OH MY BOSS

OH MY BOSS
BAHAGIA



 


 


Beberapa bulan kemudian.....


 


 


 


 


Merasa tidak nyaman Nena kemudian terbangun, masih beberapa menit lagi menjelang adzan subuh, entah kenapa akhir-akhir ini dirinya sering merasa gelisah, kata sang ibu hal itu wajar untuk seorang ibu hamil tua menjelang persalinannya, dan dirinya diminta untuk tenang saja.


 


 


Mendapati telapak tangan sang suami berada di perutnya dia jadi tersenyum, dan gerakan-gerakan menendang di dalam sana membuat pria itu terbangun.


 


 


Justin selalu merasa takjub saat perut sang istri bergerak begitu cepat. Sepertinya di dalam sana putra kembarnya tengah bergulat, dia mendekat dan memberikan ciuman hangat, "Selamat pagi sayang-sayangku, baik-baik ya di sana," ucapnya.


 


 


"Mandi, Mas, katanya mau keluar Kota," ucap Nena sembari menyentuh wajah suaminya.


 


 


Justin yang semula fokus pada perut sang istri kemudian mendongak, "iya bentar lagi," ucapnya.


 


 


"Jangan lama-lama ya perginya, bentar lagi aku lahiran loh." Nena menyuarakan sebuah kekhawatiran, dia takut jika saat bersalin nanti sang suami malah tidak ada di sisinya.


 


 


"Cuman dua hari sayang, aku harus ngurusin perusahaan papa Juan di sana, prediksi kelahirannya satu minggu lagi kan?" Tanya pria itu.


 


 


Nena mengangguk, "tapi bisa kurang bisa lebih loh."


 


 


"Ya pokoknya klo ada apa-apa kamu langsung hubungi aku aja ya, aku pasti langsung pulang." Justin berucap menenangkan, mengusap wajah sang istri yang akhir-akhir ini terlihat pucat sekali, sungguh berat membawa beban dua makhluk kecil sekaligus di dalam rahimnya, namun yang membuatnya semakin sayang, wanita itu tidak pernah sedikitpun mengeluh dengan yang ia rasakan.


 


 


***


 


 


Kepergian sang suami keluar kota membuat Nena merasa sedikit kesepian. Tidak ada lagi pria yang selalu mengusap perut buncitnya setiap pagi. Padahal baru satu hari tapi rasanya dirinya begitu rindu, dan menghubungi pria itu tentu jam segini dia sedang tidak bisa diganggu.


 


 


Pergerakan cepat di perutnya membuat Nena menoleh ke bawah, akhir-akhir ini bayi kembar yang masih berada dalam kandungannya itu terasa semakin gesit, semakin kewalahan juga wanita itu mengimbanginya. "Sabar ya sayang-sayangku, besok papi kalian pulang," ucapnya sembari mengusap perutnya pelan.


 


 


Saat akan beranjak berdiri tiba-tiba rasa nyeri di bagian bawah perutnya membuat wanita itu meringis. Semakin lama rasanya semakin sakit saja, prediksi dari dokter katanya satu minggu lagi, apakah hari ini dia akan melahirkan, dan rasa sakit yang cepat hilang juga timbul lagi itu membuatnya semakin merasa ketakutan.


 


 


"Karin, tolongin mbak, perut mbak sakit," ucapnya pada gadis remaja yang kebetulan lewat di sekitarnya, anak itu mendekat.


 


 


"Mbak Nena mules-mules ya, mau lahiran ya Mbak?" Karin, adik angkatnya itu bertanya dengan panik. Nena mengangguk cepat, kembali mengernyit saat rasa sakit itu timbul lagi. "Yaudah Karin panggilan Bang Ar dulu, Mbak," ucapnya kemudian melangkah pergi.


 


 


Kedatangan Ardi tidak lantas membuat kakak perempuannya itu berangsur tenang, sebuah drama di antara mereka justru semakin memperricuh suasana, Karin yang terus mendapat renggutan di kausnya juga rambut kepala Ardi yang menjadi sasaran pelampiasan rasa sakit perempuan itu, dan keributan itu berlangsung hingga sang ibu pulang dari rumah Aldo karena mendapat panggilan dari Karin beberapa saat sebelumnya.


 


 


Di dalam mobil yang dikendarai Ardi menuju rumah sakit, Nena terus saja meringis kesakitan saat mulas di perutnya timbul lagi, sesaat tenang, hanya sebentar dan kembali muncul lagi, hal itu membuat dirinya mengeratkan gengaman tangan pada sang ibu yang terus merapalkan doa, juga tidak lupa agar lebih tenang, sang ibu menyuruhnya untuk menarik napas dalam-dalam.


 


 


Namun tetap saja, rasa sakit di perut juga panas di punggungnya semakin lama semakin sering ia rasakan, dia sudah tidak bisa memikirkan apa-apa. "Mas Justiiiin," rintihnya pelan, berharap pria itu akan segera datang dan membuatnya merasa tenang.


 


 


***


 


 


Justin melangkah tergesa menuju parkiran, kabar mengenai sang istri yang akan segera melahirkan membuat pria itu membatalkan semua pertemuan.


 


 


William dengan sigap menawarkan diri untuk menjadi supir pria itu, dia tidak mau mati sia-sia karena sahabatnya itu terlihat tidak sedang baik-baik saja.


 


 


Di dalam mobil Justin terus mengomel untuk menambah kecepatan laju kendaraan, jarak yang biasa dapat ditempuh selama tiga jam dalam keadaan normal kali ini hanya beberapa menit saja mereka sudah sampai setengah perjalanan.


 


 


"Hey, tenangkan dirimu, yang akan melahirkan itu istrimu bukan kau." William balik mengomel.


 


 


"Lebih cepat Will atau aku saja yang bawa, ayolah istriku sedang kesakitan."


 


 


"Kau pikir dengan kedatanganmu rasa sakitnya akan hilang? Kau tenang saja lah daripada kita sama-sama masuk jurang, kau masih ingin bertemu dengan putramu bukan?"


 


 


Justin terdiam, yang dikatakan sahabatnya itu memang benar, dirinya harus tenang, tapi bagaimana mungkin bisa tenang jika membayangkan sang istri yang bertaruh nyawa demi kelahiran buah hatinya itu benar-benar membuat dia merasa takut. "Willl, ayo cepat!"


 


 


"Astagaaa, iyaaa!"


 


 


***


 


 


Justin mengumpat saat kendaraan yang mereka tumpangi malah terjebak kemacetan, dia bertambah gelisah, gedung rumah sakit yang sudah dapat terlihat membuat pria itu memutuskan untuk keluar saja.


 


 


"Hey! Kau mau kemana?" Tanya William saat sahabatnya itu membuka pintu, kendaraan yang ia bawa memang sedang berhenti karena mobil didepannya yang belum juga jalan, sepertinya didepan ada kecelakaan.


 


 


Justin yang sudah berada di luar menunduk ke arah kaca jendela mobil yang dibuka oleh William, "aku harus cepat Will, aku duluan," ucapnya kemudian berlari pergi.


 


 


Menyaksikan itu William terdiam, belum pernah dia melihat sahabatnya begitu ketakutan, pria bule itu sampai berpikir mungkinkah hal yang sama akan ia lakukan jika yang berada di rumah sakit itu adalah orang yang dia sayang.


 


 


Justin yang berlari sampai lebih dulu di rumah sakit, menemui sang ibu yang terlihat khawatir juga kedua adiknya yang juga sama berantakan. "Bagaimana Bu?" Tanyanya pada Marlina.


 


 


"Baru pembukaan lima, kayaknya bayinya nungguin kamu."


 


 


Justin tidak mengerti kenapa bisa seperti itu, benarkah kedua putranya menunggu kedatangannya tentu hal itu bukan waktu yang tepat untuk dipertanyakan.


 


 


Pria itu segera masuk ke dalam ruangan bersalin sang istri dan terpaku di depan pintu menyaksikan wanita kesayangannya itu terlihat lemah, begitu pucat menahan sakit, dia seperti ingin pergi saja, tidak tega melihat itu semua.


 


 


"Maaass."


 


 


 


 


Meski terlihat begitu kesakitan tapi istrinya itu tidak mengeluarkan air mata, malah dirinya yang seperti ingin menangis, dan gengaman di tangannya yang semakin menguat membuat pria itu sedikit terhenyak.


 


 


"Sakit, Mas." Rintihan itu kembali membuat Justin tidak berdaya, dia tidak tau apa yang harus ia lakukan untuk mengurangi rasa sakit yang dialami istrinya.


 


 


Justin menggenggam jemari tangan kiri sang istri dengan kedua tangannya, tangan kanan perempuan itu mencengkram bantal untuk melampiaskan rasa sakitnya.


 


 


Dokter yang membantu persalinan tampak sedikit terkejut, "sudah pembukaan sepuluh Nyonya, anda sudah boleh mengejan," ucapnya yang malah membuat Nena sedikit kebingungan, perempuan itu terlihat ketakutan.


 


 


"Maaass," rintihnya pada sang suami yang berkali-kali mengusap rambut kepalanya, Justin hanya bisa mengangguk, mengeratkan gengaman tangannya untuk menyalurkan kekuatan.


 


 


"Tarik napas Nyonya, dengarkan arahan dari saya.....,"


 


 


Ucapan Dokter perempuan yang membantu persalinan istrinya itu tidak dapat lagi Justin dengarkan, pria itu memejamkan mata, hanya erangan tertahan sang istri yang semakin membuat dia tidak berdaya, hatinya begitu hancur, mendapati kenyataan bahwa dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.


 


 


Hingga tangisan bayi yang begitu nyaring membuat Justin kembali terjaga, dia begitu takjub dengan apa yang ia saksikan di depan mata, dan beberapa menit kemudian tangisan berikutnya membuat pria itu lemas tidak berdaya, mengucap syukur untuk yang kesekian kalinya.


 


 


Justin menoleh pada istrinya, tatapan mereka saling bertemu, sorot mata itu memancarkan sebuah kebahagiaan, senyum lemah di bibir perempuan kesayangannya itu tidak bisa menahan dirinya untuk menghambur memberikan pelukan.


 


 


Justin keluar dari ruangan bersalin, dan disambut pelukan sang ibu yang begitu merasa terharu, wanita itu terus menangis bahagia.


 


 


"Selamat, Bang," ucap Ardi yang ikut berdiri menghampiri abangnya, memberikan pelukan saat sang ibu melepaskan pria itu.


 


 


William mendekat, berhadapan dengan sahabatnya yang masih terdiam tampak tidak percaya, mendapatkan dua malaikat sekaligus, dia sudah menjadi seorang ayah sekarang.


 


 


Justin tersenyum lebih dulu, saat William menepuk lengannya dan memberikan ucapan selamat, pria itu saling mendekat dan memberikan rangkulan hangat.


 


 


"Aku bahagia, Will," ucap Justin saat rangkulan mereka kemudian terlepas.


 


 


William mengangguk, "ya, aku tau."


 


 


Bayi dan juga ibunya yang sudah selesai dibersihkan dan dipindahkan ke ruang rawat membuat mereka diperbolehkan untuk menemuinya. Marlina lebih dulu menghambur pada Nena, memberikan pelukan sayang pada putrinya.


 


 


"Maafin Nena ya, Bu."


 


 


"Kenapa kamu minta maaf?"


 


 


"Nena sekarang tau perjuangan ibu saat melahirkan."


 


 


Marlina yang terharu mengusap airmatanya yang kembali jatuh, "ibu nggak ngelahirin kamu loh, Na," ucapnya mengingatkan bahwa wanita itu bukanlah ibu kandung dari Nena.


 


 


Nena menggeleng, "tapi ibu udah rawat aku sampe sejauh ini," ucapnya merasa sedih.


 


 


Sang ibu yang memberikan anggukan kemudian kembali memeluk perempuan itu dengan terharu, "ibu dulu hanya melahirkan satu, dan nggak sekuat kamu," ucapnya sembari menangkup wajah Nena dan memberikan ciuman di kening nya.


 


 


"Mbak Nena anaknya ganteng-ganteng Karin suka," ucap Karin yang begitu takjub melihat anak kembar di hadapannya.


 


 


Marlina mendekat, menggendong satu bayi yang terdapat tulisan angka satu simbol anak pertama di pergelangan tangannya, kemudian memberikannya pada Justin. "Azanin di kuping kanan, terus iqomah sebelah kiri," ucapnya memberi arahan, lalu menggendong satu lagi untuk ia bawa ke hadapan Ardi untuk diazani oleh pemuda itu.


 


 


Justin masih begitu kaku, seumur hidup baru kali ini dirinya menggendong seorang bayi mungil yang masih begitu merah warna pipinya, matanya yang jernih mengerjap lucu, pria itu menoleh pada Nena yang tampak memberikan seulas senyum manis, dan tangisan bayi di tangannya membuat pria itu mendekatkan diri untuk membisikan seruan perintah solat, agar menjadi kalimat pertama yang selalu  putranya ingat.


 


 


***iklan***


 


 


Author: Hay aku kembali menulis kisah ini, saking lamanya sampe lupa di Noisy Girl dijalasin nggak sih Nena lahirannya normal apa cecar 😂 kayaknya nggak ya. Mohon koreksinya kalo ada plot hole ya.


 


 


Netizen: ini bakalan up rutin nggak thor?


 


 


Author: tergantung like sama komen, kalo kenceng ya aku lanjut. 😅


 


 


Buat yang mau nyumbang vote biar buat Noisy girl aja ya, yg ini jangan di vote dulu karena yg baca juga pasti kalian kalian juga. 🤣


 


 


Aku mau nerusin kisah William karena banyak yg penasaran dan suruh jelasin wkwkwk ditunggu ya. Salam hahahihi.