OH MY BOSS

OH MY BOSS
PERTEMUAN



Terlepas dari insiden boxer sexi William, pria bule itu memutuskan ingin ikut menjenguk ayah Nena yang sebenarnya ditolak mentah-mentah oleh Justin, mengingat kadar kewarasan sahabat bulenya itu di bawah garis normal. Namun bukan William namanya jika mengindahkan perintah sahabatnya itu.


"Kamu William kan?" Sapa Rahadi -ayah Nena- lebih dulu saat mereka memasuki ruangan perawatan kelas satu yang ia tempati. Pria paruh baya itu masih ingat William adalah teman dekat Nena saat SMA dulu.


"Iya, Om. Gimana keadaannya?" Tanya William, ayah Nena tersenyum, menampakkan gurat ketampanan masa mudanya yang masih tersisa.


"Alhamdulilah sudah baikan," ujarnya seraya membenarkan letak sandaran punggungnya agar lebih nyaman. Justin yang berdiri lebih dekat dengan sigap membantu, keduanya tersenyum canggung.


"Kamu...."


"Dia Justin, Om." William yang menjawab, Rahadi tampak terkejut, dan berusaha menegakkan tubuhnya, namun Justin langsung melarang pria itu merubah posisi nyamannya.


"Jadi, kamu atasannya Nena? Anak saya?" Rahadi tampak tidak percaya, Justin mengangguk. "Ternyata kamu semuda ini," lanjutnya yang berhasil membuat Justin tersipu, mengusap tengkuknya canggung. Dia begitu bingung harus seperti apa bersikap pada ayahnya Serena ini.


"Jadi Ayah pikir atasan Nena itu seperti apa?" Goda Nena pada ayahnya.


"Ayah pikir seumuran ayah," jawab Rahadi yang disambut tawa kecil Justin. "Terimakasih ya, Nak. Tapi seharusnya tidak usah di kelas satu seperti ini," lanjutnya merasa tidak enak.


"Tenang saja, Om. Rumah sakit ini milik Justin kok!" Jawab William yang mendapatkan pelototan maut pria di sebelahnya.


"Oyah?" Rahadi semakin takjub, melirik anak gadisnya yang mungkin luput memberi info demikian, karena nyatanya Nena juga baru tahu tentang hal itu.


"Bukan Om. Punya kakek saya." Ralat Justin. Obrolan ketiganya lebih didominasi oleh William yang menceritakan tentang Justin. Sedangkan Nena, gadis itu lebih memilih keluar ruangan menemani ibunya.


"Ardi kemana, Bu?" Tanya Nena pada ibunya saat mereka duduk di kursi tunggu depan ruangan ayah Nena dirawat.


"Katanya ada tugas, nanti malam baru bisa kesini," ucap sang ibu, pandangannya mengarah pada jam dinding yang dipasang di sudut sana. "Kamu dan William masih berhubungan?" Lanjutnya. Nena menoleh.


"Kita cuma temenan kok, Bu. Dan lagi, di kantor dia kan atasan Nena," sang ibu membelai putrinya sayang. Dia tahu dulu mereka sempat dekat, tentu saja ibu Nena khawatir hubungan mereka lebih dari itu, karena jika memang benar pasti akan sulit untuk kedua belah pihak.


"Melihat Justin, ibu merasa tidak asing, Na, kaya pernah lihat dimana gitu?"


"Mungkin di majalah, Bu. Dia cukup terkenal soalnya."


"Nak Justin itu calon mantu-able  yah, Na."


Nena mengerjapkan matanya dua kali, "mantu buat siapa?" Tanyanya.


"Ya mantu buat ibu lah," jawab Marlina santai, Nena semakin mengerutkan dahi.


"Maksudnya? Ibu ngarep Pak Justin itu jadi suami Nena?"


"Ya iyalah, masak sama Ardi, anak ibu kan cuman dua, yang perempuan cuma kamu saja."


"Jangan aneh-aneh deh, Bu. Karyawan biasa kayak aku ini ya paling banter dapetnya sesama karyawan, terlalu tinggi kalo ngarep ditaksir si bos, cuman di cerita novel aja yang bisa kaya gitu," tutur Nena lembut, mencoba mengembalikan ke-sadar diri-an sang ibu.


"Namanya seorang ibu kan berdoa yang baik-baik untuk anak gadisnya, termasuk dapet suami yang super plus plus kaya Nak Justin itu."


"Plus-plus apa sih, Bu?"


"Ya plus-plus, plus ganteng, plus baik, plus kaya—"


"Plus mimpi ya, Bu." Potong Nena, tidak mau lagi mendengar sang ibu yang semakin membumbung tinggi dengan harapannya itu. Marlina berdecak kesal.


"Kamu tu yah, orang tua lagi do’a malah dipotong terus, bukannya diaminin," rajuknya. Nena hanya menggelengkan kepalanya prihatin.


"Aamiin, Bu," ucap Nena. Dia tidak habis pikir bagaimana mungkin ibunya bisa secepat itu jatuh hati pada bosnya dan mengharapkannya menjadi calon mantu, bahkan dia tidak tahu bosnya itu sudah punya pasangan atau belum, orang ganteng dan mapan yang belum ada gandengan kan jarang.


Fokus Nena pada ibunya teralihkan dengan keluarnya William dari ruangan ayahnya, pria bule itu tidak lupa memberi salam pada ibu Nena, dan sedikit berbasa basi, kalau saja William itu tidak berbeda, mungkin sang ibu juga sangat menyetujui pria yang ayahnya berkebangsaan negara lain itu menjadi calon mantunya, seperti yang pernah ibunya bilang. Calon mantu-able. Dan mendengar kalimat itu membuat kepala Nena sedikit berdenyut. Segitunya deh si ibu.


"Aku belum tua banget loh, kalo ibu lupa," batinnya.


***