
Amara membeku, ia tidak dapat mengatakan apa pun sekarang. Lidahnya kelu dan ia merasakan jantungnya seperti sedang ditabuh oleh ratusan penabuh gendang.
Satu tahun sudah ia pergi dan berusaha untuk melupakan seluruh hal yang berhubungan dengan keluarga Andreas. Bahkan Toni sekalipun yang tidak memiliki hubungan darah dengan Farhan Andreas. Ia menyukai Toni dan mencintai pria itu, hanya saja sikap Toni yang selalu memihak keluarga Andreas membuatnya kesal dan sakit hati hingga ia memasukan nama Toni ke dalam daftar hitam orang-orang beracun yang harus ia hindari dan ia lupakan.
Sekarang sosok itu sedang berdiri di hadapannya. Menatapnya dengan tatapan sendu yang menghipnotisnya dengan mudah. Amara seperti lupa pada segalanya. Pada Gilang dan juga kemarahan yang sejak tadi bu ingin ia luapkan pada Gilang, yang ada di matanya saat ini hanya Toni, seolah dunia hanyalah miliknya dan Toni saja.
Amara membuang muka, berusaha menghindari tatapan Toni yang dapat membuatnya lupa diri.
Toni sendiri segera masuk lebih jauh ke dalam kamar Gilang dan berhenti tepat di hadapan Amara. "Aku ingin bicara padamu," ujar Toni tanpa basa-basi.
Amara memasang tampang kecewa yang membuat Toni merasa bersalah dan tidak nyaman. "Setidaknya sapa dan tanya kabarku lebih dulu. Aku rasa hal itu lebih sopan." Amara berkomentar.
Kedua pipi Toni memerah karena malu. sebenarnya ia ingin menyapa Amara dengan pantas. Menanyakan kabar wanita itu dan jika bisa ia ingin mendekap Amara. Bagaimana pun juga, percaya atau tidak Amara adalah cinta pertama Toni, dan sempat kehilangan sosok Amara yang merupakan cinta pertama dalam hidupnya merupakan cobaan terberat yang pernah Toni rasakan. Namun, dedikasinya yang tinggi dalam melakukan pekerjaan membuatnya tidak memperlihatkan semua luka dan duka yang ada di dalam hatinya. Ia tetap saja setia mendampingi Gilang dan mengikuti apa pun perintah Farhan Andreas, hingga duka dan rasa sepi di hatinya berangsur menghilang.
"Ayolah, Amara, aku ingin bicara sebentar." Toni meraih pengelangan Amara dan menarik tangan wanita itu agar keluar dari dalam kamar Gilang.
Amara meronta, berusaha melepaskan genggaman tangan Toni yang masih menggenggam tangannya. Namun, percuma saja. Toni jauh lebih kuat daripada dirinya.
"Lepaskan aku, Toni, aku tahu apa yang ingin kamu bicarakan padaku. Kamu pasti ingin agar aku tidak mengatakan yang sebenarnya pada Gilang. Kamu pasti ingin agar aku diam saja seperti satu tahun yang lalu, 'kan! Dasar tidak punya otak!" Amara terus mengomel, hingga mereka memasuki sebuah kamar yang berukuran lebih kecil dan lebih sederhana dari kamar Gilang. Meskipun terlihat kecil dan sederhana, kamar itu tetap terlihat berkelas, elegan dan nyaman untuk didiami.
"Sudah selesai mengomelnya?" tanya Toni, sesaat setelah ia menutup pintu kamar.
Amara mengibaskan rambut panjangnya yang berantakan karena terus meronta tadi, kemudian ia mengembuskan napas dwngan kasar dan melempar tatapan kesal ke Toni yang berdiri di hadapannya. "Keluarkan aku dari sini sebelum aku berteriak dan ...."
Cup.
Amara membeku untuk yang kedua kalinya. Pertama saat di kamar Gilang tadi, dan sekarang. Ia begitu terkejut karena Toni tiba-tiba mendaratkan kecupan di bibirnya. Bukan kecupan singkat tetapi kecupan dalam, mesra dan sedikit basah.
Amara membiarkan Toni menjelajahi bibirnya untuk sementara, ia sendiri menutup kedua matanya agar dapat merasakan setiap sentuhan dan kehangatan bibir Toni di bibirnya.
perlahan, tangan Toni menyentuh punggung Amara, menarik tubuh wanita itu agar lebih dekat ke arahnya dan mengelus punggungnya dengan lembut.
Setelah beberapa saat, Toni akhirnya menjauhkan bibirnya dari bibir Amara. "Bagaimna kabarmu, Amara? Aku merindukanmu," ujar Toni, sembari menempelkan dahinya pada dahi amara.
Amara menjauh dari Toni dan kemudian ia menatap pria itu dengan tajam. "Aku harus bicara pada Gilang saat ini juga. tidak ada waktu bagiku untuk membahas tentang kita."
Toni mengusap wajahnya dengan kasar lalu berjalan menuju ranjang dan duduk di atasnya. "Kemarilah. Kita harus bicara tentang kita. Sudah terlau lama aku mengunggumu, Amara." Toni menepuk ruang kosong yang ada di sampingnya."
Amara tentu saja tergoda. Ingin sekaki ia melempar diri ke dalam pelukan Toni dan menuruti semua apa yang pria itu katakan. Bahkan melihat Toni duduk di atas ranjang begitu saja sudah membuatnya membayangkan hal yang tidak-tidak. Namun, Amara masih memiliki akal sehat dan kesadaran, hingga ia mampu bertahan dari godaan yang begitu menarik dirinya.
"Tidak, terima kasih." Amara kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu dengan cepat. Karena jika tetap di sana, ia takut akan mulai melakukan hal gila, misalnya menghampiri Toni dan duduk di atas pangkuan pria tampan itu.
Akan tetapi, Toni lebih cepat dari Amara. Toni menghampiri Amara dan menggendong wanita itu, kemudian membaringkannya di ranjang. "Sudah kubilang, aku sudah terlalu lama menunggumu."
Detik berikutnya Amara menutup mata, rasanya pasrah pada keinginan Toni lebih masuk akal saat ini, daripada harus menolak dan berlari menjauh. Toh, ia juga sangat menginginkan Toni.
***
Pelangi mondar-mandir di dalam kamarnya dengan gelisah. Ingin rasanya ia menghampiri Gilang dan melihat bagaimana keadaan pria itu. Akan tetapi, ia tahu bahwa sangat tidak sopan jika dirinya yang seorang wanita datang ke kamar seorang pria tanpa diminta. Apalagi pria itu adalah seorang atasan di kantor pusat tempatnya bekerja sekarang.
Pelangi menghela napas, lalu memutuskan untuk memulai pekerjaannya di halaman samping seperti biasa.
Di dalam perjalanan, ia beberapa kali bertemu dengan Tito yang terlihat sibuk mondar-mandir. Setiap bertemu dengannya, Tito selalu menghentikan langkah dan menatapnya dengan aneh, seolah ada yang ingin pria tua itu sampaikan padanya.
Saat berpapasan untuk yang kesekian kali di teras, Tito akhirnya mengadang langkah Pelangi. Kedua mata pria itu berair, dan tanpa ragu ia megeluarkan ponsel dari dalam saku celananya dan memperlihatkan ponsel itu pada Pelangi.
"Namanya Pelangi. Aku tidak tahu pantaskah aku memberitahumu hal ini atau tidak. Tapi dia adalah istri sah Pak Gilang." setelah mengatakan itu, Tito mengambil ponselnya dari tangan pelangi, kemudian ia berlalu pergi dari hadapan Pelangi. Menginggalkan Pelangi yang tiba-tiba saja menangis tanpa sebab.
Pelangi melakukan pekerjaannya dengan tidak bersemangat, padahal cuaca yang mendung kali ini sngat bagus untuk dijadikan momentum. Seharusnya Pelangi bisa lebih memperluas area yang harus dibersihkannya, karena matahari memang sedang tidak terik, sehingga akan lebih mudah melakukan pekerjaan. Namun, potret seorang wanita di ponsel Tito tadi sangat mengganggunya. Di dalam kepalanya sejak tadi selalu muncul pertanyaan apakah ia memang adalah istri Gilang? Jika memang iya, kenapa Gilang tidak ingat padanya? Apa yang sebenarnya terjadi?
Pelangi merebahkan tubuhnya di atas rerumputan kering dan menutupi wajahnya dengan topi yang ia kenakan.
Sesaat kemudian ia merasakan ada yang ikut berbaring di sebelahnya. Pasti Alia, batin Pelangi.
"Alia, apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Pelangi. Saat Alia tidak menjawab, Pelangi melanjutkan. "Aku merasa sedih sekali hari ini. Entah kenapa rasanya aku ingin menangis terus."
"Kalau begitu menangislah, biar aku sediakan pundak untukmu."
Pelangi terkejut. Ia segera bangkit dari posisinya dan mendapati Gilang di sebelahnya sedang berbaring miring sembari menyangga kepala dengan sebelah tangannya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Pelangi.
"Aku, seperti yang kamu lihat, sedang mengawasimu bekerja. Dan dengan terpaksa kukatakan padamu bahwa aku akan memotong upahmu karena kamu hanya tiduran di luar sini."
Pelangi tersenyum melihat tingkah Gilang. "Sepertinya kamu sudah sehat. Syukurlah."
Gilang bangkit untuk duduk dan menatap Pelangi lekat-lekat. "Kamu terlihat bahagia. Apa kamu bahagia saat melihatku sekarang?"
Pelangi mengangguk. "Tentu, aku senang sekali saat kamu terlihat seoerti ini. Saat kamu kesakitan di ujung jalan sana tadi aku sangat khawatir. Aku takut kalau kamu terjatuh ke jurang dan meninggal."
Gilang tertawa. "Kita baru kenal lebih kurang dua minggu, dan apa kamu benar-benar akan sesedih itu jika aku jatuh ke jurang dan meninggal?"
"Pertanyaan macam apa itu?"
Pelangi menatap langsung ke dalam mata Gilang kali ini. "Ya, aku pasti akan sangat sedih jika kamu terjatuh ke jurang dan neninggal."
Gilang terharu, kedua matanya bahkan berair tanpa sebab. "Aku bahagia mendengarnya."
Pelangi mengangguk, kemudian melanjutkan, "Karena jika kamu meninggal, maka siapa yang akan menggajiku." Pelangi tertawa terbahak-bahak.
"Dasar mata duitan," ujar Gilang. Kemudian kembali berkata. "Kamu benar-benar siap untuk menjadi asistenku?"
Pelangi mengangguk. "Aku harus menabung uang sebanyak mungkin agar bisa membelikan rumah untuk ibuku."
"Ibumu?" Dahi Gilang mengernyit.
"Ya, ibuku. Dia sudah tua, tapi masih saja tinggal di rumah yang sempit yang hampir runtuh. Memiliki anak sepertiku tidak menguntungkan sekali bagi ibu, nyatanya di usia yang setua ini aku belum bisa memberikan apa pun padanya."
"Kalau begitu, bersiaplah untuk berangkat ke kota besok. Pekerjaan di sini sudah selesai, tinggal kantor cabang yang akan menyelesaikan sisanya. Aku akan memberimu gaji yang besar."
"Secepat ini?! Tapi aku belum siap. Aku bahkan belum mempersiapkan bekal perjalanan dan juga pamit dengan ibu."
Gilang mendekat, hingga hampir tidak ada jarak antara wajahnya dan wajah Pelangi. "Aku yang akan memenuhi semua kebutuhanmu. Semua yang kamu inginkan dan kamu butuhkan akan aku sediakan. Dan besok aku akan mengantarmu ke rumahmu untuk berpamitan dengan ibumu."
Pelangi mengerjap. "Kamu baik sekali."
Gilang tersenyum. "Tidak pada semua orang. Hanya padamu, Raina."
***
Malam telah larut ketika terdengar suara ketukan di pintu kamar Pelangi. Pelangi dan Raina yang sejak tadi asyik bergosip segera melompat dari atas kasur dan berjalan berdampingan ke arah pintu, kemudian membukanya.
"Aku dapat informasinya. Semuanyaaaa!" Joko terlihat bersemangat, ia segera masuk ke dalam kamar, menutup pintu dan mengunci pintu itu agar tidak ada orang yang bisa masuk seenaknya.
Alia segera menarik lengan Joko ke tengah ruangan dan meminta pria itu untuk duduk, sementara ia dan pelangi juga duduk berdampingan di hadapan Joko.
"Informasi apa saja yang kamu dapat?" tanya Pelangi, yang terlihat penasaran dan juga gugup sekaligus.
"Macam-macam. Dan Pelangi, jangan terkejut dan jantungan nanti, ya."
"Pelangi," gumam Raina.
"Ya, aku yakin seratus persen kalau kamu adalah Pelangi. Istri dari Gilang Andreas yang terjatuh ke jurang satu tahun yang lalu. Beritanya memang tidak besar, karena media dilarang menggembar-gemborkan berita ini. Tapi tetap saja selalu ada celah untuk mengetahui semua berita menyedihkan ini." Joko meletakkan sebuah majalah bisnis keluaran November 2022. Di sampul depan, terlihat potret seorang pria tampan mengenakan jas hitam yang tidak lain adalah Gilang andreas, dan terdapat tulisan yang ditulis dengan huruf kapilat tebal dan bercetak miring di atas potret tersebut.
"KECELAKAAN DAN HILANGNYA ISTRI GILANG ANDREAS"
"Majalah ini telah ditarik dan dilarang edar, tapi ada seseorang yang masih menyimpannya. Coba kamu buka halaman pertama hingga halaman lima belas. Semua mengisahkan tentang Pak Gilang dan istrinya saja."
ANDREAS GROUP BERPINDAH TANGAN.
ANDREAS GROUP BANGKRUT.
FARHAN ANDREAS DIRAWAT DI RUMAH SAKIT DI LUAR NEGERI.
KECELAKAAN YANG MENIMPA MANTAN DIREKTUR ANDREAS GROUP.
ISTRI GILANG ANDREAS MENGHILANG.
KEMANAKAH SOSOK PELANGI ANDREAS YANG PERIANG.
ISTRINYA MENGHILANG DALAM KEADAAN MENGANDUNG ENAM BULAN.
GILANG ANDREAS LUPA INGATAN!
Pelangi menjatuhkan majalah yang ia pegang setelah membolak-balik halamannya. Ia terisak dan terlihat kebingungan. Selama ini ia tidak mengingat apa pun. Tidak ada masa lalu yang terlintas di dalam ingatannya, sehingga mengetahui fakta bahwa ia adalah seorang istri dari pria yang selama dua minggu ini selalu ada di sampingnya membuatnya terkejut setengah mati.
Alia menangis dan memeluk Pelangi. "Sungguh luar biasa kuasa Tuhan, sungguh luar biasa. Kalian dipertemukan di sini dengan cara yang begitu unik. Lihatlah foto-foto di majalah itu, Raina, kalian berdua terlihat bahagia. Kamu cantik sekali walaupun perutmu besar." Alia kembali memeluk Pelangi.
Pelangi menatap majalah yang masih terbuka di hadapannya, memperlihatkan potret dirinya dan Gilang dalam sebuah acara dengan kepala berita berjudul,
MENANTI KELAHIRAN CUCU PERTAMA KELUARGA ANDREAS.
Joko menepuk pundak Pelangi untuk menguatkan wanita itu. "Apa kamu mau tahu bagaimana kamu bisa terjatuh ke jurang?" tanya Joko.
Alia menjauhkan tubuhnya dari tubuh Pelangi lalu mengangguk antusias, sementara Pelangi diam saja. Ia merasa tidak siap untuk mendengar apa yang sebenarnya terjadi. Jika ia terjatuh ke jurang itu berarti ada yang sengaja membunuhnya, mengingat dirinya adalah menantu dari keluarga terpandang. Bukankah permainan bisnis terkadang terlalu kejam dan tidak segan-segan melibatkan nyawa juga.
"Mau tahu tidak?" tanya Joko lagi.
Kali ini Pelangi mengangguk. Lebih baik tahu sekarang daripada tidak sama sekali.
"Keterangan ini tidak ada di majalah atau chanel berita mana pun. Aku mendapatkannya secara eksklusif dari sumber yang dapat dipercaya." Joko menghentikan ucapannya, lalu berdeham dan melanjutkan. "Pelangi Aulia Andreas, adalah istri dari Gilang Andreas yang menikah karena perjodohan yang Farhan lakukan. Sebenarnya Gilang telah memiliki kekasih bernama Gisela, seorang model yang telah berpacaran dengan Gilang selama lima tahun. Nah, dari kabar yang kuterima, Gisela sudah sering melakukan percobaan pembunuhan pada Pelangi karena dendam dan sakit hati. Namun, selalu gagal." Joko mengeluarkan satu majalah lagi, majalah bisnis keluaran bulan lalu. "Lihatlah," Joko menyerahkan majalah itu pada Pelangi setelah memilih halaman tertentu.
CEO MUDA DAN TAMPAN ANDREAS GROUP AKAN MEMPERSUNTING GISELA AWAL TAHUN DEPAN.
bersambung ....