OH MY BOSS

OH MY BOSS
JEBAKAN



Justin melangkah tergesa memasuki kediaman Handelson, siapa lagi jika bukan William. Janji temu untuk menghadiri acara pernikahan anak dari salah satu investornya itu, William menyuruh Justin menjemput di rumahnya yang membuat pemuda itu terus bersungut sebal.


"Seperti anak gadis saja minta dijemput, cih. Memangnya dia siapa." Justin terus mengomel sendiri. Kemudian langkahnya  terhenti di ruang tamu saat mendapati seorang wanita duduk memunggunginya, sendirian memainkan ponsel. Tahu siapa sosok wanita itu, Justin berbalik arah dan berniat kabur saja.


"Hay! Just. Mau kemana lagi?" Panggilan William membuat jurus langkah seribu Justin terhenti, William menuruni tangga dan menghampiri kedua tamunya.


Mendengar hal itu, Nena ikut menoleh pada sosok pria yang baru saja datang tanpa dia sadari. Nena sama terkejutnya dengan Justin, gadis itu melirik pakaian yang ia kenakan, tidak ada yang salah memang, Nena terlihat begitu cantik dengan set kebaya modern berwarna marun, dan kain lilit batik dengan warna dan motif yang sama seperti yang Justin kenakan. Pakaian itu Nena dapatkan dari William siang tadi, saat pemuda itu membujuknya menemani hadiri sebuah acara yang dia bilang tidak mau sendirian. Ternyata.


Justin menarik lengan William dan membawanya sedikit menjauh. "Maksudmu apa?" tanyanya gemas.


"Oke, aku tahu kau mau berterimakasih. Jangan sekarang, kita hampir terlambat." William tersenyum tak berdosa, membuat Justin ingin sekali me-remuk redamkan isi kepala sahabatnya yang licik itu.


"Kau gila?"


"Aku tidak pernah merasa sewaras ini. Kau tenang saja, acara ini tertutup dari media, beritamu membawa pasangan tidak akan muncul di koran pagi besok. Santai saja." William menepuk pundak sahabatnya yang tampak masih syok. Kemudian melangkah menghampiri Nena, tidak ada yang bisa Justin lakukan selain mengekor di belakangnya seperti orang bodoh.


"Ayo, Serena. Kita berangkat." Ajak William, Nena terdiam masih bingung dengan situasi yang sebenarnya terjadi, pikirannya menerka-nerka namun dia tidak berani bertanya.


William yang dianugerahi kepekaan yang kuat untuk memahami kaum perempuan, segera memberikan code yang tidak dimengerti oleh Justin yang dia ketahui sebagai pria yang memiliki kepekaan sangat tipis.


"Kau urus! Aku tunggu di mobil." William berbisik dekat telinga Justin.


"Kuharap mulai besok wajahmu tidak pernah muncul di hadapanku." Justin balas berbisik namun tidak digubris oleh sahabatnya. William setengah berlari menuju mobilnya, dengan tersenyum geli.


"Anggap saja kita sedang sial karena mengenal seorang William," tutur Justin yang malah membuat Nena semakin tidak enak.


"Kalo begitu saya pulang saja, anggap saja saya juga sedang sial." Serena melangkah pergi, sadar dengan ucapannya, Justin meraih lengan Serena, beberapa detik mereka saling pandang, persis adegan film bioskop.


"Saya tidak peduli. Kamu, atau seluruh tamu undangan sekalipun memakai baju yang sama dengan yang saya kenakan. Saya tidak masalah, jadi jangan khawatir." Nena berusaha mencerna kalimat demi kalimat yang atasannya itu ucapkan, namun Justin tidak cukup sabar menunggu gadis di hadapannya sampai mengerti, pria itu menarik lengan Serena lembut.


Sesampainya di gedung tempat pesta itu diselenggarakan, mereka disambut dengan lagu instrumen pernikahan adat Jawa, mungkin yang empunya hajat orang jawa. Begitu pikir Nena yang memilih menjauh dari keduan pemuda yang membawanya ke tempat itu.


William yang extrovert langsung berbaur dengan tamu undangan yang sebagian besar dia kenal. Sedangkan Justin, pemuda itu sesekali membalas sapaan dari rekannya yang mengenal dirinya meski sebenarnya pria itu tidak mengenalnya.


"Just! mana Serena?" tanya Williambyang membuat Justin mengerutkan dahi.


"Buknnya dia bersamamu?" tanya Justin balik.


William berdecak sebal. "Menjaga satu wanita saja kau tidak bisa," omelnya. "Cepat cari dia," suruhnya kemudian.


"Kau yang mengajaknya, kenapa harus aku yang menjaganya." Sergah Justin, namun William tidak mengindahkan penolakan secara halus sahabatnya itu, William mendorong tubuh Justin untuk mencari Serena.


Gadis yang dicari-cari ternyata sedang mengantri untuk mendapatkan zuppa sup, sup kental dengan isian jagung dan potongan daging dengan pastry yang ditaruh di atasnya seperti topi.


"Saya mencari kamu kemana-mana, ternyata di sini."


"Pak Justin!" Nena sedikit terkejut mendapati pria dengan kemeja batik yang senada dengan batik yang ia kenakan berdiri di sampingnya tanpa menyapa. Nena keluar dari antrian, menunduk canggung di hadapan Justin yang terus menatapnya dingin.


"Kamu menghindari saya?" pertanyaan yang berhasil membuat Nena mendongak itu mampu juga membuat kepala gadis itu mengangguk ragu. Justin membuang wajah, tersenyum geli tanpa Nena dapat sadari.


"Memang kenapa?"


"Sa, saya takut Pak Justin risih dengan keberadaan saya." Nena memberanikan diri menatap pria di hadapannya, mencoba mencari kebenaran. Namun yang didapati gadis itu hanya ekspresi datar seperti biasa.


Justin menelan ludah, bingung harus menanggapi bagaimana, pasalnya dia memang sedikit risi dengan couple jebakan batman dari William, bukan karena dia tidak suka ada Serena di sini, tapi pria itu takut menjadi canggung satu sama lain, mereka tidak sedekat pasangan-pasangan couple yang ada di pesta itu.


"Saya tidak merasa seperti itu, setidaknya untuk malam ini saya tidak terlihat seperti orang yang kesepian. Kamu tunggu disini, biar saya saja yang ikut mengantri."


Justin masuk ke antrian, -satu hal yang tidak pernah pria itu lakukan- meninggalkan Nena yang masih mematung di tempatnya. Nena mengetuk kepalanya pelan, dalam hati berkata.


"Kenapa kalo ngomong sama Pak Justin IQ gue mendadak jongkok sih? Gagal paham mulu gue. Apa coba tadi maksudnya."


Beberapa menit kemudian Justin kembali dengan dua mangkuk zuppa sup, dan memberikannya satu pada Nena. Yang disambut ucapan terimakasih gadis itu.


"Hay, Just! wiih siapa nih?"


Ini sebenarnya yang Justin takutkan, pertanyaan siapa gadis di sebelahnya pasti akan terus menghujaninya baik langsung atau secara tatapan saja. Justin hanya tersenyum sebagai jawaban, sedikit berbasa-basi sekedar menghargai rekannya itu.


"Kita duluan yah." Justin meraih tangan Nena dan mengajaknya keluar gedung, di sana ada satu meja bundar dengan dua kursi saling berhadapan.


"Kenapa Bapak tidak bergabung dengan mereka?" Tanya Nena setelah mereka menduduki kursi masing-masing.


"Saya tidak tertarik dengan obrolan yang tidak berbau bisnis." Ungkap Justin, tangannya mulai menyuapkan sup kedalam mulut. Nena mengangguk mengerti, untuk beberapa menit kedepan mereka saling diam.


"Kamu tidak apa-apa kan?" Justin membuka suara.


"Enggak, Pak."


"Kenapa diam saja?"


"Saya bingung harus membahas bisnis apa dengan Bapak. Saya tidak mengerti, yang saya tahu hanya kerja, kerja kerja." Jawaban polos Nena berhasil membuat Justin tertawa geli, pandangannya menghangat, baru kali ini Nena merasa pria di hadapannya itu sediki berbeda.


"Serena."


"Iya, Pak?"


"Jika sedang di luar kantor, jangan panggil saya Bapak, sepertinya kita seumuran."


"Iya, Mas. Eh Bang—"


"Justin saja!"


"Pengecualian untukmu, kita bisa membicarakan hal-hal yang tidak penting. Terserah kamu." Tawar Justin, Nena tampak berpikir.


"Kenapa, Bapak. Eh, Kamu tidak membawa pasanganmu kesini?" tanya Nena sekedar basa-basi, dia penasaran, kenapa selama ini belum pernah terlihat ada seorang perempuan yang datang ke kantor dan mengaku pacar bosnya itu.


"Saya tidak punya seseorang yang seperti itu."


"Yaelah bilang jomblo aja seribet itu." Nena membatin.


"Masa Ceo sekelas kamu nggak punya pacar, banyak kali yang mau." Nena yang biasa ceplas ceplos pada lawan bicaranya langsung merutuki kelancangan mulutnya yang tidak tahu sikon dengan siapa dia berbicara.


Justin tertawa kecil, kecanggungan di antara mereka perlahan memudar. "Memangnya saya se-potensial itu, sampai siapapun pasti mau dengan saya?" tanyanya kemudian, bibirnya tidak mau berhenti tersenyum. Gemas dengan tingkah polos gadis di hadapannya.


"Iya, Kamu memang se-potensial itu." Nena membeo, bingung harus memberi tanggapan bagaimana.


"Dulu saya pernah punya. Dikenalkan ayah saya, tapi kita tidak cocok, dia bilang saya terlalu kaku, dingin, tidak romantis dan kurang peka." Ungkap Justin panjang lebar, entah kenapa dia merasa ringan membagikan sedikit kehidupannya pada Nena, padahal dia amat tertutup, satu-satunya orang yang dekat dengannya hanya William.


"Dan kamu merasa bahwa, kamu orang yang seperti itu?"


"Saya memang orang yang seperti itu, sulit bagi saya mengerti dengan jalan pikiran seorang perempuan yang menurut saya terlalu rumit."


"Mungkin semua perempuan memang begitu di mata laki-laki," tutur Nena dramatis.


"Kamu tersinggung?"


"Tidak."


"Saya boleh bertanya satu hal?"


"Apa?"


Justin meletakan sendok sup dengan hati-hati, pandangannya lekat menatap gadis di hadapannya, seolah pertanyaan yang akan dia lontarkan itu sangat penting.


"Saya selalu gagal mengerti sikap seorang perempuan, dia selalu saja memberikan pilihan 'terserah' tapi saat saya memutuskan sesuatu, dia tidak suka dan marah-marah, apa sesulit itu mengatakan tentang apa yang dia mau, sampai dia itu menyuruh saya untuk berpikir sendiri kemauan dirinya?"


Nena terkekeh, lucu melihat betapa frustarasi pria di hadapannya itu. Justin mendengus, merasa ungkapannya itu bukan sebuah lelucon yang pantas ditertawakan.


"Mungkin kamu harus banyak belajar mengerti sifat seorang perempuan. William cukup ahli mengatasi pacar-pacarnya itu, kenapa kamu tidak coba belajar padanya saja?"


"Kenapa harus William? Saya ingin belajar dari kamu, Serena. Kamu perempuan, dan saya ingin belajar mengerti seorang perempuan dari diri kamu," ungkap Justin dengan senyum penuh arti, namun sulit diartikan oleh gadis di hadapannya.


"Maksud lo? Sumpah gue nggak ngerti, pliss boleh minta siaran ulang nggak?"  Batin Nena, merasa bingung sendiri.


Nena masih membisu, tidak mengerti dengan maksud pernyataan pria di hadapannya. Tangannya bergerak pelan mengaduk sup yang mulai dingin.


TRING


Pesan masuk di ponsel Justin, pria itu berdecak sebal setelah membaca isinya, kemudiqn beranjak dari kursi yang ia duduki.


"Ayo kita pulang." Ajaknya pada Nena yang masih bingung.


"Bagaimana dengan William?"


"Dia sudah pulang."


"Beneran?"


Justin tampak enggan menjelaskan lebih lanjut, pria itu hanya mengangguk mengiyakan.


***


Justin mengantarkan Serena pulang, sesuai titah William. Tidak terjadi obrolan di dalam mobil, Nena yang merasa lelah memilih memejamkan matanya.


Diam-diam Justin memperhatikan raut damai Serena, gadis itu tampak begitu cantik dengan rambut lurus sebahu yang dibiarkannya tergerai. Wajah cantik itu mengingatkannya pada foto mendiang ibunya.


Justin mengusap pundak Serena pelan, membangunkannya saat sudah sampai di depan pagar rumah minimalis ber cat hijau yang ia yakini itu rumahnya.


"Sudah sampai yah? Maaf Pak, saya ketiduran." Dengan panik Nena merapikan rambutnya, kemudian menoleh ke arah sang atasan. "Bapak mau mampir dulu?" Tawarnya, merasa bersalah sudah tertidur disaat si bos mungkin kesulitan mencari letak rumahnya, gadis itu hanya memberikan sebuah alamat dan ciri-ciri rumah. Tapi kenapa Justin pintar sekali.


"Ini benar rumah kamu?" Justin bertanya, membuat Nena menoleh sekilas ke rumahnya dan mengangguk.


"Kecil, Pak. Terlalu kumuh buat Bapak kunjungi. Kalau tidak mau mampir juga nggak apa-apa." Nena mencoba memaklumi.


"Ah, bukan begitu." Justin melirik arloji di pergelangan tangannya, "sekarang sudah malam, lain kali saja."


"Ah, baik, Pak." Nena keluar dari mobil dan melambai seraya mengucapkan terimakasih dan hati-hati di jalan.


"Serena?" Panggil Justin saat Nena nyaris berbalik melangkah.


"Iya?" Nena kembali menatap sang atasan yang tengah duduk di balik kemudi.


"Selamat malam."


"Ha?" Nena terbengong pada awalnya, namun kemudian tersenyum dan mengangguk, setelah itu berbalik dan segera memasuki pekarangan rumahnya itu.


Padahal Justin ingin mengatakan kalau dia tidak suka dipanggil bapak oleh gadis itu, tapi ia urungkan. Pria itu tidak langsung pulang, dia membiarkan Nena lebih dulu menghilang di balik pintu rumahnya. Pria itu menyalakan mesin, perhatiannya teralihkan saat pintu rumah Nena kembali terbuka, gadis itu berlari menghampirinya dengan raut panik.


"Tolong ayah saya!!"


***