayahnya datang dan merebutnya dari sang ibu, walaupun syok, tetapi seorang ayah menjemput putranya adalah hal yang wajar jika dipikirkan lagi.
Sedangkan kasus yang terjadi Pelangi jelas sekali melanggar etika, itulah sebabnya ia sangat terkejut. Bagaimana bisa ada seorang pria yang terang-terangan mengatakan hal yang tidak pantas pada seorang wanita yang telah bersuami. Meminta Pelangi mengandung seorang bayi dari pria itu. Tidak mengherankan jika kemudian Pelangi terkejut dan menangis tanpa henti, karena wanita itu merasa bahwa dirinya sedang terancam dan keselamatan sang suami pun sedang berada di dalam bahaya.
Andrew membalas tatapan Pelangi dengan iba. Kedua mata wanita itu dipenuhi air mata. Andrew mengulurkan tangan untuk mengusap bulir bening yang menggenang di kedua mata Pelangi.
"Aku akan beritahu Gilang. Gilang harus tahu semua ini," ujar Andrew.
"Jangan beritahukan padanya. Aku tidak ingin dia menjadi khawatir dan aku juga tidak ingin jika urusan pekerjaan jadi terganggu karena permasalahan ini. Jika aku ingin memberitahunya, sudah sejak tadi aku telepon dia atau aku langsung berlari ke ruangannya saat Arya mengutarakan niat mengerikannya itu. Bukankah saat itu posisi kami masih berada di kantor Gilang." Pelangi memohon pada Andrew.
"Lalu menurutmu langkah apa yang harus kita ambil sekarang? Jangan cemaskan masalah kantor, Pelangi. Biar bagaiman pun juga apa yang telah dikatakan oleh Arya sama sekali tidak pantas menurutku. Apalagi katamu dia akan membicarakan hal ini pada Gilang, itu berarti cepat atau lambat Gilang toh akan mengetahui niat busuk pria itu juga. Lebih baik kita yang lebih dulu mengatakan pada Gilang sebelum dia mendengar dari Arya yang gila itu."
"Begitukah menurutmu?" Pelangi terlihat bimbang, ia menggigiti bibir bawahnya untuk mengurangi kecemasan yang tengah dirasakannya. "Aku hanya tidak ingin jika Gilang menjadi cemas."
"Ck, sekarang atau nanti sama saja, Pelangi. Tidak akan ada bedanya. Sudah kukatakan jika nanti Arya pasti akan mengatakan niatnya itu pada Gilang, 'kan?"
"Baiklah, kuserahkan padamu. Aku tidak bisa mengatakan hal ini langsung pada Gilang. Aku takut. Aku terlalu takut menghadapi kemarahannya." Pelangi kembali memeluk lututnya sembari menangis.
Andrew menyentuh pundak Pelangi dan meremasnya. "Tenanglah, aku akan menyelesaikan masalah ini untukmu. Istirahat yang benar, berbaringlah di atas ranjang. Jangan meringkuk di lantai seperti ini, nanti kamu bisa sakit, Pelangi. Aku akan kembali ke kantor dan mengabarimu nanti."
Andrew menyentuh puncak kepala Pelangi, sebelum ia bangkit berdiri dan meninggalkan Pelangi seorang diri. Sepeninggalan Andrew rasa takut kembali menyerang Pelangi, menghantam dari segala arah dan membuat tubuhnya menggigil ngeri. Membayangkan Arya memaksanya untuk berhubungan badan dan mengancam Gilang dengan berbagai cara hingga Gilang tidak punya pilihan sukses membuat Pelangi frustrasi dan berteriak histeris.
Teriakan itu menarik perhatian dua orang pelayan yang kebetulan lewat di depan kamar Pelangi. Pelayanan muda itu segera membuka pintu kamar Pelangi dan menghampiri Pelangi yang meringkuk di sudut kamar sembari memegangi kepalanya.
"Nyonya, ada apa, Nyonya?" tanya salah seorang pelayan dengan khawatir. Namun, Pelangi tidak merespon. Wanita itu malah berteriak semakin keras dan menangis sejadi-jadinya.
"Biar aku panggil Nona Amara dan Delia." Pelayan satunya lagi berinisiatif dan segera berlari keluar kamar menuju kamar Amara yang ada di lantai satu.
Delia dan Amara baru saja keluar dari dalam kamar begitu mereka berpapasan dengan pelayan yang berlari menghampiri mereka dengan napas terengah-engah.
"Ada apa?" tanya Delia.
"Anu, Non, Nyonya Pelangi ... Nyonya bertingkah aneh." Pelayan muda itu berucap dengan suara yang terbata-bata.
Tanpa banyak bicara, Amara dan Delia segera berlari ke lantai dua menuju kamar Pelangi.
"Tidak mau. Aku tidak mau. Jangan pernah paksa aku, apalagi mengancam suamiku, jangan pernah berani lakukan itu!" Pelangi berteriak sambil berusaha mendorong seorang Pelayan yang berusaha menenangkannya.
Pelayan itu terhuyung, hampir saja terjatuh jika Amara tidak datang tepat waktu dan menahan tubuh pelayan malang itu.
"Terima kasih, Nona," ujar si pelayan yang terlihat gugup.
"Terima kasih kembali. Kalian boleh keluar," ujar Amara, lalu ia segera mendekat ke Pelangi, sementara Delia berdiri di belakang Amara, memperhatikan Pelangi dengan perasaan cemas dan sedikit takut.
"Ya, Tuhan, apa yang membuatnya jadi seperti ini," gumam Delia.
"Pelangi, Pelangi, sadarlah. Ini aku Amara."
"Tidak, tidak, menjauhlah." Pelangi mendorong Amara dan mengibaskan tangan di depan wajahnya. "Pergilah sana. Pergi!"
Amara tidak menyerah, ia kembali bangkit dan mengguncang kedua pundak Pelangi dengan kuat. "Sadarlah, ini aku, Pelangi. Aku Amara, teman masa kecilmu. Sadarlah."
Pelangi merasa seolah kesadaran menghantamnya begitu keras ketika samar-samar ia mendengar suara Amara yang membentaknya.
Pelangi mengerjap, dan seketika kekosongan di pandangannya menghilang, digantikan dengan sosok Amara yang menatapnya dengan khawatir dan mata melotot. Ia mendongak sedikit dan mendapati sosok Delia berdiri di sebelah Amara. Delia juga menatapnya dengan khawatir, wanita itu bahkan menangis.
"Hai kalian," lirih Pelangi, sebelum akhirnya ia jatuh pingsan.
***
Arya menanti kehadiran seseorang yang baru saja mengirimi pesan padanya dengan perasaan berdebar di sebuah kafe yang terletak di pusat kota.
Arya merapikan dasinya, lalu meraih ponsel untuk melihat penampilannya melalui layar ponsel, apakah penampilan sudah pantas atau belum untuk membahas sesuatu yang penting pada orang yang penting pula. apalagi sesuatu yang akan ia bahas kali ini adalah sesuatu yang berhubungan dengan masa depannya dan keberlangsungan garis keturunan keluarganya.
Ketika ingin memasukan ponselnya kembali ke dalam saku jas, Arya kembali membuka pesan yang baru saja ia terima dan membacanya kembali.
Selamat siang, Pak Arya.
Temui aku di Sun Cafe, jam 3 siang.
Aku datang atas perintah Nyonya Pelangi. Akan aku hubungi ketika aku sudah berada di sana.
Arya tersenyum, lalu mengecup layar ponselnya dengan perasaan bahagia. Bayangan tubuh Pelangi yang cantik tanpa busana berada di atas tubuhnya dan bergerak liat terus terlintas di dalam benaknya sejak siang tadi. Tidak dipungkiri, walaupun ia sangat sedih atas kematian sang kekasih dan tidak ada yang bisa menggantikan posisi kekasihnya itu, tetapi has_ratnya akan keluar ke permukaan jika ia melihat seorang wanita yang cantik dan menarik perhatiannya.
Hingga saat ini baru ada dua wanita yang berhasil menarik perhatiannya semenjak kematian kekasihnya, yaitu Pelangi dan Lidia, seorang sekretaris yang bernasib malang karena telah berani menolaknya.
Suara denting bel yang terpasang pada pintu kafe membuyarkan lamunan Arya dari sosok Lidia yang telah lama berlalu dari hidupnya. Ia menatap ke arah pintu masuk, terlihat seorang pria tampan berpakaian rapi dan elegan berjalan ke arahnya dengan cepat.
Pria itu kemudian berhenti tepat di hadapan Arya dan menatap Arya dengan tatapan tajam. "Anda Arya Saputra, benar?"
Arya tersenyum semringah. "Benar sekali. Apakah Anda yang mengirimiku pesan tadi?" tanya Arya.
"Benar. Akulah yang mengirim pesan pada Anda." Andrew menjawab dengan nada yang begitu tajam pada suaranya.
Arya mengernyitkan dahi. Ia bingung akan sikap pria suruhan Pelangi yang terlihat tidak bersahabat. Namun, Arya tidak mau ambil pusing. Urusannya adalah urusan antara dirinya dan Pelangi saja. Sedangkan pria suruhan Pelangi tidak ada hubungannya sama sekali dengan kesepakatan yang akan dirinya buat dengan Pelangi. Pria suruhan hanyalah pria suruhan, hanya pengantar pesan antara Pelangi dan dirinya.
Arya berdeham kemudian berkata, "Jadi apa yang Pelangi katakan?" tanya Arya. "Oh, ya, sebelumnya tolong perkenalkan diri Anda," pinta Arya.
"Aku Andrew. Salah satu orang kepercayaan Pelangi."
"Hem, nama yang bagus dan sepertinya familiar di telingaku. Mungkin kita pernah bertemu sebelumnya entah di mana."
Andrew tersenyum sinis. "Yang benar saja! Mana mungkin aku pernah bertemu dengan manusia brengsek macam Anda."
Wajah Arya memerah. Dikatai brengsek oleh orang yang baru ditemuinya memang sangat menyebalkan, membuat darahnya mendidih dan ia ingin sekali menghajar Andrew saat itu juga.
"Langsung saja ke inti permasalahan. Sampaikan apa yang ingin Pelangi katakan padaku, lalu segeralah menyingkir dari hadapanku." Arya memerintah.
"Pelangi tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menangis, menangis dan menangis. Apakah kamu tidak sadar jika apa yang kamu katakan padanya adalah sebuah bentuk pelecehan. Jika kamu tidak juga sadar, maka kamu perlu disadarkan."
Buk!
Sebuah tinju melayang ke wajah Arya dengan keras. Sedikit cairan kental berwarna merah keluar dari hidung Arya yang mancung.
Arya meringis sembari memegangi hidungnya. "Apa yang kamu lakukan, hah?" Arya meraih kerah kemeja Andrew dan mencengkeramnya dengan kuat.
"Aku meninjumu. Apa kamu belum sadar juga? Dasar bodoh." Andrew kembali melancarkan serangan, kali ini lututnya yang menghantam area sensitif tepat di bawah perut Arya, membuat wajah Arya seketika menjadi pucat pasi dan tidak lama kemudian pria itu jatuh terduduk kembali ke kursinya.
"Sialan kamu. Berani sekali kamu bertindak seperti ini padaku. Aku akan membawa permasalahan ini ke kantor polisi, dan aku juga akan mengadukan tingkahmu ini pada Farhan Andreas agar kamu dipecat dari pekerjaanmu." Arya mengomel, masih sambil menyentuh adik kecilnya yang berdenyut tak keruan. Rasanya si adik kecil ingin meledak saking sakitnya.
Andrew merapikan kerah kemejanya sembari melempar tatapan sinis ke Arya. "Namaku Andrew Andreas. Adik dari Gilang Andreas. Putra kedua dari Farhan Andreas. Jika kamu menyakiti Pelangi, itu berarti kamu menyakitiku juga, dan jika kamu merendahkan Pelangi, itu berarti kamu merendahkan keluarga Andreas juga, dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ingat, Arya, bahwa hari ini baru permulaan. Jika kamu berani bicara yang tidak-tidak lagi pada Pelangi, aku akan mengirim nyawamu yang tidak berguna itu ke neraka! Dasar mesum. Oh, ya, jika kamu mengadukan permasalahan ini ke ayahku, dia pasti akan mengataiku bodoh karena aku hanya menendang kemaluanmu. Harusnya kupotong saja sekalian."
Andrew berbalik dan meninggalkan Arya yang masih menatapnya sembari meringis.
"Jadi hanya ini yang bisa dilakukan oleh Gilang. Meminta pertolongan pada adiknya! Kalau dia begitu jagoan, kenapa dia tidak datang sendiri saja?" teriak Arya, membuat dirinya menjadi pusat perhatian dari para pengunjung yang ada di kafe tersebut.
Andrew berbalik, kemudian kembali menghampiri Arya. "Dia tidak tahu tentang ini, beruntung dia tidak tahu dan bukan dia yang langsung mendatangimu, karena jika Gilang yang turun tangan, percayalah padaku bahwa adik kecilmu itu bukan hanya akan merasa sakit seperti sekarang, tetapi akan menghilang dari tempatnya juga."
Andrew berbalik pergi, kali ini ia benar-benar pergi tanpa memedulikan teriakan penuh amarah dari Arya yang ada di belakangnya.
Kemarahan Arya yang dilakukan secara terang-terangan itu mengundang senyum keji di wajah seorang pria yang kebetulan saja ada di kafe itu. Pria itu adalah Alex.
"Ckckc, ini yang dinamakan jodoh," ujar Alex, sembari terkekeh. Baginya, siapapun yang bermusuhan dengan keluarga Andreas otomatis akan menjadi rekannya secara tidak langsung, dan Alex suka karena rekan barunya kali ini berasal dari kalangan kelas atas yang setara dengan keluarga Andreas. Dengan begitu permainan akan seimbang
Alex meraih gelasnya yang hampir kosong, dan menghabiskan cokelat panasnya dalam sekali seruput. Kemudian ia bangkit berdiri dan segera menghampiri Arya.
"Ckckck, tidak sopan sekali orang itu karena berani menyakiti jagoan Anda." Alex memasang tampang peduli yang berlebihan.
"Siapa Anda? Jangan ikut campur!" Arya membentak Alex, lalu ia segera meninggalkan Alex yang menggerutu karena merasa diabaikan oleh Arya.
Akan tetapi, Alex tidak tinggal diam. Mencari Sekutu untuk membalas dendam pada keluarga Andreas adalah motivasi yang selama ini membuatnya dapat bertahan hidup. Di saat-saat terburuknya dan saat ia mulai putus asa, hanya bayangan harta keluarga Andreaslah yang membuat semangatnya untuk hidup kembali muncul. Jika bukan bayangan tentang harta keluarga Andreas, bayangan menyiksa Gisel hingga wanita itu memohon ampunlah yang membuat semangatnya untuk hidup kembali muncul.
Alex berlari menyusul Arya yang sekarang sudah berada di luar kafe. "Tunggu aku, Pak, tunggu aku!" teriak Alex.
Arya menghentikan langkahnya yang terpincang-pincang dan menatap Alex dengan malas. "Siapa orang ini," gumam Arya, saat dilihatnya Alex berlari menuju tempatnya berdiri sembari melambaikan tangan.
"Pak, tunggu, ada yang ingin kukatakan padamu," ujar Alex begitu ia telah tiba di hadapan Arya.
"Apa? Katakanlah. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni orang sepertimu."
"Anda sedang bersitegang dengan keluarga Andreas, benar? Jika, ya, aku siap membantu Anda untuk memberi pelajaran pada keluarga itu. Mereka memang keluarga kaya yang sombong dan suka membuat orang lain menderita. Contoh nyatanya adalah aku, yang menjadi gembel karena ulah mereka semua. Katakan saja padaku apa yang Anda inginkan dari keluarga itu. Aku akan melakukannya untuk Anda dengan satu syarat." Alex menjelaskan sesingkat mungkin, karena lawan bicaranya terlihat tidak terlalu antusias pada kehadirannya, maka ia memilih untuk menjelaskan tanpa berbasa-basi.
Arya menaikan sebelah alisnya sembari memandang Alex lekat-lekat. "Aku tidak tahu siapa kamu. Bagaimana aku bisa mempercayai semua perkataanmu?" tanyanya.
"Percayalah padaku. Ceritakan masalah Anda, dan aku akan menceritakan masalahku."
Bersambung.