OH MY BOSS

OH MY BOSS
JADIAN



Justin berdiri di depan pintu pagar rumah Nena, tampak ragu untuk bertamu. Dia ke tempat itu bukan untuk menemui Nena, hanya ingin meminta penjelasan pada sang ibu tentang apa yang terjadi di masa lalu, hingga ia bisa mental dan menjadi bagian dari keluarga Adley itu.


Dan saat Justin nyaris meng-urungkan niatnya, Ardi yang entah pulang dari mana menyapa Justin lebih dulu dan mengajaknya masuk. Tentu saja Marlina begitu senang dan saat mengecek kedalam kamar putrinya, ternyata Nena sudah tidur.


Justin mengutarakan niat kedatangannya yang ingin mendengar sejarahnya di masa lalu, dan dengan mata yang berkaca-kaca, Marlina mulai bercerita.


"Dulu saat ibu melahirkan kalian, ibu tidak sadarkan diri, ibu koma selama dua hari waktu itu. Dan saat ibu bangun bahkan ibu tidak menyangka mendapatkan sepasang anak kembar, tapi salah satunya mempunyai masalah dengan jantungnya, dan butuh banyak biaya. Kami menyesal tidak bisa mempertahankan kamu, bahkan untuk biaya persalinan dan perawatan ibu, Martin yang menanggung semuanya." Marlina mengusap pipinya yang mulai menganak sungai, "maafkan ibu dan ayahmu, Nak. Kami sudah coba cari Martin untuk menemuimu, tapi ayah kamu takut, takut kedatangan kami malah akan menimbulkan masalah. Ibu juga nggak ngerti kenapa ayah kamu berpikiran begitu," lanjutnya dengan terus berderai air mata penyesalan. Justin menoleh pada dinding yang terpajang foto Rahadi, orang yang beberapa bulan lalu ia antarkan ke peristirahatan terakhirnya, dan ternyata adalah ayahnya.


"Ibu," panggil Justin yang tidak bisa membuat Marlina menyembunyikan rasa haru, sedu sedannya semakin berkepanjangan.


Tanpa mereka sadari, di balik pintu ber cat putih tulang, kamar Nena. Gadis itu menggigit bibirnya kuat-kuat untuk meredam isakan yang nyaris lolos dari tenggorokannya, dia tidak begitu paham dengan perasaannya sendiri, bukankah dia yang kemarin mati-matian menolak pesona Justin sampai terus merapalkan UUD dilarang baper yang ia buat sendiri.


Dan saat pria itu mengutarakan perasaannya yang membuat egonya ingin berdamai dengan perbedaan, dia harus kembali menata hatinya sedemikian rupa saat mendengar kabar bahwa mereka adalah saudara, lalu selain menerima Bimo sebagai pelarian cintanya, apalagi yang mampu menghapuskan perasaan terlarang di hatinya itu.


Siang tadi selepas jam kantor, Nena yang dengan tampang resah tak sudah-sudah sejak dua hari yang lalu ternyata mulai membuat Bimo curiga, pria itu memang sangat peka dengan perubahan pada diri gadis itu, dan dengan segala macam bujuk rayu, akhirnya Nena menceritakan tentang dia dan Justin yang ternyata bersaudara.


Melihat betapa gadis itu terlihat pilu dengan tangis yang tak berkesudahan membuat Bimo yang semula tahu tentang perasaan Nena pada Justin, jadi semakin yakin bahwa dia sangat mencintai atasannya itu, membuat pria berdarah Jawa itu tidak tega dan bersedia menjadi pelarian cinta untuk gadis itu, toh pepatah mengatakan cinta itu perlahan tumbuh karena seringnya pertemuan. Dan Bimo yakin perlahan cinta Nena juga pasti akan tumbuh subur untuk dirinya.


"Izinin  aku buat hapus nama Justin dari hati kamu, Na. Bagaimanapun juga, dia kakak kandung kamu. Aku yakin, perlahan pasti kamu bisa menerima aku di hati kamu." Pinta Bimo, dan untuk kedua kalinya setelah beberapa minggu yang lalu dia mengangguk, kali ini kembali terulang.


Dan saat Nena sadar, semuanya tidak bisa diputar mundur, dia terlalu memberi harapan besar pada pemuda yang sangat mengharapkan dirinya itu. "Kapanpun kamu siap menjadi pendampingku, aku akan langsung melamar kamu."


***


Kabar tentang jadiannya Nena dengan Bimo sampai juga ke telinga William, membuat pria bule itu menghadang Nena dan menanyakan tentang kebenarannya.


William cukup terkejut dengan pengakuan gadis itu dan saat ponsel Justin tidak juga dapat di hubungi, pria bule itu menemui sahabatnya saat makan siang.


"Wake up, Just!" William menyingkap selimut yang menutupi tubuh Justin di siang yang terik, dan pria itu hanya menoleh kemudian kembali melanjutkan tidurnya.


"Berapa hari kau menghindar? bahkan Serena saja bertanggung jawab dengan terus masuk kantor, meskipun dia jadi lebih pendiam akhir-akhir ini."


Mendengar nama Serena, Justin membuka kelopak matanya, namun tidak lama terpejam lagi. Dan hal itu membuat William geram setengah mati.


"Serena dan Bimo resmi Jadian kemarin, sepertinya pria itu cukup serius dengan saudara kembar kamu," tutur William, menekankan nada bicaranya pada kalimat terakhir.


William tidak menyangka efeknya akan sedahsyat itu saat akhirnya dia melihat Justin bangun dan masuk ke kamar mandi, tidak lama pria itu keluar, mengganti baju kaus pendek dan meraih kunci mobil.


"Mau kemana?" Tanya William yang tidak juga mendapat tanggapan dari pria itu yang membuat William mengelus dada. Sabar.


***