OH MY BOSS

OH MY BOSS
CEO CACAT



Waktu terus berjalan menyongsong hari-hari yang penuh dengan rahasia. Tidak ada satu pun manusia yang tahu setiap rencana yang telah Tuhan susun.


Sama halnya seperti kehidupan keluarga Andreas. Setelah dua bulan berlalu, keadaan Gilang masih sama. Ia bahkan mulai merasa bosan melewati hari-harinya yang banyak ia habiskan di atas kursi roda. Aktivitasnya berubah 360 derajat dari aktivitas sebelumnya yang selalu ia lakukan.


Jika dulu ia banyak menghabiskan waktu di kantor, bertemu banyak orang, dan travelling ke sana dan kemari, sekarang tidak lagi. Gilang hanya mengisi setiap menit hari-harinya denganmenonton televisi, mendengarkan musik, dan jika cuaca cerah ia akan menggerakkan tuas kursi rodanya menuju halaman depan atau halaman belakang rumah besarnya, berkeliling halaman hanya untuk menatap birunya langit dan awan yang menggumpal, lalu mendengarkan kicau burung yang saling bersahutan di dahan-dahan pohon yang rendah, atau terkadang hanya memejamkan mata di bawah naungan pepohonan rindang sambil mendengarkan dengungan lebah yang beterbangan di antara bunga-bunga.


Sementara kehidupan yang lain berjalan dengan semestinya. Andrew masih menduduki jabatan sebagai direktur. Pria itu menolak mati-matian saat Gilang memintanya mengambil posisi CEO, sedangkan Toni sekarang telah memegang beberapa kantor cabang yang tumbuh pesat di bawah kendalinya.


Pagi ini, Pelangi kembali mengetuk pintu kamar sembari menyerukan nama Gilang seperti yang biasa wanita itu lakukan selama dua bulan terakhir.


"Selamat pagi Gilang Andreas kesayanganku. Apa perutmu mulai lapar?" tanya Pelangi, sembari berlenggak-lenggok menghampiri Gilang dengan membawa nampan berisi roti panggang, selai, dan susu segar.


Gilang tersenyum. Ia tidak pernah bosan melihat tingkah Pelangi yang semakin hari jujur saja semakin liar. Istrinya itu tidak lagi terlihat polos seperti sebelumnya. Padahal baru dua bulan Gilang menderita sakit, tetapi Pelangi sudah bertingkah seperti bodyguard yang siap melindungi Gilang selama 24 jam. Bahkan beberapa hari ini Pelangi ngotot meminta izin Gilang agar dibiarkan berlatih menyetir mobil. Namun, hingga saat ini Gilang belum memberi izin pada Pelangi.


"Aku mencintaimu," ujar Pelangi, mendaratkan kecupan di kedua sisi pipi Gilang begitu ia tiba di hadapan Gilang, kemudian membantu pria itu untuk duduk dan bersandar pada sandaran ranjang yang empuk.


"Me to," jawab Gilang.


"Bagaimana perasaanmu hari ini?" tanya Pelangi.


"Seperti biasa. Aku semakin hari merasa semakin tidak berguna."


"Jangan berkata begitu. Aku tidak ingin mendengarnya." Pelangi menyisir rambut hitam Gilang dengan jemarinya.


"Ya, tapi inilah kenyataannya." Gilang menghela napas. "Entahlah, Pelangi, aku hanya merasa sangat lelah belakangan ini."


Pelangi mengangguk. Ia mengerti apa yang Gilang rasakan. Berdiam diri seharian di rumah dalam posisi berbaring pastilah sangat melelahkan. Memang terlihat tidak melakukan apa pun, tetapi tidak melakukan apa pun tidaklah lebih baik jika dibandingkan dapat bergerak bebas dan melakukan pekerjaan yang membuat tubuh berkeringat.


"Bagaimana kalau kita datang ke kantor mulai besok?" Pelangi memberi saran.


"Tidak. Untuk apa aku ke sana?"


"Tentu saja untuk bekerja. Memangnya untuk apalagi." Pelangi menjawab dengan santai sembari memotong roti panggang menjadi potongan-potongan kecil dan menyuapkan ke dalam mulut Gilang. "Jika kamu setuju, Sayang, maka aku akan membuat surat lamaran kerja besok." Pelangi menambahkan.


Gilang diam saja, karena mulutnya masih sibuk mengunyah, tetapi tatapan bingungnya tergambar jelas di wajahnya dan ditujukan untuk Pelangi.


Pelangi mencubit pipi Gilang sebelum ia memberi penjelasan pada pria itu. "Aku akan mengirim CV, tolong beri aku posisi sebagai asistenmu mulai besok." Pelangi mengedipkan mata.


Gilang tertawa. "Tidak, tidak, aku tidak akan menjadikan istriku sebagai asistenku. Lagi pula, mana ada CEO yang cacat."


Pelangi berdecak. "Ck, kata siapa tidak ada. Tentu ada."


"Di sinetron." Gilang menimpali ucapan Pelangi.


Pelangi nyengir. "Ayolah, kita harus bekerja mulai besok. Kalau kita berdua pemalas, lantas bagaimana kita harus melanjutkan hidup." Pelangi memasang tampang memelas yang membuat Gilang gemas.


"Tahukah kamu, Pelangi. Jika saja aku tidak lumpuh seperti ini, aku pasti sudah menarikmu dan membaringkanmu di sampingku."


"Wah, benarkah. Kalau begitu aku saja yang melakukannya." Pelangi meletakkan piring berisi roti panggang di atas pangkuan Gilang, kemudian dengan cekatan ia naik ke atas ranjang dan berbaring di sebelah Gilang sembari melingkarkan tangannya di pinggang Gilang.


Gilang tahu jika Pelangi akan melakukan hal itu. Sejak dirinya tidak bisa bergerak, sejak saat itu juga Pelangi selalu berinisiatif melakukan apa yang Gilang inginkan. Seperti berbaring, mencium, memeluk dan apa saja.


***


Arya duduk di sofa yang diperuntukan untuk tamu di ruangan direktur, yaitu ruangan Andrew.


"Boleh minta segelas Ristretto? Jujur saja, aku belum sempat meminum kopi sejak pagi tadi," ujar Arya, sambil menyilangkan kakinya.


Ristretto adalah salah satu kopi khas Italia, yang serupa dengan espresso, tetapi dalam pembuatannya Ristretto menggunakan air yang lebih sedikit dibandingkan espresso.


"Di sini bukan kafe, jika Anda begitu haus, kami punya air hangat." Andrew menjawab, kemudian ia melakukan panggilan melalui telepon seluler yang ada di atas meja kerjanya. "Kania, bawakan segelas air hangat untuk tamu kita." Setelah mengatakan itu, Andrew meletakan gagang teleponnya dan kembali menatap Arya dengan malas.


Arya tersenyum miring. "Air hangat. Serius hanya ada air hangat di sini? Untuk sekelas perusahaan terkenal dan sesukses Andreas Group, apakah kalian tidak terlalu pelit?"


Arya dan Toni saling tatap kemudian keduanya tertawa terbahak-bahak.


"Sebenarnya kami memiliki segalanya. Hanya saja segala yang kami miliki itu tidak diperuntukan bagi sembarang orang. Apalagi orang seperti Anda, Tuan mesum." Toni berujar dengan nada mengejek.


Wajah Arya memerah. Ia terlihat ingin marah karena perkataan Toni dianggapnya tidak sopan, tetapi sekuat mungkin Arya berusaha untuk menahan keinginan tersebut.


"Well, kita kesampingkan masalah air hangat tadi. Langsung saja, kedatanganku ke sini untuk membicarakan bisnis yang beberapa bulan lalu sempat aku diskusikan dengan Pak Gilang. Aku rasa, sudah saatnya Pak Gilang menentukan apakah masih ingin melanjutkan atau tidak. Jika masih, aku akan mengirim notaris besok dan memberikan beberapa surat perjanjian kerja untuk pihak kalian pelajari sebelum kalian tanda tangani."


Toni menegakkan duduknya, kemudian membuka sebuah file kotak masuk email yang ada di laptopnya. "Pak Gilang memutuskan untuk tidak melanjutkan kerja sama tersebut. Surel darinya baru masuk sepuluh menit yang lalu. Pas sekali."


Arya mengerutkan dahi. "Pak Gilang tidak mengatakan apa pun padaku tentang pembatalan kerjasama," ujar Arya.


"Jika emailnya baru masuk sepuluh menit yang lalu di laptop Toni, kemungkinan baru siang nanti dia akan mengabari Anda. Tunggu sajalah dan jangan banyak mengeluh." Andrew menjawab dengan malas, membuat Arya semakin merasa tidak dihargai.


Arya mendengkus kesal. "Bisakah kalian berdua bersikap profesional. Sejak tadi aku memperhatikan kalian berdua seolah sedang meremehkanku!"


Andrew bangkit berdiri, kemudian menghampiri Arya dan meremas kerah kemeja pria itu hingga Arya pun bangkit dari sofa.


"Jujur saja, Arya, aku sama sekali tidak sudi untuk menatapmu, apalagi jika aku harus memperlakukanmu dengan baik. Apa kamu lupa bagaiman kamu melecehkan Pelangi beberapa bulan lalu? Setelah tindakan kurang ajarmu itu, kamu berharap agar kami memperlakukan dengan baik. Oh, tidak bisa. Jika bisa, aku malah ingin menendangmu bukannya menghormatimu, paham?!"


Arya menyentak tangan Andrew yang masih mencengkram kerah kemejanya. "Kamu salah jika menganggap aku akan diam saja setelah menerima perlakuan seperti ini. Kamu sungguh salah besar, Tuan Andreas. Tunggulah, aku akan membuat kalian berdua menyesal."


Toni mendorong tubuh Arya menuju pintu. "Ya, pulanglah dan susun rencana yang bagus untuk acara balas dendam yang akan kamu lakukan. Kami akan duduk manis dan menunggu dengan senang hati."


Arya balas mendorong Toni, kemudian ia berkata. "Jangan pernah menyesal!" desisnya, lalu ia keluar dari tuangan itu dengan rasa amarah yang memenuhi dada.


Sepeninggalan Arya, Toni kembali duduk di sofa dan menutup laptopnya.


"Apa benar Gilang mengirim pesan untuk membatalkan kerja sama dengan GG Group? Dia tidak pernah membicarakan hal itu denganku saat di rumah," tanya Andrew.


Toni mengusap rambutnya dengan kasar sembari menghela napas. "Tidak. Akulah yang membatalkan, bukan Gilang. Surel itu hanya karanganku saja. Gilang tidak mengirim surel atau instruksi apa pun tentang kerjasama itu."


Andrew menatap Toni dengan mata melotot. "Hah! Kamu hanya mengarang?" tanyanya. Ia terlihat terkejut dan takjub atas tindakan Toni yang menurutnya terlalu berani dan gegabah. "Asal kamu tahu saja, Toni, proyek dengan GG Group adalah proyek besar yang akan menguntungkan perusahaan kita. Bagaimana bisa ... astaga!"


Toni terlihat tertekan. "Ya, aku tahu. Aku hanya muak melihat Arya dengan segala ketidaknormalannya. Biarlah kerjasama ini batal, aku hanya harus mencari rekan bisnis baru untuk menebus kesalahan yang kulakukan, 'kan?" Toni terlihat sedikit menyesal.


Andrew tertawa. "Ya, ya, aku senang dengan kepercayaan dirimu. Lagi pula, aku juga muak dengan Arya yang mesum itu. Kita hanya harus memikirkan alasan yang tepat agar ayah mengerti kenapa kita membatalkan kontrak kerjasama ini tanpa berunding dulu dengannya dan Gilang. Kita kan tidak mungkin mengatakan jika Arya berniat untuk menjadikan Pelangi sebagai wanitanya. Jika ayah sampai tahu, bisa-bisa ayah terkena serangan jantung."


"Ya, semoga aku tidak di pecat setelah Pak Farhan mendengar semua ini. Jujur saja, Ndrew, yang barusan itu aku benar-benar khilaf."


Bersambung.