
"Nino Nakula Adley, pria tampan penerus utama Adley grup dikabarkan masih betah sendiri." Di sebuah restoran yang masih terbilang sepi, dua orang karyawan wanita yang kurang kerjaan itu menggunjingkan berita viral akhir-akhir ini.
"Ya gimana nggak betah, orang dia nggak suka sama perempuan." Satu orang wanita lebih tua berseragam sama ikut menanggapi berita yang temannya baca di akun gosip lambe lumrah.
Gadis si pemegang ponsel itu pun menoleh. "Ah, masa sih, Mbak. Wong ganteng gini kok, tuh lihat," kilahnya dengan menunjukkan foto pria tampan dengan kemeja biru yang pas di badan, tubuhnya tingi tegap, pasti rajin berolah raga, pikirnya.
"Eh asal kamu tahu saja yah?" Kaliman itu selalu menjadi pembuka acara ghibah yang sering kali digunakan oleh biang gosip kelas dengar-dengar. "Dulu itu dia sempat ditinggal sama calon istrinya loh pas mau nikah, pacarnya kabur ke luar negri katanya. Dan dengar-dengar setelah kejadian itu dia jadi nggak suka sama perempuan, iih ngeri banget kan ganteng-ganteng jeruk makan jeruk."
Gadis si pemegang ponsel jadi ngeri mendengarnya, luntur sudah kekagumannya pada pria dua puluh tujuh tahun yang konon akan menjadi pewaris utama Adley grup, perusahaan ternama di negaranya. "Emang sih kadang suka gitu, orang ganteng sukanya sama yang ganteng juga, yang cantik bikin sakit hati," ucapnya menanggapi.
"Bukan sakit hati tapi kangker, kantong kering, hihi. Untung aku nggak cantik."
Mendengar kalimat terakhir itu temannya kemudian menoleh. Sejak kapan lahir tidak cantik menjadi sebuah keberuntungan? Pikirnya. "Tapi memang selama ini belum ada yang dikabarkan tengah dekat dengan Pak Nino ini ya, Mbak. Sepertinya selentingan berita bahwa dia suka sesama jenisnya itu memang benar."
"Ya sudah pasti benar, kalo dia normal pasti banyak gadis yang dia pacari lah dia kan kaya, mau perempuan model apa saja pasti bisa."
Belum sempat temannya menanggapi pembicaraan yang semakin memanas meski tanpa bukti, seorang pria ber jas rapi dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya itu, membuat kedua gadis yang berdiri di balik meja kasir kemudian menoleh.
"Ada yang bisa dibantu, Mas?" Salah satu dari mereka lalu bertanya.
Pria itu meletakan kedua tangan di atas meja setinggi perutnya. "Apa kalian juga tau selain suka sesama jenis, dia juga ternyata pedofil?" tanyanya dengan sedikit mencondongkan kepala, ikut bergosip dengan mereka yang terlihat semakin antusias saja.
Kedua gadis di hadapannya itu saling berpandangan. "Ah, yang benar, Mas. Fitnah loh kalo nggak ada buktinya," ucap salah satu dari mereka.
"Aku berbicara benar, apa kalian perlu bukti juga?" Pria itu bertanya, kemudian melepas kacamata hitamnya yang membuat mulut mereka seketika menganga.
"Pak Nino Nakula?" dengan suara bergetar, si gadis pemegang ponsel yang kenal sekali dengan wajah tampan pria dihadapannya itu kemudian bertanya. Ternyata pewaris utama Adley grup itu lebih tampan dari yang ia lihat di berita, tapi bukan karena itu sebab dia terlongo, barusan saja mereka menggunjingkan pria itu, dan mungkin saja dia mendengarnya.
"Om, Ni!" Seoang bocah kecil berlari menghampiri pria berpakaian rapi itu, kemudian melompat ke gendongannya.
"Hay! Loly, I love you, Sayang?"
"Love you to, Om Ni," balas gadis usia empat tahun berkuncir dua itu dengan semangat.
"Cium Om, dong!" Pinta pria tampan itu dengan menyodorkan pipinya. Dan dengan senang hati, gadis kecil itu melakukannya.
Nino menoleh pada kedua pelayan resto yang masih mematung di tempatnya, "apa kalian perlu foto juga? No pic hoax," ucapnya, namun tanpa menunggu mereka sadar dan mengangkat kamera, dia melangkah pergi dan meninggalkannya.
"Ya Tuhan itu beneran Pak Nino?" Si gadis pemegang ponsel berkata tidak percaya, suasana pagi menjelang siang ini memang belum terlalu ramai tamu di restoran itu, dan hanya ada satu pelanggan pria dengan anak kecil dan juga pengasuhnya. Tapi dia tidak menyangka sejak tadi telah membicarakan orang yang sama.
"Kalian kenapa sih?" Satu orang gadis dengan seragam yang sama bertanya setelah menaruh nampan berisi piring kotor ke atas meja.
Temannya menoleh, "Yara! Tau nggak tadi aku ketemu sama Pak Nino," ucapnya.
"Nino siapa?" Gadis yang disapa dengan nama Yara itu bertanya.
"Duh mana tadi kita gosipin dia lagi, pasti dia denger deh," ucap temannya yang lain.
Gadis bernama Yara itu terlihat bingung, "gosipin apa, Mbak Iis?" tanyanya penasaran.
"Itu loh, Ya. Si Ega mancing-mancing gue buat gosipin pewaris utama Adley grup yang nggak doyan sama perempuan," ucap wanita itu mengadu.
"Ih, apa sih Mbak Iis, orang Ega nggak bilang gitu, Mbak Iis aja yang merepet macem-macem, untung nggak dituntut pencemaran nama baik."
Gadis bernama Yara itu mengerti setelah temannya bercerita tentang kejadian yang dialaminya sesaat tadi. "Bagus dia nggak marah, tapi emang bener yah? cowok seganteng itu nggak suka perempuan, ngeri juga."
Ega berdecak sebal, kemudian memukul lengan sahabatnya. "Kok kamu jadi ikut-ikutan gosipin dia si, udah ah ayo nguli," ajaknya yang melihat restoran tempat kerjanya, sudah mulai ramai didatangi pengunjung untuk makan siang.
Gadis yang sering disapa Yara itu bernama lengkap Kayara Azna, nama itu diberikan kedua orangtuanya sebagai doa, agar kelak putrinya bisa menjadi orang kaya, tapi nyatanya gadis pekerja keras itu sudah siang malam membanting tulang masih belum kaya juga.
Yara sedikit terlonjak saat ponsel di saku apron yang tersangkut di depan tubuhnya itu bergetar, dari sang kakak yang mengabarkan bahwa dia sudah berada di depan resto dan ingin mengajak berbicara, gadis itu pun berpamitan pada teman karyawan untuk menemui saudaranya.
"A Sigit?" Yara menepuk pundak pria yang beberapa tahun lebih tua dari dirinya. Melihat raut wajah sang kakak yang begitu kalut dia pun kemudian bertanya. "Ada apa, A?"
"Itu, duit kamu udah aa beliin rumah, lebih murah, tingkat lagi." Sigit berucap ragu, nadanya terdengar takut-takut.
"Alhamdulilah," ucap Yara merasa senang, "tapi kenapa aa keliatan sedih sih?" tanyanya curiga.
Sigit mengusap tengkuknya dengan gusar, "maaf, Ya. Aa kena tipu."
Yara terdiam, belum merespon apa-apa, otaknya masih mencerna kalimat sang kakak dengan seksama. "Kena tipu gimana maksudnya?"
"Aa kena tipu, ternyata rumah yang aa beli surat-suratnya palsu, terus nanti pemilik rumahnya yang asli mau dateng." Sigit berucap takut-takut, dia khawatir adiknya tiba-tiba pingsan.
Namun Yara masih diam saja, respon gadis itu benar-benar lambat, lebih tepatnya dia belum siap untuk mendengar berita buruk apapun saat ini.
"A, Aa ketipu?" Yara mengulang kalimat abangnya. Di dalam kepala bayangan uang tabungan yang bertahun-tahun ia kumpulkan, juga rumah warisan yang sudah mereka jual. "Terua aku tinggal di mana aa, aku jadi gembeel?"
"Iya, Dek! Maaf!"
"A Sigiiit!"
Sigit diam saja saat sang adik dengan kesal memukuli tubuhnya, "nanti abang cari cara, pokoknya kamu nggak usah khawatir."
"Gimana nggak khawatir!" Bentak Yara, semua uang tabungannya sudah terkuras habis, bahkan rumah tempat tinggal yang sebelumnya juga sudah dijual, dia benar-benar jadi kaum dhuafa.
Yara merasa mual, pusing juga di kepala, lemah letih lesu. Asam lambungnya kumat. Dia syok.
Bab 2
Nino tidak merasa terganggu saat karyawan perempuan di restoran tadi menggunjingkan tentang dirinya, dia juga sudah sering mendapat berita sedemikian rupa, pria itu tidak peduli selagi dia merasa baik-baik saja.
"Om Ni? Apa kita mau pulang, Cila nggak mau pulang."
Nino tengah mengendarai mobil, saat keponakan kecilnya itu mencondongkan kepala dari kursi di belakangnya. "Kamu mau ke mana?" tanya pria itu.
"Beli eskim?"
"Memangnya boleh?"
"Kata mami boleh, kan Cila udah makan tadi, kalo udah makan Cila boleh, emm apa ya?" Gadis itu tampak kesulitan memilih kalimat apa yang ingin dia lontarkan. "Boleh apa, Mbak?" tanyanya pada perempuan muda berseragam putih yang selalu mengikutinya.
"Boleh makan eskrim."
"Iya, kata mami boleh makan eskim kalo aku udah makan nasi," ucap gadis kecil itu lagi, namun kemudian berpikir. "Eh, nggak jadi deh, Om?"
Jino yang mengerutkan dahi tampak menahan senyum, "kenapa nggak jadi?"
"Soalnya tadi Cila nggak makan nasi, makan cpategi," ucapnya, kemudian duduk di kursi dan melipat lengannya di depan dada, dari kaca spion dalam yang terpasang di mobilnya Nino dapat melihat bocah itu memberenggut kecewa.
"Spageti," ralat suster yang menjaga Jira, perempuan itu sedikit tertawa.
"Spategi?"
Nino tertawa mendengar bocah itu berdebat masalah nama makanan yang ia konsumsi di restoran tadi, pria itu kemudian membelokan mobilnya menuju restoran cepat saji.
Jira, keponakan kecilnya itu tampak senang. "Om Ni, mau beliin Cila eskim?" tanyanya bersemangat. Beranjak berdiri dan menghampiri kursi depan yang diduduki omnya.
Nino mengangguk, setelah menghentikan laju kendaraannya di parkiran, dia kemudian melepaskan sabuk pengaman. "Tapi Loly jangan bilang sama papi ya, nanti omnya apa?"
"Dimomelin sama papi Jio!" Jira menjawab dengan semangat. Dia menyodorkan kelingkingnya untuk berjanji pada pria itu.
Nino pun keluar dari mobil, menuntun gadis kecil yang begitu riang melangkahkan kakinya memasuki restoran cepat saji, tempat yang terkenal dengan ayam gorengnya itu tampak ramai oleh pengunjung siang ini.
Dering ponsel di saku jasnya membuat Nino menghentikan langkah, setelah menyuruh baby sister keponakannya itu untuk menjaga Jira, dia pun mengangkat panggilan telepon dari asisten pribadinya.
"Kenapa, Bim?" Tanya Nino, dan kemudian mengerutkan dahi saat asistennya itu berkata, ada masalah kecil menyangkut rumah tempat tinggal yang sang papi beli untuk dirinya. "Jadi orang yang dipercaya papi untuk mengurus rumah itu malah menjualnya pada orang lain, dengan surat-surat palsu?"
Nino mematikan ponselnya saat sambungan telepon dari Bima, asisten pribadinya itu sudah berakhir. Dia tidak habis pikir, mengapa seseorang begitu ceroboh membeli sesuatu dengan iming-iming harga murah, tanpa mencari tahu dulu penipuan atau tidak.
"Om Ni? Ayo masuk, Cila mau beli eskim." Jira mengguncang lengan sang om agar pria itu menoleh.
Nino berjongkok di hadapan keponakannya, mensejajari tinggi bocah kecil itu. "Beli es krim aja yah, abis itu langsung pulang. Om ada perlu."
Jira memanyunkan bibirnya. "Tadi bilangnya Om Ni udah nggak ada keljaan, Om Ni boong. Cila mau main plosotan." Bocah kecil itu menunjuk permainan anak yang memang tersedia di sana.
"Yaudah besok om janji bawa Loly ke tempat ini lagi, sekarang om ditungguin orang, Sayang."
Jira yang semula melipat kedua lengannya di depan dada, menghentakan kakinya kesal, gadis kecil itu merajuk. Dengan wajah cemberut dia berjalan ke arah mobil.
"Loly? Jadi beli eskrim nggak?" Nino yang menahan dirinya untuk tidak mencubit pipi bocah itu kemudian bertanya. Mengikuti langkah kecil anak itu yang tengah marah pada dirinya.
"Dausah!" Balasnya dengan nada kesal.
Nino tertawa tanpa suara, membukakan pintu mobil untuk keponakannya, dan gadis itu kemudian membuang muka.
"Loly masih ngambek sama om?" Nino bertanya saat mereka sudah sampai di depan pintu gerbang rumah besar keluarganya. Pria itu menurunkan kaca mobil untuk melihat keponakannya yang pergi begitu saja. Tidak ada jawaban dari bocah itu dan dia memilih untuk segera pergi dari sana.
Nino keluar dari mobil saat sudah sampai di depan rumah minimalis dua lantai yang dulu pernah papinya beli untuk dirinya. Pria itu melepas kacamata kemudian menutup pintu mobil, laki-laki berpenampilan rapi yang sangat ia kenali lalu menghampirinya.
"Si pembeli rumah ada di dalam, Pak. Dia minta uangnya diganti." Bima, asisten pribadinya itu berkata.
Nino mengerutkan dahi, memberikan kacamata hitamnya itu pada pria di jadapannya. "Apa memang aku perlu membayar kebodohannya?"
Bima tahu, kalimat tanya itu tidak butuh jawaban jika dia tidak ingin menjadi sasaran kepedasan dari mulut atasannya, dia hanya diam saja.
Nino melangkah masuk ke ruang tamu, menghampiri seorang pria yang langsung berdiri saat bertemu dengan dirinya, mereka berjabat tangan.
"Nama saya Sigit, saya yang membeli rumah ini untuk adik saya beberapa hari yang lalu." Pria itu menuturkan kalimatnya, sebuah map berwarna biru ia genggam dengan kedua tangannya yang tampak bergetar.
Nino mempersilahkan Sigit untuk duduk, dia sendiri menduduki sofa tunggal dan berhadapan dengan laki-laki itu. "Apa anda tidak tahu, bahwa surat-surat rumah itu palsu?"
Sigit menggeleng."Saya tidak tahu bahwa surat ini ternyata palsu, tapi bagaimana dengan nasib saya dan adik saya setelah tertipu?"
"Apa itu menjadi urusan saya?" Nino menjawabnya dengan santai, memberitahu pria itu bagaimana seharusnya dia membeli sebuah tanah dan rumah dengan baik dan benar. "Anda pikir, ini sama dengan seperti anda membeli bawang di pasar?"
Laki-laki bernama Sigit itu mendongak, tatapannya tajam mengarah pada Nino yang memilih diam saja, dan alih-alih marah, pria itu justru berlutut di depan kakinya.
"Tolong saya, Pak. Adik saya butuh tempat tinggal." Sigit memohon dengan merendahkan harga dirinya. Pria itu menceritakan bagaimana adiknya menabung bertahun-tahun, sampai menjual tempat tinggal yang lama demi membeli rumah ini.
Nino menghela napas, menyuruh Bima membantu pria yang berlutut di hadapannya itu untuk berdiri. Dia mengerti keadaan laki-laki ini. "Jadi, apa mau kamu?" tanyanya sedikit melunak.
Sigit tampak berpikir, uangnya benar-benar habis dan tidak mungkin adiknya bisa menyewa rumah untuk dia tinggali. Dia mungkin bisa tidur di mana saja, tapi adik perempuannya tentu tidak akan bisa, dan diapun tidak mungkin membiarkannya.
"Tolong izinkan adik saya tinggal di rumah ini, sampai kami bisa mencari penipu itu." Sigit meminta keringanan.
"Uang yang sudah berpindah tangan pada orang lain, tidak mungkin bisa kembali. Apa kamu yakin jika menemukan penipu itu, uangmu masih utuh?" Nino mengatakan sebuah fakta, membuat pria itu semakin terpojok dengan keadaannya.
"Jika begitu, tolong izinkan adik saya tinggal di rumah ini, sampai kami bisa mendapat uang untuk membeli rumah baru?"
"Apa pekerjaanmu?"
"Kurir paket, Pak."
Nino menghela napas. "Adikmu?"
"Karyawan restoran."
"Jadi berapa puluh tahun saya harus menampung keluargamu sampai bisa membeli rumah yang baru?" Nino memijit keningnya yang terasa pusing. Kenapa kebodohan yang dilakukan orang lain, harus berimbas buruk pada dirinya? Dan kenapa juga dia bisa sepeduli ini. Harusnya sudah ia usir sejak tadi, toh ini bukan kesalahannya. Tapi entah kenapa dia merasa tidak tega.
Sigit terdiam, dia sadar bahwa mereka tidak akan mampu membeli rumah baru meski puluhan tahun lamanya, itu saja mereka mengumpulkan uang dan ditambah dari hasil jual rumah yang lama. "Setidaknya, biarkan adik saya tinggal sampai bisa menyewa rumah yang baru, untuk adik saya saja, saya bisa tinggal di tempat lain."
"Apa keuntungan yang bisa aku dapat dari adikmu yang tinggal di rumah ini?"
"Adik saya pandai memasak, dia juga pasti bisa membersihkan rumah, tapi tolong biarkan adik saya bekerja untuk bisa menyewa tempat tinggal untuk kami.
Nino beranjak berdiri, "saya tidak bisa tinggal dengan seorang perempuan di rumah ini," ucapnya kemudian melangkah ke arah pintu, dia sudah banyak membuang waktu.
"Adik saya laki-laki!" Sigit berseru, menahan langkah kaki pria itu di ambang pintu.
Nino menoleh. "Adikmu laki-laki dan pandai memasak?"
"Bukannya koki restoran saja banyak yang laki-laki juga?"
Alasan itu bisa Nino terima, tapi dia tetap waspada. Tidak ada yang tahu jika mereka mungkin akan berbuat jahat kepadanya.
"Tolong, Pak. Saya mohon izinkan adik saya tinggal di rumah ini untuk sementara."
Nino menghela napas. "Baik lah, antarkan adikmu untuk menemui saya di rumah ini besok, siapa namanya."
Sigit begitu senang mendengarnya. "Namanya Ya-," kalimatnya terhenti, dia merasa ragu.
"Ya? Yanto?" tebak Nino.
"Ya, Yayan, Pak."
"Ah, aku lebih suka Yanto."
Kalimat itu membuat Bima yang masih diam berdiri di tempatnya nyaris terjungkal ke bawah lantai, selain berita viral yang membuatnya ngeri pada atasannya, pria itu semakin ingin jauh-jauh saja.
Bab3
"Yayan?" Yara bertanya tidak percaya, daripada memikirkan dirinya yang harus menyamar jadi seorang pria, gadis itu malah lebih merisaukan namanya yang berganti jadi Yayan. "Kenapa nggak Dayat aja sekalian," omelnya.
Sigit yang tengah mengeluarkan baju-bajunya dari lemari, kemudian mendekati sang adik yang duduk di tepi ranjang. Mereka masih berada di rumah lama yang besok pagi harus segera dikosongkan.
"Iya, Maaf. Aa nggak kepikiran yang lain soalnya tadi aa keceplosan ngomong Ya, jadinya Yayan. Nggak apa-apa buat sementara aja, kamu tinggal di sana." Sigit berucap panjang lebar, membuka sleting tas besar adiknya yang terletak di atas kasur, mereka sedang berkemas.
"Aku nggak mau, A. Aku nggak mau tinggal sama orang asing, apalagi harus nyamar jadi cowok, kalo ketauan gimana?" Yara menahan airmatanya untuk tidak jatuh. Teringat kembali kenapa nasibnya harus seperti ini, gadis itu selalu saja menangis meskipun tidak ingin.
Sigit menghela napas. "Buat sementara aja, Dek. Aa nggak mau kamu tinggal di luar, aa juga blom punya duit buat sewa kamar kos," bujuk Sigit pada adiknya, dia benar-benar merasa bersalah pada gadis itu. Semua ini terjadi karena kebodohannya, bahkan jika harus berlutut di kaki siapapun dia rela.
"Aku nggak mau." Yara tetap kekeh dengan pendiriannya, "kalo aku ketauan gimana, A? Aku bakal dipenjara."
Sigit menggeleng, memegang kedua tangan adiknya untuk meyakinkan gadis itu. "Kalo nanti kamu ketauan biar aa yang nanggung semuanya, kan aa yang bohongin dia, jadi biar nanti aa aja yang dipenjara," ucapnya.
"Tapi setidaknya kamu harus bertahan sebulan ini, nanti gaji aa biar dipake buat kamu sewa kos-kosan." Sigit kembali merapikan baju-bajunya.
Yara masih diam, dia belum bisa mengambil keputusan apa yang akan dia buat ke depannya, haruskah dia menjalankan ide gila sang kakak, dengan menyamar menjadi seorang pria.
"Emang aa pikir dia bakal percaya kalo aku jadi cowok?"
"Pasti percaya, aa udah pinjemin rambut palsu sama temen aa. Kamu kan kurus, tinggal pake kaos cowok aja sama celana." Sigit mengambil rambut palsu dan ia pasangkan ke kepala adiknya.
Yara yang benar-benar sudah habis kesabaran mengambil benda itu kemudian ia lempar. "Aku nggak mau ngikutin saran bodoh aa, aku nggak mau," sentaknya.
Sigit terdiam, dia juga bingung harus bagaimana. Yara adalah satu-satunya keluarga yang ia punya di ibu kota. Ayah dan ibunya menitipkan gadis itu saat mereka memutuskan untuk pulang kampung. Dan Yara memilih ikut dengan dirinya. Tapi sekarang apa, dia bahkan telah menghancurkan impian mereka.
Pria itu berlutut di depan adiknya yang duduk di tepi ranjang. Kemudian memukul kepalanya sendiri. "Aa emang bodoh! Nggak berguna, nggak bisa diandelin."
Yara menangkap kedua tangan pria itu yang terus memukul kepalanya sendiri. Melihat sang kakak seputus asa ini dia benar-benar merasa kasihan.
"Tapi aku nggak punya baju cowok," ucap Yara, akhirnya mengalah.
Sigit segera mengambil tas yang berisi baju-bajunya, "kamu pake baju aa aja, ini buat kamu, ini juga. Biar aa pake baju yang di badan aja."
Yara terdiam. Gadis itu lalu memeluk kakaknya, dia menangis.
Sigit lebih merasa bersalah akan hal itu, "maaf, Dek. Tapi aa janji di rumah itu kamu nggak akan lama, aa bakal cepet cari uang buat sewa. Aa janji," ucapnya.
Di tempat berbeda, Nino yang pulang ke rumah orang tuanya langsung mencari gadis kecil yang siang tadi marah kepadanya. Dan menemukan bocah itu tengah bermain hape di sofa ruang keluarga.
"Loly, Sayang," sapa Nino dengan mengusap puncak kepala anak itu.
Jira, keponakannya itu menghindar. "Om Ni nebelin," tukasnya.
Mendengar itu Nino tertawa tanpa suara, kemudian mengeluarkan sebatang coklat dari saku jasnya. "Mau nggak?" tawar pria itu.
Jira menoleh, gadis kecil itu terlihat ragu. Namun setelah itu dia menggeleng. "Nggak!" tolaknya mentah-mentah.
Nino tidak putus asa, pria itu kembali mengeluarkan makanan dari saku jasnya. Kali ini sebatang permen pelangi yang membuat bocah itu seketika menoleh. "Mau?"
Jira masih menggeleng. Dia hanya perlu tetap menolak agar omnya memberikan lebih banyak, biasanya pria itu akan mengeluarkan semua makanan yang dia bawa.
Benar saja, pria itu mengambil dua batang coklat juga beberapa permen dari balik jasnya, dan Jira langsung mendekati pemuda itu.
"Mauuu!" Jira mengambil beberapa batang coklat dengan kedua tangannya.
Nino menyodorkan pipi kanan, tanpa berkata apa-apa, bocah itu langsung menciumnya. "Bilang apa?"
"Macacih, Om Ni." Jira memeluk leher pria itu dengan kuat, kemudian mencium pipinya lagi. "Saayang, Om Ni," imbuhnya.
"Racunin terus anak gue racunin teruus." Jino yang datang dari arah dapur dengan membawa segelas air putih di tangannya kemudian menduduki sofa di sebelah saudara kembarnya.
"Orang empat sehat lima sempurna racun dari mana?" Nino mengelak, membuat adik kembarnya itu menendang tulang kakinya.
"Sesat!" Jino melemparkan bantal sofa pada wajah pria itu.
"Papi Jioo!" Jira menubruk sang papi, memarahi pria itu karena sudah memukul omnya dengan bantal. "Gaboleh bitu sama Om Ni!" Omelnya.
Nino tertawa, saat keponakannya itu lebih membela dirinya. "Aduh kepala om sakit," keluhnya berpura-pura.
"Tu kaan, Papi Jioo nih." Jira bertolak pinggang duduk di pangkuan papinya.
"Gaboleh makan permen terus anak papi ntar giginya sakit. Anak papi nggak boleh makan sembarangan." Jino mengambil satu pak permen susu yang tergeletak di atas sofa. Abang kembarnya itu benar-benar memanjakan putrinya.
"Papa Jiooo ini permen susu mahal." Jira merebut permen dari tangan sang papi. "Tiga pemen ini sama ama segelas susu."
Nino tertawa keras mendengar itu, dan menghindar saat adiknya kembali ingin menendang tulang kakinya.
"Lo yang ngajarin ya." Jino mengomel. Keduanya jadi berdebat.
"Papi Jioo gaboleh malah-malah ntar cepet tua." Jira menasihati papinya.
Jino mengusap puncak kepala putrinya dengan sayang, menyuruh bocah itu untuk menghampiri maminya.
"Gimana urusan rumah lo, udah kelar?" Jino bertanya, dia tahu tentang masalah pria itu dari Bima asisten saudaranya.
Nino mengangguk, "aku kasih kesempatan buat dia sampe bisa sewa tempat tinggal," ucapnya.
"Jadi lo serumah sama orang yang nggak dikenal?"
"Yang penting kan bukan cewek."
"Justru aman kalo itu cewek."
"Kok gitu?" Nino bertanya tidak mengerti.
"Gosip tentang lo yang gay bakal makin santer kalo orang-orang pada tau lo serumah sama cowok."
"Yang penting kan aku nggak kaya gitu, nggak peduli juga sama omongan orang."
"Kita itu hidup berdampingan dengan orang lain, Bang. Lo yang digosipin kaya gitu, gue yang nggak terima."
Nino terdiam, pria yang bersandar pada sofa itu kemudian memijit keningnya. "Kalian hanya perlu percaya kalo aku nggak kaya gitu, itu aja udah cukup buat aku."
"Mending lo terima aja tawaran mami, anak Tante Siska baik kok." Jino menepuk paha saudaranya, menyuruh pria itu untuk mempertimbangkan perjodohannya dengan anak sahabat maminya.
"Iya, aku pikir-pikir dulu."
"Jadi kapan niatnya lo pindah?"
"Besok, siang kalo nggak sore."
"Om Ni mau ke mana?" Jira yang masih sibuk memikirkan bagaimana cara membawa makanan dengan kedua tangannya itu kemudian bertanya saat mendengar kata pindah.
Jino mendekat mengusap puncak kepala putrinya. "Om Nino nggak tinggal di sini lagi, Sayang. Dia kan punya rumah."
"Nggak boleh!"
Bab4
Yara berkali-kali merapikan rambut palsu yang ia pasang dikepalanya, pakaian sang kakak yang tampak kebesaran menutupi lekukan tubuh perempuan itu, sekilas dari bayangan yang ia tangkap di depan cermin, dia memang sudah mirip seorang pria.
"Tapi suara aku gimana, A? Apa harus digedein?" Yara bertanya pada abangnya yang sibuk merapikan barang. Tempat dia bekerja menyediakan masing-masing satu kamar untuk karyawannya, mungkin sementara barang-barang mereka ia taruh di sana.
Sigit menoleh, kemudian tersenyum, dia punya adik laki-laki sekarang. "Pake kumis tipisnya, abis itu kacamata. Coba aa mau denger kamu ngomong."
Yara berdehem, lalu menirukan suara pria. "Namaku Yara-,"
"Yayan!" ralat Sigit.
"Yayan," ulang Yara dengan suara bariton dibuat-buat dan sungguh terdengar sangat aneh, keduanya tertawa.
"Suara nggak usah diubah deh, yang penting jangan terlalu lembut, biasa aja." Sigit memberi saran.
Yara mengangguk, kembali merapikan rambutnya di depan cermin. Dia harus siap dengan kemungkinan apapun yang terjadi. Jika kebohongannya terbongkar, dia hanya perlu lari.
"Ya?"
Panggilan Sigit membuat Yara menoleh. "Kenapa?" tanyanya.
"Kamu harus hati-hati yah di rumah itu, gosipnya si pemilik rumah itu suka sama sesama jenis."
Yara tertegun, masih mencerna kalimat abangnya yang sulit dipahami. "Maksudnya?"
Sigit tampak ragu, namun kemudian berucap lagi. "Aa nggak tau ya ini cuman gosip apa dia emang beneran gitu. Tapi cowok pemilik rumah itu katanya suka sama cowok juga."
Raut wajah Yara berubah pucat, mungkin dia akan lebih menerima jika gosip itu mengatakan bahwa si pemilik rumah itu suka main perempuan, toh dia sekarang jadi laki-laki, tapi bagaimana jika pria itu justru malah jatuh cinta pada dirinya sebagai Yayan. "Aa yang bener ih," dengan wajah ngeri gadis itu mendekati abangnya. "Terus aku harus gimana?" imbuhnya.
"Nggak apa-apa, Ya. Kamu jadi cowok juga nggak ganteng, dia nggak nafsu sama kamu." Sigit mendapat pukulan di lengannya atas kalimat itu, berniat menghibur sang adik dia justru malah membuatnya kesal.
"Gimana kalo aku diperkosa?" Yara menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Udah kamu pasrah aja nggak apa-apa, dia orang kaya." Sigit kembali mendapat pukulan, kali ini di kepalanya. Jika membunuh saudara kandung tidak dipenjara, mungkin gadis itu sudah melakukannya sejak lama.
Sore hari sepulang dari tempatnya bekerja, Yara mengikuti abangnya ke rumah baru tempatnya akan tinggal sementara.
"Ini rumahnya, A?" Yara bertanya saat mereka sudah berada di depan pintu gerbang yang terbuka, rumah minimalis dua lantai yang terlihat mewah itu membuat ia ingin menangis. Seharusnya ini sudah menjadi rumahnya.
"Harusnya ini udah jadi rumah kita," ucap Sigit, seolah dapat membaca isi hati adiknya.
Yara berdecak sebal, melirik sinis pria di sebelahnya. "Harusnya aa tuh mikir, rumah semewah ini mana mungkin harganya cuman segitu. Aa tergiur sama harga murah makanya ketipu, buat beli ubinnya aja aku rasa nggak cukup." Gadis yang sudah berpenampilan seperti laki-laki itu mengomel.
Sigit tidak menanggapi, saat seseorang berseragam rapi mendekat ke arahnya. "Mas Sigit, sudah ditunggu Pak Nino di dalam," ucapnya.
Sigit menyenggol Yara yang kala itu masih memperhatikan taman buatan di depan rumah itu. Dia menoleh.
"Ini adik saya, Pak Bima," ucap Sigit memperkenalkan adiknya.
"Oh, Yanto?" Bima mengulurkan tangan.
Yara tidak lantas menerima uluran tangan itu, dia menoleh pada Sigit dengan bingung. Nama Yayan saja belum bisa ia terima sampai saat ini, apalagi Yanto.
"Yayan, Pak Bima." Sigit meralatnya.
"Oh, iya maaf. Mas Yayan."
"Panggil Yayan aja nggak apa-apa," ucap Yara dengan menyambut uluran tangan pria gagah di hadapannya.
Bima tampak mengerutkan dahi, pandangannya melirik pada jemari lentik pria bernama Yayan yang begitu imut raut wajahnya, "suaranya lembut banget kaya perempuan," ucapnya curiga.
Tentu saja hal itu membuat Yara dan abangnya sedikit terkejut, mereka saling berpandangan. Ini baru permulaan dan benarkah mereka sudah ketahuan.
Sigit tertawa sumbang menanggapi ucapan Bima yang tidak terdengar bercanda. "Iya Pak Bima, kata ibu saya Yayan dulu pas lahir lehernya kelilit tali puser, makanya suaranya gitu."
Yara menginjak kaki sang abang atas cerita ngawurnya itu, "suara saya memang begini kok, Pak Bima. Tapi saya laki-laki tulen, Bapak mau lihat?"
Bima yang terkejut dengan tawaran itu segera mengangkat kedua telapak tangannya, "nggak usah, Mas Yayan, saya udah punya," ucapnya.
Yara menoleh pada abangnya yang juga menoleh ke arahnya. "Jadi sebelumnya nggak punya?" Yara bertanya.
"Eh maksudnya masih punya." Bima meluruskan kesalahpahaman di antara mereka.
Yara semakin terlihat ngeri."Emang mau diganti?" dia bertanya lagi.
Bima menghela napas. Satu tahun mengikuti Nino atasannya dia pikir pria itu sudah yang paling aneh, ternyata pria bernama Yayan ini lebih aneh lagi. "Kalian sudah ditunggu Pak Nino, silahkan." Dan pria yang mengaku tulen itu memilih untuk tidak melanjutkan obrolan unfaedah mereka.
Yara dan Sigit masuk ke dalam rumah, kemudian duduk di sofa ruang tamu, tidak lama setelah itu seseorang ber kaus putih pendek yang begitu pas di tubuhnya, menuruni anak tangga. Satu kata untuk menggambarkan pria itu dari pandangan pertama seorang Yara adalah keren.
Sigit menyikut adiknya untuk ikut berdiri saat si pemilik rumah itu sudah berada di hadapan mereka. "Ini adik saya," ucap Sigit.
Nino menoleh pada seorang pemuda berrambut lurus yang Sigit perkenalkan sebagai adiknya, satu kata untuk laki-laki itu yang tertangkap dari pandangan pertama seorang Nino adalah imut. "Bagaimana aku bisa memanggilmu?" tanyanya ambigu.
Sigit menoleh pada Yara yang kebingungan, kemudian kembali mengarahkan pandangannya pada pria di hadapan mereka. Sebisa mungkin dia bersikap agar Nino tidak curiga. "Gampang kok, Pak. Kalo mau manggil adik saya, pake tepuk tangan tiga kali juga nyamperin."
Yara menyikut lengan abangnya. "Aa ih emang aku burung dara," bisiknya kesal.
"Kan biasanya gitu kamu di restoran, orang-orang manggil kamu pake tepuk tangan." Sigit ikut berbisik.
Lah iya juga, "tapi ini kan bukan di restoran, A."
Nino berdehem untuk mengalihkan perhatian kedua pria di hadapannya. "Jadi saya panggil apa?" tanyanya.
Yara menoleh, "apa aja, deh. Yayan Ayan, atau Iyan juga boleh, suka-suka masnya aja," ucapnya mencoba akrab, bagaimanapun juga beberapa hari atau minggu kedepan mereka akan tinggal satu rumah, jadi memang harus kerja sama.
Nino yang masih berdiri memasukkan kedua tangannya ke saku celana pandangannya tajam mengarah pada pria di hadapannya. "Yayan, Ayan, Yayang?"
"Eh?" Yara yang terkejut teflek meremas kaus yang dikenakan abangnya.
Bima yang berdiri di ambang pintu berpegangan pada kusen. Dan hanya Sigit yang tertawa sumbang menanggapi bercandaan pria itu yang sama sekali tidak lucu.
"Yayan aja, Pak. Nggak usah yayang-yayangan bukan muhrim." Sigit mendapat injakan di kakinya dari sang adik. Dan sepertinya pria itu sudah mulai terbiasa.
Nino tertawa tanpa suara, melirik Bima yang sudah oleng di tempatnya. "Ok baiklah, Yayan," ucapnya kemudian mengulurkan tangan. "Nino."
Dengan sedikit ragu Yara menerima uluran tangan itu, keduanya bersalaman. "Saya panggil Pak Nino boleh kan?"
"Terserah." Nino membalasnya, pria itu kemudian berkata bahwa Yayan boleh tinggal sementara bersamanya. Dia juga mengatakan letak kamarnya di mana.
Sigit yang sudah ingin berpamit pergi kembali ditarik oleh adiknya yang merasa berat ditinggal sendiri, pria itu pun jadi khawatir. "Saya pamit dulu Pak Nino," ucapnya.
Yara mengantarkan abangnya sampai ke depan rumah. Keduanya saling berpegangan tangan. "Aa sering-sering nengok aku ya?" pinta gadis itu.
Sigit mengangguk, menoleh pada Bima yang masih berdiri di antara mereka, kemudian beralih pada adiknya. "Kamu baik-baik di sini ya, Yan," ucapnya agar Bima tidak curiga.
Yara mengangguk. "Aa juga hati-hati di luar sana."
"Iya." Sigit meremas jemari sang adik dengan kuat, "jaga baik-baik keperjakaan kamu," pesan pria itu.
Bima yang mendengar itu ikut menepuk punggung Yara hingga membuat gadis itu menoleh. "Iya, jaga baik-baik," imbuhnya. Dan membuat Yara semakin takut saja.
***
Kisah Bang Nino ini berjudul Satu Atap di *kbmapp* buat yang punya akunnya boleh mampir mumpung masih gratis sampe 15 bab. Bantu subscribe ya temen-temen. Insya Allah Babnya gak banyak banyak di sana.
Buat yang nggak suka dan nggak mau mampir juga nggak apa-apa, gosah repot repot komen buruk cukup abaikan aja wkwkwk.
Buat yang masih nggak paham boleh dm aku di ig adeannisa66 insyaallah aku bales. Makasiih 🙏🙏