
Nena mengatupkan kepalanya keatas meja kantin saat tengah makan siang berdua dengan Siska. "Gimana perasaan gue bisa memudar coba? Muka dia aja nongol mulu di depan gue, Sis. Hampir tiap hari dia nginep di rumah gue," tutur Nena dengan frustrasi, bukannya menanggapi, Siska malah meneriakan pesanannya pada abang tukang bakmi.
"Mie ayam satu, baksonya dua porsi ya, Bang. Buat dia nih."
Nena yang mengangkat kepalanya demi untuk mengkonfirmasi pesanan gadis itu, langsung mencubit lengan Siska gemas sampai gadis itu mengaduh. "Lo mau bikin kebaya gue nggak muat, nyuruh gue makan dua porsi bakso?" Tanyanya yang mendapat cengiran tak berdosa Siska.
"Butuh tenaga extra, Na. Buat menolak pesona si ganteng, biar lo kuat-kuat iman nantinya," ujarnya yang mendapat decakan sebal gadis yang sebentar lagi menjadi nyonya Prakoso itu.
***
Resepsi pernikahan yang semakin dekat membuat Nena jadi semakin sibuk, namun bukan hanya gadis itu, nyatanya Justin juga ikut disibukan oleh sang ibu yang menyuruhnya untuk menemani dia dan putrinya fiting baju pesta, menggantikan Bimo yang berhalangan untuk ikut.
Justin begitu terluka mendapati gadis itu tetlihat cantik menggunakan kebaya pengantin, namun semua itu bukan ditujukan untuknya.
Seolah semesta ingin menggoda kesabaran Justin yang luar biasa, pria itu diminta untuk mencoba Jas pengantin pria karena nyatanya postur tubuh keduanya tidak jauh berbeda. Dan Justin pun dengan tabahnya menuruti permintaan mereka.
"Wah ganteng banget calon suaminya, Mbak." Pemilik butik memuji Justin, Nena tersenyum dengan canggung, mengedarkan pandangannya mencari sang ibu yang pergi entah kemana.
"Saya bukan calon suaminya." Dengan gemas Justin meralat. Baginya sudah cukup ia nelangsa sendiri, tidak usah diperjelas juga dengan kata-kata semacam ini.
"Oh maaf, kirain saya Mas calon suaminya."
"Saya calon suami cadangan, siapa tahu nanti calonnya dia kabur." Justin mendapatkan cubitan di lengan dari Nena karena kalimatnya itu.
Madam pemilik butik tertawa. "Masnya bisa aja, lucu deh," ucapnya, kemudian pergi.
Justin menghela napas berat, mendudukan dirinya di sofa, bersebelahan dengan Nena yang tampak menelpon seseorang. "Ibu kemana?" Tanya Justin yang mendapatkan gelengan kepala dari Nena.
"Sebentar lagi foto prewedding, Mas. Gimana ya."
Mendengar itu Justin berdecak. "Foto prewed pun harus saya juga? Terus nanti mukanya diganti, begitu?" Ucapnya, kemudian menoleh dengan telapak tangan menyentuh dada. "Sakit, Serena," lanjutnya memelas.
Nena melengos, "Memangnya bisa kaya gitu?" Acuhnya, bersamaan dengan itu, seorang fotografer muda mendatangi mereka.
"Kalian sudah siap?" Tanyanya yang membuat Justin menoleh sinis, Nena mengerjap bingung, kemudian berdiri dan menjelaskan keadaan sebenarnya.
"Wah, sayang banget Mbak, udah dibayar soalnya, nggak bisa dibalikin," sesal sang fotografer sembari melirikkan matanya ke arah Justin yang tengah duduk menyimak obrolan keduanya. "Waktunya juga mepet nggak bisa besok-besok, kita pake model lain aja," sang fotografer kembali melirik Justin. "Masnya juga bisa, Nih. Posturnya sama, nanti bagian mukanya diedit, dijamin sempurna deh."
Nena nyaris mengumpat saat kemudian Justin berdiri dari duduknya, dari raut wajahnya yang tampak seram sekali dia tahu, mantan bos besar yang kini berperan jadi abang kembar nya itu tengah naik darah.
"Bunuh saja saya sekalian. Bunuh." Justin berucap pasrah, membuat Nena menahan napas dan si fotografer yang tidak tahu apa-apa itu mengerjap kebingungan.
***
Kabar mengenai Justin yang ternyata bukan anak kandung Mr Juan nyatanya sudah sampai terdengar oleh keluarga besar paman bibinya, dan Justin dengan santai mengatakan bahwa hal itu akan dimusyawarahkan secara kekeluargaan jika sang papa telah kembali dari luar Negri.
Di kantor Nena sendiri sudah banyak yang mengetahui hal itu, meskipun nyatanya tidak ada yang berani mengurangi rasa hormat mereka pada Justin yang jelas memiliki pengaruh besar pada kemajuan perusahaan sejak menjabat jadi pimpinan mereka.
"Nih minum," William meletakan gelas besar berisi air mineral di hadapan Justin. Pria yang berkunjung dan mengutarakan ingin menginap di apartmennya itu, dengan lesu melirik gelas kaca dan beralih pada sahabatnya.
"Tidak sekalian galonnya saja?" Sindir Justin yang membuat William menoleh pada gelas yang nyaris menyaingi gentong itu, untuk kemudian menatap sahabatnya.
"Untuk pura-pura tegar, butuh banyak minum. Karena tersenyum di atas luka itu mengakibatkan dehidrasi tingkat tinggi." Tutur William dan membuat seorang pria yang tampak terlihat hidup segan mati tak mau itu berdecak sebal, melemparkan bantal sofa ke arah dirinya.
***
Satu minggu sebelum mereka menikah, Bimo memutuskan untuk pulang ke Jogja untuk beberapa hari, katanya ada sesuatu yang harus dia selesaikan disana. Juga untuk mengabari keluarga besarnya atas pernikahan mereka ini.
"Mas, aku khawatir. Seminggu lagi kita nikah, dan kamu malah pulang ke Jogja, perasaan aku nggak enak, Mas." Tutur Nena saat Bimo berkunjung kerumahnya dan mengutarakan niatannya itu.
Bimo meremas jemari gadis itu, menyalurkan sebuah keyakinan bahwa pria itu pasti akan kembali dengan selamat. Nena masih merasa canggung mendapatkan perlakuan seperti itu, dan pandangan Bimo yang penuh cinta nyatanya tidak juga membuat perasaannya berbunga-bunga, gadis itu malah memikirkan sang kakak yang beberapa hari ini tidak pernah terlihat batang hidungnya.
Pikirannya menerka-nerka, sekarang Justin sedang dimana, apakah pria itu baik-baik saja, apakah dia sedang ada masalah, dan saat pria yang mengoceh entah apa di hadapannya itu menegur untuk keduakalinya karena Nena tampak melamun. Gadis itu meminta maaf dan mencoba fokus dengan obrolannya bersama calon suaminya itu, namun kenyataannya pertanyaan apakah Justin sudah makan malam apa belum terus berkelebat di pikirannya. Membuat gadis itu mengerang frustasi menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Tolong kendalikan pikiran aku buat fokus sama kamu, Mas Bim." Ucap Nena spontan yang membuat Bimo tergelak pelan.
"Sabar sayang, Nanti kalo kita udah nikah aku pasti bisa buat kamu fokus sama suami kamu aja."
Dan seketika candaan Bimo membuat Nena ingin menikam jantungnya sendiri menggunakan pisau dapur ibunya. Duh Gusti Pangeran.