OH MY BOSS

OH MY BOSS
TRAGEDI KOLAM RENANG



Tiga hari sudah Pelangi hidup dalam persembunyian. Ia selalu menghindari Gilang di mana pun pria itu berada. Pelangi berusaha sebisa mungkin agar tidak berpapasan dengan Gilang, baik di halaman, di koridor atau di mana pun. Hal yang tidak perlu ia lakukan sebenarnya, karena Gilang juga tidak terlalu memperhatikan hal lain selama beberapa hari ini, karena pria itu sibuk dan fokus bekerja.


Hal itu disyukuri oleh Pelangi, karena jika Gilang sibuk, itu berarti Gilang tidak akan memiliki waktu untuk menghampirinya dan menghukumnya karena ia telah bertindak kurang ajar pada Gilang beberapa hari yang lalu.


Pelangi selalu mengelus dada dan mengucap syukur saat malam telah tiba dan semua pekerjaannya selesai. Ia akan berganti pakaian, merangkak ke tempat tidur dan kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sembari berharap semoga besok ia kembali tidak berapasan dengan Gilang.


Akan tetapi, malam ini segalanya berbeda. Gedoran keras di pintu kamar membangunkan Pelangi dan Alia yang masih tertidur pulas. Alia menggeliat malas dan semakin menarik selimutnya hingga menutupi kepala untuk meredam suara ketukan yang sangat mengganggu. Sementara itu Pelangi yang terkejut segera melompat dari tempat tidur dan membuka pintu. Ternyata yang mengetuk pintu adalah Bu Jamila, seorang pengawas wanita bertubuh jangkung dan berwajah tegas. Bu Jamila bertugas untuk mengawasi pekerja bagian kebersihan yang juga terkadang mengawasi pekerjaan di halaman.


"Bangunlah, Raina. Bangunkan juga Lia dan segera kalian berdua ke halaman belakang," ujar Bu Jamila dengan terburu-buru. "Oh, ya, saat kamu keluar nanti, sekalian bangunkan yang lain. Ada keadaan darurat di halaman belakang yang harus segera ditangani, dan jangan lupa pakai mantel dan sepatu bot." setelah mengatakan hal itu, Bu Jamila berlalu dari hadapan Pelangi. Pelangi sendiri langsung menarik selimut Alia dan mengguncabg tubuh wanita itu.


"Apa, sih, ah," gerutu Alia, sembari berusaha merebut selimutnya yang telah berpindah ke tangan Pelangi.


Pelangi berdecak, lalu kembali mengguncang tubuh Alia. "Bangunlah. Baru saja Bu Jamila datang ke sini. Kita diminta ke halaman belakang sekarang juga."


Alia meraih ponsel di samping bantalnya dan melirik jam yang tertera di layar ponselnya. "Yang benar saja? Baru juga jam empat pagi. Aku tidak mau." Alia kembali berbaring. Namun, Pelangi segera menarik tangan Alia dan menyeret wanita itu dengan paksa agar mau turun dari tempat tidurnya.


"Ayolaaah, nanti kita bisa dipecat!"


***


banjir!


Ya, hal itulah yang menyebabkan semua pekerja bagian kebersihan dan halaman dibangunkan saat hari masih terlalu pagi.


Hujan yang turun semalaman menyebabkan air pada kolam renang yang sudah tidak terpakai meluap dan menyebabkan banjir. Ada beberapa ruangan yang tergenang air, seperti ruang fitnes, gudang, dan ruang ganti.


"Tugas kalian adalah mengeluarkan semua barang yang ada di dalam ruangan yang terkena banjir, sementara beberapa pria sedang mencari mesin untuk menyedot semua air yang ada di dalam ruangan dan kolam renang," teriak Bu Jamila di tengah hujan yang masih mengguyur dengan derasnya.


Area kolam renang di hotel itu memang berada di luar ruangan, sama seperti di hotel kebanyakan. Sehingga para pengunjung bisa berenang sembari memandangi langit. Namun karena kolam renang di hotel itu juga mengalami kerusakan, sama seperti bagian lain pada hotel, saat hujan turun airnya akan meluap, bukannya mengalir ke saluran pembuangan yang telah disediakan, air malah meluber ke mana-mana.


Pelangi menggigil, ia menarik tudung mantelnya agar semakin rapat menutupi kepalanya dan mulai berjalan menuju ruang ganti yang terendam air. Ia kemudian mendorong pintunya dengan kuat. Saat pintu terbuka, seketika air yang dingin menerpa tubuhnya, menenggelamkan sebagian kakinya hingga setinggi lutut.


"Wow, kamu tahu Alia, aku seperti sedang memerankan sebuah adegan film," ujar Pelangi pada Alia yang menggerutu tidak jelas di sebelahnya.


"Film apa memangnya?" tanya Alia.


"Titanic. Itu loh, film kapal tenggelam yang bulan lalu kamu perlihatkan padaku di ponselmu. Saat itu Rose membuka pintu sebuah ruangan, dan di dalam ruangan itu ada Jack yang tangannya terikat pada tiang. Persisi seperti keadaan kita saat ini."


Alia mendorong tubuh Pelangi hingga wanita itu terjatuh di air yang dingin. "Jangan banyak berkhayal. Lebih baik kita kerjakan semua ini agar cepat selesai. Aku harap pekerjaan kali ini dihitung lembur! Apes sekali kita harus membersihkan ruangan yang sedang tenggelam seperti ini di pagi hari dalam keadaan hujan deras."


***


Gilang memutuskan untuk keluar menuju balkon kamarnya saat matanya tidak dapat kembali terpejam. Beberapa waktu yang lalu ia mendapat mimpi buruk di dalam tidurnya. Mimpi yang aneh dan menyeramkan, membuatnya eggan untuk kembali tertidur walaupun kedua matanya masih sangat mengantuk.


Gilang menghela napas, dan mulai bertanya-tanya di dalam hati bagaimana bisa sebuah mimpi terasa begitu nyata? Tubuhnya saja sampai berkeringat dan tanpa sadar ia pun menangis.


Di dalam mimpinya hujan sedang turun dengan deras, sama seperti sekarang. Ia berada di sebuah jalanan yang tidak ia kenali. Terdapat banyak pohon di tepi jalanan dan suasananya sangat sepi dan mencekam. Dirinya berlutut, sementara Gisel berusaha membantunya untuk bangkit berdiri. Namun, ia menolak dan terus menangis. Gilang tidak paham ia menangis karena apa, tapi yang jelas bukan Gisel yang ia tangisi. Ada hal lain yang lebih menyedihkan, yang membuat tangisan pilunya tidak mau berhenti, tetapi Gilang tidak ingat sama sekali apa yang membuatnya sesedih dan terpuruk seperti itu.


"Dia jatuh ke kolam renang, cepat, cepat!"


Sebuah suara yang berasal dari halaman samping mengejutkan Gilang. Ia kemudian menghalau bayangan tentang mimpinya yang sejak tadi mendominasi isi kepalanya dan mulai fokus pada sosok-sosok bemantel yang berlarian di halaman samping menuju halaman belakang.


"Sedang apa mereka di jam segini," gumam Gilang.


"Raina terjatuh. Ayo cepat!" teriakan itu kembali terdengar, menyelusup ke dalam gendang telinga dan membuat rasa khawatir menjalar dengan cepat ke seluruh tubuhnya begitu ia mendengar nama Raina disebut.


Tanpa pikir panjang, Gilang langsung berlari keluar dari kamar, berlari sepanjang selasar menuju tangga belakang yang langsung membawanya ke area kolam renang.


Di halaman belakang, sosok-sosok bermantel berdiri di tepi kolam renang sembari berteriak-teriak panik, sementara sepasang tangan menggapai-gapai dari dalam kolam.


Gilang melompat ke dalam kolam renang dan berenang dengan cepat menghampiri sosok yang tengah tenggelam. Di saat bersamaan bayangan dirinya yang lain, di waktu yang lain, tengah berenang di sebuah kolam renang yang penuh dengan kelopak mawar melintas di dalam kepalanya. Dalam bayangannya ia pun sedang menolong seorang wanita yang sedang tenggelam. Gilang berusaha mengingat kapan kejadian itu dan di mana, lalu siapa wanita yang tengah ia selamatkan? Tetapi percuma saja, ia tidak ingat apa pun.


Gilang menggeleng dan kembali fokus ke masa sekarang, berusaha meraih pinggang Pelangi dan memeluk wanita itu, lalu menyeretnya ke tepi kolam renang.


"Tarik dia," perintah Gilang pada segerombolan sosok bermantel yang masih berjejer di tepi kolam renang.


Setelah Gilang berhasil keluar dari dalam kolam renang. Segera ia menggendong tubuh Pelangi menuju sebuah meja yang terletak di sudut ruang ganti--hanya meja itu yang tidak terendam banjir. Ia lalu membuka sepatu bot dan mantel Pelangi, dan melakukan tindakan resusitasi jantung paru. Namun, karena setelah beberapa saat Pelangi tidak juga merespon, Gilang pun membungkuk dan memberikan napas buatan untuk wanita itu.


Setelah beberapa kali menerima napas buatan dari Gilang, Pelangi mulai terbatuk dan memuntahkan air yang memenuhi paru-parunya.


"Raina, Raina, syukurlah, Rain. Aku pikir kamu mati." Alia menangis dan memeluk Raina yang wajahnya terlihat pucat.


Gilang menghela napas lega, lalu menatap satu per satu sosok bermantel yang ada di sekitarnya. Merasa ditatap oleh sang CEO, mereka semua serentak membungkuk memberi hormat.


"Apa yang kalian lakukan di sini di jam segini?" tanya Gilang.


"Tidak ada satu pun dari kalian yang bisa berenang?" tanya Gilang lagi. Ia sempat merasa kesal tadi, karena saat Pelangi tenggelam tidak ada yang berusaha menolong wanita itu.


Akan tetapi, ketika melihat mereka semua menggeleng dengan mantap, kekesalan Gilang seketika sirna.


"Lepas mantel kalian dan segera masuk ke dalam. Berbahaya bekerja di dekat kolam renang saat hujan begini dan tidak ada satu pun dari kalian yang bisa berenang," perintah Gilang.


"Tapi, Pak, nanti kami dimarahi oleh Bu Pengawas," ucap salah seorang pekerja.


Gilang berdecak kesal. "Aku bosnya di sini. Aku yang akan tanggung jawab."


Para pekerja bertepuk tangan dan mengucapkan terima kasih berulang kali pada Gilang.


"Ayo, Rain, kubantu kamu turun," Alia memegangi tangan Pelangi, berniat untuk membantu temannya itu untuk turun dari meja. Namun, Gilang melarangnya.


"Lepaskan dia. Dia tanggungjawabku. Kalian pergilah." Gilang menghampiri Pelangi dan menggendong wanita itu.


"Ma-mau dibawa ke mana aku? Turunkan aku, Pak," pekik Pelangi, yang sekarang sudah berada dalam gendongan Gilang.


"Diamlah, biarkan aku memberimu kehangatan," ujar Gilang, membuat Pelangi dan semua yang mendengar ucapannya menatapnya dengan mata melotot dan mulut terbuka lebar


Akan tetapi, Gilang tidak peduli pada penilaian semua orang yang ada di sana. Ia dengan cuek melangkah menuju tangga belakang yang akan langsung membawanya ke lantai dua, ke kamarnya.


***


Gilang terus melangkah menuju kamarnya tanpa ragu. Ia bahkan tidak mendengarkan dan menghiraukan keluhan Pelangi yang sejak tadi minta diturunkan.


Gilang segera membuka pintu bagitu tiba di depan kamarnya, lalu melangkah menuju kamar mandi dan memasuki kamar mandi masih sambil menggendong Pelangi.


Tubuh Pelangi semakin gemetar sekarang, bukan karena kedinginan, tapi karena ia katakutan dan juga gugup. Bagaimana tidak gugup jika ia hanya berdua dengan Gilang di dalam kamar mandi sekarang. Wajah Gilang yang basah membuat Gilang terlihat semakin memesona. Pelangi bahkan sampai kesulitan bernapas saking gugupnya. Belum lagi T-shirt putih polos yang Gilang kenakan juga basah, membuat otot-otot Gilang terjiplak dengan sempurna dari balik T-shirt itu.


Gilang menurunkan pelangi, mengisi bathtub dengan air hangat dan mundur menjauh dari Pelangi. "Air hangat cuma ada di kamarku, tidak ada di kamar lain, itulah sebabnya aku membawamu ke kamarku, bukannya kembali ke kamarmu. Kamu bisa berendam selama yang kamu mau. Setelah berendam kamu bisa kembali ke kamarmu, atau tidur di atas ranjangku. Terserah padamu saja."


"Kalau aku yang berendam. Lalu bagaimana denganmu?" tanya Pelangi.


"Aku! Apa kamu tidak keberatan kalau aku ikut berendam denganmu? Aku juga kedinginan."


Pelangi menendang tulang kering Gilang begitu mendengar ucapan pria itu, lalu mendorong tubuh pria itu agar keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya rapat-rapat. "Enak saja mau berendam denganku. Memangnya dia itu siapa? Huh!"


***


Gosip menyebar dengan cepat tentang apa yang terjadi di area kolam renang semalam. Tentang Gilang yang berlari dan masuk ke dalam kolam renang untuk menyelamatkan seorang wanita pekerja, dan tentu saja tentang Gilang yang menggendong pekerja itu menuju kamarnya.


Seluruh karyawan proyek di Hotel mentari pun menjadi gempar. Tidak sedikit yang menuding bahwa Gilang melakukan perzinaan dengan karyawannya sendiri. Hal itu tentu saja membuat Pelangi menjadi setres. Padahal semalam ia tidak melakukan apa-apa pada Gilang. Ia hanya berendam, dan setelah itu ia pun kembali ke kamar.


"Kamu saksinya, Alia, aku tidak berada di sana semalaman. Aku kan kembali ke kamar. Kamu juga melihat saat aku kembali kan?" rengek Pelangi.


"Ya, aku memang lihat. Tapi mana aku tahu apa yang kamu lakukan selama beberapa jam di kamar bos." Alia menjawab dengan santai.


Pelangi menghampiri Alia dan mendorong tubuh wanita itu. "Bicaramu itu kejam sekali. Seolah kamu menuduhku juga, sama seperti yang lain." Pelangi mulai menangis sekarang.


Alia meringis karena tubuhnya hampir saja terjatuh. "Maaf, maaf, lagi pula gosip sudah terlanjur tersebar, Rain, akan sulit meyakinkan orang banyak. Lagi pula, kenapa kamu jadi penakut begini? Pak Gilang saja tetap beraktivitas seperti biasanya. Dia terlihat cuek, seolah tidak ada sesuatu yang terjadi, bukannya mengurung diri seperti yang kamu lakukan."


"Dia bos, dia CEO, dia orang terpandang. Siapa yang berani nyinyir padanya. Sedangkan aku ... apa kamu tahu kalau Pak Cipto tadi menghampiriku saat aku sedang sarapan di bawah. Kamu tahu apa yang dia katakan?"


"Apa memangnya?" tanya Alia, terlihat penasaran.


"Dia bertanya berapa tarifku semalam." Pelangi kemudian menangis. "Aku tidak pernah merasa terhina seperti ini, Lia, kenapa dia menganggap kalau diriku ini wanita bayaran."


"Cipto. Maksudmu Cipto dari bagian perencanaan?"


Pelangi dan Alia sama-sama menoleh ke asal suara saat suara seorang pria terdengar di ambang pintu kamar mereka.


"Pak Gilang." Alia terkejut, karena mendapati Gilang tengah berdiri di ambang pintu sambil menatap Pelangi dengan tajam. "Jawab aku, Rain."


Pelangi menyeka air matanya, kemudian mengangguk. "Ya, Pak. Pak Cipto dari bagian perencanaan."


Gilang melonggarkan dasinya."Tunggu di sini. Biar kuberi pelajaran dia."


"Pak, tidak usah, Pak!" teriak Pelangi. Namun, percuma saja, Gilang tidak mendengarkan Pelangi dan berjalan dengan tangan mengepal menjauh dari kamar Pelangi.


Bersambung ....