
Kehadiran Pelangi di tengah-tengah pesta pernikahan menarik perhatian Arya. Pelangi seolah bagai magnet yang berhasil mengalihkan perhatian Arya sesaat setelah wanita itu tiba di pesta. Wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang mungil membuat Arya ingin mendekap Pelangi dan mendudukkan wanita itu di atas pangkuannya. Memeluk Pelangi dari belakang dan mengecupi leher jenjang wanita itu hingga tanda merah tersemat di kulit Pelangi yang putih bersih.
Akan tetapi, bayangan itu untuk sementara tidak terlalu penting bagi Arya. Ada sesuatu yang lebih menyita perhatiannya dibandingkan tubuh Pelangi yang seksi dan menggoda. Sesuatu itu adalah Gilang. Gilang yang gagah, tampan dan berkharisma, yang beberapa hari lalu ia temui dalam keadaan sehat dan sempurna, kali ini terlihat berbeda.
Gilang terlihat tidak berdaya di atas kursi roda yang sedang di dorong oleh Pelangi. Pria itu tidak bisa bergerak dan tidak bisa berjalan. Hanya bibirnya yang sesekali melengkung, membentuk senyuman yang ia arahkan pada beberapa tamu undangan yang menyapa.
Arya mencondongkan tubuhnya ke Maulana yang duduk di depannya. "Lana, apa yang terjadi padanya? Beberapa hari yang lalu dia masih terlihat sehat. Kenapa tiba-tiba dia duduk di atas kursi roda?" tanya Arya, pada Maulana.
Maulana menggeleng. Ia sama saja seperti Arya. Tidak tahu menahu tentang peristiwa yang mengubah hidup Gilang untuk selamanya.
"Jika Anda saja tidak tahu menahu, apalagi aku, Pak." Maulana bersikap formal begitu mereka berada di keramaian. Sikapnya jauh berbeda saat ia dan Arya hanya berdua saja.
Arya mendengkus kesal. Tidak menyangka jika Maulana begitu tidak berguna. Informasi seperti itu saja Maulana tidak tahu. Arya memutuskan untuk terus memperhatikan Pelangi, menunggu saat di mana wanita itu hanya berdua saja dengan Gilang, karena sejak Pelangi datang hingga sekarang, wanita itu dan suaminya selalu dikelilingi oleh orang-orang, membuat Arya tidak memiliki kesempatan untuk berbicara pada keduanya.
"Jangan bilang kalau Anda ingin membicarakan hal yang satu itu pada Pak Gilang dan Pelangi," bisik Maulana di telinga Arya.
"Kenapa tidak?"
"Karena aku melarang Anda, Pak. Aku dengan tegas melarang Anda untuk mengatakan hal gila dan konyol itu pada Pelangi karena Pelangi adalah wanita yang sudah menikah."
(Visual Arya Saputra Adiguna👇)
Arya menghela napas sebelum berkata, "Lalu apa masalahnya? Lihatlah, suaminya lumpuh sekarang. Ini pertanda dari Tuhan. Dia sepertinya memang ditakdirkan untukku." Arya berujar, lalu segera bangkit berdiri ketika salah satu teman Gilang yang selalu mengekor Gilang ke mana pun pergi dari hadapan pria itu.
"Ssst, ssst, kembalilah, Pak, kembali!" Maulana berusaha untuk menghentikan Arya, tetapi percuma saja, Arya tidak menghiraukan larangan dari Maulana. Pria itu terus melangkah tanpa ragu menghampiri Gilang dan Pelangi.
"Ehem." Arya berdeham untuk menarik perhatian Gilang dan Pelangi yang terlihat asyik mengobrol dan melempar senyuman satu sama lain.
Pelangi mendongak untuk melihat siapa yang datang, dan seketika senyum di wajah cantik Pelangi menghilang saat ia melihat Arya tengah berdiri tepat di samping Gilang.
"Siapa?" tanya Gilang.
Belum lagi Pelangi menjawab, Arya membungkuk di hadapan Gilang dan menyapa Gilang dengan ramah.
"Ini aku, Pak, Gilang. Senang rasanya bisa bertemu dengan Anda lagi, dan jujur saja aku merasa terhormat karena mendapatkan undangan di hari yang membahagiakan ini." Arya mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Gilang.
Hilang mendelik, menatap uluran tangan dari Arya. "Hem, maafkan aku. Aku tidak bisa berjabat tangan denganmu. Aku menghargai niat baikmu, terima kasih," ujar Gilang.
Arya mengernyitkan dahi. "Gilang tidak bisa bergerak sama sekali," batinnya. Ia lalu menarik uluran tangannya.
"Apa yang terjadi pada Anda, Pak Gilang?" tanya Arya. "Beberapa hari yang lalu Anda terlihat baik-baik saja."
"Sampai sekarang pun suamiku masih baik-baik saja." Pelangi menimpali ucapan Arya.
Arya terlihat salah tingkah. "Ya, dia masih baik-baik saja. Maaf jika aku salah bicara."
Gilang menarik sedikit sudut bibirnya, terlihat enggan untuk menjawab pertanyaan yang Arya ajukan. Namun, tidak menjawabnya pun akan terkesan tidak sopan pada tamu.
"Aku terjatuh beberapa hari lalu, dan inilah hasilnya," jawab Gilang, sesingkat yang bisa ia lakukan.
Arya mengangguk. "Pasti tidak nyaman sekali. Semoga Anda lekas pulih dan bisa beraktivitas seperti dulu lagi."
"Ya, terima kasih, Pak Arya. Mungkin kedepannya masalah bisnis yang waktu itu sempat kita bicarakan di kafe akan diambil alih oleh Andrew dan Toni. Aku butuh istirahat total kurasa," ujar Gilang lagi.
"Oke, tidak masalah, Pak." Arya kemudian mengalihkan pandangannya ke Pelangi, membuat Pelangi seketika menunduk agar matanya tidak bertemu dengan sorot tajam Arya yang seolah dapat menelanjanginya dan membaca pikirannya.
Ketidaknyamanan Pelangi tertangkap oleh mata Gilang, membuat Gilang bertanya-tanya di dalam hati apa yang sebenarnya telah terjadi di antara Arya dan juga Pelangi. Namun, Gilang cukup bijaksana untuk tidak menanyakan hal itu pada Pelangi atau pun Arya sekarang ini. Ia tidak ingin terjadi keributan hanya gara-gara masalah sepele. Itu juga jika memang masalah yang terjadi di antara istrinya dan Arya adalah masalah yang sepele. Ia akan mencari tahu nanti.
"Ada yang ingin kukatakan pada Anda, Pak," ucap Arya setelah beberapa saat mereka terjebak dalam keheningan yang tidak nyaman. "Ini hal penting dan ada sangkut pautnya dengan keluargaku."
Saat Arya mulai berbicara, lagi-lagi Pelangi terlihat tidak nyaman dan ketakutan. Melihat hal itu, Gilang segera memotong perkataan Arya.
"Maaf sebelumnya, tetapi aku merasa kurang enak badan, Pak Arya. Mungkin kita bisa bicara lain kali. Aku ingin beristirahat sekarang, maaf," ujar Gilang, kemudian ia menatap Pelangi dan berkata, "Sayang, bisa tolong antar aku masuk ke dalam. Aku sedikit merasa pusing."
Pelangi terperanjat ketika Gilang berbicara padanya, seolah sejak tadi hanya tubuhnya yang ada di tempat, sementara pikirannya entah ada di belahan dunia bagian mana.
"Apa, Sayang?" tanya Pelangi.
Gilang tersenyum untuk menenangkan Pelangi. "Aku bilang, ayo antar aku ke dalam. Aku sedikit pusing."
"Oh, eh, Baiklah. Biar kuantar." Pelangi kemudian bangkit berdiri dan segera mendorong kursi roda Gilang menjauh dari Arya dengan cepat. Ia merasa lega karena tidak harus berlama-lama berada di sekitar Arya yang aneh.
Arya mendesah kecewa, sembari memandang punggung Pelangi yang bergerak menjauh darinya. "Tidak hari ini, bisa besok, Sayangku," gumam Arya, lalu berjalan kembali ke tempat duduknya, di mana terdapat Maulana yang menunggu sambil memelototinya.
***
Sesampainya di dalam rumah, Pelangi terus mendorong kursi roda Gilang hingga mereka tiba di dalam kamar. Semenjak Gilang tidak lagi dapat berjalan, kamar tidur Gilang dan Pelangi memang berpindah dari lantai dua ke lantai satu, hingga Pelangi dan Gilang tidak harus repot-repot melewati tangga yang pasti akan sulit untuk mereka lalui.
Pelangi menutup pintu ketika akhirnya ia tiba di dalam kamar bersama dengan Gilang. Kemudian ia membantu Gilang untuk berpindah ke atas ranjang. Pelangi melakukannya dengan hati-hati, takut jika ada bagian tubuh Gilang yang sakit karena tindakannya.
"Aku baik-baik saja sebenarnya. Aku hanya penasaran apa yang terjadi padamu, itulah sebabnya aku bilang kalau aku sakit kepala."
Dahi Pelangi mengernyit. Ia masih tidak mengerti akan perkataan Gilang. "Maksudmu, kamu berpura-pura sakit kepala? Tapi kenapa?"
"Kamu terlihat gugup saat Arya bergabung dengan kita, Sayangku. Itulah sebabnya aku membawamu pergi dari hadapannya. Dan jujur saja aku merasa penasaran dan juga bingung kenapa kamu terlihat gugup saat ada dia."
"Aku tidak gugup. Aku hanya ... aku--"
"Jangan berbohong padaku, Pelangi. Aku mengenalmu sudah lama. Aku tahu jika kamu merasa tidak nyaman, merasa gugup dan juga merasa ketakutan. Jadi jangan coba sembunyikan apa pun dariku. Aku mohon katakan padaku apa yang terjadi."
Pelangi menjadi pucat. Tangannya gemetar dan pandangannya menjadi tidak fokus. Ia tidak tahu apakah benar jika ia memberitahu Gilang apa yang terjadi. Apakah benar jika ia mengatakan pada Gilang niat gila Arya yang ingin tidur dengannya.
"Ayo, katakan," desak Gilang.
Pelangi yang sejak yadi berdiri di samping ranjang Gilang, kini memilih untuk duduk di sebelah Gilang dan menggenggam tangan pria itu.
"Berjanjilah padaku, kamu tidak akan marah padaku," pinta Pelangi.
"Ya, aku tidak akan marah padamu." Gilang berujar dengan tidak sabar.
"Beberapa hari yang lalu, Arya datang ke kantormu. Saat itu dia menunggu di lobi. Aku pikir dia ingin menemuimu, tapi ternyata tidak. Dia datang karena dia ingin menemuiku dan bicara padaku."
Gilang mendengkus kesal. "Sudah kuduga sejak kita bertemu dengannya di kafe siang itu kalau dia suka padamu. Tapi kurasa dia akan berhenti mengejarmu sekarang karena dia tahu kalau kamu adalah istriku."
Pelangi menggeleng. "Tidak, Gil, dia bahkan sudah tahu kalau aku ini istrimu sejak dia datang ke kantor. Aku rasa dia mencari tahu entah di mana dan bertanya entah pada siapa."
Wajah Gilang terlihat cemberut sekarang. "Dia sudah tahu, tapi dia tetap datang? Wah, kurang ajar sekali. Lalu, apa yang dia katakan saat dia bertemu denganmu? Dia mengajakmu menikah? Atau dia mengajakmu menikah?" tanya Gilang, dengan senyum sinis tersungging di wajahnya.
Pelangi diam sejenak, kemudian menarik napas dalam-dalam sebelum ia melanjutkan. "Arya bilang padaku kalau dia ingin agar aku mengandung anak untuknya."
"Apa?"
"Ya, itulah yang dia katakan. Benar apa yang kamu katakan saat kita pulang dari kafe, kalau dia sedang mencari seorang wanita yang dapat memberikannya keturunan tanpa ikatan pernikahan. Arya bilang padaku kalau dia akan meminta izin darimu."
Gilang tertawa. Suara tawanya terdengar mengerikan. "Kenapa baru cerita sekarang? Sekarang aku tidak bisa menghajarnya, Pelangi. Dia harus dihajar sampai babak belur, kalau perlu sampai mati. Berani sekali dia berkata seperti itu pada istriku."
"Sebenarnya aku ingin mengatakan padamu saat kamu tiba dari kantor. Tapi saat itu kamu baru saja mengalami kecelakaan. Kakimu bengkak dan sakit, mana mungkin aku menceritakan padamu saat itu." Pelangi mulai meneteskan air mata. "Jujur saja, aku merasa terhina. Dia pikir aku ini wanita murahan atau apa."
Gilang luar biasa marah. Ingin sekali saat ini juga ia menghampiri Arya yang masih ada di halaman depan dan menghajar pria itu di depan banyak orang. Namun, keadaannya membuatnya tidak bisa melakukan banyak hal.
"Katakan padaku, Pelangi, bagaimana caranya agar aku bisa menenangkanmu, mengusap air matamu dan memelukmu?" tanya Gilang, ia sungguh merasa tidak berdaya saat ini.
Mendengar ucapan Gilang, Pelangi segera mendekatkan tubuhnya pada tubuh Gilang, lalu ia memeluk pria itu dengan erat, dan mengusap kedua pipinya yang basah pada pundak Gilang.
"Begini caranya. Jika kamu ingin memelukku, katakan saja padaku. Aku akan datang dan membuatmu bisa memelukku."
Gilang berusaha untuk tidak menangis. "Oke, walaupun sebenarnya kamu yang memelukku sekarang."
Pelangi menenggelamkan wajahnya semakin dalam ke dada Gilang. "Apa bedanya. Toh, tetap saja tubuh kita saling menempel sekarang."
Gilang tertawa. Ia bersyukur karena memiliki istri seperti Pelangi yang selalu berusaha untuk menghiburnya. Pelangi memang istri yang sangat istimewa.
"Jadi, tindakan apa yang selanjutnya akan kamu ambil atas tawaran gila Arya?" tanya Gilang.
"Tentu saja aku menolak. Memangnya aku harus menanggapinya seperti apa." Pelangi menatap wajah Gilang, sembari menyentuh alis hitam dan tebal pria itu.
"Tapi kurasa dia bukan tipe pria yang mudah menyerah. Dia juga memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi, karena dia pede sekali ingin meminta izin padaku untuk meniduri istriku. Apa dia pikir jika meminta izin padaku lantas aku akan mengizinkannya."
Pelangi setuju akan ucapan Gilang. Arya memang terlihat terlalu percaya diri dan tidak tahu diri. Manusia yang memiliki kepribadian seperti Arya pastilah tidak akan menyerah begitu saja.
"Aku tahu dia tidak akan menyerah begitu saja. Karena saat itu dia pun mengatakan padaku bahwa dia akan membuatmu tidak punya pilihan. Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi aku tahu jika dia mengatakan itu untuk mengancamku dan juga mengancammu," ujar Pelangi, kali ini jemarinya yang sejak tadi mengusap alis Gilang, telah berpindah ke bibir Gilang.
Gilang diam saja. Ia tahu jika Pelangi menginginkan sesuatu darinya. Terlebih lagi sudah beberapa hari ini mereka tidak bermesraan. Namun, mana bisa sekarang ini Gilang memberikan apa yang Pelangi inginkan. Dan kenyataan itu menghantam kesadaran Gilang begitu kuat, hingga ia merasa dadanya untuk kesekian kalinya kembali hancur berkeping-keping. Ia baru menyadari bahwa ia tidak dapat memberikan nafkah batin untuk istrinya.
"Sayang," ujar Gilang.
"Hem." Pelangi menjawab dengan gumaman.
"Kita tidak akan bisa bercin_ta lagi mulai sekarang."
"Ya, aku tahu. Dokter sudah mengatakan padaku segalanya. Termasuk hal yang satu itu."
"Maafkan aku," ujar Gilang, dengan kedua mata yang mulai berair.
"Jangan minta maaf, Gil, jangan selalu minta maaf padaku atas keadaan yang terjadi di luar kendali kita. Lagi pula, aku masih bisa menciummu sesuka hatiku. Aku rasa suatu saat nanti aku akan menemukan cara yang menyenangkan untuk kita berdua." Pelangi tersenyum nakal, sembari melepas satu per satu kancing kemeja Gilang, lalu meraba kulit Gilang yang lembut, sementara bibirnya mulai ******* bibir Gilang dengan rakus.
Pelangi menumpahkan segala rasa khawatirnya dengan cara paling menyenangkan yang bisa ia lakukan. Yaitu mencumbu Gilang, walaupun Pelangi tahu, saat ini suaminya tidak merasakan apa pun. Ia tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Jika dulu Gilang yang selalu melindunginya, sekarang dirinyalah yang harus melindungi Gilang. Tidak peduli apa yang akan terjadi, tidak boleh ada satu orang pun yang menyakiti Gilang.
Bersambung.