OH MY BOSS

OH MY BOSS
DUNIA ARDI



Ardi tidak pernah menyangka sebelumnya, setelah menikahnya sang kakak, ia pikir akan terbebas dari tugas menjadi tukang ojek yang harus siap mengantar kemana-mana, memang sih sekarang bukan lagi kakaknya, tapi Karin, seorang gadis cerewet, kelewat aktif yang  membuat hari-harinya selalu berisik.


 


 


"Males banget Bang Ar, karin lemes nih, mana nanti upacara lagi, nggak mau sekolah lah." Karin mengeluh saat pagi itu Ardi menyuruhnya mengenakan helm untuk bersiap berangkat.


 


 


"Yaudah nanti lo pas upacara pura-pura pingsan aja, biar disuruh tidur di uks." Sembari menaiki motor gede yang beberapa bulan lalu dibelikan oleh abangnya, Ardi memberikan saran pada gadis itu.


 


 


"Nanti kalo Karin pura-pura pingsan, takutnya pas digotong malah ketawa, gimana dong."


 


 


"Yaudah terserah lo lah, buruan gue udah siang."


 


 


Mau tidak mau, Karin akhirnya menurut, gadis cantik itu naik ke jok motor, berpegangan pada tas Ardi yang tersangkut di punggung pemuda itu saat kendaraan yang ia tumpangi mulai melaju.


 


 


"Ini tasnya dipake di depan dong Bang Ar, biar kalo abang ngerem mendadak  dada Karin bisa nempel, kan biasanya cowok pada gitu modusnya." Karin berkomentar saat mereka berhenti di lampu merah.


 


 


"Kalo bawa cewek sih nggak apa-apa, apa yang bisa punggung gue harepin dari tabrakan sama dada lo yang rata itu," ucap Ardi yang mendapat pukulan di helm yang membuatnya mengaduh namun kemudian tertawa, melanjutkan perjalanan saat lampu sudah berubah hijau. Pemuda itu sayup-sayup mendengar gadis di belakangnya terus menggerutu, dia jadi tersenyum sendiri.


 


 


Karin menyerahkan helm pada Ardi saat mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah yang beberapa bulan lalu Ardi pernah menjadi salah satu muridnya juga di sana.


 


 


"Bang Ar, buka dulu dong helmnya."


 


 


Ardi berdecak, membuka helm full face yang ia kenakan, "apaan si?" Tanyanya.


 


 


"Ganteng nya nggak keliatan."


 


 


Ardi nyaris melempar helm di tangannya, tertawa mendengus. Sesekali sapaan dari mantan adik kelas yang ia kenal membuatnya menoleh, mengangkat tangan untuk membalasnya. Kembali mengarahkan pandangan pada Karin, dia bertanya. "Udah belum?"


 


 


Karin yang masih tersenyum sontak menganggukkan kepala, "Bang Ar udah baper belum sama Karin."


 


 


Ardi tertawa berdecih, merasa lucu dengan pertanyaan gadis polos di hadapannya itu, "nggak bakalan gue baper sama lo," ucapnya sembari memasang helm di kepalanya lagi. "Gue udah punya cewek, lebih cantik lebih bohay" tambahnya, meledek, yang membuat Karin reflek mencebikkan bibir.


 


 


"Biar Bang Ar udah punya cewek pun, kalau takdir menuliskan Karin sebagai jodoh buat Bang Ar, pacar Bang Ar yang bohay itu bisa apa."


 


 


Kali ini Ardi tertawa, "bocah. Udah sana, udah pada siap-siap baris tuh."


 


 


Karin melambaikan tangan, melangkah mundur, "dah, Bng Ar, yang semangat ya berantem sama pacarnya, Karin doain biar cepet putus," ucapnya kemudian berlari pergi.


 


 


"Anak setan," umpat Ardi, namun tertawa juga.


 


 


Di perjalanan ke kampus, entah kenapa tawa Karin masih saja memenuhi isi kepalanya, "tu bocah saking berisiknya, anaknya udah nggak ada pun, suaranya masih ganggu," gumam Ardi, tanpa tahu sebenarnya kewarasannya sudah terkontaminasi oleh kegilaan seorang Karin.


 


 


Sesampainya di kampus, Ardi menghampiri teman-temannya yang berkumpul di kantin, setengah jam lagi, kelas baru dimulai, pemuda itu memesan segelas kopi untuk menghilangkan rasa kantuk.


 


 


"Dicariin sama Nadia lo, Ar. Katanya nggak ngasih-ngasih kabar." Edo, teman sejak Sma pemuda itu juga Nadia, memberi tahu.


 


 


Ardi yang tengah menggigit tahu goreng jadi menoleh, kemudian mengambil ponselnya dari saku jaket, ada beberapa pesan whatsapp yang ia abaikan, mungkin salah satunya dari gadis itu.


 


 


"Lo liat nggak stories ig dia, beuh galau banget." Agung yang juga temannya ikut berkomentar, menepuk pundak Ardi, "lo apain tu cewek."


 


 


Ardi berdecak, "nggak gue apa-apain elah," sahut Ardi, bingung kenapa dia harus menyahut.


 


 


Ipang yang juga ikut menyimak obrolan berseru heboh, menunjukan ponselnya, "baca nih, Ar. 'Buat yang lagi di jalan hati-hati yah, buat yang di hati, kapan kita jalan' gila, kode keras," tuturnya membacakan ig stories milik Nadia yang mereka tahu adalah gebetan Ardi.


 


 


"Kalo emang serius, jangan digantung. Kasian Nadia nggak dapet kepastian," Edo memberi saran, pemuda itu juga dekat dengan gadis bernama Nadia.


 


 


Memang akhir-akhir ini Ardi tengah dekat dengan Nadia. Pemuda itu dikenalkan pada Nadia oleh Edo yang adalah sahabatnya dari kecil. Sahabat? Cih. Alibi.


 


 


"Bener tuh, Ar. Buruan di pepet, ntar lo keburu ditikung." Ipang ikut menasihati.


 


 


"Yaelah, ditikung doang mah gampang, kejar aja, salip tabrak dari depan." Agung ikut mengompori.


 


 


"Main tabrak aja, kalo yang nikung bawa mobil, mati lo." Ipang menyahut, keduanya jadi berdebat.


 


 


Ardi dengan santai meminum kopi pesanannya, namun kemudian memuntahkannya lagi. "Bacot mulu lo semua, kopi gue jadi pait kan," ujarnya setelah meludah.


 


 


Ipang yang penasaran mengambil kopi di hadapan Ardi. meminumnya, "anjir, belis, beneran pait ini mah, tanpa rekayasa," ujarnya berlebihan, kemudian memanggil mbak penjaga kantin.


 


 


"Ada apa Mas Irfan?" Tanya Mbak kantin menyebutkan nama asli pemuda itu.


 


 


Ipang mengacungkan kopi ke udara. "Ini kopi kenapa pait banget kaya kisah hidup gue," ujarnnya yang membuat Mbak Wati si pembuat kopi menggaruk kepala.


 


 


"Eh, iya belum diaduk, lupa saya habis wajah masnya mengalihkan dunia saya sih," ujarnya tersenyum malu-malu pada Ardi yang jadi meringis.


 


 


"Yhaaaa, dia ngereceh," ucap Ipang.


 


 


"Saya ambilin sendok dulu yah."


 


 


"Nggak usah, Mbak," Agung menyela membuat teman-temannya jadi menoleh, "nanti kalo abis, tambahin air lagi, biar awet."


 


 


"Jeuuh, lo minum aja sendiri." Ardi beranjak berdiri, hendak melangkah pergi, namun Edo menarik pundaknya kasar.


 


 


Ardi yang kembali terduduk jadi kesal. "Santai dong," omelnya sengit, lama-lama nyolot juga ni anak, pikirnya.


 


 


Agung dan Ipang yang mencium bau pertikaian jadi waspada, meskipun tidak mengerti masalahnya apa.


 


 


"Lo jangan mainin Nadia, Ar, dia udah sayang sama lo."


 


 


Ardi tertawa berdecih, mengumpulkan kesabaran dalam dirinya. "Kalo lo pengen liat dia bahagia, bahagiain sendiri, jangan nyuruh orang lain," ucapnya.


 


 


Edo melengos, mengepalkan tangan, raut wajahnya tampak geram. "Lo tau gue nggak bisa, dia sukanya sama lo," tuturnya tanpa menoleh.


 


 


"Eh, ni apaan si, gue nggak ngerti." Ipang berbisik, pada siapa saja yang berkenan memberi penjelasan.


 


 


"Diem lo ah, otak lo nggak nyampe," omel Agung yang kembali memantau perkembangan emosi kedua temannya itu.


 


 


"Apalah artinya gue yang dia harepin, sedangkan yang selalu perhatian itu adalah lo." Ardi berkata pelan, "gue nggak ngerti sama jalan pikiran lo pada.  Selama ini gue nyuekin dia itu biar dia sadar, cuma lo yang selalu ada buat dia," jeda sejenak, kemudian menghela napas. "Susah, dua-duanya sama-sama bego." Ardi beranjak berdiri, kemudian pergi, seruan dari Agung dan Ipang yang meneriakan namanya, ia abaikan.


 


 


Ardi mengeluarkan ponselnya dan tampak menelpon seseorang, dia tidak berharap mendapat jawaban, karena dia tau anak itu pasti sedang....


 


 


"Halo Bang Ar?"


 


 


Sapaan dari seberang sana membuat Ardi menghentikan langkah, "lo nggak upacara?" Tanyanya.


 


 


Ardi mendengar gadis itu tertawa, "tadi Karin pura-pura pingsan, ini lagi di uks," ujarnya setengah berbisik.


 


 


Ardi menahan senyum, melanjutkan langkahnya. "Pas digotong ketawa nggak?" Tanyanya.


 


 


Jawaban Karin di seberang sana berhasil membuat Ardi tertawa, pemuda itu sejenak bisa melupakan masalahnya.


 


 


***


 


 


Sepulang kuliah, yang Ardi cari adalah Karin, pemuda itu membuka kamar, tidak ada gadis itu, dan saat ia pergi ke dapur, Karin tampak sibuk menggunting bumbu mi instan.


 


 


Ardi berdecak, memelankan langkahnya, "lo tadi pingsan beneran ya?"


 


 


Pertanyaan itu membuat Karin terlonjak kaget, "Abang nggak kasian sama jantung Karin ih," ujarnya sembari memegangi dada.


 


 


 


 


Karin menyentuh keningnya sendiri, matanya bergerak gusar, menghindari tatapan pria di hadapannya. " Tadi kan Karin pura-pura pingsan, terus—"


 


 


"Lo boong, gue tau."


 


 


Karin menelan ludah, "nggak, kok," sangkalnya.


 


 


"Sini gue yang masakin, lo duduk aja." Ardi mengambil alih sendok dari tangan Karin. Kemudian meletakan tas di meja dapur dan fokus pada panci berisi mi.


 


 


"Emang Bang Ar bisa?" Tanya Karin, mendudukan dirinya di kursi dan menopang dagu di meja makan.


 


 


"Bisa lah, masak mi doang."


 


 


Karin tersenyum, memperhatikan pemuda itu mulai mengaduk mi di panci kemudian menuangnya ke dalam mangkuk, tidak lupa juga menambahkan air panas dari termos ke dalamnya. Hah, air?


 


 


"Bang, mi goreng woy!" Karin meloncat dari kursi menghampiri mangkuk mi yang sudah kelelep kuah panas. Gadis itu mendongak pada pemuda di sampingnya. "Gimana ini nasib mi goreng Karin," rengeknya.


 


 


Ardi menahan tawa, "maapin lah, gue nggak tau," ujarnya mulai sedikit tertawa.


 


 


"Makanya jangan sok-sok an." Karin mengomel, kemudian mengaduk mi dan mencicipi kuahnya.


 


 


"Gimana masakan gue?" Tanya Ardi.


 


 


Karin menoleh, "anyep, Bang."


 


 


Ardi menambahkan satu sendok garam ke dalam mangkuk, mengaduknya.


 


 


Karin sesak napas seketika, "banyak banget garemnya Bang, Ar," omelnya.


 


 


"Ayo cobain."


 


 


"Nggak usah dicoba juga udah pasti asin lah." Karin jadi sewot, "abang nih nggak bisa kira-kira, ih." Gadis itu menatap nanar mi di hadapannya.


 


 


Ardi tersenyum, dia memang sengaja melakukannya, "yaudah ntar gue traktir makan di luar, jangan makan mi mulu, lo lagi sakit."


 


 


Karin mengerjap beberapa kali saat abang angkatnya itu mengacak rambutnya kemudian beranjak pergi dengan berpesan jangan kemana-mana, dia bilang ingin ganti baju dulu.


 


 


Karin menaruh telapak tangannya di dada, menahan napas. Yang diacak-acak rambut, yang berantakan detak jantung, yhaaaa.


 


 


"Kariiin."


 


 


Suara Nena membuat gadis itu menoleh kaget, mbaknya tiba-tiba muncul di pintu dapur.


 


 


"Mbak bawa makanan, katanya ibu nggak bisa masak karena ada acara jadi dia nyuruh mbak ke sini."


 


 


Karin menghampiri dengan semangat, "mbak Nena penyelamat lambungku," serunya, kemudian mulai membuka kotak bekal yang tercium wangi masakan.


 


 


"Tunggu," cegah Nena, membuat Karin mengurunkan niatnya menyendok makanan. "Foto dulu."


 


 


"Masih aja, Mbak Nena. Ngidamnya nggak ganti-ganti ah, nggak seru."


 


 


Nena jadi tertawa, "aku lagi suka mengabadikan sesuatu, coba liat sini, senyum."


 


 


Dengan mulut penuh, Karin memaksakan tersenyum tanpa ekspresi, bersamaan dengan itu Ardi yang baru ikut bergabung membuat Nena menyuruhnya ikut berpose.


 


 


Ardi membiarkan saja kakak perempuannya itu memotretnya tanpa bergaya, mengambil jatah makanan yang tertulis nama restoran ternama di sana, kemudian membukanya.


 


 


"Bang Ar nggak jadi traktir Karin makan di luar dong," ucap Karin, mengingatkan.


 


 


"Ya Alhamdulillah, duit gue utuh."


 


 


"Makan malem aja ya, Bang."


 


 


"Hmm."


 


 


Karin berbinar senang, kembali makan. Hal itu tidak luput dari perhatian Ardi yang menatapnya sedikit lama, hingga Karin kembali menoleh, pemuda itu reflek mengarahkan pandangan ke sendok di tangannya.


 


 


"Mbak Nena suka banget foto-foto jan jangan ntar anaknya jadi fotographer ya." Karin berkomentar sembari melirik Nena yang berjalan ke ruang tengah.


 


 


"Kebagusan, jadi tukang foto kopi kali."


 


 


"Ih, Bang Ar, keponakannya itu."


 


 


"Ey, iya. Foto keliling dah."


 


 


Karin jadi tertawa, "nggak sekalian foto rontgen," candanya.


 


 


"Tembus pandang ya."


 


 


Keduanya melanjutkan makan dengan sesekali saling menyela, kehidupan Ardi kini selalu berpusat pada kisah tentang Karin.


 


 


Keduanya pun seperti terikat janji. Janji untuk saling menemukan setelah terpisah ketika di suatu alam, di mana jodoh mereka sudah dituliskan untuk satu sama lain.


 


 


 


 


***iklan jangan?***


 


 


Author; aku cuma mau kasih tau, ini loh kehidupan Karin Ardi. Buat yang pengen mereka dibikin lapak sendiri, nanti aku usahain kalo responnya bagus.


 


 


Netizen; terus cerita oh my boss gimana thor.


 


 


Author; ya pasti harus ending, tapi di cerita Ardi Karin nanti pasti mereka bakal sering muncul sih.


 


 


Netizen; gue mau William Lily aja lah thor, biar hot.


 


 


Author: gue nggak bisa nulis banyak-banyak, dikira pengangguran kali ya.


 


 


Netizen; emang author sibuk apa si?


 


 


Author ; setiap orang pasti punya kesibukan masing-masing lah ya.  Jadi harap maklum kalo ceritanya rada ngaret. Yang penting jangan hapus dari favorit aja, nanti gue bilang kalo mau nulis judul baru.


 


 


Netizen; author yang baca ceritanya banyak tapi yang mengikuti akun author kaga ada ya.


 


 


Author; disitulah terkadang gue merasa sedih.


 


 


Netizen: kalo yang ngasih koin ada thor.


 


 


Author; oh iya ada, gue mau bilang makasih banyak buat yang ngasih koin, aku padamu lah pokoknya. Yang lain yang merasa terhibur boleh lah nyumbang koin buat gue biar semangat ini ngelawaknya. Nggak sebanding sama beli buku di toko lah, Koin mah murah. Tapi mahal buat diriku yang menerima.


 


 


Netizen: ini kenapa jadi promosi thor, ngemis koin.


 


 


Author; bodo amat.


 


 


Nb; bagi gue rekomendasi film bagus lah buat referensi, drama korea, thailand, china juga nggak apa-apa, asal jangan sinetron hidayah aja gue takut hapal lagu ungu.


 


 


Cerita William lily kalo yang komen episode ini tembus 1000 gue sih mau. Nggak mungkin kan? Yaudah Alhamdulillah. 🤣🤣