
Pelangi mengekor langkah Gilang menuju ruan kerja Gilang, lalu ke ruang rapat, ke ruangan Gilang lagi, ke ruang rapat lagi, dan kemudian keduanya dengan didampingi oleh Toni dan andrew menuju ke salah satu restoran Jepang terkenal untuk bertemu dengan klien yang berasal dari negeri sakura.
Pelangi sudah sangat lelah ketika jam makan siang tiba, tepat setelah pertemuan selesai dan klien meninggalkan restoran dengan para rombongannya. Sekarang hanya tinggal mereka bertempat yang duduk mengelilingi meja bundar yang di atasnya penuh dengan berbagai macam makanan lezat.
Meskipun berbagai macam makanan tersaji di hadapannya, tetapi tidak ada satu pun makanan yang bisa masuk ke dalam perut Pelangi, bahkan croissant yang Gilang pesan secara spesial pun tidak. Ia merasa mual dan beberapa kali berlari menuju kamar mandi karena merasa ingin muntah. Hal itu membuat Gilang panik, apalagi Pelangi terlihat pucat sekarang. Sementara Toni dan Andrew menatap antara Gilang dan Pelangi bergantian sembari mengerutkan dahi.
Melihat tatapan aneh yang Toni dan Andrew berikan, Gilang lantas membalas tatapan itu dan bertanya. "Apa?"
"Dia tidak sedang hamil, 'kan?" tanya Andrew, blak-blakkan.
Pelangi yang baru saja menyeruput lemon hangat untuk menghilangkan rasa mual yang melanda perutnya langsung terbatuk. Ia terkejut sekali pada pertanyaan Andrew yang mengira bahwa dirinya sedang hamil. Pria yang satu itu memang selalu berbicara apa adanya.
"Apa aku terlihat seperti wanita murahan yang bisa hamil kapan saja, di mana saja dan pada siapa saja?" tanya Pelangi pada Andrew.
Andrew menaikan kedua bahunya dengan malas. "Aku hanya bertanya. Kalau tidak, ya, tidak apa-apa. Itu bagus. Jangan sampai dirimu hamil sebelum menikah."
Toni yang duduk di sebelah Andrew langsung menyikut Andrew. "Diamlah, Ndrew."
"Tidak ada salahnya menasihatinya, 'kan. Karena Gilang bisa saja lari saat diminta untuk bertanggung jawab ... aaw, aw, aw." Andrew meringis karena Gilang baru saja menendang tulang keingnya dengan kuat.
"Hati-hati kalau bicara. Aku akan dengan senang hati bertanggung jawab kalau sampai Raina hamil." Gilang berkata dengan tegas kepada Andrew, lalu beralih menatap Pelangi yang duduk di sebelahnya. "Kamu tidak sedang hamil, 'kan?"
Pelangi berang, ia kesal sekai karena baik Andrew atau pun Gilang tidak ada yang bisa menjaga mulut. "Memangnya kita pernah tidur bersama, sampai-sampai aku hamil!"
"Ya, memang pernah." Gilang menjawab dengan santai.
"Kapan?!"
"Saat pertemuan pertamakita di Hotel Mentari."
Pelangi memutar bola matanya dengan malas. "Jika menempel padamu seperti itu saja bisa membuatku hamil, aku pasti akan lebih dulu hamil sebelum kamu datang. Karena aku dan Joko pun sering bersentuhan sambil berbaring!" Pelangi kemudian bangkit berdiri dan melangkah keluar dari restoran dengan kesal diikuti oleh Gilang yang sekarang tengah kepo setengah mati.
"Katakan padaku kapan dan kenapa kamu harus berbaring dengan Joko?" teriak Gilang.
Andrew tertawa melihat tingkah Gilang, sementara Toni hanya geleng-geleng kepala.
"Bagaimana nasib Andreas Group jika CEOnya saja seperti dia." Toni mengeluh, dan mulai menyantap aneka makanan khas Jepang yang tersaji di atas meja.
Andrew terkekeh. "Nanti aku akan bertanya pada ayah, apakah dia bersedia untuk menukar jabatan Gilang dengan jabatanku."
Toni menatap Andrew dengan dahi berkerut. "Bukankah kamu sama saja. Kamu selalu datang terlambat, bahkan terkadang dalam satu bulan kamu tidak hadir di kantor. Lalu semalam pun kamu tidur dengan wanita yang bukan istrimu. Jika orang-orang sampai tahu, mereka pasti akan menyebar berita yang tidak-tidak untuk menyerang Andreas Group. Dan jika itu terjadi, maka dalam sekejap Pak Farhan akan kehilangan pengaruh dan juga wibawanya."
Andrew tertawa mendengar apa yang Toni katakan. "Semua itu tidak akan terjadi, Toni.Apa kamu lupa kalau tidak ada satu orang pun di dunia ini yang tahu tentang statusku sebagai anak kedua dari Farhan Andreas. Hanya kamu, ayah, dan Gilang yang tahu. Sehingga apa pun yang kulakukan tidak akan berpengaruh pada perusahaan."
"Exel dan Delia juga tahu." Toni menimpali, sembari menatap Andrew dengan iba. Ia lupa jika Farhan Andreas hingga sekarang masih menyembunyikan status Andrew yang sebenarnya. Tidak ada yang tahu jika Farhan Andreas memiliki dua putra, bukan hanya satu.
"Jangan tatap aku seperti itu. Aku tidak suka dikasihani. Saat aku membentuk keluarga sendiri nanti, aku tidak butuh nama ayahku di belakangku. Aku adalah aku, dan aku akan hidup bahagia dengan anak dan istriku meski tanpa pengakuan dari ayah."
"Jangan bicara begitu. Suatu hari nanti Pak Farhan pasti akan mengakui keberadaanmu di depan semua orang." Toni menepuk pundak Andrew.
"Ya, kita lihat saja."
***
Setibanya di kamar, Gilang kembali membantu Pelangi untuk duduk, membuka blazer yang Pelangi kenakan hingga sepatu yang masih menempel di kaki wanita itu.
"Sudah kubilang tidak usah."
Cup.
Gilang mendaratkan kecupan di bibir Pelangi setiap wanita itu menolak kebaikan dari Gilang. Terhitung sudah sembilan kali Gilang mendaratkan kecupan di bibir Pelangi sejak mereka kembali ke kantor dan meninggalkan Toni juga Andrew di sebuah restoran Jepang.
Saat Pelangi menolak untuk diantar pulang, saat Pelangi menolak untuk dipapah, saat Pelangi menolak untuk dipanggilkan dokter, dan saat Pelangi menolak semua kebaikan Gilang, Gilang akan mengecup bibir wanita itu. Pelangi bahkan merasa bibirnya semakin tebal beberapa senti sekarang.
"Satu kali lagi, maka akan genap sepuluh, Raina, jika sudah genap sepuluh maka aku akan melucuti pakaianmu dan memaksamu untuk bercinta denganku." Gilang mengedipkan sebelah matanya, lalu membantu Pelangi untuk berbaring.
"Apa kamu tidak merasa bersalah pada Gisel jika kamu memperlakukanku sebaik ini. Dia kekasihmu," tanya Pelangi. Ia penasaran pada jawaban yang akan Gilang berikan.
Gilang mengusap puncak kepala Pelangi dengan lembut, kemudian membungkuk agar dapat mendaratkan kecupan di kening wanita itu.
"Tidak sama sekali."
"Kamu memang playboy, Bos."
"Kamu yang paling tahu kalau aku bukanlah seorang playboy, Raina."
Pelangi menatap langsung ke dalam mata Gilang. Ia dapat melihat kerinduan di sana dan juga cinta. Untuk sesaat Pelangi terpaku, rasanya begitu bahagia karena dapat menatap Gilang dari jarak yang begitu dekat. Meskipun ingatannya masih belum juga kembali seutuhnya, tetapi Pelangi tahu bahwa ia dan Gilang saling mencintai. Tidak peduli bagaimana awal hubungan mereka, pada akhirnya mereka adalah pasangan bahagia yang saling mencintai yang kemudian terpisah karena keadaan.
Perlahan Pelangi mengulurkan tangan, menyentuh wajah Gilang yang selalu berhasil membuatnya terpesona, lalu menarik wajah itu dengan lembut ke wajahnya sendiri. Tatapan Pelangi tidak pernah berpindah dari mata Gilang, saat jarak mereka semakin dekat barulah Pelangi menatap bibir Gilang, dan kemudian ia mendaratkan kecupan di bibir pria itu, membuka mulut Gilang dengan bibirnya dan mulai menjelajahi setiap lekuk bibir pria yang dicintainya.
Gilang tentu saja menyambut kecupan itu dengan senang hati dan mulai mengikuti permainan bibir Pelangi yang menguasai bibirnya.
***
Hotel Savari 16.00
Delia menepati janji pada dirinya sendiri bahwa ia akan terus mengawasi kamar Pelangi melalui kamarnya. Tidak terhitung berapa kali sudah ia berlari ke pintu untuk mengintip, lalu duduk lagi di tepi ranjang, kemudian beberapa menit setelahnya ia akan kembali mengintip melalui pintu kamarnya ke kamar Pelangi. Barangkali saja ia melihat sesuatu yang mencurigakan. Namun, sejauh ini tidak ada yang mencurigakan.
Baru dua jam yang lalu ia melihat Gilang keluar dari kamar Pelangi dengan terburu-buru. Sekarang ia melihat Pelangi keluar dari kamar dengan mengenakan pakaian santai dan sandal kamar yang bagian bawahnya rata. Dengan penampilan seperti itu, Delia yakin bahwa Pelangi hanya ingin berjalan-jalan di sekitaran hotel. Tanpa pikir panjang, Delia segera meraih masker penutup mulut yang ia simpan di dalam tasnya, lalu berlari keluar kamar dengan cepat agar tidak kehilangan jejak Pelangi. Ia bahkan meninggalkan ponselnya.
"Tunggu, tunggu aku!" Delia berteriak saat dilihatnya pintu elevator hendak menutup.
Seorang wanita menekan tombol pada elevator agar pintu tetap dalam posisi terbuka begitu mendengar teriakan Delia yang sekarang separuh wajahnya tertutup masker.
"Trims dan maaf karena aku berteriak-teriak." ujar Delia, pada wanita yang masih menahan pintu elevator, dan betapa terkejutnya Delia saat melihat bahwa yang sedang menahan pintu bukanlah Pelangi, melainkan Gisel. Gisel mengenakan topi dan kacamata hitam, membuat wajahnya tidak terlalu terlihat. Namun, Delia tahu bahwa wanita itu memang Gisel.
Gisel mengangguk sebagai balasan atas ucapan terima kasih dan permintaan maaf yang Delia ucapkan. Sementara Pelangi yang berdiri di belakang Gisel terlihat pucat dan tidak sehat hanya tersenyum pada Delia sambil bersandar di dinding elevator yang mulai bergerak turun.
Delia mulai panik. Ia memiliki firasat buruk dan yakin sekali jika sesuatu yang buruk akan menimpa Pelangi tidak lama lagi.
"Bersiaplah Delia," batin Delia.
Bersambung ....