
Satu minggu lebih Nena menjabat sebagai assistant Justin, dan selama itu juga, janji makan siang bersama Bimo selalu ia lewatkan, atasannya itu selalu saja punya alasan agar Nena mau makan siang dengannya, ada atau tidak ada klien sekalipun.
Justin selalu mengajak assistant nya itu makan di Restoran mewah yang sebenarnya Nena tidak suka, selain karena harganya yang selangit dan porsinya juga seuprit, gadis itu masih menjuarakan nasi Padang sebagai makanan faforitnya.
"Ngapain sih, lo?" Tanya Nena pada sahabatnya yang kala itu mendadak sibuk, selfie dengan telunjuknya yang dibalut perban.
"Kemaren gue kan belajar masak, eh jari gue kena piso, sakit banget tahu, gue mau upload biar si dia peka." Tutur Siska dengan wajah yang dibuat sedih, siang ini Nena berkesempatan makan siang bersama teman-temannya, dengan kabar sakit yang disampaikan William, Justin tidak masuk kantor.
"Yaelah jauh ke perut kali itu luka," cibir Nena, sembari mencomot tahu goreng yang terhampar di hadapannya. "Lagian udah tua bangka juga masih belajar masak aja," lanjutnya, Siska mencebik tidak suka, lalu kembali menekuni hobi barunya itu. Membuat si dia peka, katanya.
"Emang hubungan lo sama si Indra itu belum ada kemajuan?" Tanya Nena, gadis yang sibuk dengan kamera ponselnya menoleh dengan tatapan sendu, kepalanya menggeleng.
"Masih ngambang, kaya ampas." Ujarnya, meletakan ponsel di atas meja, kemudian ikut mencomot gorengan di hadapannya. "Na, ajarin gue cara memilih pacar yang baik dan benar dong," pintanya kemudian. Nena menoleh.
"Salah alamat lo nanya begitu sama gue, gue aja masih bersolo karir begini,"
"Emang sama si Bimo belum resmi?" tanya Siska, mengurunkan niatnya nyomot gorengan satu lagi. Nena hanya mengangkat bahu sebagai jawaban, dan sebenarnya Bimo sudah bercerita pada gadis itu, tentang kesepakatan dua minggu yang tak kunjung ada perkembangan. Miris. Dan Siska tidak ingin ikut campur dengan hal itu.
"Eh, si Indra comen IG gue," pekik Siska girang, tangannya cekatan membuka aplikasi tersebut. Namun tidak lama gadis itu berubah murung, tentu saja hal itu membuat Nena merasa penasaran.
"Comen apa?" Tanya Nena, Siska menunjukkan layar ponselnya.
"Like back katanya," ujarnya sendu, "Beneran nggak peka ni bocah," lanjutnya kemudian. Nena terkikik geli.
"Nih, gue ajarin ya, nyari cowok itu yang foto selfie di akunnya nggak lebih banyak dari punya lo." Nena mengaduk soto pesanannya yang baru datang, diliriknya Siska tampak mengecek ponselnya dengan was-was, setelah itu bahunya tampak merosot.
"Ratusan, Na. Bahkan foto selfie gue nggak ampe lima puluh." Siska berubah lemas.
"Nggak usah diharepin, alay dia."
Siska tampak mengangguk, gadis duapuluh tujuh tahun itu tampak seperti abg yang baru jatuh cinta. Nena hanya menggeleng kepala.
Nena mengalihkan pandangannya dari semangkok soto, ke wajah kepo sahabatnya, setelah sempat berpikir beberapa detik, dia menjawab.
"Restorat luar semua, Prancis, Itali, Cina, Korea, Jepang." Menyebutkan nama tempat yang terakhir gadis itu tampak bergidig, membayangkan menu makanan mentah yang katanya enak tapi terasa aneh di lidahnya.
"Iih enak banget lo ya? Keliling dunia dong berarti?" Tutur Siska, kentara sekali wajahnya tampak iri.
"Mending amat, masih di sini-sini aja gue, enakan juga nasi Padang," ungkap Nena kemudian menyuapkan kuah soto ke dalam mulutnya.
"Nggak bersyukur banget dah, lo. Udah tiap hari makan di Restoran mewah, sama si ganteng pula. Nikmat Tuhan mu yang mana lagi yang kau dustakan, Na," celoteh Siska dengan ungkapan irinya, pake embel-embel potongan ayat pula. "Gue doain lo, biar jadi bininya Uda Hasan, tiap hari lo, makan masakan Padang," cecarnya yang membuat Nena membulatkan matanya galak.
"Dih amit-amit, si Uda kan bininya udah dua, mujur banget dia dapetin anak perawan model gue begini," semburnya, dengan kesal tangannya menyuapkan makanan ke dalam mulut.
"Bahas apaan si? Kok bawa-bawa anak perawan segala?" Tanya Bimo, yang baru datang dan mendudukkan dirinya di sebelah calon masa depannya itu. Nena menoleh, makanan di mulutnya nyaris menyembur saking kagetnya.
"Itu, si Nena, masih perawan katanya." Siska terkikik geli saat satu buah sedotan melayang ke wajahnya. Dan Nenalah pelakunya.
"Ooh, beruntung dong aku kalo sampe bisa dapetin kamu?" Goda Bimo, senyumnya tampak jahil.
"Nggak usah dengerin Siska, belajar gila dia, bukan kayak gitu ceritanya." Nena mencoba meluruskan, Bimo yang selalu terpesona dengan wajah cantik gadis di sampingnya, nampak terkekeh mendapati gebetannya itu sedikit kelabakan.
"Terus, gimana ceritanya?" Desaknya, Nena menekuk wajahnya, jengkel.
"Tolong yah nggak usah dibahas, nih aku udah pesenin soto buat kamu." Nena mencoba mengalihkan pembicaraan, menyodorkan semangkuk soto yang masih panas, lengkap dengan nasinya.
"Makasih, yah," Bimo mengusap kepala Nena, kebiasaan cowok itu yang selalu membuat Siska merasa iri.
"Co cweet banget sih kalian." Dan dua buah sedotan sekaligus, melayang ke wajah Siska.
***