OH MY BOSS

OH MY BOSS
ANDREAS SQUAD



Gilang merasakan amarah merasuki dadanya, lalu menjalar ke seluruh bagian tubuhnya saat ia mendengar apa yang diucapkan Pelangi, terlebih lagi Pelangi mengucapkan sembari menangis. Entah ada hantu apa yang merasuki Gilang, hingga rasanya ia ingin mencabik-cabik siapa pun yang telah berani membuat Pelangi menangis.


Gilang tiba di aula utama, mengedarkan pandangan di sana, mencari keberadaan Cipto yang telah berani kurang ajar pada Pelangi. Ketika ia tidak menemukan sosok Cipto di sana, Gilang melanjutkan langkah menuju halaman depan.


Dan di sanalah ia melihat Cipto, tengah tertawa sembari mengeobrol dengan beberapa rekan kerjanya. Tanpa berbasa-basi, Gilang menghampiri Cipto dan langsung melayangkan tinju di wajah pria itu.


Buk, buk, buk!


Tiga tinju dari kepalan tangan Gilang mampu membuat Cipto yang berperawakan kurus ambruk di atas tanah berpaving. Sudut bibir dan juga hidungnya mengeluarkan darah.


"Pak, apa yang Anda lakukan?" tanya Cipto, yang menatap Gilang dengan tatapan ngeri sembari menyentuh bibirnya yang berdarah.


Gilang tidak menghiraukan pertanyaan Cipto. Ia kembali meraih lengan Cipto dan membuat pria itu bangkit berdiri hanya untuk dibuatnya ambruk kembali.


"Pak, ada apa ini?" Cipto hampir menangis sekarang, karena Gilang menghajarnya seperti orang kesetenan. Gilang bahkan tidak memedulikan kerumunan karyawan yang tengah menonton apa yang dilakukannya.


"Apa yang kamu katakan pada Raina, hah? Kamu menanyakan apa padanya sampai-sampai dia menangis."


Cipto menggeleng. "Tidak, Pak, aku hanya bercanda. aku tidak bersungguh-sungguh. Aku--"


Buk!


"Gilang. Cukup!" Suara Farhan Andreas menggelegar, membuat Gilang menghentikan kegiatannya. Ia menoleh dan mendapati sang ayah sedang berdiri di tengah kerumunan di dampingi Tito, Andrew dan Toni.


"Hai, Jagoan, apa yang kamu lakukan?" Andrew menggeleng, begitu juga dengan Toni. Keduanya tidak habis pikir jika Gilang bisa kehilangan kendali dan membuat masalah di depan para karyawan. Sangat tidak bermartabat!


Belum lagi Gilang menjawab, Pelangi yang sejak tadi berusaha mengejar Gilang dan menembus kerumunan akhirnya tiba di tengah-tengah kerumunan.


"Pak, sudah, Pak, sudah. Jangan hajar dia Pak," ujar Pelangi, dengan napas tersengal-sengal.


"Terlambat. Aku sudah menghajarnya." Gilang menjawab dengan santai.


Pelangi meringis saat melihat Cipto yang babak belur meringkuk di atas tanah dengan wajah yang ketakutan.


Jika Gilang dan Pelangi terfokus pada sosok Cipto, tidak halnya dengan Farhan, Andrew dan Toni. Ketiganya menatap Pelangi dengan mata melotot. Farhan bahkan maju selangkah demi selangkah menghampiri Pelangi hingga ia tiba di depan wanita itu.


"Pelangi," lirihnya, lalu ia menangis dan menyentuh wajah Pelangi. "Kamu benar-benar Pelangi?" tanya Farhan lagi.


Andrew yang yakin bahwa wanita di hadapannya adalah Pelangi, pun tidak dapat menahan diri. Segera ia menghampiri wanita itu dan menarik lengan Pelangi agar Pelangi menatapnya.


"Ke mana saja kamu? Kenapa tidak kembali, hah? Kamu senang melihat kami semua kebingungan mencari keberadaanmu? Kamu sengaja melakukan ini pada kami." Andrew mengomel, dan tanpa sadar ia pun meneteskan air mata, sama seperti Farhan. Ingin rasanya ia mendekap Pelangi dan mengatakan bahwa ia merindukan wanita itu. Andai saja tidak ada orang lain, ia pasti akan melakukannya sekarang.


Toni menghampiri Andrew dan Farhan. "Tidak baik mencerca Pelangi dengan banyak pertanyaan di tempat seramai ini, Pak. Sebaiknya kita masuk dulu dan berbicara di dalam," ujar Toni, yang memang selalu bertindak mengikuti akal sehat.


Farhan mengangguk. "Benar. Ayo, Pelangi ikuti ayah," ajak Farhan. Namun, Pelangi bergeming. Ia hanya menatap Farhan, Andrew, dan Toni dengan bingung. Ia tidak mengerti pada ucapan ketiga pria dibhadapannya.


Melihat Pelangi kebingungan, Gilang segera menghampiri Pelangi dan menarik lengan wanita itu agar berdiri di sampingnya. "Ada apa dengan kalian semua? Pelangi siapa? Dia Raina, karyawan bagian kebersihan di proyek ini."


***


Bagaimana tidak tegang dan berdebar, jika saat ini Pelangi, Alia, dan Joko tengah berhadapan dengan petinggi Andreas Group. Ada Gilang, Farhan, Andrew dan Toni.


Pelangi sejak tadi meneguk saliva, dan bergerak-gerak dengan gelisah. Ia merasa tidak nyaman terus dipandangi oleh Geng Andreas, seolah dirinya adalah seorang penjahat yang hendak diinterogasi.


"Jadi, namamu adalah Raina? Bukan Pelangi." Farhan bertanya untuk yang kesekian kalinya, pertanyaan yang sama, yang jawabannya selalu mengecewakan.


"Kamu yakin?" Kali ini Andrew yang bertanya.


Pelangi kembali mengangguk. Namun, tidak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.


"Ini tidak masuk akal. Kamu begitu mirip dengan Pelangi. Bagaimana bisa kalau kamu bukan Pelangi?!" Andrew mulai kehilangan kendali.


"Dia memang bukan Pelangi, Pak. Namanya Raina, dan kami sudah berteman sejak kami masih kecil. Dia bahkan sempat berpacaran dengan Jek saat masih SMA dulu." Alia menjawab dengan berani.


Bukan tanpa alasan Pelangi, Joko, dan Alia membuat pernyataan demikian. Saat Pelangi ditemukan, penduduk desa langsung tahu bahwa Pelangi bukanlah korban kecelakaan lalu lintas. Beberapa menebak bahwa bisa jadi Pelangi sengaja dibuang di jurang oleh orang jahat. Itulah sebabnya, mereka semua sepakat untuk menyembunyikan asal-usul Pelangi terhadap orang asing sebelum mereka yakin bahwa orang yang mencari dan mengenali Pelangi adalah orang baik dan keluarga Pelangi sendiri.


"Memangnya siapa Pelangi itu? Apa dia benar-benar mirip denganku?" Pelangi memberanikan diri untuk bertanya. Toh, ia harus mulai menyelidiki siapa gerangan sebenarnya keluarga Andreas bagi dirinya, jika memang dirinya adalah Pelangi, wanita yang tengah keluarga itu cari.


"Dia anggota keluarga kami yang hilang satu tahun lalu," jawab Toni.


"Kita memiliki keluarga bernama Pelangi? Kok aku tidak tahu, ya?" ujar Gilang.


Ucapan Gilang membuat Pelangi ragu. Jika memang Pelangi adalah anggota keluarga, kenapa Gilang tidak tahu menahu. Sangat mencurigakan, batin Pelangi.


"Kamu tidak tahu karena otakmu sedang mengalami gangguan," gerutu Andrew, lalu bangkit berdiri dan berjalan keluar ruangan. Ia merasa frustrasi sekali karena wanita yang dipikirnya Pelangi, ternyata bukan.


Farhan Andreas menghela napas. Wajahnya yang keriput dan terlihat lelah membuat Pelangi merasa iba pada pria tua itu.


"Tuan, Anda istirahatlah dulu. Aku akan kembali ke kamar. Kalau masih ada yang ingin Anda tanyakan pada saya, saya pasti akan datang lagi nanti," ujar Pelangi.


Farhan menggangguk dan tersenyum pada Pelangi. "Baiklah, Nak, sepertinya aku butuh istirahat sejenak. Maaf karena telah merepotkanmu."


Pelangi membalas senyuman Farhan, membuat Farhan meneteskan air mata, karena senyum itu benar-benar sama persis seperti senyuman menantunya.


Setelah pamit undur diri dan keluar daribkamar Gilang, Pelangi segera menarik lengan Joko dan Alia ke sudut selasar yang sepi.


"Aku punya firasat kalau aku mengenal pria tua itu. Wajahnya seperti tidak asing dan saat menatapnya tiba-tiba saja hatiku merasa sedih, seolah sebelumnya memang ada ikatan di antara kami," ujar Pelangi.


"Benarkah?" tanya Joko. "Jika firasatmu mengatakan demikian, aku akan mencari tahu semua informasi tentang keluarga Andreas. Aku juga akan mencari tahu siapa itu Pelangi."


Alia mengangguk setuju. "Saat kita tahu bahwa keluarga Andreas adalah keluarga baik-baik, barulah kita mengakui kalau kamu sebenarnya lupa ingatan."


Pelangi mengangguk. "Sip. Aku setuju."


Bersambung ....