
Farhan Andreas duduk di ruang tengah rumah mewahnya. Rumah yang saat itu sempat menjadi aset milik Surya telah kembali menjadi miliknya lagi bersamaan dengan kembalinya perusahaan. Semua berkat Gilang, putranya itu memang bisa diandalkan, asalkan tidak ada hal lain yang menganggu pikiran Gilang. Itulah salah satu alasan Farhan menyetujui usulan Toni dan Andrew untuk tidak mengatakan hal yang sebenarnya pada Gilang tentang Pelangi dan juga bayi Gilang yang telah pergi bersamaan dengan perginya Pelangi.
Farhan menghela napas, setahun telah berlalu semenjak kepergian Pelangi, ia masih ingat bagaimana sikap periang yang selalu Pelangi tunjukan walaupun keadaan keuangan mereka sedang tidak baik. Bahkan saat biaya perawatan dirinya di rumah sakit yang berada di luar negeri semakin besar, Pelangi rela menjual semua perhiasan yang ia punya untuk Farhan. Padahal senua perhiasan itu adalah pemberian Gilang daat mereka menikah.
Memikirkan Pelangi, membuat rasa bersalah muncul di hati Farhan. Mungkin jika ia tidak memaksa Pelangi untuk menikah dengan Gilang, Pelangi pasti tidak akan pernah merasakan penderitaan seperti yang dirasakan saat bersama Gilang hingga akhirnya wanita itu meregang nyawa. Wanita itu pasti masih hidup dan menjadi Pelangi yang periang, yang berlarian ke sana-kemari sembari memegang gagang pel dan semprotan serangga di tangannya.
"Ayah."
Suara seorang wanita mengejutkan Farhan, membuat lamunannya buyar dan ketegangan menghampiri wajahnya yang keriput.
"Aku datang untuk membawakanmu vitamin," ujar suara itu lagi. "Akan kuletakan di sini saja kalau begitu. Aku pamit."
"Jika kepergianmu kali ini untuk kembali menyambagi Gilang di kantor, maka jangan lakukan. Duduklah di sini bersamaku atau pergilah ke mana pun kamu mau. Asalkan kamu berhenti menemui putraku."
Gisel menghentikan langkah begitu mendengar ucapan Farhan yang penuh dengan peringatan. "Kapan ayah akan membuka hati untukku? Padahal aku adalah kebahagiaan Gilang."
Farhan tertawa sinis. "Jangan lupakan fakta bahwa kamulah salah satu penjahat yang pernah mencoba untuk menghabisi menantuku. Ya, mungkin benar kamu yang menolong Gilang saat ia sedang terdesak dan hampir saja kehilangan nyawa, tapi hal itu bukanlah hutang budi yang wajib kubayar atau sesuatu yang harus kusyukuri. Anggap saja apa yang kamu lakukan itu sebagai penebusan dosa karena kamu pernah mencoba untuk membunuh istri Gilang."
Gisel mengalihkan pandangan ke segala arah begitu diingatkan tentang kejadian itu. Kejadian di mana Gisel menyewa Exel untuk melenyapkan nyawa Pelangi. "Kejadian itu sudah lama berlalu, Ayah, dan aku menyesali perbuatanku saat itu."
"Tetap saja fakta itu tidak pernah berubah. Sampai kapan pun, Gisela, aku tidak akan pernah menyetujui hubunganmu dengan Gilang. Bahkan jika Gilang memaksa untuk menikahimu, lebih baik aku mati daripada harus menyaksikan kalian bersanding."
Farhan Andreas kemudian bangkit berdiri dan berjalan dengan terpincang-pincang menuju kamarnya. Ia tidak ingin melihat wajah Gisel lebih lama, karena melihat wajah wanita itu membuatnya kembali teringat pada penderitaan yang pernah Pelangi rasakan akibat ulah Gisel.
sementara itu Gisel berbalik pergi, mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kantor Gilang. Tidak ada yang lebih menenangkan hatinya selain pelukan hangat Gilang yang selalu dirindukannya. Tidak peduli seberapa besar penolakan yang Farhan berikan padanya, toh Gilang mencintainya. Walaupun Gisel sadar, ada sesuatu yang jauh di bawah alam sadar Gilang yang berusaha untuk memberontak. Hal itu sesekali Gisel sadari, saat Gilang tiba-tiba menghindar dari kecupan-kecupan mesra yang Gisel berikan dan Gilang mengatakan 'Entah kenapa aku merasa seharusnya aku tidak boleh menyentuhmu' di saat itulah Gisel sadar, bahwa ada sebagian dari diri Gilang yang tidak kembali ke masa empat tahun silam.
Gisel menghentikan mobilnya di area parkir gedung Andreas Group. Kemudian ia dengan cepat memasuki gedung perkantoran dan menghampiri ruangan Gilang.
"Selamat siang, Sayang." Gisel berteriak sembari membuka pintu yang terbuat dari kaca.
Gilang yang sedang duduk bersama dengan Andrew dan sibuk dengan puluhan berkas yang menumpuk segera mendongakkan kepala dan tersenyum saat matanya bertatapan dengan kedua mata Gisel.
Melihat senyuman Gilang, Gisel segera menghampiri pria itu dan memeluk Gilang dengan erat. Sementara Andrew yang melihat kemesraan keduanya segera memperagakan gaya ketika seseorang sedang muntah.
"Aku rasa cukup sudah berpelukannya dan kembali kerjakan dokumen-dokumen ini, Gil," ujar Andrew, sembari melempar gulungan kertas ke kepala Gilang.
Gilang mendesah, kemudian kembali duduk di balik meja kerjanya dan menghadapi setumpuk dokumen di hadapannya.
"Aku ini seorang pimpinan, seharusnya aku tidak mengerjakan semua ini seorang diri," keluh Gilang.
Andrew mendelik mendengar keluhan Gilang. "Apakah kamu lupa kalau kamu tidak mengerjakan semua ini seorang diri? Aku membantumu di sini, dan sebagian dokumen lagi sudah kamu lemparkan ke ruangan Tito dan Toni. Lagi pula, perusahaan bisa dibilang harus merangkak dari awal, wajar jika kamu sendiri yang harus menangani bagian-bagian pentingnya."
Gilang menendang kaki Andrew melalui kolong meja, karena saat ini mereka memang sedang duduk berhadapan. "Baiklah, baiklah, berhentilah mengomel," gerutu Gilang.
Gisel yang melihat kesibukan Gilang pun segera menarik satu kursi yang terletak di dekat jendela, berniat untuk meletakan kursi itu tepat di samping Gilang. Namun, karena kurang hati-hati, kursi yang Gisel dorong menyenggol rak kaktus yang berjejer di sepanjang jendela, menyebabkan beberpa pot kaktus terjatuh ke lantai.
Gilang segera bangkit berdiri, membantu Gisel memunguti pot-pot mini yang sekarang tergeletak di lantai. Di saat itulah sekilas bayangan muncul di dalam kepala Gilang dan membuatnya terkejut. Karena seingatnya apa yang baru saja terlintas di kepalanya tidak pernah sekalipun ia alami.
Ketegangan di wajah Gilang dan ekspresi bingungnya membuat Gisel penasaran dan khawatir. "Ada apa, Gil?" tanya Gisel.
Gilang menggeleng. "Entahlah, aku hanya sekilas melihat seorang wanita merapikan kaktus-kaktus ini. Dan aku juga ada di sana, sedang tersenyum pada wanita itu."
"Wanita? Bukan aku?" tanya Gisel.
"Bukan, jelas sekali bukan kamu."
Gisel meraih pot kaktus dari tangan Gilang dan meletakkannya kembali ke rak. "Jangan dipikirkan. Mungkin itu hanya khayalanmu saja--"
"Atau masa lalu." Andrew memotong ucapan Gisel sembari tersenyum sinis, membuat Gilang bertanya-tanya, apa maksud dari ucapan Andrew?
***
Sinar matahari yang begitu terik siang ini tidak mengendurkan semangat dalam diri Pelangi untuk melakukan pekerjaannya sebagai pemetik sayuran. Satu tahun sudah berlalu, dan ingatannya yang tak kunjung kembali membuat Pelangi menyerah. Baginya tenggelam dalam kesedihan dan menggali-gali memori hanyalah membuang-buang waktu. Setelah berdiam diri di dalam lubang keterpurukan selama enam bulan lamanya, Pelangi akhirnya menyerah. Ia memutuskan untuk bangkit dan memulai hidup baru sebagai Raina, dan melupakan masa lalu yang berusaha ia gali dengan susah payah.
"Rain, Rain! Ada kabar bagus, Rain." Alia, seorang wanita yang seumuran dengan Pelangi terlihat di kejauhan, berlari sembari melambai-lambaikan sebuah kertas di tangannya. Topi berkebunnya yang bertepi lebar pun tidak ia pedulikan saat tertiup angin dan jatuh di atas sayur-sayur yang belum dipetik.
"Ada apa?" tanya Pelangi, begitu Alia telah tiba di hadapannya dengan napas yang tersengal-sengal.
"Ini, lihatlah." Alia menyerahkan selembar kertas yang sejak tadi ia pegang ke Pelangi. "Aku rasa ini adalah jalan ninja kita untuk terbebas dari perkebunan sialan ini."
Pelangi tertawa mendengar ucapan Alia. "Jangan lupakan fakta bahwa perkebunan sialan inilah yang selama ini memenuhi kebutuhan hidupmu, walau upahnya kecil tapi cukup saja untuk menopang hidup kita hingga sekarang."
Alia berdecak. "Ini bukan maslah upah, tapi jodoh, Rain, jodoh. Bayangkan saja sudah berapa usia kita berdua? Dan kita belum menikah. Apa kata orang nanti. Aku sedikit kesal saat orang tuaku menanyakan kapan aku akan memberi mereka cucu. Di desa ini tidak banyak pilihan. Aku harus mencari jodoh di tempat lain agar segera bisa mencetak anak untuk ayah dan ibu."
Melihat wajah sedih Pelangi, Alia seketika merasa bersalah. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk--"
"Tidak masalah, Alia, jangan minta maaf." Pelangi kembali tersenyum dan menepuk-nepuk pundak wanita itu.
Pelangi tahu jika Alia bukannya sengaja membahas perihal anak kepadanya yang kemudian membuatnya sedih. Karena semenjak dirinya tinggal di desa itu dan menjadi anak angkat Bu Siti Alia-lah yang selalu membantunya mengatasi kesedihan dan menyemangatinya agar ia bangkit lagi dan memulai kehidupan baru. Jadi, sangat tidak mungkin jika Alia sengaja menyakitinya.
"Jadi, apa kamu akan ikut denganku untuk melamar kerja di tempat ini?" tanya Alia. "Setidaknya kita tidak perlu berpanas-panasan lagi untuk memetik sayuran. Apa kanu tidak sayang pada kulit putihmu, Rain? Kamu bisa gosong jika terus-terusan bekerja di sini."
Pelangi kembali membaca selebaran yang ada di tangannya. "Andreas Group. Mana bisa aku melamar pekerjaan di sana. Aku kan tidak punya surat-surat seperti yang tertera di sini. Lihatlah, ijazah, KTP, KK dan surat pengalaman kerja. Aku tidak ikut, kamu sajalah."
Alia menarik selebaran itu dari tangan Pelangi sembari berdecak. "Jangan khawatirkan ini, aku punya kenalan orang dalam yang bisa membantu kita."
Pelangi mengernyitkan dahi. "Orang dalam? Siapa?"
"Jek."
"Joko maksudmu?"
Alia mengangguk dengan penuh semangat. "Mungkin akan sulit bagi kita untuk melamar di kantor pusat, tapi tidak jika kita melamar di proyek yang sedang mereka kerjakan. Jek 'kan bertugas di proyek itu. Proyek renovasi hotel Mentari yang terbengkalai itu, yang kabarnya berhantu dan angker. Aku dengar mereka butuh pekerja wanita untuk mencuci pakaian dan menbersihkan bagian hotel yang dijadikan mes selama para pekerja tinggal di sana."
Pelangi mengangguk. "Apa kamu yakin Joko bisa membantu kita?"
Alia kembali mengangguk. "Tentu, apalagi membantumu. Dia kan naksir setengah mati padamu, jadi kita bisa memanfaatkan dia."
Pelangi mencubit pinggang Alia. "Kejam sekali. Tidak boleh memanfaatkan orang seperti itu. Dasar. Ayo cepat petik sayurannya, masalah lamar-melamar pekerjaan bisa kita bicarakan nanti."
"Ah, oke, oke, oke." Alia menggerutu, lalu mulai memetik sayuran dengan Pelangi sembari bersenandung.
"Oh, ya, Rain, apa kamu pernah lihat wajah pemilik Andreas Group?" tanya Alia, setelah beberapa saat. Alia memang tidak bisa bekerja dalam diam, maka tidak heran jika ia terus saja bebicara tanpa henti.
"Tidak pernah. Memangnya kenapa?"
"Aku dengar dia sangat tampan dan luar biasa seksi. Aku penasaran."
Pelangi tertawa. "Kamu kan memang selalu penasaran pada hampir seluruh pria yang ada di planet ini. Baru beberapa hari yang lalu kamu penasaran dengan wajah tukang ojek online yang tangannya terlihat kekar, tetapi wajahnya tersembunyi di balik helm. Kemudian satu minggu yang lalu juga kamu penasaran pada sosok sopir angkot yang bermata indah tetapi sebagian wajahnya dututupi masker. Kamu selalu saja seperti itu. "
Alia tersipu. "Tidak kusangka kalau kamu begitu detil memperhatikanku. Aku jadi malu."
***
Kediaman keluarga Andreas, pukul 23.30
Gilang duduk di balik meja kerjanya yang ada di dalam kamar. Sengaja ia meletakan meja kerja di dalam kamar alih-alih di ruangan tersendiri seperti ruang kerja, karena Gilang memang lebih merasa nyaman bekerja di dalam kamar.
Meja kerja itu langsung menghadap ke balkon yang pintunya sekarang ia biarkan terbuka lebar, memperlihatkan halaman belakang yang gelap. Di balkon terdapat sofa panjang yang diletakan di tengah-tengah, tepat di sebelahnya terdapat meja budar dan lampu hias yang dapat dinyalakan menggunakan batrai.
Awalnya Gilang meminta sofa itu dibuang saja, beserta lampu dan juga mejanya, karena ia merasa tidak pernah membeli sofa itu. Ia juga tidak sudi menyimpan barang milik Surya di rumahnya. Namun, Toni melarang dan mengatakan bahwa sofa itu milik Gilang dan Gilanglah yang membeli sofa itu, bukan Surya. Apalagi rumah ini walaupun sempat menjadi milik Surya, tidak sekali pun Surya menempati rumah ini.
Sekarang setelah lelah bekerja, Gilang melangkah menuju balkon, mematikan lampu utama, duduk di sofa dan menyalakan lampu hias yang ada di atas meja.
Gilang menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sembari memejamkan mata.
Sebuah sentuhan di dadanya membuatnya terkejut, disusul oleh kecupan mesra dan basah di bibirnya. Gilang membuka mata dan mendapati Gisel di hadapannya, tengah duduk di pangkuannya sembari mendaratkan kecupan di seluruh bagian wajahnya.
Gilang tersenyum dan merangkul pinggang Gisel. "Apa yang kamu lakukan di sini pada jam segini?"
"Menghampirimu, memangnya apa lagi."
"Oh, ya, kamu pasti sangat merindukanku? Apa ayah tidk ada di bawah, hingga kamu bisa lolos sampai ke kamarku?"
Gisel menggeleng. "Dia tidak ada, mungkin sedang istirahat di kamarnya," jawab Gisel, lalu kembali meraup wajah Gilang dan mengecup bibir pria itu dengan lembut.
Gilang membiarkan, tetapi tiba-tiba saja bayangan seorang wanita yang tengah duduk di pangkuannya, di tempat yang sama pula, hanya saja saat itu siang hari, terlintas di kepalanya.
Gilang terkejut dan refleks mendorong tubuh Gisel. "Ada apa, Gil?"
Gilang diam saja. Ia meremas rambutnya dengan frustrasi, ia tidak tahu siapa wanita itu, tetapi hari ini saja sudah dua kali bayangan wanita itu muncul di kepalanya.
"Siapa dia? Siapa wanita itu?" Gilang berteriak, ia merasa tidak baik-baik saja sekarang. Setiap bayangan wanita itu muncul, dadanya menjadi sesak dan ia selalu ingin menangis karena sedih dan rindu.
Bersambung....