
Gilang mengikuti langkah Farhan Andreas hingga mereka berdua tiba di ruang kerja Farhan. Ruang kerja yang didominasi warna hitam dan abu-abu itu memiliki ukuran yang sangat luas, dengan ornamen-ornamen antik yang terlihat mewah di setiap sisi ruangan.
Farhan melangkah menuju kursi berlengan yang terdapat di sisi lain ruangan, tepat di sebelah jendela berukuran besar yang langsung menghadap ke taman belakang rumah. Sudut itu adakah sudut favorit Farhan, selain karena pemandangan yang indah saat ia membuka jendela, di sudut itulah ia banyak meletakan barang-barang penting yang berharga untuknya. Termasuk kursi berlengan yang terlihat tua tetapi tetap nyaman untuk diduduki dan juga puluhan potret dalam bingkai-bingkai kecil yang terpasang di dinding.
Gilang menghela napas panjang setibanya di sudut ruangan. Matanya menjelajah, nemandang satu per satu apa yang ada di hadapannya, termasuk kursi berlengan kesukaan ibunya semasa hidup, potret sang ibu semasa muda yang terlihat anggun dan cantik, bunga hias buatan ibunya yang terbuat dari benang wol, hingga cetakan kaki seorang anak bayi yang merupakan kaki Gilang sat ia baru lahir.
"Tidak kusangka ayah masih menyimpan semua ini. Aku pikir ayah telah membuangnya," komentar Gilang. Gilang memang jarang memasuki ruang kerja Farhan yang berada di rumah. Apalagi sebelumnya ia jarang berkunjung ke kediaman sang ayah sejak Farhan membawa Andrew pulang ke rumah besar itu dan mengatakan pada Gilang bahwa Andrew adalah putranya juga. Sejak saat itu, walaupun belum cukup umur untuk tinggal terpisah dari orang tua, Gilang memutuskan untuk pergi dari rumah.
Farhan Andreas tersenyum miring mendengar komentar Gilang, persis seperti Gilang yang juga sering melakukannya. "Apa yang membuatmu berpikir seperti itu? Mana mungkin aku membuang semua peninggalan ibumu, yang benar saja, Gil."
Gilang mengangkat kedua bahunya sebagai bentuk penyataan bahwa, bisa saja ayah melakukan itu, toh ayah tukang berselingkuh.
"Duduklah, ayah ingin bicara," perintah Farhan, menunjuk sebuah sofa tunggal yang ada di hadapannya, sementara ia memilih duduk di kursi berlengan berlapis beledu berwarna merah maroon dengan tepi berwarna gading.
Gilang gelisah begitu bokongnya telah menyentuh bantalan sofa yang empuk. Ingin rasnya ia segera menyudahi pembicaraan dengan sang ayah yang bahkan belum dimulai sama sekali. Bagaimana tidak gelisah, ia baru saja tiba beberapa waktu lalu, bukannya dibiarkan istirahat dan menghabiskan waktu dengan Pelangi, sang ayah malah memintanya untuk bicara serius berdua. Gilang menebak, pastilah ayahnya ingin menanyakan tentang hasil pertemuannya dengan Surya. Dan apa yang harus dikatakannya jika sampai sang ayah tahu bahwa proyek kerjasama itu terancam gagal. Meskipun bukan salahnya, tetapi tetap saja ialah yang lebih dulu menghadiahi Surya dengan bogem mentah.
"Jadi, katakan padaku--"
"Sudahlah, Ayah, jika Ayah ingin menanyakan bagaimana kelanjutan kerjasama perusahaan kita dengan perusahaan Surya Permana, aku hanya bisa mengatakan lebih baik ayah lupakan. Kerjasama kami terancam gagal, karena aku meninju wajahnya yang licik itu." Gilang memotong perkataan Farhan, bersiap untuk menerima cacian bahkan tinju dari sang ayah. Namun, Farhan tidak melakukan apa-apa. Pria tua itu hanya menopangkan dagu di tangan sembari menatap Gilang dengan penuh penilaian. Seolah sedang menimbang, apa yang harus dilakukannya pada Gilang.
"Ayah baik-baik saja?" tanya Gilang, saat dilihatnya Farhan masih diam saja tanpa melakukan apa pun padanya. Padahal biasanya Farhan tidak akan setenang itu jika Gilang melakukan sebuah kesalahan yang merugikan perusahaan.
Farhan menghela napas, kemudian mengusap wajahnya yang sudah keriput dan terlihat lelah. Baru sekaranglah Gilang menyadari betapa sang ayah telah melewati waktu yang begitu lama dalam hidup. Entah seberapa sulit sang ayah berjuang untuk membangun kerajaan bisnisnya hingga menjadi sesukses sekarang. Pasti banyak kesulitan yang telah dilewati Farhan. Menyadari hal itu, Gilang sontak merasa bersalah.
"Ayah, maafkan aku. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan menghubungi Surya dan mengatur ulang pertemuan dengannya. Aku--"
"Istrimu hampir tertembak kemarin siang, Gil." Farhan memotong ucapan Gilang.
Mendengar apa yang dikatakan Farhan, Gilang lantas berdiri. "Siapa yang melakukan ... maksudku, apa maksud Ayah?"
"Duduklah dulu dan dengarkan aku, Gil. Situasi ini sangat genting. Kita harus memikirkan semua langkah yang akan kita ambil dengan tenang, jangan tergesa-gesa."
Gilang kembali duduk sambil meremas rambutnya. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa ada orang yang ingin menembak Pelangi. Memangnya apa salah Pelangi, sampai-sampai ada begitu banyak orang yang ingin agar wanitanya itu mati.
"Kapan kejadiannya, di mana dan kenapa tidak ada yang berusaha untuk menghubungiku?!" tanya Gilang, setelah emosinya kembali stabil.
Farhan kembali menghela napas. "Kemarin siang di Big Market. Kami sudah mencoba menelepon dan mendatangi lokasi pembangunan hotel, tapi kamu dan Surya tidak ada di sana. Asisten Surya pun tidak nampak batang hidungnya dan tidak bisa dihubungi juga."
"Dia membawaku ke motel di pedesaan dan mengurungku di sana. Entah untuk apa dia melakukan itu," ujar Gilang, masih merasa bingung atas tindakan Surya yang tidak masuk akal menurutnya.
"Sebenarnya ada yang kupikirkan sejak kemarin. Saat kejadian, Pelangi memang selamat. Tapi, ada dua nyawa yang melayang di hari itu. Pria bernama Ringgo dan salah satu pelayan di rumah kita."
Dahi Gilang mengernyit. "Ringgo. Nama itu tidak asing di telingaku. Apakah dia adalah Ringgo yang sama yang sempat ingin mencelakai Pelangi juga?"
Farhan menggangguk. "Ya, dia rentenir yang dulu mengejar Pelangi dan mengintimidasi Pelangi. Saat kejadian, Ringgo datang menghampiri Pelangi dan mengatakan bahwa ada seseorang yang berniat untuk menghancurkan hubunganmu dan Pelangi. Bukan hanya hubungan kalian, tetapi perusahaan juga menjadi incaran orang itu."
Gilang terlihat semakin bingung. "Perusahaan juga. Tapi, untuk apa mereka mengincar perusahaan juga."
"Untuk apalagi kalau bukan untuk menguasai perusahaan kita." Farhan memijat pelipisanya, wajahnya berkedut karena marah. Wajar jika ia merasa begitu marah, karena ada segelintir orang serakah yang mengincar perusahaan yang telah ia bangun selama puluhan tahun dengan susah payah.
Farhan menggeleng. "Gisel pasti ada di balik semua ini. Aku yakin itu, siapa lagi yang paling berharap jika hubunganmu dengan Pelangi hancur selain Gisela. Tapi, sekarang dia tidak bekerja sendirian. Dia memiliki komplotan, dan aku menebak bahwa Surya adalah salah satu orang Gisel."
Gilang menggeleng. "Tidak mungkin. Bagaimana bisa ...?"
"Aku sudah mengirim detektif untuk mencari tahu semua tentang Surya, dan tugasmu adalah mengawasi setiap orang yang mencurigakan di kantor . Sementara Pelangi akan tetap di rumah dan tidak melakukan aktivitas apa pun sampai waktu yang tidak ditentukan. Terlalu berbahaya jika dia berkeliaran di jalan."
Gikang terlihat semakin khawatir sekarang. "Bagaimana jika penjahat-penjahat itu, entah siapa mereka, datang kemari dan mencoba untuk menyakiti Pelangi? Berada di dalam rumah saja tidak menjamin keselamatan istriku, Ayah. Aku akan membawa Pelangi pergi ke luar negeri saja. Kami bisa tinggal di Kanada. Di sana ada rumah ibu yang sudah lama kosong. Aku akan bicara pada Pelangi."
***
Gilang keluar dari ruang kerja Farhan dengan tergesa-gesa. Tanpa memedulikan teriakan dari Toni dan juga Andrew yang sedang duduk di ruang TV yang berada di lantai dua, tidak terlalu jauh dari ruang kerja Farhan.
"Gilang, hargai kami. Beritahu kami apa yang dikatakan Pak Farhan?! Kami juga ingin tahu," teriak Toni.
Gilang hanya mengibaskan tangan, dan berlalu dari sana tanpa menoleh sekali pun.
Ceklek.
Gilang membuka pintu kamar yang tidak terkunci sesaat setelah ia tiba di depan kamarnya. Saat pintu terbuka, Pelangi yang sejak tadi berdiri di depan pintu yang mengarah ke balkon segera membalikkan badan dan tersenyum saat dilihatnya Gilang melangkah memasuki kamar.
Gilang menghampiri Pelangi dengan langkah besar, dan segera memeluk wanita itu begitu jarak di antara mereka telah terkikis.
"Syukurlah, syukurlah, Pelangi, kamu tidak apa-apa," gumam Gilang di telinga Pelangi. "Aku sudah dengar semuanya dari ayah, La. Kamu hampir tertembak kemarin. Oh, ya, Tuhan, aku sungguh sangat bersyukur karena kamu tidak apa-apa. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jikalau terjadi sesuatu yang buruk padamu."
Pelangi tersenyum mendengar ucapan Gilang yang terdengar khawatir dan begitu tulus. "Aku tidak apa-apa. Aku juga sangat bersyukur karena aku masih selamat, karena jika tidak, aku mungkin tidak akan merasakan kehangatan pelukanmu lagi, Gil."
Gilang mendekap Pelangi semakin erat. "Aku tidak ingin kehilangan dirimu dan anak kita, Pelangi. Aku dan ayah pasti akan mengusahakan yang terbaik agar kamu selalu terlindungi, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Penjahat-penjahat itu pasti memiliki seribu cara untuk dapat menjangkau dan menyakitimu."
"Kamu menakutiku, Gil, bukannya menenangkanku--" Ucapan Pelangi terhenti, karena Gilang tiba-tiba saja menciumnya dan ******* bibirnya dengan begitu intens. Pelangi bahkan sampi kualahan menanggapi ciuman dari Gilang.
Setelah beberapa saat, akhirnya Gilang menjauhkan bibir Pelangi dari bibirnya, kemudian ia berkata, "Ini bukan masalah aku tidak ingin menenangkanmu, aku hanya membicarakan kenyatan agar kamu tahu kalau situasinya sangat genting sekarang ini terutama untukmu, Sayangku. Untuk mengatasi hal yang genting ini, aku dan ayah telah memutuskan untuk mengirimmu ke luar negeri." Gilang diam, kedua matanya menatap Pelangi lamat-lamat, menunggu reaksi wanita itu atas keputusan yang baru saja ia utarakan.
Pelangi terkesiap. Jelas sekali terlihat di wajahnya bahwa ia sangat terkejut atas ucapan Gilang. "Mengirimku? Itu berarti hanya aku?" tanya Pelangi.
Gilang mengangguk. "Ya, Sayang, hanya kamu."
Pelangi mendorong Gilang menjauh, wajahnya diliputi amarah dan kekecewaan. Bagaimana bisa Gilang mengirimnya sejauh itu seorang diri. "Aku tidak mau. Aku sungguh tidak mau. Mana bisa aku tinggal di sana sendirian, sedangkan kamu tetap di sini."
Gilang kembali menghampiri Pelangi dan menyentuh kedua pipi wanita itu dengan lembut. "Aku harus menyelesaikan beberapa hal di sini bersama dengan ayah. Aku akan sering berkunjung ke sana, Pelangi, dan ketika semua urusan di sini telah selesai, aku akan menyusulmu dan ikut tinggal di sana. Atau bahkan lebih baik lagi, jika di sini sudah aman untukmu, aku akan menjemputmu dan kita bisa tinggal di sini lagi."
"Tapi, Gil, aku tidak mau. Aku benar-benar tidak mau. Lagi pula, bukan hanya nyawaku yang terancam, tapi nyawamu juga dan perusahan ayah. Akan egois sekali jika hanya aku yang pergi. Biarlah aku tetap di sini dan mari kita hadapi semua ini bersma-sama. Aku tidak akan ke mana-mana, Gil."
Bersmbung ....
Happy reading all 😍😍😍
Boleh banget follow akun ini, ya, Kak. Biar ramai. hihi