
Bukan hal yang mudah mengatakan pada Farhan apa yang telah menimpa Gilang, putra kesayangan Farhan yang selama ini selalu menjadi kebanggaannya. Farhan Andreas tentu saja syok. Ia bahkan menangis sembari memukuli dadanya hingga jatuh terduduk di lantai yang dingin. Farhan menyesali takdir yang tidak berpihak pada sang putra. Bagaimana bisa di usia yang begitu muda, Gilang harus menderita penyakit yang begitu mengerikan. Penyakit yang membuat Gilang tidak dapat menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Penyakit yang membuat Gilang mati rasa. Gilang tidak lagi akan sensitif pada sentuhan, yang artinya Gilang pun tidak dapat memiliki keturunan.
Tito dan Pelangi berusaha untuk menenangkan Farhan semalaman. Pelangi bahkan terus memohon agar Farhan jangan terlalu khawatir, Farhan harus menjaga emosinya agar tetap stabil. Untuk sementara mereka harus fokus pada pernikahan Andrew dan Delia yang akan diselenggarakan esok hari.
Delia dan Andrew sebenarnya telah berniat untuk membatalkan acara pernikahan mereka. Namun, Gilang dengan tegas melarang hal itu. Gilang bahkan mengancam akan pergi dari rumah jika Andrew nekat membatalkan pernikahan dengan Delia yang telah direncanakan sejak beberapa minggu lalu. Gilang tidak ingin jika apa yang menimpa dirinya menjadi beban dan penghambat bagi kebahagiaan orang lain.
Pagi ini semua telah dipersiapkan. Pelangi bahkan telah memesan sebuah kursi roda elektrik terbaik yang dapat dibelinya. Kursi roda itu memiliki tuas yang dapat dengan mudah Gilang kendalikan dengan jemari. Bantalan pada tempat duduk, tempat lengan hingga sandaran pun sangat empuk, hingga Gilang tidak akan merasakan nyeri karena duduk terlalu lama. Posisinya pun dapat diubah sesuai dengan keinginan Gilang. Bisa tegak, dan bisa sedikit berbaring.
Pelangi berdecak kagum melihat penampilan Gilang yang sangat sempurna. Suaminya itu terlihat seperti sebuah manekin, tidak ada bagian dari tubuh Gilang yang tidak sempurna, kecuali kenyataan bahwa sekarang pria itu tidak bisa berjalan.
Gilang memang terlihat memesona dengan setelan texedo black tie bermodel single yang memiliki kerah lancip yang sekarang ini ia kenakan. Tuxedo itu adalah pilihan Pelangi, senada dengan warna gaunnya yang juga berwarna hitam.
"Kamu adalah pria paling tampan di dunia ini." Pelangi membungkuk dan membisikan kata-kata menggoda itu di telinga Gilang.
Gilang tersenyum hanya untuk menyenangkan hati Pelangi. Jika boleh jujur, sebenarnya Gilang tidak memiliki keinginan untuk tampil di depan banyak orang sesempurna apa pun penampilannya. Ia masih belum terbiasa dengan kondisinya, dan ia juga merasa sedikit malu dan tidak percaya diri. Jika bukan demi Andrew, Delia, dan Pelangi, mungkin ia akan memilih untuk mengurung diri di kamar, alih-alih duduk di atas kursi roda dan menjadi tontonan banyak orang.
"Kamu pun wanita paling cantik yang ada di dunia ini," ujar Gilang, membalas ucapan Pelangi.
Pelangi tertawa. "Itulah sebabnya kita berjodoh. Pria tampan, jodohnya pasti wanita cantik sepertiku." Pelangi mengecup pipi Gilang, lalu membelai punggung tangan pria itu. "Aku akan selalu ada di sisimu."
Gilang tersenyum masam. "Apa kamu tidak malu?"
Pelangi menggeleng. "Tidak. Bagaimana denganmu?"
"Tidak, asal kamu terus berada di sampingku."
Pelangi mengalungkan lengan di leher Gilang. "Aku tidak akan ke mana-mana, Gil, kamu harus yakin dan percaya padaku bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu sampai kapan pun."
"Aku yakin dan aku percaya."
Pelangi menegakkan tubuhnya. "Nah, kalau begitu ayo kita ke tempat acara. Aku yakin si pengantin pasti tidak sabar menunggu kehadiran kita." Pelangi mendorong kursi roda Gilang hingga mereka tiba di halaman depan.
Pesta pernikahan Andrew dan Delia memang memiliki konsep autdor yang sederhana tetapi tetap terlihat elegan.
Di sepanjang jalan setapak dari rumah menuju ke pelaminan terdapat karpet merah yang membentang, karpet itu hampir tidak terlihat karena keseluruhan permukaannya ditutupi oleh ratusan ribu kelopak mawar berwarna merah muda.
Pada bagian sisi kiri dan kanan jalan setapak, terdapat rangkaian bunga mawar merah muda yang dibentuk merambat, sehingga terlihat seperti pagar pembatas. Pagar pembatas dari bunga. Indah sekali.
Kain-kain sutera yang lembut berwarna putih menggantung di batang-batang pohon tabebuya, terlihat indah dan menawan saat tertiup angin. Meja-meja panjang dan bulat yang ditutupi kain putih berjejer rapi, berhiaskan bunga segar dan gelas-gelas berkaki.
Tamu-tamu yang kebanyakan dari kalangan atas itu segera mengalihkan perhatian mereka saat Gilang dan Pelangi lewat. Mereka yang tadinya sedang sibuk menyantap hidangan, atau sedang sibuk berswafoto, tiba-tiba saja menatap Gilang dan Pelangi begitu Gilang dan Pelangi terlihat. Beberapa terlihat bingung, tetapi beberapa lagi terlihat iba dan penasaran.
Ya, mereka semua pasti bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi pada CEO kebanggaan Andreas Group. Kenapa tiba-tiba CEO yang gagah dan berwibawa duduk di atas kursi roda?
Pelangi tersenyum untuk membalas tatapan-tatapan yang mengarah kepadanya dan Gilang. Pelangi terus melangkah dengan kepala mendongak hingga ia tiba di meja yang telah disediakan. Meja khusus keluarga, di mana ada Toni, Amara, Farhan dan Tito di sana.
"Pelangi." Amara menyapanya sembari bangkit berdiri dan memeluk Pelangi. "Kami sejak tadi menunggumu.".
"Perjalanannya terasa panjang sekali," jawab Pelangi, sembari meraih selembar tisu dari atas meja dan menyeka keringat Gilang.
"Trims, Tuan putri."Gilang berujar sembari tersenyum.
"Youre welcome, Pangeran." Pelangi menjawab dengan santai, sambil sedikit membungkukkan tubuhnya
Farhan dan Tito tertawa melihat tingkah keduanya.
"Ayah pikir kalian tidak akan turun."
Pelangi menatap Farhan sembari tersenyum manis. "Mana mungkin, Ayah. Tidak mungkin kami melewatkan acara yang membahagiakan ini."
Farhan mengangguk, kemudian
ia bangkit berdiri dengan susah payah untuk mengambil sepotong brownis dan menyuapkan brownis itu ke mulut Gilang."
"Jepret, dapat." Toni memotret momen tersebut. Momen manis di mana seorang pria tua menyuapi putranya yang duduk di atas kursi roda.
"Aku iri sekali," Pelangi menggerutu.
Gilang tertawa, kemudian berkata. "Suapi aku juga kalau begitu."
Pelangi tersenyum, kemudian menyuapi Gilang dengan sepotong kecil Pie buah. Toni dan Amara tidak mau kalah, keduanya segera menyuapi Gilang dengan sepotong bolu pandan juga.
Keseruan yang terjadi di meja Farhan menarik perhatian para tamu undangan. Tidak sedikit dari mereka yang menangis karena terharu, sementara reporter yang hadir di acara tersebut sibuk mengabadikan momen indah itu berulang kali. Tidak diragukan lagi, besok berita tentang keluarga Andreas pasti akan memenuhi laman berita-berita online. Apalagi saat Andrew kemudian menuntun Delia untuk menghampiri Gilang dan segera menyuapi Gilang dengan sepotong buah strawberry. Sungguh keluarga yang sangat kompak.
Gilang meneteskan air mata. Ia terharu dan merasa bersyukur karena seterpuruk apa pun keadaanya saat ini, ia masih dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya dan selalu ada di sisinya. Semua itu sudah cukup baginya. Setidaknya kebersamaan mereka dapat menutupi rasa kecewa yang mendalam atas keputusan yang Tuhan ambil untuk hidupnya.
Bersambung.