
Senin siang, Nena yang merasa tidak perlu mengikuti Justin lunch meeting bersama klien-nya memilih mengajak Siska untuk makan siang bersama.
"Coba deh, Sis. Menurut lo bagusan yang mana?"
Siska yang sibuk memasukan kentang goreng ke dalam mulutnya sembari sesekali mengintip layar hp yang sepi dari notif, kemudian menoleh ke arah meja. Menghela napas. "Tega banget lo, Na. Nggak ngerti perasaan gue banget." Siska meraup beberapa contoh undangan yang sahabatnya itu suruh pilih.
"Gue bingung, semuanya bagus," ucap Nena sembari memperhatikan wanita di hadapannya yang tampak meneliti benda ditangannya dengan serius.
"Gue aja belum pernah milih undangan buat diri gue sendiri, ini malah udah dua kali milihin undangan buat lo. Apa lo pikir hati gue enggak terluka." Siska meletakan satu -yang menurutnya paling menarik- di hadapan Nena.
Nena meraihnya. "Lebay banget lo ah, gue juga ogah ribet-ribet gini sampe dua kali. Lo pikir gue seneng banget." Nena meraih benda di hadapannya.
"Yakin ini bagus, Sis?"
"Menurut gue sih, simpel tapi mewah."
"Sumpah selera lo emang gedongan banget. Ini tuh contoh yang paling mahal tahu," puji Nena, kemudian memasukan semua contoh undangan ke dalam tasnya.
"Masa iya? Nggak apalah, Na, laki lo kan kaya, lo mau bagiin souvenir pake emas dua puluh empat karat juga bebas."
Nena melotot, "gila lu Ndro. Orang kaya baru juga nggak sesongong itu kali," omelnya yang membuat Siska tertawa. Bersamaan dengan itu Doni yang baru ikut bergabung tampak memegangi lehernya dengan raut wajah yang tidak nyaman.
"Kenapa tuh kepala miring-miring gitu sih? Leher lo dikunci setang," sambar Siska yang membuat pemuda yang baru menduduki kursi disebelahnya itu berdecak sebal.
"Sakit leher gue, salah bantal nih gue rasa." Doni memberi alasan. Pandangannya menyapu meja, merasa heran dengan menu makanan yang itu-itu saja.
"Nih, ini nih salah satu kejelekan orang Indonesia, yang nggak mau menyalahkan diri sendiri. Leher pada pegel aja nyalahin bantal." Siska menoyor pipi teman lelakinya itu, membuatnya mengaduh kesakitan.
"Ya iyalah, terus menurut lo ini salah siapa? Salah gue? Salah temen-temen gue!" Ucap Doni sembari mencondongkan kepalanya pada Siska yang duduk di sebelahnya.
Siska mendorong kening pria itu menjauh. "Jangan deket-deket, napas lo bau menyan," omelnya.
Nena terdiam, memperhatikan interaksi keduanya. Hingga kemudian pertanyaan Dari Doni membuat lamunannya buyar seketika. "Hah? Apaan?" Tanyanya.
"Lo kan udah kaya, Na. Masa iya lo cuman beliin kentang goreng begini. Gue tahu ini tanggal tua, tapikan laki lo cucunya Soekarno Hatta, merah semua dong pasti duitnya." Doni mencomot kentang goreng dan memasukan ke dalam mulutnya.
Nena mengerjap tidak paham. Masih linglung dengan candaan barusan. "Eh, itu Siska yang mesen, bukan gue," belanya.
"Sengaja, gue lagi diet." Siska memberi alasan.
Doni berdecak, "buat apalah diet kalo yang montok lebih menggoda," tuturnya dengan segala kesongongan yang terpancar diwajahnya itu, "gue laki normal ya, cewek yang badannya terlalu tipis kaya kalian tuh, apa yang bisa kita grepe coba," tambahnya lagi sembari memperhatikan kedua wanita di sekitarnya itu satu persatu.
"Sini mulut lo gue selepet karet!" Adalah Siska yang lebih dulu merespon. Bersamaan dengan itu seorang karyawan perempuan menyapa Nena dengan begitu sopan, kemudian berlalu pergi setelah memberikan senyum pada Doni, membuat pemuda itu terdiam dan memperhatikan punggung wanita yang menarik perhatiannya.
"Kode itu, Don." Siska menyikut lengan pria di sebelahnya. "Samperin sono, dia duduk sendirian tuh. Kemaren bukan gue udah kasih nomornya sama lo," bujuknya.
"Anaknya cuek banget, Wa gue aja nggak dibales."
Nena menyahut. "Nggak ada kuota kali."
"Ceklis dua kok,"
"Poto profil lo kurang ganteng mungkin," Siska menanggapi.
Siska mencibir. "Iya aslinya jelek kali."
"Sembarangan!" Sembur Doni sembari menyentil kening Siska dan membuat wanita itu mengaduh.
"Apa sih, Don yang bikin lo tertarik sama tuh cewek?" Tanya Nena penasaran, matanya melirik Siska yang tampak cuek.
"Bodinya itu, beuh, proporsional banget, tinggi, langsing,––"
"Emang buaya lo, Don. Tadi aja lo bilang nggak suka cewek kurus. Omongan cowok itu emang delapan puluh persen nggak bisa konsisten sih gue rasa." Siska mengomel, membuat Doni cengengesan tidak jelas.
"Ya enggak gitu juga," sangkal Doni, kemudian pria itu menoleh pada Nena yang tampak sibuk dengan ponsel di tangannya. "Na, sebagai kaum perempuan, menurut lo gue ganteng nggak sih?"
Nena mengerutkan dahi, "kenapa nanya sama gue? Tanya tuh Siska."
Doni reflek menoleh pada Siska yang entah kenapa terbatuk-batuk saat dengan santainya meminum air berwarna di dalam gelas. "Ah, selera dia mah rendah, gue nggak percaya."
Nena tertawa, "wajar dong kalo gue nggak suka sama lo. Lo sendiri yang bilang rendah ya." Dengan santainya Nena berceloteh membuat Doni mengerutkan dahi. Dan Siska memelototi sahabat wanitanya itu.
Tidak mau ambil pusing, Doni beranjak berdiri. "Yaudah ah, gue samperin dia dulu. Doain semoga berhasil," ucapnya, kemudian pergi.
Tatapan Siska terus mengekor pada punggung Doni yang semakin menjauh menghampiri wanita pujaannya itu. "Selera gue emang rendah banget, Na. Kenapa juga gue suka sama cowok model Doni gitu," gumam Siska membuat Nena sedikit iba.
"Kenapa lo nggak jujur aja sih, lo malah biarin dia ngejar cewek lain. Apa perasaan lo nggak terluka." Sindir Nena mengutip kalimat lebay yang biasa sahabatnya itu lontarkan.
Siska berdecak sebal, namun tersenyum juga. "Gue selalu berharap setelah dia lelah buat ngejar cewek yang dia mau, dia bakalan berbalik dan beristirahat dengan cewek yang dia butuhkan. Dan gue disini bakal terus berusaha menjadi seseorang yang dia butuhkan saat lelah dan berbalik."
"Lo yang punya perasaan, kenapa hati gue yang sakit ya?" Nena reflek memegangi dadanya, sahabatnya itu yang satu nggak peka, satunya lagi pinter banget nutupin perasaan. Cocok banget sebenernya.
"Maaf, Bu Serena, dicariin tuan, ditunggu di ruangannya." Alvin menghampiri Nena yang kala itu masih asik cekikikan bersama sahabatnya.
"Eh, kenapa nggak telepon aja?" Jawab Nena.
"Nggak apa-apa, Bu. Saya sekalian mau makan siang kesini."
"Oh," Nena tampak berpikir, melirik Siska yang tampak sibuk dengan ponselnya, "eh, Al. Saya kan udah pesen makanan, sayang nggak ada yang makan, kamu mau kan gantiin saya."
Siska yang sibuk dengan benda di tangannya menoleh curiga, tatapan matanya seolah berkata, 'maksud lo?'
Nena melihat asisten khusus suaminya itu tersenyum canggung, kemudian mengusap tengkuk dan mengangguk. "Baik, Bu."
"Nanti sekalian temenin sahabat saya ngobrol ya, tenang aja udah jinak kok."
"Nena!" Siska memprotes, yang ditanggapi dengan tawa kecil sahabatnya itu. Sebelum istri bos besarnya itu beranjak pergi, Siska masih sempat menarik lengannya dan berbisik. "Lo pulang jam berapa? Lewat mana?" Ucapnya lirih.
"Kenapa?"
Siska kembali berbisik. "Mau gue begal," ancamnya, namun Nena malah tertawa dan menepuk pundak wanita itu.
Sebelum melangkah pergi, Nena berpesan serius pada Alvin. "Tolong jaga sahabat saya, dia sedang rapuh."
"Nena!"