
Waktu seolah berhenti saat dokter tengah menangani Gilang di dalam kamarnya. Tangan dan kaki Pelangi gemetar, ia bahkan tidak bisa menangis lagi saking terkejutnya. Bayangan wajah Gilang yang kesakitan karena sesak napas yang tiba-tiba menyerang pria ituterus terbayang di dalam ingatannya.
Setelah menunggu beberapa saat di depan pintu kamar, dokter pun keluar dari kamar Gilang, bersama dengan Toni dan juga Andrew yang wajahnya tidak terlihat terlalu khawatir seperti sebelumnya.
Pelangi yang sejak tadi duduk di lantai langsung bangkit berdiri, lalu menatap Toni, Andrew dan sang dokter secara bergantian. Lidahnya terlalu kelu, hingga ia tidak dapat mengatakan apa pun. Bahkan untuk menanyakan keadaan Gilang pun ia tidak bisa.
"Kami akan membawanya ke rumah sakit. Ada beberapa tes yang harus dilakukan untuk memastikan keadaannya. Setelah kondisinya stabil, Pak Gilang bisa dirawat di rumah. Kami akan melengkapi apa yang dibutuhkannya nanti," ujar dokter muda yang memeriksa Gilang.
Pelangi masih diam saja. Tatapannya kosong, dan ia tidak merespon perkataan dokter sama sekali. Seolah pikirannya melayang entah ke mana meninggalkan raganya yang terlihat terguncang.
Amara menyentuh pundak Pelangi dan meremasnya dengan lembut. "Pelangi, dokter bilang, Gilang akan dibawa ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh. Apa kamu dengar?"
Pelangi terperanjat, suara Amara yang sedang bicara padanya seolah menggema dari dunia lain, berasal dari tempat yang sangat jauh. Pelangi terlihat seperti orang yang ling-lung sebelum akhirnya ia mengangguk tanpa alasan.
"Baiklah. Tapi, apa? Maksudku apa?" tanya Pelangi, bingung. Ia tidak ingat apa kata dokter, sebenarnya ia bahkan tidak mendengar apa pun yang dokter itu katakan, walaupun ia melihat bibir dokter muda itu bergerak-gerak.
Amara mengusap punggung Pelangi, ia tahu jika Pelangi sangat terpukul saat ini. Tidak mengherankan jika ia menjadi kurang fokus dan bingung.
"Kami akan membawa Gilang ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Setelah keadaannya stabil, dokter bisa mengatur agar Gilang dirawat di rumah saja dengan segala kelengkapan dari rumah sakit. Kamu setuju?" tanya Toni dengan tegas.
Pelangi mengangguk. "Ya, aku setuju. Lakukan segala yang terbaik untuknya. Dia harus sembuh, Dok. Tolonglah."
Dokter di hadapan Pelangi mengangguk, lalu segera menghubungi rumah sakit agar menyiapkan ruangan dan segala yang dibutuhkan untuk Gilang.
Sementara menunggu ambulans tiba, Pelangi masuk ke dalam kamar dan menghampiri Gilang yang berbaring di atas ranjang. Posisinya tidak berubah. Masih sama seperti pagi tadi saat pertama kali Pelangi melihatnya.
"Pasti lelah sekali." Pelangi membatin.
Gilang merasakan kehadiran seseorang di sekitarnya, dan ia menebak bahwa Pelangilah yang datang.
"Hai, Sayangku,"ujar Gilang.
Pelangi mengusap sudut matanya sebelum melangkah menuju ranjang yang berada di tengah ruangan.
"Hai juga." Pelangi menjawab, lalu duduk di sebelah Gilang.
"Aku terlihat payah, ya? Menoleh saja aku tidak bisa. Parah sekali." Gilang menggerutu.
Pelangi segera menghentikan ocehan Gilang dengan cara meletakkan jemarinya di bibir pria itu agar Gilang tidak terus mengoceh. "Shut, jangan berkata demikian," ujar Pelangi, lalu mendaratkan kecupan di bibir Gilang."
Gilang memejamkan mata, merasakan kehangatan bibir Pelangi di atas bibirnya. Membiarkan wanita itu ******* bibirnya dengan penuh cinta. Lama mereka saling berciuman, hingga bibir Gilang terasa kebas. Namun, ia menyukainya. Ia suka saat Pelangi bertindak agresif.
Pelangi menjauhkan wajahnya dari Gilang setelah beberapa saat, lalu mengusap wajah pria itu dengan lembut sembari menatapnya lekat-lekat.
"Baru satu hari, tapi aku sudah membuatmu menangis ratusan kali sepertinya. Matamu sembap dan merah. Apa kamu baik-baik saja, Pelangi?" tanya Gilang, yang melihat mata Pelangi begitu merah dan bengkak.
Pelangi tersenyum. "Ya, aku baik-baik saja. Sebentar lagi dokter akan membawamu ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Aku akan menemanimu, jadi jangan takut."
Gilang membalas senyuman Pelangi. "Aku takut, Pelangi. Aku ketakutan. Aku takut jika semua ini benar, semua ini nyata. Jujur saja, hingga saat ini aku masih berharap semua ini hanyalah mimpi. Aku takut jika suatu saat nanti kamu akan meninggalkanku karena ketidakberdayaanku."
Pelangi kembali mendaratkan bibirnya di atas bibir Gilang, menghentikan ocehan pria itu dengan cara yang pasti Gilang sukai. "Setelah semua yang kita lalui, tidak mungkin aku meninggalkanmu semudah itu. Percayalah padaku, aku mencintaimu."
"Ya, aku percaya. Aku juga mencintaimu. Cium aku kalau begitu," pinta Gilang.
Pelangi segera menghujani wajah Gilang dengan kecupan. Di pipi, di dahi, di mata, hidung, dagu, hingga bibir. Tidak ada satu pun yang Pelangi lewatkan.
"Terima kasih, Tuan Putri, tetaplah seperti ini walaupun keadaan berubah," ujar Gilang penuh harap.
"Tentu. Kita akan tetap seperti ini sampai kapan pun." Pelangi membelai wajah Gilang dengan penuh kasih.
Gilang hanya bisa merasakan setiap sentuhan Pelangi tanpa bisa membalas sentuhan wanita itu. Padahal saat ini ingin sekali rasanya ia merangkul Pelangi, tapi apalah daya, tubuhnya sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama.
"Oh, ya, ayah bagaimana? Apa dia sudah tahu tentang keadaanku?" tanya Gilang.
Pelangi menggeleng. "Ayah belum kembali dari kediaman saudaranya. Mungkin nanti malam dia akan kembali. Kami belum memberitahunya. Apa menurutmu ayah tidak akan kenapa-kenapa saat mengetahui keadaanmu?"
"Aku ragu dia akan baik-baik saja. Beritahu dia pelan-pelan. Aku takut dia akan mengalami serangan jantung jika terlalu terkejut."
"Pelangi mengangguk. "Tentu. Aku akan bicara pada ayah saat ayah datang nanti."
"Tok, tok, tok, permisi sejoli. Ambulans sudah datang. Bolehkah perawat masuk?" Toni menyembulkan kepala di sela-sela pintu yang sedikit terbuka.
Pelangi mengangguk dan bangkit dari ranjang. "Tentu. Cepatlah."
Empat orang petugas medis masuk ke dalam kamar sembari membawa tandu, lalu keempatnya segera menghampiri Gilang dan memindahkan tubuh Gilang dengan hati-hati ke atas tandu dan membawa Gilang menuju ambulans yang terparkir di halaman rumah.
Pelangi mengekor di belakang petugas medis hingga ia tiba di pintu depan. Amara telah menunggu di sana bersama dengan Delia. Keduanya terlihat khawatir saat Pelangi tiba.
"Aku akan ikut ke rumah sakit. Kalian beraktivitaslah seperti biasanya. Jangan jadikan keadaan ini sebagai alasan kalian untuk bersedih. Ingat, dua hari lagi akan ada pesta di sini. Fokuslah pada hal itu, oke," pinta Pelangi.
Delia dan Amara mengangguk, lalu ketiganya berpelukan.
"Semua akan baik-baik saja. Tenanglah dan jangan panik. Kami akan menyusul nanti," ujar Amara, sembari mengusap punggung Pelangi.
Pelangi tersenyum. "Terima kasih. Semua ini akan segera berlalu, cepat atau lambat. Aku pergi dulu, daah." Pelangi melambai pada Amara dan Delia, lalu ia menyusul Toni yang sudah lebih dulu masuk ke dalam ambulans.
"Aku akan menyusul dengan mobil." Andrew berteriak, yang hanya dibalas Pelangi dengan anggukan.
***
Seperti kejutan yang tiada akhir. Tidak ada waktu yang berjalan tanpa cobaan yang menyambangi. Pelangi bahkan tidak tahu harus berkata apa setelah dokter mengatakan segalanya secara gamblang tentang penyakit yang kini harus ditanggung oleh Gilang seumur hidupnya.
Setelah melalui pemeriksaan panjang yang menyita waktu hampir dua hari lamanya, melibatkan tes ini dan itu, juga dokter spesialis ortopedi dan traumatologi, hingga dokter spesialis ortopedi ahli spine, akhirnya dokter memvonis Gilang menderita Spinal Cord Injury, persis seperti tebakan Gilang saat pertama kali pria itumerasakan kaku pada seluruh anggota tubuhnya.
Pelangi masih ingat, setengah jam yang lalu dokter mendatanginya dan memintanya untuk ikut ke ruangan. Setibanya di ruangan dokter spesialis, Pelangi segera duduk di kursi tamu, sementara sang dokter duduk di kursinya.
Tanpa berbasa-basi dokter itu berkata, "Kerusakan pada sum-sum tulang belakang menyeluruh atau lengkap."
Pelangi memandang dokter itu dengan bingung. Ia tidak mengerti apa maksudnya kerusakan menyeluruh atau lengkap. Melihat kebingungan di wajah Pelangi, sang dokter kembali menjelaskan dengan perlahan.
"Pak Gilang menderita spinal cord injury lengkap, dengan kata lain mulai saat ini Pak Gilang kehilangan kemampuan sensorik dan motoriknya. Dia tidak dapat merasakan sentuhan sekecil apa pun dan juga tidak dapat menggerakkan seluruh bagian tubuhnya. Kelumpuhan yang dialami Pak Gilang termasuk ke dalam katagori tetraplegia, yang memengaruhi keempat anggota gerak dada dan perut."
Bagai dihantam oleh batu yang sangat besar, Pelangi merasa nyeri dan sesak di dadanya. Saat itu ia bertanya pada dokter apakah Gilang bisa disembuhkan. Namun, jawaban sang dokter sungguh membuat hati Pelangi kembali patah.
"Pada sebagian kasus yang tidak begitu parah, butuh waktu enam bulan, bahkan ada yang satu sampai dua tahun agar bisa kembali bergerak. Tetapi, jika saraf rusak permanen seperti yang dialami Pak Gilang, mohon maaf sekali jika saya mengatakan bahwa Pak Gilang tidak bisa disembuhkan."
Pelangi mengusap air matanya, sekarang ia telah berada di kantin rumah sakit bersama dengan Toni yang baru saja tiba membawakannya cokelat panas dan sebuah croissant.
"Makan dulu. Kamu tidak boleh sakit. Gilang membutuhkanmu," ujar Toni.
"Dia sedang apa sekarang?" tanya Pelangi, yang memang belum kembali ke ruangan Gilang sejak setengah jam yang lalu, setelah ia menemui dokter.
"Tidur kurasa. Apalagi yang bisa dilakukannya sekarang selain berbaring. Sialan Gilang itu. Untuk apa dia membuat dirinya jatuh ke dalam lubang yang akhirnya berakibat fatal bagi dirinya sendiri. Seharusnya dia membiarkan tubuhnya ditabrak sepeda. Kan hanya sepeda, bukan bus." Toni masih mengoceh, sambil sesekali mengusap sudut matanya. "Andai saja dia ditabrak sepeda, mungkin kondisinya tidak akan separah ini. Andai saja dia tidak di sana senja itu, semua ini tidak akan terjadi."
Pelangi diam saja, entah kenapa ia merasa jika Toni ingin mengatakan, "Seandainya Gilang tidak mampir membeli salad untukmu, maka semua ini ini tidak akan terjadi."
"Apa kamu sudah mengabari ayah?" tanya Pelangi setelah beberapa saat.
Toni menggeleng. "Aku tidak berani, Pelangi. Aku takut jantungnya kambuh lagi."
"Ya, aku mengerti. Tapi, Ton, cepat atau lambat ayah pasti akan tahu. Apalagi besok adalah hari pernikahan Delia dan Andrew. Tidak mungkin Gilang hadir tanpa kursi roda. "
"Kalau begitu kamu saja yang mengatakan pada Pak Farhan. Kamu kan menantunya." Setelah mengatakan hal itu, Toni pergi meninggalkan Pelangi seorang diri.
Pelangi merasa terpuruk. Ia seperti terdampar di pulau tak berpenghuni seorang diri tanpa seorang pun yang menemani. Ia tahu jika Toni marah padanya, Toni menyalahkannya atas kesialan yang menimpa Gilang, hanya saja pria itu memilih untuk diam dan tidak mengungkap isi hatinya.
Pelangi menghela napas dan mengusap wajahnya. Ia lelah sekali sekarang, ingin rasanya ia menghilang dari dunia, atau mungkin terbangun dari mimpi buruk yang tengah ia alami sekarang ini. Namun, semua pengharapan itu sia-sia belaka. Toh, pada kenyataannya ia harus menghadapi semuanya. Semua yang terjadi sekarang ini adalah sesuatu yang nyata. Bukan mimpi yang dapat ia abaikan begitu saja.
Hidupnya nyata, hidup Gilang nyata, kebahagiaannya nyata, begitu juga dengan kesedihan yang selalu menghampiri hidupnya. Dan sekarang penyakit Gilang pun nyata.
Pelangi menutup wajah dengan kedua tangan. "Ya, Tuhan, seharusnya aku saja yang mengalami sakit yang diderita Gilang. Apalah arti hidupku ini, tapi Gilang ... hidupnya sangat berarti, Tuhan." Pelangi meraung, ia tidak sanggup untuk terus berpura-pura tenang, padahal jiwanya sedang tercabik tak keruan.
***
Arya Saputra Adiguna menggeliat di atas ranjang sembari meringis. Tubuhnya terasa sakit di mana-mana. Ia tidak tahu apa yang terjadi, seingatnya ia hanya berangkat ke kantor seperti biasa, menemui Pelangi, dan kembali ke rumah saat jam kantor usai. Ia tidak melakukan sesuatu yang membuat tubuhnya sakit. Seperti berolahraga atau semacamnya.
Arya meregangkan tubuhnya kemudian segera bangkit berdiri dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia tidak tahan pada aroma masam yang menempel pada tubuhnya, seolah dirinya sudah tidak mandi selama berhari-hari. Setelah selesai membersihkan diri, Arya meraih pakaiannya di dalam lemari. Seperti biasa, Arya memilih pakaian yang sederhana dan terlihat santai khas dirinya. Arya memang tidak terlalu suka dengan kemewahan.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka dan Maulana terlihat memasuki ruangan sembari tersenyum.
"Selamat pagi, Tuan. Apakah menurut Anda, And tidak salah kostum?" tanya Maulana tanpa berbasa-basi. Pria terlihat rapi dengan jas hitam dan dasi kupu-kupu berwarna senada.
Arya terlihat kebingungan. "Tidak kurasa. Aku sudah sering memakai pakaian seperti ini jika ke kantor. Kamulah yang salah kostum, Lana, untuk apa kamu mengenakan dasi kupu-kupu. " Arya menggelengkan kepala.
Maulana tertawa melihat kepolosan Arya. Inilah Arya yang sebenarnya sebelum sang kekasih meninggal, yang membuat hati dan jiwa Arya hancur berkeping-keping.
"Kita akan menghadiri pernikahan Andrew Andreas. Adik dari Gilang Andreas. Aku memang belum mengatakan pada Anda, tapi kita mendapat undangannya. Ayah Anda juga akan berangkat ke sana."
Arya mengelus dagu. Ia ingat pada Andrew, pria yang kemarin berani menghajarnya di kafe.
"Hari ini pria itu menikah?" tanya Arya.
"Ya Andrew hari ini menikah."
Arya tersenyum, kemudian segera beralih menuju sebuah lemari lagi, di mana tempat ia menyimpan jas dan dasi mewah miliknya.
"Bagus sekali. Aku dapat bertemu dengan Pelangi dan Gilang secara bersamaan kalau begitu. Saat bertemu dengannya nanti, aku akan mengatakan pada Gilang bahwa aku tertarik pada istrinya, dan aku ingin Pelangi membantuku agar aku dapat memiliki seorang putra." Arya berucap dengan semangat yang menggebu.
"Bukankah sudah kukatakan padamu, bahwa Pelangi itu sudah menikah. Rasanya sangat tidak pantas, Ar, jika kamu meminta wanita yang sudah menikah untuk mengandung anakmu."
"Aku tidak peduli," ujar Arya.
Bersambung.