OH MY BOSS

OH MY BOSS
KELUARGA BARU



Kabar mengenai Nena yang akan menikah dengan Bimo sudah menyebar kemana-mana, patah hati berjamaah kalau kata Doni dan rekan-rekannya yang sejak lama mengagumi sosok Nena.


 


 


Dan malam ini, Bimo yang berkunjung dengan pamannya yang kebetulan tinggal di Jakarta, ingin mengutarakan niat baik  melamar Nena menjadi istri Bimo Prakoso, yang membuat seorang Justin kalang kabut kebakaran jenggot karena ditunjuk sebagai juru bicara perwakilan tertua dari keluarga Nena.


 


 


Meskipun memang ada paman gadis itu yang umurnya lebih tua dari Justin, nyatanya pria yang secara tidak langsung dinobatkan sebagai wali gadis itu dalam pernikahan nanti, harus siap memimpin sambutan-sambutan semacam ini.


 


 


"Saya serahkan semua keputusan pada adik saya, Serena." Justin menolehkan kepalanya pada Nena yang tampak menunduk.


 


 


"Bagaimana Nak Serena? Mau kan menerima lamaran keponakan kami?" Tanya paman Bimo yang disambut anggukan kecil Nena. Bahu Justin merosot seiring dengan senyum Bimo yang berkembang. Pria itu tampak begitu bahagia meskipun Nena lebih memilih diam saja.


 


 


Dan hari-hari berikutnya setelah itu, Justin lebih sering pulang ke rumah Nena dan menginap di sana dengan alasan hak asasi anak kandung yang sudah lama menantikan kasih sayang dari seorang ibu.


 


 


"Aduh, sakit Mbak Nena!" Pekik Ardi kala Nena dengan sengaja menendang tulang keringnya.


 


 


Nena mengikuti sang adik yang lebih dulu kabur ke ruang keluarga, duduk di sofa panjang sebelah ibunya yang tengah asik menonton televisi.


 


 


"Bu!" Ardi mencolek sang ibu yang tampak asik menyimak sebuah obrolan dalam sinetron. Dan hanya ditanggapi dengan gumaman tanpa menoleh. "Mbak Nena ini dulunya kurang asupan asi ya? Nggak punya kasih sayang banget sama adeknya," tutur Ardi, sembari membuka toples cemilan di pangkuannya.


 


 


Mendengar itu, Nena yang tengah membaca sebuah novel di sofa tunggalnya itu melotot geram. Namun lebih gemas lagi saat mendengar tanggapan dari ibunya sendiri.


 


 


"Emang ibu nggak nyusuin mbakmu kok." Dengan masih fokus menatap televisi, Marlina menanggapi.


 


 


Dengan cepat Nena beranjak, mendekati sang ibu dan ikut duduk di sofa panjang, "Kok bisa, Bu. Apa jangan-jangan Nena ini anak pungut ya," ucapnya, entah kenapa sedikit berharap.


 


 


Marlina menoleh, kemudianr berdecak  gemas."Kamu tu, kalo ada yang buang pun nggak ada yang mau mungut, wong makannya banyak," ujarnya yang sontak membuat Ardi tertawa dan disambut cebikan kakak perempuannya.


 


 


"Yakali nggak ada yang mungut, Bu. Nena cantik gini." Sembari mengibaskan rambutnya dengan satu tangan, Nena berkata "temen-temen arisan Ibu aja pada iri, anaknya nggak ada yang secantik Nena," lanjutnya dengan jumawa. Dan gerakan ingin muntah ia dapatkan dari sang adik yang duduknya kini berpindah sofa.


 


 


Sang ibu menoleh sekilas pada putrinya,"jadi dulu itu waktu ibu koma, ibu nggak tahu sama dokter disuntik apa, asi ibu nggak bisa keluar, jadinya ibu kasih susu formula."


 


 


"Yah, pantesan galak banget, Bu. Anak sapi ternyata." Mengatakan itu, Ardi melemparkan toples ke atas sofa, dan langsung kabur saat kakaknya itu memberi pergerakan akan murka.


 


 


Ardi bersembunyi di balik punggung Justin yang kala itu baru keluar dari kamarnya selepas ganti baju. Nena yang nyaris  menabraknya mendadak jadi canggung, kemudian berbalik ke sofa duduk manis membaca buku. Ardi tahu kelemahan Nena sekarang, tapi masih bingung, kenapa  kakaknya itu berubah jinak jika berhadapan dengan mas barunya. Namun pemuda itu tidak peduli, baginya untuk sekarang yang terpenting kabur dulu.


 


 


 


 


Mendengar itu Nena reflek menjungkir balikan buku di tangannya. Tidak lama kemudian gadis itu memutar balikan buku di tangannya lagi seperti semula, "Orang nggak kebalik," omelnya.


 


 


"Emang nggak  kebalik, kamu saja yang nggak benar-benar baca."


 


 


Sialan. Rutuk Nena dalam hati, pasalnya ia membuka buku di tangannya itu hanya sebagai pengalihan.


 


 


Dan ketukan di pintu mengalihkannya dari rasa malu, dilihatnya Justin sudah beranjak lebih dulu, dan beberapa menit kemudian kembali lagi.


 


 


"Bimo di ruang tamu." Justin mengabarkan.


 


 


Nena reflek menoleh, buku di tangannya ia tanggalkan, kemudian berdiri dan merapikan rambut. Saat melewati Justin yang masih berdiri ditempatnya dengan tatapan tidak suka, pria itu mengacak rambut Nena sambil berkata.


 


 


"Nggak usah rapi-rapi."


 


 


Nena menepis tangan Justin, jika tidak ada ibu, mungkin dia juga akan senang hati menendang tulang kering abang kembar yang nggak ada mirip-miripnya itu.


 


 


Tidak begitu lama, Nena kembali menuju dapur untuk membuatkan calon suaminya minum, Justin mengikutinya.


 


 


"Biar saya saja yang buat," tawar Justin yang membuat Nena menoleh.


 


 


"Nggak usah, ntar diracun lagi." Nena menolak.


 


 


"Astaga, iya juga ya kenapa saya nggak kepikiran kesitu," balasnya santai.


 


 


Nena mendecih saat kemudian Justin menyuruhnya membuatkan minuman satu untuknya juga. Kopi hitam kental tanpa gula, kenapa? Nena bertanya.


 


 


"Karena cukup kopi saja yang pahit cerita kita jangan."


 


 


***