
Delia mendengarkan dengan seksama semua yang Gisel ucapkan. Tidak banyak yang tidak Delia tahu, itulah sebabnya ia tidak terlalu terkejut akan ucapan Gisel. Kebanyakan yang Gisel ucapkan hanyalah keburukan Andrew dan Pelangi. Namun, di mata Delia dan menurut penilaian Delia, semua itu bukanlah bentuk sebuah keburukan, tetapi perasaan tulus yang tidak dapat dikendalikan.
Ya, sebelumnya, beberapa hari yang lalu Andrew pernah menjelaskan padanya semua perasaan pria itu pada Pelangi. Di akhir penjelasan Andrew meyakinkannya bahwa perasaan yang Andrew rasakan pada Pelangi perlahan menghilang, tentu saja tidak secara langsung. Akan tetapi, sekarang Andrew dapat menerima bahwa Pelangi adalah milik Gilang, dan akan selalu begitu hingga keduanya menua.
"Ya, jadi begitulah. Si Andrew yang akan menikah denganmu itu sangat mencintai Pelangi. Sejak Pelangi menjadi istri Gilang, sejak saat itu juga Andrew menyukainya dan selalu berusaha menjadi malaikat pelindung bagi wanita itu." Gisel tersenyum sinis. "Kamu tidak akan bahagia, Del, walaupun kamu berstatus sebagai istri Andrew nanti, si Pelangi itu tetap saja akan menggoda Andrew. Aku tahu tipikal wanita seperti apa dia. Dia itu tipikal wanita yang suka diperhatikan oleh siapa pun. Serakah sekali." Gisel mengibaskan rambut panjangnya ke belakang dengan sentakan kasar, seolah ia memang sedang kesal sekali.
Delia menghela napas setelah Gisel selesai berbicara ."Lalu, apa tujuanmu mengatakan semua ini padaku?"
Gisel melotot, kemudian memicingkan kedua matanya ke arah Delia. "Apa lagi memangnya? Tentu saja agar kamu tidak menderita dan bernasib sama sepertiku."
"Aku tidak akan bernasib sama sepertimu, Sel, karena Andrew--"
"Karena Andrew apa, hah?" Gisela memotong ucapan Delia. "Gilang mencintaiku dan tidak pernah berpaling selama lima tahun lamanya, tapi dalam sekejap dia dengan mudahnya jatuh cinta pada Pelangi. Kamu pikir saja sendiri. Pelangi itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan diriku. Dari wajah, bentuk tubuh dan karir. Dia hanya seorang tukang bersih-bersih di kantor Gilang. Tapi lihatlah, dia dapat merebut hati Gilang dan Andrew sekejap. Aku rasa Toni juga sempat menyukainya. Dia itu penggoda ulung yang berlagak polos."
Delia menggelengkan kepala, tidak percaya pada apa yang ia dengar. Setelah melakukan kejahatan yang begitu banyak pada Pelangi, bukannya menyesal, Gisel malah berusaha meracuninya dan membuatnya membenci Pelangi.
"Well, cepat lakukan sesuatu agar Andrew tidak direbut oleh pelacur itu." Gisel berujar kembali sembari memainkan ujung kukunya, saat dilihatnya Delia hanya diam saja dan tidak mengatakan sepatah kata pun.
"Jika kamu sudah selesai, aku akan pulang. Aku akan kembali lagi besok."
Gisel mendelik. "Hanya itu. Kamu tidak menanggapi sama sekali peringatan yang kuberikan padamu. Nanti saat Andrew berpaling, jangan menangis dan mengadu padaku, oke."
Delia mengembuskan napas dengan kesal. "Aku tidak percaya pada ucapanmu. Sampai ketemu besok." Delia berbalik dan berjalan menuju pintu.
"Jangan datang lagi kalau begitu! Aku tidak butuh kamu menengokku setiap hari. Dasar sialan! Argh, argh!" Gisel meraung, ia kesal sekali karena gagal memengaruhi Delia, padahal untuk dapat membalas dendam pada Pelangi, ia membutuhkan orang luar yang dekat dengan Pelangi, salah satunya adalah Delia.
***
Pelangi membereskan beberapa barang yang baru dibelinya semalam di sebuah supermarket ke dalam sebuah koper besar. Ada dua koper di hadapannya sekarang. Satu koper berisi pakaian, sepatu, hingga tas tangan. Satu koper lagi berisi aneka macam makanan ringan. Kedua isi koper itu adalah oleh-oleh yang akan ia berikan untuk orang-orang spesial yang pernah menolongnya dan menerimanya di tempat mereka.
Setelah selesai memasukan semua barang-barang itu ke dalam koper, Pelangi pun menutup koper itu dan menyingkirkannya ke sudut kamar agar tidak menghalangi jalannya atau Gilang yang sejak tadi mondar-mandir di dalam kamar. Pria itu terlihat salah tingkah ketika Pelangi mengajaknya untuk bertemu dengan Bu Siti.
"Nah, beres," ujar Pelangi.
"Sayang, masih ada satu tas lagi yang isinya cake dan roti-rotian. Tidak mau dimasukan ke dalam koper juga?" tanya Gilang.
Pelangi menggeleng. "Tidak usah. Nanti hancur kalau cake juga dimasukan ke dalam koper."
"Ah, iya, benar juga." Gilang nyengir, lalu kembali sibuk dengan kegiatan yang sejak tadi ia lakukan, yaitu memilih kemeja mana yang cocok untuk ia kenakan.
Pelangi yang melihat kesibukan Gilang, segera menghampiri suaminya itu dan memeluk Gilang dari belakang.
"Kekar sekali," komentar Pelangi, saat kedua tangannya menyentuh bagian depan tubuh Gilang yang tidak mengenakan sehelai benang pun.
"Jangan diraba, bisa-bisa kita tidak jadi berangkat ke rumah Bu Siti jika sampai kamu membangunkan naga yang susah payah kutidurkan."
Pelangi tertawa mendengar ucapan Gilang. Ia lalu berpindah posisi ke hadapan Gilang. Saat tubuhnya sudah berada di hadapan Gilang, Pelangi dengan sengaja membungkuk sedikit dan mendaratkan kecupan di dada bidang Gilang yang berotot.
"Oh, ****, sudah kubilang jangan dibangunkan." Gilang mendorong tubuh Pelangi ke atas tempat tidur. Kemudian Melucuti pakaian wanita itu dengan gerakan cepat, seolah ia memang sejak tadi ingin melakukan itu pada Pelangi, tetapi ditahannya dengan susah payah.
Pelangi melakukan hal yang sama pada celana yang Gilang kenakan, hingga keduanya saling bertatapan dalam keadaan tanpa busana.
"Nah, jangan salahkan aku kalau kita terlambat berangkat ke sana," ujar Gilang, lalu merebahkan Pelangi dan mulai mendaratkan kecupan di setiap anggota tubuh wanita itu.
Pelangi mengeluh, bukan karena mereka akan terlambat pergi mengunjungi Bu Siti, tetapi karena Gilang lambat sekali. Ia ingin Gilang langsung memberikan apa yang ia inginkan. ******* luar biasa yang memang selalu sukses Gilang beri padanya setiap mereka berhubungan. Namun, sekarang pria itu hanya mengecupinya saja, hal itu sungguh membuatnya gemas setengah mati.
***
Semilir angin yang lembut menyambut kedatangan Gilang dan Pelangi yang baru saja tiba di desa Tanpa Nama setelah keduanya berjalan kaki cukup jauh, karena memang kendaraan beroda empat tidak bisa masuk ke desa itu.
"Harus saya letakan di mana koper ini, Tuan?" tanya seorang pria yang kebetulan melintas di dekat mobil mereka tadi, saat mobil mereka baru berhenti di jalan setapak menuju Desa Tapa Nama.
"Ah, ya, letakkan saja di sini. Dan ini untukmu." Gilang mengeluarkan sepuluh lembar uang berwarna merah, membuat pria dengan penampilan lusuh itu terkejut.
"Tidak, Tuan, ini terlalu banyak. Saya hanya membantu Anda mengangkat dua buah koper. Tidak usah, sungguh." Pria itu menolak.
Gilang berdecak. "Apa kamu mempunyai anak?" tanya Gilang.
Pria yang ditanya mengangguk sembari mengusap keringat di dahinya. Mengangkat dua buah koper memang bukan hal yang mudah. Pasti pria itu lelah.
"Nah, anggap uang ini adalah rezeki untuk anak-anakmu. Maka dari itu kamu tidak boleh menolaknya, karena Tuhan memberikan ini untuk anakmu melalui tetes keringatmu. Ambilah."
Pelangi tersenyum, ia bahagia sekali melihat sikap Gilang yang begitu baik pada orang lain.
"Ambilah, Pak, apa yang dikatakan suamiku benar. Ini, aku tambahkan untuk anak bapak." Pelangi mengeluarkan uang dari dalam tas tangannya dan memberikannya pada pria itu juga.
Si pria menangis dan mengucapkan banyak terima kasih sebelum pergi meninggalkan Gilang dan Pelangi
"Kenapa orang-orang kecil bersikap terlalu baik dan jujur juga polos. Coba berikan uang tadi pada orang berada, pasti akan langsung diterima."
"Ya, semakin kaya seseorang, kebanyakan memang semakin serakah Ayo, kita harus jalan sedikit agar sampai di pemukiman."
"Baik, Sayangku."
Gilang dan Pelangi berjalan kaki beriringan sembari mendorong koper melewati jalanan berumput tebal hingga mereka tiba di tengah pemukiman yang terlihat sepi. Hampir semua pintu dalam keadaan tertutup, seperti kampung yang tidak berpenghuni.
"Ke mana orang-orang?" tanya Gilang.
"Sekarang baru jam sepuluh pagi. Di jam segini mereka semua masih di kebun. Kita tunggu saja di teras rumah Bu Siti."
Gilang mengangguk, lalu mengikuti langkah Pelangi menuju sebuah bangunan sederhana yang berada tidak jauh dari jalan setapak.
Selagi menunggu Bu Siti tiba, Pelangi menyentuh telapak tangan Gilang dan menuntun pria itu menuju sebuah lahan kosong yang ada di bagian belakang rumah.
Lahan itu tidak terlalu luas, tetapi selalu terlihat bersih dan merupakan bagian paling indah yang ada di rumah itu. Terdapat tanaman pucuk merah di setiap sudut lahan yang sengaja Pelangi beli saat ia mencari bibit sayuran di kota. Terdapat juga beberapa tanaman berwarna-warni yang mudah ditanam dan ditemukan di hutan seperti lavender, vinca, hingga bunga sepatu merah dan putih.
Gilang meremas tangan Pelangi saat ia menyadari tempat apa itu.
"Bu Siti dan beberapa warga yang mengetahui kehamilanku memakamkan bayiku di sini," ujar Pelangi.
Gilang maju selangkah demi selangkah menuju sebuah gundukan yang terdapat di tengah lahan. Ia lalu berlutut di tanah begitu ia tiba di depan gundukan. Tangannya kemudian terulur
, menyentuh sebuah kayu kecil yang tanpa nama, hanya terdapat tanggal kapan makam itu dibuat. Seketika itu juga air mata Gilang mengalir dengan deras dari kedua matanya. Ia masih ingat bagaimana dulu dirinya sangat menanti kelahiran bayinya. Dan sekarang, ia justru melihat makamnya saja. Ia tidak sempat menggendong bayinya dan menyentuh bayi yang telah lama ia nantikan kehadirannya.
"Maafkan aku. Aku tidak bisa menjaganya. Aku membiarkan dia meninggal begitu saja tanpa berjuang. Aku ini ibu yang bodoh sekali." Pelangi menangis, ia masih merasa bersalah atas meninggalnya sang anak. Dulu, hingga sekarang.
Bersambung.
***