OH MY BOSS

OH MY BOSS
TERJATUH



Kota Jakarta merupakan kota yang besar. Gedung pencakar langit terlihat di mana-mana, begitu juga dengan pusat perbelanjaan. Lampu jalan warna-warni yang menggelantung di tiang-tiang tinggi terlihat indah bagai pelangi yang muncul di langit gelap, mematahkan kenyataan bahwa malam seharusnya gelap gulita, sianglah yang terang benderang. Namun, hal itu tidak berlaku di Kota Jakarat, malam justru lebih indah dibandingkan siang, membuat kedua mata Delia yang sudah terlalu lama melihat dinding rumah sakit dan selang infus tidak dapat berkedip.


"Kondisikan bola matamu, Del, sebelum bola matamu benar-benar keluar dari rongganya." Exel menyikut Delia yang duduk di sebelahnya.


Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil Andrew, duduk dengan nyaman di kursi belakang sementara Andrew menyetir sejak beberapa jam lalu.


Delia tersenyum, dalam keremangan Andrew bahkan dapat melihat deretan giginya yang putih melalui sepion depan yang menggantung di atas dasbor. "Aku belum pernah melihat kota yang ramai seperti ini, jadi wajar saja kalau aku tidak mampu berkedip. Rasanya aku enggan menyia-nyiakan waktu barang sedetik pun untuk melewatkan pemandangan yang indah ini."


"Sungguh berbanding terbalik denganku. Aku malah bosan sekali melihat lalu lintas yang padat ini. Dapat menghirup udara segar di pedasaan seperti beberapa hari terakhir menurutku sangatlah luar biasa," timpal Andrew, yang mendengar obrolan antara Exel dan Delia.


"Benarkah? Padahal kota terlihat seindah ini, bisa-bisanya kamu menyukai desa." Delia menjawab tanpa mengalihkan pandangan, perhatiannya masih tertuju pada pemandangan di luar mobil yang ramai.


Tidak lama kemudian, sedan yang Andrew kendarai memelankan lajunya saat mereka tiba di sebuah hotel berbintang.


Melihat bangunan menjulang di depannya, mata Delia kembali berbinar. Ia terpesona pada bangunan hotel yang baginya sangat tinggi hingga hampir mencapai langit.


"Kamu tinggal di sini?" tanya Delia pada Andrew.


Andrew menggeleng. "Tidak, aku tidak tinggal di sini. Untuk sementara, kalianlah yang akan tinggal di sini sampai aku menemukan rumah yang layak untuk kalian," ujar Andrew, sambil membuka pintu mobil dan segera keluar dari dalam mobil, disusul oleh Delia dan Exel.


Delia menarik ujung kemeja Andrew, saat dilihatnya Andrew menyerahkan kunci mobilnya pada seorang pria berseragam yang berdiri di depan pintu masuk hotel.


"Ada apa?" tanya Andrew.


"Mempercayakan mobilmu pada sembarang orang bisa berbahaya. Bagaimana kalau orang tadi membawa kabur mobilmu. Kamu bisa rugi besar dan tidak punya mobil lagi," ujar Delia, dengan wajah polos yang mengingatkan Andrew pada sosok Pelangi yang sama polosnya.


Andrew tertawa begitu mendengar ucapan Delia. "Mereka itu petugas valet, tidak mungkin mereka membawa kabur mobil pengunjung hotel," jelas Andrew.


"Valet?" Delia terlihat kebingungan, tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut agar tidak terlalu kentara bahwa ia sangatlah kampungan. Sebagai gantinya ia hanya mengangguk seolah mengerti, padahal ia sama sekali tidak tahu apa itu valet.


Andrew mengangguk. "Ya, valet. Sekarang ayolah kita masuk, seharusnya Amara sudah menunggu kita di dalam." Setelah mengatakan itu, Andrew segera memasuki lobi hotel dan mengedarkan pandangan di lobi bangunan mewah tersebut, mencari keberadaan Amara.


"Pak Andrew!" Teriakan Amara menggema di lobi.


Tidak lama kemudian Amara muncul dengan napas terengah-engah. Sebelah tangannya menarik koper berukuran sedang milik Pelangi, dan tangan sebelahnya lagi terlihat memegang ponsel.


"Hai, Ra, sudah sejak tadi?" tanya Andrew.


"Tentu, Pak. Aku sudah tiba di sini sejak beberapa jam yang lalu sesuai dengan perintah Pelangi," jawab Amara, kedua matanya menatap seorang wanita bertampang pucat yang berdiri di belakang Andrew dengan penasaran.


"Apa Pelangi tidak ikut?" tanya Andrew, sambil memindai sekitarnya, berharap melihat wajah cantik Pelangi yang sangat dirindukannya.


Amara menggeleng. "Tidak, Pak. Pak Gilang dan Pak Farhan ada di rumah, mana bisa dia ke mana-mana. Tapi, dia menitipkan semua ini ke saya, katanya Anda meminta semua ini." Amara melirik koper yang ada di sampingnya.


"Trims, Ra, maaf juga karrna kami datang terlambat. Banyak kendala sebelum kami berangkat ke sin."


Amara menggeleng. "Tidak masalah, Pak. Cepatlah masuk, saya rasa dia akan pingsan." Amara menunjuk wanita di belakang Andrew. Melihat wajahnya yang pucat, membuat Amara berpikir bahwa wanita itu akan pingsan jika terus berdiri di lobi.


"Ah, iya, ayo." Andrew mengedikkan kepala, mengajak Amara dan Delia untuk masuk ke kamar hotel yang telah Pelangi sediakan.


Sebenarnya Andrew bisa saja chek in menggunakan namanya, dan juga membeli pakaian baru dan segala perlengkapan untuk Delia dengan uangnya sendiri. Namun, jika semua itu dikakukannya akan terasa janggal dan juga mencurigakan. Bisa-bisa Exel dan Delia salah paham jika ia terlalu baik. Lagi pula, Exel adalah musuhnya, orang yang telah mencelakai Pelangi. Akan aneh sekali jika ia berbaik hati pada Exel.


Amara mengekor langkah Andrew sambil memegangi lengan Delia. Amara refleks melakukannya karena ia merasa iba pada Delia, tubuh gadis itu terlihat ringkih sekali, seolah tubuh itu dapat dengan mudah ambruk saat bersenggolan dengan orang lain.


Delia tersenyum, ia memang mudah sekali tersenyum. "Trims."


Amara membalas senyuman Delia dengan ramah. "Tidak masalah, sebagai sesama wanita kita harus saling tolong-menolong."


"Apalagi dengan tampangku yang seperti ini, siapa pun yang melihatku pasti akan langsung tahu bahwa aku adalah sosok yang lemah. Menyedihkan sekali selalu ditatap dengan iba." Delia tersenyum kecut.


Amara tahu apa yang dirasakan oleh Delia, dikasihani secara terus-terusan memang akan membuat tidak nyaman. Apalagi bagi orang yang memiliki harga diri tinggi, dianggap lemah adalah cobaan yang serius.


"Tidak selamanya orang lemah yang hanya butuh bantuan. Temanku yang bernama Pelangi selalu saja meminta bantuan padaku. Padahal dia adalah sosok yang kuat sekali. Aku terkadang sampai muak sekali padanya. Apa kamu tahu kenapa dia selalu meminta bantuanku?" tanya Amara, begitu mereka memasuki elevator.


"Kenapa memangnya?" tanya Delia dengan penasaran.


"Dia melakukannya hanya untuk membuatku sibuk dan agar kami tetap merasa saling membutuhkan satu sama lain. Hanya dengan begitu sebuah persahabatan akan berlangsung selamanya. Aku dan Pelangi seringkali melakukannya, walaupun kami bisa mengerjakan hal ini dan itu seorang diri."


Delia tersenyum lebar mendengar penjelasan Amara. "Persahabatan yang indah. Exel pun kerap melakukan itu padaku. Dia seringkali memintaku untuk melipat pakaiannya atau menyetrika hanya agar aku merasa dibutuhkan, tetapi saat aku mengerjakan hal lain atas keinginanku sendiri, dia akan melarang dan memintaku untuk pergi tidur saja."


"Exel? Namanya tidak asing." Amara berkomentar.


"Dia ikut bersama kami tadi, tapi entah ke mana perginya dia." Delia beralih memandang Andrew. "Jangan-jangan dia tersesat."


Ting!


Pintu elevator terbuka tepat di lantai lima belas. Andrew mendorong kopernya keluar, sementara Amara nenuntut Delia keluar dari elevator dan berjalan menyusuri lorong berkarpet merah, menuju sebuah kamar bernomor 305.


Delia berdecak kagum begitu masuk ke dalam kamar. Kamar hotel bertipe Deluxe room yang Pelangi pesan atas permintaan Andrew berukuran besar, dengan didominasi warna cream dan cokelat yang membuat kamar terlihat mewah, apalagi dengan adanya interior-interior elegan di dalamnya.


Di tengah ruangan terdapat dua ranjang berukuran sedang, yang terlihat nyaman untuk ditiduri.


"Ada dua ranjang, apa tidak masalah? Jika ingin tidur berdua, kalian bisa tidur berdesakan di satu ranjang yang sama. Abaikan saja ranjang satunya." Andrew berkata pada Delia. Sebenarnya ucapan itu tidaklah penting dan tidak seharusnya ia ucapkan. Namun, ada dorongan aneh yang membuat Andrew mengatakan hal itu.


Delia terkikik. "Exel dan aku selalu tidur sambil berpelukan saat kami masih kecil, tapi sekarang tidak lagi. Ibu panti memarahi kami saat mendapati kami tidur di satu ranjang, saat itu aku dan Exel masih SMP. Sejak saat itu kami tidak tidur satu ranjang lagi."


"Hubungan kalian begitu dekat. Semoga langgeng sampai kalian menikah. Sekarang istirahatlah, aku akan keluar untuk mencari Exel," ujar Andrew, kemudian berlalu dengan cepat dari hadapan Delia dan Amara, sebelum ia mulai bicara melantur tentang Delia yang jujur saja kehadiran gadis itu sedikit mengganggu pikirannya.


***


Exel mengendap-ngendap memanjat pagar halaman belakang kediaman keluarga Andreas, lalu melompat dan segera bersembunyi di balik semak mawar yang tumbuh rapat dan tak terawat.


Lampu taman yang tak menyala memudahkan Exel untuk bersembunyi di balik bayang-bayang pepohonan setelah ia berpindah dari semak mawar menuju pepohonan yang tumbuh tepat di bawah jendela kamar Pelangi dan Gilang.


Sebenarnya kedatangan Exel ke kediaman Farhan Andreas hanyalah untuk melihat keadaan Pelangi. Ia ingin memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja, karena hanya dengan begitu ia dapat hidup tenang setelah dihantui rasa bersalah sejak ia mencelakai Pelangi. Namun, begitu ia melihat Pelangi yang duduk seorang diri di balkon, niatnya tiba-tiba saja berubah. Alih-alih segera pergi setelah melihat keadaan Pelangi, Exel malah memanjat pagar dan mengendap-endap menuju balkon, di mana Pelangi sekarang sedang duduk sembari menatap langit.


Exel memanjat jendela di lantai satu dengan susah payah lalu berpegangan pada tepi atap, kemudian mengayunkan tangannya ke jeruji besi balkon kamar Pelangi, sebelum akhirnya melompat dan tiba tepat di sisi lain balkon yang berpencahayaan remang.


Pelangi yang mendengar suara gaduh tidak jauh darinya, segera bangkit berdiri. Kedua matanya membelalak lebar, berusaha menangkap apa pun itu yang telah berhasil membuat keributan dan membuatnya sedikit takut. Namun, Pelangi tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.


Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Pelangi kembali duduk di kursi dan kembali menikmati camilannya. Di saat itulah Exel memutuskan untuk menampakan diri. Ia menghampiri Pelangi, mematikan saklar lampu dengan cepat lalu membekap mulut Pelangi dari belakang.


Pelangi berontak saat tubuhnya disergap dari belakang. Ia meronta, berusaha untuk melepaskan diri, tetapi percuma saja. Tubuh Pelangi terlalu lemah untuk melawan cengkraman Exel yang berlengan kekar.


"Shuut, tenanglah, ini aku, Exel." Exel berbisik di telinga Pelangi.


Mendengar suara Exel, Pelangi mulai tenang. Exel pun melonggarkan cengkramannya pada tubuh Pelangi.


"Kamu! Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Pelangi, yang telah berhasil membebaskan diri dari Exel. Pelangi lalu menatap lampu balkon yang telah padam. "Kamu bahkan mematikan lampu. Kamu pasti berniat jahat padaku, 'kan?"


Exel menggeleng. "Bukan begitu. Hanya saja jika lampunya tidak kumatikan, balkon ini terlalu terekspos dari halaman belakang. Mana bisa aku bicara padamu jika ada yang melihat."


Pelangi mengedarkan pandangan, memastikan bahwa tidak ada yang melihat dirinya dan Exel berdiri berdua dalam kegelapan. Jika ada yang melihat dan mengadu pada Gilang, pasti akan terjadi kesalahpahaman lagi antara Gilang dan dirinya.


"Seharusnya kamu memang tidak datang kemari. Apalagi dengan cara seperti ini. Memanjat pagar rumah seseorang sama sekali tidak dibenarkan, Xel." Pelangi gelisah. "Sekarang pergilah. Jangan sampai suami atau mertuaku melihatmu."


Exel mengguncang tubuh Pelangi agar gadis itu sedikit lebih tenang. "Tenanglah, Pelangi, aku akan pergi sesegera mungkin, tapi dengarkan aku dulu. Ada hal penting yang harus kusampaikan padamu."


"Apa? Hal penting apa yang membuatmu nekat memanjat pagar dan balkon kamarku."


"Ringgo. Berhati-hatilah padanya. Jika dulu Ringgo mengejarmu karena masalah pribadi denganmu, sekarang dia berada di bawah perintah seseorang. Cepat atau lambat, dia pasti akan mencelakaimu, Pelangi."


Pelangi terlihat gugup. Ia mudah ketakutan sekarang, apalagi sejak kecelakaan yang menimpanya beberapa waktu lalu, ditambah fakta bahwa kecelakaan itu adalah pengaturan yang telah dibuat oleh Gisel dan Atika.


"Dari mana kamu tahu? Bisa saja kamu berbohong padaku," ujar Pelangi. Ia curiga pada Exel, mana mungkin Exel rela memanjat pagar rumah mertuanya hanya untuk memperingatkannya. Apalagi ia dan Exel tidak memiliki hubungan baik, mengingat Exel adalah karyawan baru yang baru dikenalanya tidak lebih dari satu minggu.


Exel menghela napas dan menatap langsung ke dalam mata Pelangi yang bulat. Meski dalam kegelapan, jarak mereka yang lumayan dekat tidak membuat Exel kesulitan melihat wajah Pelangi, begitu juga sebaliknya. "Aku tahu rencana Gisel, karena aku adalah bagian dari rencananya."


Pelangi mengernyitkan dahi. "Maksudmu?"


"Akulah yang menabrakmu satu bulan yang lalu. Akulah pembunuh bayaran yang disewa Gisel untuk menghabisi nyawamu."


Pelangi terkejut. Ia mundur selangkah, menjauhi Exel yang terlihat menyesal. Tubuhnya gemetar dan seketika tangannya berkeringat. Ia gugup sekali, bagaimana tidak jika ia bertatapan langsung dengan orang yang berusaha menghabisi nyawanya.


"Maafkan aku, Pelangi. Aku sungguh terpaksa melakukannya." Exel menghampiri Pelangi, membuat Pelangi terus melangkah mundur hingga tubuhnya menabrak tralis besi yang ada di belakangnya.


Karena terlalu terkejut, Pelangi kehilangan keseimbangan. Kakinya terpeleset, membuat tubuhnya limbung dan tersandung bagian bawah tralis.


Exel dengan cepat berlari ke arah Pelangi, lalu menarik lengan gadis itu dan menahan tubuhnya dengan kuat agar tubuh Pelangi tidak terjatuh dari ketinggian.


"Pegangan yang kuat. Jangan lepaskan yanganku, Pelangi," desis Exel, yang mulainterlihat panik.


"Amara," lirih Pelangi, dengan air mata yang mulai melesak dari kedua sudut matanya. Ia tidak tahu apakah ia bisa bertahan. Tangannya begitu licin dan kepalanya mulai berdenyut, membuat pandangannya kabur dan ia pun akhirnya tidak sadarkan diri.


Bersambung ....