
Gilang merasakan nyeri yang teramat sangat di tubuh bagian belakangnya serta di kepalanya juga. Ia perlahan bangkit dari atas tempat tidur sambil meringis, lalu mengedarkan pandangan ke sana dan kemari, mencoba mengenali kamar yang sekarang sedang ia diami.
Kamar ini terasa asing bagi Gilang, ia tahu bahwa sebelumnya ia tidak pernah datang ke kamar ini.
Gilang memijat kepalanya, kemudian tangan yang sedikit gemetar itu turun ke pelipisnya. "Kenapa aku bisa ada di sini?" Gilang bergumam seorang diri. Ia kesal karena ia tidak ingat apa pun. Ia tidak ingat bagaimana bisa berada di dalam kamar, padahal sebelumnya ia berada di area terbuka. Sebuah tanah yang luasnya mencapai puluhan hektar yang akan dijadikan hotel.
Gilang bangkit berdiri dengan perlahan, lalu berjalan menuju pintu yang tertutup rapat. Ia sedikit merasa lega karena mengetahui ia masih berpakaian lengkap, pakaian yang sama dan celana yang sama seperti saat ia berangkat dari rumah beberapa jam lalu. Setidaknya adegan menjebak suami orang lain seperti yang sering terjadi di dalam sebuah sinetron tidak terjadi padanya, karena kalau sampai hal seburuk itu terjadi padanya, Pelangi pasti akan sangat kecewa dan tidak lagi percaya padanya.
Gilang memutar hendel pada pintu yang ada di depannya, berusaha agar pintu terbuka. Ia harus keluar sekarang dan kembali ke rumah, Pelangi pasti khawatir karena sekarang malam sudah larut. Arloji yang melingkar di tangannya telah menunjukan pukul 23.00.
Akan tetapi, setelah mencoba beberapa kali, pintu di depannya tidak juga kunjung terbuka. Hal itu membuat Gilang menjadi kesal dan akhirnya ia mencoba berteriak, barangkali ada yang mendengarnya.
"Pak Surya! Pak Surya! Haloo, apa ada orang di luar?!" teriak Gilang, tetapi tidak ada jawaban.
Gilang tidak menyerah. Ia kembali berteriak bahkan menendang pintu yang ada di depannya. Namun, sama seperti sebelumnya, tidak ada tanggapan dari siapa pun.
Gilang menghela napas sembari mengusap wajahnya dengan kasar, menatap pintu di depannya dan berpikir untuk mendobrak pintu tersebut. Namun, ia kemudian teringat akan ponsel yang ia simpan di dalam tas kerjanya. Dengan cepat, Gilang melangkah menuju meja yang terletak di tengah ruangan, barangkali saja tas kerjanya ada di sana, tetapi setelah beberpa saat mencari, tas itu tak kunjung ditemukannya.
Gilang meraih kursi yang ada di depan meja dan membanting kursi itu hingga menimbulkan suara nyaring karena menghantam dinding yang ada di seberang ruangan.
"Siapa pun yang ada di luar sana, cepat keluarkan aku dari sini! Cepat!" Gilang kembali berteriak, lalu melempar satu kursi lagi, kali ini ke pintu yang tertutup rapat, berharap pintu itu terbuka dan membiarkannya pergi dari sana.
Gilang tidak suka pada situasi yang menimpanya. Dibuat tak berdaya dan terkurung dalam sebuah ruangan sungguh menyiksa Gilang.
"Argh, sial, sial!" Gilang meraung.
Ceklek.
Pintu terbuka, memperlihatkan Surya Permana yang tersenyum licik seperti biasanya.
"Wah, Anda merusak fasilitas motel ini, Pak," komentar Surya, terdengar santai bahkan terkesan bosan. Hal itu justru memncing amarah Gilang kembali menguar.
Gilang menghampiri Surya dan mendaratkan tinju di wajah Surya yang kurang ajar itu.
"Apa-apaan Anda ini, Pak!" teriak Surya.
"Aku yang seharusnya mengajukan pertanyan itu pada Anda! Kenapa Anda mengunciku dari luar di tempat ini? Tas kerjaku bahkan ponselku tidak ada padaku. Apa maksud Anda, hah?" Gilang meremas bagian depan kemeja Surya, tangannya gatal ingin menghajar pria itu lagi, tetapi dengan susah payah ia tahan. Ia tidak ingin terlibat masalah serius pada orang yang tidak terlalu penting seperti Surya Permana.
"Anda pingsan saat kita sedang berada di lokasi pembangunan. Dokter bilang Anda kelelahan dan tidak tahan terhadap cuaca panas, itulah sebabnya aku menyewa satu kamar motel agar Anda dapat beristirahat. itulah yang terjadi, Pak!" Surya menjelaskan dengan meyakinkan.
Gilang mendorong tubuh Surya hingga pria itu terjatuh ke lantai. "Jika memang seperti itu kejadiannya, tetap saja Anda tidak dibenarkan mengunci kamarku dari luar. Apalagi meninggalkanku tanpa ponsel!" Gilang membentak Surya.
Surya berusaha untuk berdiri, sesekali ia terlihat meringis karena merasakan sakit pada bokongnya. "Aku mengunci pintu dari luar agar tidak ada orang yang masuk sembarangan. Ini motel sederhana yang terletak di pinggiran kota, Pak. Bukannya hotel berbintang yang menggunakan kartu otomatis untuk mengunci pintu. Jika aku tidak mengunci pintu dari luar, maka orang lain akan bebas keluar-masuk kamar. Aku tidak akan membiarkan orang asing mengusik waktu istirahat Anda." Surya masih berusaha untuk menjelaskan.
Akan tetapi, Gilang tetap tidak peduli. Ia segera meraih jasnya yang tergeletak di atas ranjang, dan keluar dari kamar. Namun, ia mendadak menghentikan langkah dan kembali menatap Surya. "Katakan, di mana tas kerja dan ponselku!" ujar Gilang.
"Di lobi, Pak. Aku menitipkan tas Anda di meja resepsionis."
Gilang berbalik begitu mendengar jawaban dari Surya, lalu berjalan dengan cepat menyusuri lorong gelap, suram dan berbau apak menuju lobi yang tak kalah suramnya.
Di balik meja resepsionis , seorang pegawai motel tersenyum ramah menyambut kehadiran Gilang. "Selamat malam, Pak, ada yang bisa saya bantu?"
"Ya, saya ingin mengambil tas saya."
"Anda akan chek out?" tanya pegawai motel itu sembari menyerahkan tas yang Gilang minta.
"Ya." Gilang menjawab dengan singkat, lalu memberi uang tip pada si pegawai motel, kemudian segera keluar dari hotel.
Sesampainya di luar motel, Gilang kembali bingung, karena ia tidak tahu di mana Surya memarkirkan mobilnya. Tidak ingin kembali masuk ke dalam motel dan bertanya pada Surya, Gilang memutuskan untuk mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan menghubungi Toni.
Begitu ponselnya kembali aktif, ia menemukan puluhan panggilan tak terjawab yang terpampang di layar benda pipih tersebut. Kebanyakan panggilan berasal dari nomor ponsel Toni, Andrew, ayahnya dan rumah. Tidak salah lagi pasti Pelangi yang menghubunginya melalui telepon rumah.
Gilang segera menghubungi Toni, dan panggilannya itu langsung diterima oleh Toni pada dering pertama.
"Gila kamu, Gilang! Ke mana saja kamu, hah? Aku dan Andrew mencarimu smpai ingin mati rasanya, tapi kami tidak menemukanmu di mana pun, bahkan nomor ponsel Pak Surya dan asistennya tidak ada yang bisa dihubungi. Pelangi sejak tadi terus menangis karena tidak mendapat kabar darimu sejak siang." Toni mengomel panjang lebar, tidak memberikan kesempatan pada Gilang untuk menjelaskan apa pun.
"Nanti saja mengomelnya, Toni, sekarang cepat jemput aku. Aku tidak tahu aku ada di mana, aku bingung dan kepalaku saki. Aku akan sharelok padamu. Setelah terima pesanku, cepat jemput aku. Aku lelah sekali."
"Oke, oke, cepat kirimkan di mana lokasimu, karena aku tidak bisa melacak keberadaan ponselmu. Entah apa yang terjadi. Aku akan langsung menjemputmu," ujar Toni.
"Aneh, dia tidak tahu dia ada di mana. bukankah gilang tidak pernah seceroboh itu." Andrew berkomentar.
"Ya, itu juga yang kupikirkan. Mana mungkin Gilang tidak sadar dirinya ada di mana. Lagi pula, tadi siang dia bersikeras untuk menyetir sendiri, sekarang dia memintaku untuk menjemputnya. Di mana mobilnya coba?" ujar Toni, ia sadar bahwa ada yang tidak beres.
Setelah beberapa saat menunggu. Akhirnya layar ponsel Toni menyala, memperlihatkan notifikasi pesan pada aplikasi hijau yang ada di benda pipih itu.
"Siapa?" tanya Andrew.
"Gilang. Dia mengirim lokasinya padaku."
Andrew menghampiri Toni dan duduk di samping pria itu, terlihat antusias pada pesan yang Gilang kirimkan. Ia sangat penasaran di mana keberadaan pria itu sekarang.
"Waaah!" seru Toni dan Andrew berbarengan saat melihat pesan yang Gilang kirim.
***
Pelangi masih memunggungi Amara dan juga Suster An yang sejak tadi membujuknya untuk makan. Sejak sore Pelangi menolak untuk memakan apa pun, apalagi sejak kedatangan orang tua Aminah yang mengambil beberapa barang Aminah setelah jasad Aminah dikirim ke rumah duka dan dikebumikan.
Pelangi merasa bersalah saat melihat tangis sorang wanita dan pria tua di ruang tamu sembari memegangi tas dari kain yang terlihat lusuh dan berjamur.
Pelangi baru tahu kalau ternyata Aminah bukanlah gadis dari pedesaan. Gadis itu tinggal di Jakarta juga, di gang-gang kumuh yang letaknya memang lumayan jauh dari perumahan elite tempat Pelangi tinggal.
Saat orang tua Aminah datang tadi, Pelangi meminta maaf hingga bersujud, karena ia masih merasa bahwa kematian gadis itu adalah karenanya. Namun, orang tua Aminah yang baik hati tidak menyalahkan Pelangi sama sekali. Mereka telah ikhlas akan takdir yang menimpa putri mereka yang merupakan tulang punggung keluarga.
"Ayolah, Pelangi, kamu harus makan. Kamu butuh banyak tenaga untuk mengkhawatirkan segalanya. Aku tidak lagi peduli pada kesehatanmu, tapi kamu harus makan demi anakmu, lalu kamu juga harus makan agar tenagamu cukup untuk berpikir. Bukankah banyak yang harus kamu pikirkan setelah ini. Memikirkan Gilang, memikirkan bagaimana caranya mencari orang yang telah menembak Bi Minah, lalu kamu juga harus mengurusi orang tua Bi Minah mulai sekarang. Bukankah kamu sendiri yang bilang tadi, kalau kamu tidak akan membiarkan kedua orang tua itu kekurangan dan hidup. menderita. Kalau kamu saja tidak bisa menjaga dirimu, bagaimana kamu bisa menjaga orang lain!" Amara mengomel panjang lebar.
Omelan Amara yang sengit dan pedas itu sedikit menyadarkan Pelangi bahwa ia tidak boleh egois. Banyak yang harus ia lakukan, dan untuk melakukan itu semua modal pertama yang harus dimilikinya adalah kesehatan.
Pelangi perlahan bangkit dari posisi berbaringnya, lalu memandang Amara dan Suster An bergantian. "Apa mereka sudah mendapatkan kabar tentang Gilang? Kenapa Toni dan andrew malah ikut menghilang? Mereka tidak muncul sejak jam tujuh malam tadi, sekarang sudah jam sebelas malam, hampir jam dua belas malahan."
Suster An berdeham, lalu duduk di samping Pelangi. "Kabar terbaru yang kudengar dari kamar Pak Farhan, Toni dan andrew sudah menemukan Gilang. Mereka berdua sedang menuju lokasi di mana Gilang berada."
"Benarkah?" Pelangi terlihat antusias, sorot matanya yang sejak tadi menampakkan kesedihan pun berganti dengan binar kebahagiaan.
"Benar. Mana mungkin aku berbohong. Aku dengar dengan telingaku sendiri saat Tito mengatakan hal itu pada Pak Farhan," ujar Suster An.
"Nah, karena keberadaan Gilang sudah diketahui, bagaimana kalau sekarang kamu makan. Kamu butuh tenaga untuk bertemu dengan Gilang dan bermanja-manja dengannya nanti." Amara mengangkat nampan berisi bubur yang sejak tadi diletakkan di atas meja oleh pelayan, lalu menghampiri Pelangi yang duduk bersila di atas ranjang.
Pelangi mengangguk, senyum tipis bahkan tersungging di bibirnya. Ia benar-benar lega karena keberadaan Gilang sudah diketahui. walaupun ia sedikit bingung, kenapa suaminya itu harus dijemput. Tidakkah Gilang bisa kembali sendiri. Apa yang terjadi pada Gilang sebenarnya sampai-sampai Gilang tidak bisa dihubungi seharian ini?
***
Farhan Andreas terkejut begitu mendengar penjelasan dari Andrew melalui telepon tentang keberadaan Gilang. Bagaimana bisa Gilang berada sejauh itu dari lokasi yang seharusnya ia kunjungi bersama dengan Surya Permana.
"Jawa Tengah! Bagaimana mungkin Gilang pergi ke sana?!" pekik Farhan.
"Tenanglah, Ayah. Beruntung putra kesayanganmu itu masih berada di Pulau Jawa juga. Bagaimana kalau sampai dia menyasar ke Pulau Kalimantan, mungkin aku akan menolak untuk menjemputnya. Biar saja dia di sana."
"Dasar kejam. Mana bisa kamu bertindak seperti itu pada saudaramu." Farhan mengomel dari seberang telepon.
Andrew hanya tertawa. "Baiklah, aku matikan dulu teleponnya. Aku akan bergantian menyetir dengan Toni. Berdoa saja pada Tuhan, agar putramu menyadari keberadaannya yang sangat jauh dari Jakarta, karena kalau tidak, aku takut dia menunggu kami sambil berdiri di pinggir jalan. Dia kan sedikit bodoh kadang-kadang," ejek Andrew, lalu memutuskan panggilan sambil tertawa. Ia yakin, Farhan pasti sedang mengomel sekarang karena ia mengejek Gilang dengan sebutan bodoh.
Toni yang duduk di sebelah Andrew hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Andrew yang masih bisa bercanda di situasi yang genting seperti sekarang, padahal ia sendiri merasakan ketegangan yang misterius. Aneh saja rasanya jika Gilang tiba-tiba menelepon minta dijemput, sementara Gilang sendiri tidak tahu keberadaan dirinya.
"Menurutmu apakah Gilang diculik hantu?" tanya Toni setelah beberapa saat.
Andrew tertawa mendengar ucapan Toni. "Bagaimana kamu yang begitu realistis memiliki pikiran seperti itu, Ton? Jelas sekali kalau Gilang dibawa ke sana saat sedang tidak sadarkan diri, itulah sebabnya dia tidak tahu di mana dia sekarang. Mungkin dia baru saja terbangun saat menghubungi kita tadi, sehingga dia belum sempat mengenali daerah sekitarnya."
Toni mengernyitkan dahi. "Tapi siapa yang membawa Gilang ke sana dan untuk apa?"
"Itulah yang harus kita cari tahu. Aku mencurigai seseorang."
"Siapa?" tanya Toni.
Bersambung .....