
Kali ini Nena yang penasaran mendatangi alamat kantor yang diberikan Anggi, sesampainya disana, Nena cukup terkejut dengan begitu ramainya susana di dalam ruangan yang cukup luas itu. Mereka yang lolos dan berkesempatan ikut casting ternyata banyak dari kalangan biasa. Nena tentu semakin curiga.
"Mbak, saya mau ketemu sama pimpinan perusahaan ini," pinta Nena pada Mbak resepsionis yang tampak sibuk dengan telepon di telinganya.
"Silakan mengantri, Mbak. Di depan ruangan sana." Si Mbak resepsionis menunjuk salah satu pintu yang ramai orang berlalu lalang.
"Saya bukan mau Casting, Mbak, saya mau ketemu sama pimpinan perusahaan ini." Nena menjelaskan.
"Oh, kalau gitu, Maaf, atasan kami sedang sibuk."
Nena berdecak, dengan kesal akhirnya menyerah, wanita itu berjalan ke luar, arah samping gedung yang berupa taman, kemudian menduduki bangku panjang yang tampak kosong di sana.
Tidak begitu lama, Nena mendapati mobil yang tampak familiar masuk ke area perkantoran itu, wanita itu reflek berdiri. Memperhatikan dengan seksama saat seorang pria yang ia sangat kenali keluar dari pintu kemudi. Tidak lama seorang wanita cantik mengikuti dari pintu sampingnya.
"Mas Justin?"
Nena tidak mungkin salah lihat, dia juga tidak mungkin salah mengenali suaminya sendiri. Dia satu mobil dengan Indira, seperti dirinya dulu saat ia menjadi sekretaris pria itu. Tiba-tiba hatinya sakit. Bukan, bukan karena suami gantengnya itu satu mobil dengan sekretaris cantik itu, tapi....
Nena terlonjak saat sebelum memasuki pintu, Justin menoleh ke arahnya dan tampak terkejut, namun Nena membuang muka, dia melangkah pergi dengan amat tergesa, tidak, dia sedikitpun tidak menitikkan air mata, bahkan ingin menangis pun tidak. Sungguh.
Sebelum akhirnya kakinya yang melangkah terburu-buru menginjak tumpukan kerikil yang membuatnya tergelincir dan jatuh, wanita itu menangis, menangisi lututnya yang berdarah, Nena terus merutuki sepatu lapan jutanya yang bahkan tidak bisa membantunya menjaga keseimbangan, dia benci pada sepatunya, dia kesal pada lututnya yang berdarah, dia marah pada dirinya yang begitu lemah. Meski sebenarnya wanita itu hanya butuh alasan untuk menangis selain karena suaminya. Tidak bisa ia pungkiri bahkan hatinya jauh lebih sakit dari apapun.
Seorang pria yang berlutut di hadapannya membawa Nena ke dalam pelukannya. Dia tahu aroma parfum ini, dia kenal dekapan pria ini, namun wanita itu lebih memilih mendorongnya menjauh.
"Aku bisa jelasin," ucap pria itu.
Nena mendongak, pandangannya kabur karena air mata, "aku nggak butuh penjelasan kamu, Mas," ucap Nena, entah kenapa malah mirip dialog sinetron kejar tayang. Anggap saja dirinya ini sedang casting lah. "Kamu mau jelasin ke aku bahwa selama ini, di balik kegagalan aku ikut casting itu, kamu kan?" tuduhnya kemudian.
Pria itu, Justin menggeleng, namun kemudian mengangguk juga, plinplan sekali, pikir Nena yang memilih membuang muka.
"Tapi bukan gitu maksud aku?"
"Apa, Mas?"
Justin tampak berpikir, bingung harus bagaimana menjelaskan pada sang istri, bahwa ia melakukan ini semua demi kebaikan dirinya, eh istrinya. Hingga kemudian sebuah pertanyaan dari Nena membuatnya mengerjap bingung.
"Mau sampe kapan, Mas?"
"Apa?"
"Kaki aku perih banget loh ini, ya Allah, darah ini, Mas. Bukan saus tomat." Nena merengek, dan entah kenapa suaminya itu malah tertawa, padahalkan dia sedang marah.
***
Justin mendukukan sang istri di atas ranjang ruang kesehatan, kemudian mengambil kotak p3k juga kursi dan duduk di hadapan istrinya. Pria itu dengan telaten mengobati luka di lutut Nena, Justin mendongak saat sang istri tampak kesakitan ketika dirinya mengoleskan betadin. "Sakit?" Tanyanya.
Nena melengos, "sakit banget," jawabnya yang lebih mengarah ke sindiran.
Justin yang menahan senyum kembali bertanya, "apanya?"
"Hati aku sakit banget, Mas. Kamu tega banget sama aku." Nena memukul bahu suaminya yang reflek menghindar, Nena tidak pernah menduga sebelumnya bahwa penghalang dirinya untuk meraih mimpi adalah satu-satunya orang yang paling ia percaya, dalang di balik kegagalannya lolos menjadi bintang iklan selama ini adalah suaminya sendiri. Sungguh dia tidak habis pikir. "Kamu kenapa sih, jahat sama aku?" Tanyanya, air matanya mulai luruh. Beruntung ruangan serba putih itu sepi penghuni.
Justin berdiri, menumpukan ke dua tangannya di atas ranjang, mengurung tubuh sang istri di antaranya. "Karena aku sayang sama kamu," ujarnya. Kemudian mencium bibir sang istri saat ia mendongak, melumatnya lembut, menyalurkan kehangatan, menyampaikan perasaan yang tidak mampu ia utarakan dengan kata-kata.
Nena mendorong tubuh suaminya pelan, mengusap bibirnya dengan punggung tangan, bisa-bisanya suaminya itu malah melakukan hal seperti ini, Memangnya dia akan luluh. Meskipun tanpa ia pungkiri, hatinya meleleh juga.
"Aku nggak mau nanti kamu sibuk, aku nggak bisa setiap saat nggak melihat kamu di sisiku. Aku mau, saat aku lelah, menoleh bahkan berbalik sekalipun di sana ada kamu." Justin berucap sungguh-sungguh. Dengan keningnya yang ia tempelkan di kepala sang istri.
Nena menghela napas. "Nggak semua tawaran bintang iklan aku ambil, Mas. Aku pasti tanya ke kamu, lagian aku bosen nggak ada kegiatan. Boleh yaa." Nena membujuk, menarik-narik lengan jas yang suaminya kenakan.
Justin mengangkat kepala, melirik sang istri yang menyajikan raut wajah menggemaskan, jika sudah begitu bagaimana dirinya bisa tega. Dia pun mengangguk pelan, yang disambut dengan pekikan girang sang istri juga ciuman bertubi-tubi yang membuatnya gelagapan.
***
"Kau meloloskan istriku bukan karena separuh saham di perusahaan ini milikku kan?" Tanya Justin pada Samuel, produser sekaligus sutradara juga rekan bisnisnya itu. Mereka kini duduk bersebelahan di sofa ruangan besar Samuel.
Teman kuliahnya di LA itu adalah mantan sutradara film, untuk itu tidak sulit jika ia ingin membuat iklan untuk usahanya sendiri.
Pria yang biasa di sapa Sam itu menoleh, "Memangnya siapa dirimu?" Tanyanya yang membuat Justin berdecak sebal. Namun kemudian Sam tertawa juga. "Istrimu itu berbakat, Just. Jika ku tahu kau punya aset semenjanjikan itu, tidak usahlah aku buat audisi, buang-buang waktu," ujarnya panjang lebar.
Justin mendengus. "Istriku bukan aset," omelnya. "Jika kau bisa memilih yang lain, kenapa harus istriku?" tanyanya kemudian.
"Istrimu itu punya bakat terpendam, dia juga punya aura bintang yang kuat, jangan bodoh kawan."
Meski kesal, Justin lebih memilih mengabaikan ledekan Samuel, "jadi, kapan mulai syuting iklannya," tanyanya.
"Secepatnya, dan kau akan rugi jika melewatkan itu."
Ucapan Semuel membuat Justin reflek menoleh. "Memangnya ada apa?" tanyanya.
"Kau tahu kan produk baru kita itu apa?" Samuel malah bertanya, tentu saja Justin tahu, sebuah produk berupa sabun cair yang ber merk love, dan seorang Justin malah lebih penasaran menanyakan kenapa merknya harus love? "Bukan itu bodoh." Samuel tergelak juga.
Justin melengos, seumur hidupnya, baru kali ini ia dibilang bodoh. "Selain merk se norak itu, apalagi yang harus aku khawatirkan?" Tanyanya.
"Akan ada adegan mandi bersama di sana memangnya kau belum baca sekenario?"
"Astaga! Kau gila!" Bentak Justin reflek mencekik pria blasteran di hadapannya itu. "Kubunuh kau beserta keluargamu," ancamnya kemudian.
Dengan berusaha menahan tangan Justin yang dengan beringas mencekik leher nya, Samuel tertawa. "Ya Tuhan, Aku bercanda," ujarnya.
Justin melepaskan tangannya dari leher Samuel, pria itu beranjak berdiri dan merapikan jas mahalnya, wibawanya bisa luntur jika berlama-lama berurusan dengan pria blasteran bernama Samuel itu. "Aku tidak suka bercanda," tukasnya.
Samuel ikut berdiri, menepuk pundak Justin, masih dengan tertawa. "Kau posesif sekali si, tenang saja tidak ada adegan seperti itu," ujarnya menenangkan.
Justin menyingkirkan tangan temannya itu dari bahunya. "Aku pulang, kau urus saja semuanya," ujarnya memerintah.
"Tenang saja, aku yakin iklan ini akan sukses besar, istrimu itu cantik dan berbakat, dia tinggi dengan kulit yang luarbiasa halus, tubuhnya pun—"
"Hentikan celotehan mu yang tidak berguna itu," potong Justin geram, dan temannya itu kembali tertawa. Samuel kini tahu cara menggoda rekan bisnisnya yang angkuh itu.
Justin tidak suka jika kemolekan istrinya itu dijadikan objek khayalan oleh pria lain. Terlebih lagi netizen.
***iklan***
Author: Tuh dengerin.
Netizen; ngapa sih thor.
Author; Bang Ntin nggak suka sama lu.
Netizen; yaelah timbang nagih adegan panas doang aja dihujat. Salah akoh apa.
Author; pikir aja sendiri.
Netizen: okeh gue kayaknya mulai mikir nih, thor. Itu kira-kira adegan di ruang kesehatan, bisa diterusin jadi adegan ena-ena apa kaga ya.
Author; Bodo amat. Terserah otak kotor lu aja itu mah.
Netizen; Dih author, padahalmah otak dia lebih kotor itu.
Author; Sini-sini deketan, biar gampang nampolnya.
Netizen; jeuh galak amat.