OH MY BOSS

OH MY BOSS
TERTANGKAP



Tidak pernah terbayangkan oleh Andrew dan juga Toni jika mereka akan melihat Alex dan Surya kembali di hadapan mereka di waktu yang bersamaan. Terutama Alex yang telah meninggal beberapa tahun lalu saat pria itu berusaha untuk menghabisi nyawa Gilang atas perintah dari Surya.


Andrew yang memang memiliki sifat menggebu-gebu segera keluar dari dalam mobil dan melompat untuk menghampiri Alex dan Surya yang sekarang telah berlari menghindari dirinya dan juga Toni.


"Bantu aku kejar mereka," teriak Andrew pada tiga orang sekuriti yang berjaga di depan gerbang rumah keluarga Andreas.


Ketiga sekuriti itu pun segera menuruti perintah Andrew untuk mengejar Alex dan juga Surya. Sementara Toni menelepon ke dalam rumah dan meminta seorang pelayanan pria untuk berjaga di gerbang depan menggantikan posisi para sekuriti yang sekarang telah menghilang di tikungan yang ada di depan sana.


Setelah memastikan bahwa keadaan rumah akan aman karena seorang pelayanan bertubuh kekar berjaga di gerbang depan, Toni memindah posisi duduknya, yang tadinya ia duduk di kursi penumpang, sekarang ia duduk di balik roda kemudi dan segera menjalankan mobil dengan cepat untuk mengejar kedua penjahat yang telah melarikan diri.


Alex menoleh ke belakang berkali-kali dan meneriaki Surya yang tertinggal jauh di belakangnya.


"Sial, Sur, larilah lebih cepat lagi jika tidak ingin tertangkap!" teriak Alex.


Surya melambaikan tangan. "Aku sudah tidak kuat. Aku tidak mampu. Apalagi aku belum sarapan dan makan siang. Tubuhku lemas sekali. Aku tidak mau lari lagi, Lex."


Alex berdecak kesal, ia berbalik menghampiri Surya dan menarik lengan pria itu dengan kuat. "Kamu ini kenapa manja sekali. Kenapa lemah sekali. Dasar ban_ci!" omel Alex.


"Aku ini mantan CEO, bukan atlet lari. Wajar jika aku kesulitan dan--"


"Ah, diamlah. Pokoknya jangan banyak bicara dan berlari saja, berlari terus. Jangan sampai kita tertangkap dan ...."


Alex menghentikan celotehannya ketika dilihatnya sebuah sedan muncul dari sebuah gang kecil yang ada di depannya, sementara dari arah belakang, Andrew dan ketiga sekuriti yang mengejar jaraknya sudah semakin dekat.


"Kita terjebak." Alex mengusap wajahnya dengan kasar. Ia terlihat khawatir dan juga ketakutan.


Suara decit ban membuat Surya yang tengah menunduk terkejut ketika sedan yang dikemudikan oleh Toni berhenti tepat di depan tubuhnya. Ia bahkan hampir tertabrak.


"Tidak mudah melarikan diri dari kami. Dasar sampah!" ujar Toni, sembari membuka pintu mobil dan mengeluarkan senjata api dari balik saku jasnya. "Tiarap!" Toni memerintah, tangannya yang memegang senjata api ia arahkan ke Alex dan Surya yang sekarang tengah berdiri dengan kaki yang gemetar.


Alex dan Surya tidak memiliki pilihan lain selain menuruti perintah Toni. Keduanya segera membungkuk, lalu mengambil posisi tengkurap di atas aspal yang terasa panas.


"Kalian, cepatlah ikat dia." Toni melemparkan tali yang ada di dalam mobilnya ke arah sekuriti yang berdiri siaga di samping Andrew.


Ketiga sekuriti itu dengan cepat segera menghampiri Alex dan Surya, lalu menarik keduanya agar bangkit berdiri, kemudian mengikat tangan Alex dan Surya sekuat mungkin agar keduanya tidak bisa melayangkan tinju yang tiba-tiba.


"Masukan mereka ke dalam mobil, lalu ikat kakinya juga." Toni kembali memberi perintah. Namun, belum lagi ketiga sekuriti itu melakukan apa yang diperintahkan oleh Toni, Andrew sudah menghampiri Alex dan melayangkan tinju ke wajah pria itu hingga hidungnya mengeluarkan darah. Setelah puas melihat Alex kesakitan, Andrew beralih ke Surya dan meninju Surya juga tepat di bibir pria itu hingga salah satu gigi Surya tanggal.


"Apa yang kalian berdua lakukan di sini, hah? Memata-matai kami? Dan kamu, Alex sialan, bagaimana bisa kamu masih hidup?" Andrew menarik kerah pakaian Alex dengan kuat, hingga kedua kaki Alex terangkat beberapa senti dari aspal.


"Sudahlah. Lebih baik kita tanyai mereka di rumah sembari menunggu polisi datang. Jika mereka berani macam-macam, aku memiliki senjata api, tinggal kita tembak saja lengan atau kakinya, setidaknya mereka harus tahu apa itu yang namanya rasa sakit." Toni memberi saran pada Andrew, sembari mengayunkan senjata api yang masih ada di tangannya.


Andrew meninju sekali lagi sebelum ia melepaskan kerah pakaian Alex, membuat pria malang itu terjatuh ke aspal dengan keras.


"Masukan mereka ke mobil!" perintah Andrew.


Ketiga sekuriti mengangguk, lalu memaksa Alex dan Surya masuk ke dalam sedan, mengikat kaki keduanya dan segera menutup pintu sedan.


"Kalian tidak masalah kembali dengan berjalan kaki? Aku akan ikut dengan Toni," ujar Andrew pada ketiga sekuriti yang ada di hadapannya.


"Tidak apa-apa, Pak. Anda kembalilah dengan mobil, kami tidak masalah berjalan kaki sedikit untuk kembali ke rumah." Salah satu sekuriti menjawab, dan dua lainnya mengangguk setuju.


"Baiklah. Kami duluan kalau begitu."


***


Pelangi bergelayut manja di dada Gilang. Ia sangat berterimakasih pada suaminya itu karena telah mengajak dirinya memulai kesibukan di kantor sebagai asisten mulai besok. Hanya saja, Pelangi tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan rasa terima kasihnya, hingga ia memilih untuk menempel terus pada Gilang sejak pria itu masuk ke dalam kamar dan berbaring di atas ranjang dengan bantuannya.


Gilang tertawa melihat tingkah Pelangi. "Astaga, apa yang terjadi padamu? Kenapa menempel terus seperti koyo, hah?"


Pelangi mendongak dan menatap Gilang. "Apa kamu tidak suka jika terus kutempeli?"


Pelangi kembali menyandarkan kepalanya di dada Gilang, lalu mendaratkan kecupan berkali-kali di sana. Meskipun ia tahu Gilang tidak dapat merasakannya, tetapi ia suka melakukan hal itu.


"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu."


"Kamu sudah mengucapkannya berkali-kali, Sayangku," ujar Gilang.


"Ya, itulah sebabnya aku mengucapkannya dengan cara seperti ini. Karena cara yang biasa sudah kulakukan berkali-kali." Pelangi mendongak sedikit dan mengecup leher Gilang.


"Hem, aku bisa gila jika terus seperti ini. Ingin rasanya aku melakukan banyak hal pada tubuhmu, tapi aku tidak bisa." Gilang bergumam.


Pelangi diam saja, ia malah mengigit kecil leher Gilang, sehingga meninggalkan bekas merah di sana. "Aku bisa melakukan segalanya. Biar aku saja yang lakukan, Sayang, katakan apa yang kamu inginkan sekarang?" tanya Pelangi.


"Cium aku, Pelangi," pinta Gilang. "Hanya bibir ini yang dapat kugerakkan."


Pelangi bangkit dari posisi berbaringnya, lalu menunduk, mendekatkan wajahnya pada wajah Gilang, dan ... cup! Bibir Pelangi menyatu dengan bibir Gilang. Setelah bibir mereka saling menyatu, Pelangi diam saja, ia membiarkan Gilang yang mengeksplor setiap lekuk bibirnya.


Pelangi sesekali mende_sah, agar Gilang tahu bahwa dirinya berasa puas dengan apa yang Gilang lakukan. Memang mereka hanya sekadar berc_iuman, tetapi ci_uman dari seorang Gilang mampu membuat Pelangi mend_esah nikmat.


"Andai aku masih seperti dulu. Aku mungkin akan menanggalkan pakaianmu dan pakaianku sekarang, lalu--"


"Akan kelakuan," ujar Pelangi, kemudian ia melepas kancing kemeja Gilang hingga dada Gilang yang bidang terlihat dengan jelas oleh Pelangi.


Pelangi mulai meraba dada Gilang dengan gerakan yang menggoda, sementara bibir keduanya masih saling menempel, tetapi kegiatannya mendadak terhenti saat pintu kamar mendadak terbuka dan Toni muncul di ambang pintu.


"Astaga, sorry, Gil!" Toni menutup pintu kembali. "Maaf, aku tidak sengaja." Toni berteriak dari luar kamar.


Pelangi buru-buru memasang kancing kemeja Gilang dan merapikan rambut juga roknya yang terangkat hingga ke pinggang.


"Sialan Toni. Dia pasti melihat pahamu tadi." Gilang mengomel.


Wajah Pelangi merona. Ia malu sekali. Bagaimana bisa Toni masuk ke kamarnya tanpa mengetuk.


Setelah pakaiannya dan pakaian Gilang sudah rapi, Pelangi segera membuka pintu kamar dan mendapati Toni berdiri di depan kamar sembari nyengir, tidak merasa bersalah sama sekali karena teka merusak momen penting antara Gilang dan Pelangi.


"Lain kali ketuk dulu. Kamar ini milik pasangan bahagia yang selalu ingin bermesraan." Pelangi mendelik kesal ke Toni untuk mengurangi rasa malunya.


"Maafkan aku. Tapi aku memiliki berita penting yang membuatku tidak sabar ingin mengatakannya pada Gilang. Boleh aku masuk sekarang?" tanya Toni.


Pelangi mengangguk. "Ya, masuklah." Pelangi menyingkir dari bingkai pintu, membiarkan Toni untuk masuk.


Toni melewati Pelangi dan berjalan dengan cepat menuju ranjang Gilang.


"Dasar kurang ajar. Andai aku bisa berdiri, ingin sekali rasanya aku meninju wajahmu hingga babak belur." Gilang mengomel begitu dilihatnya Toni berdiri di samping ranjangnya.


Toni hanya tersenyum sembari menggaruk Kepalanya yang sama sekali tidak gatal. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk bertindak tidak sopan, hanya saja aku memiliki informasi yang ingin kuberitahu padamu. Aku yakin kamu akan sangat terkejut mendengarnya."


Pelangi yang sekarang telah duduk di samping ranjang Gilang menatap Toni dengan penasaran. "Informasi apa?" tanyanya.


"Baru saja aku dan Andrew menangkap Surya."


"Hah, benarkah?" jerit Pelangi.


"Ya, benar. Dan tahukah kalian bersama dengan siapa si Surya itu?"


"Dengan siapa?" Gilang bertanya.


"Dengan Alex. Surya bersama dengan Alex tepat di depan rumah ini."


Bersambung.