OH MY BOSS

OH MY BOSS
CINTA PERTAMA SULIT DILUPA



Semudah itu bagi Delia untuk membodohi seorang sopir yang tengah mengantarnya. Ya, hanya dengan menyebutkan ia ingin menemui Gisel, maka si sopir segera mengantarkan Delia ke tempat tujuan tanpa banyak bertanya. Mungkin karena sopir itu mengira bahwa Delia telah mendapat izin dari Andrew atau Farhan.


Setibanya di lapas, Delia segera meminta izin untuk bertemu dengan Gisel. Petugas meminta Delia untuk menunggu sejenak sebelum mengizinkan Delia bertemu dengan Gisel.


Delia menanti dengan perasaan gelisah. Ia cemas memikirkan apakah yang dilakukannya ini tidak akan membawa masalah pada dirinya kelak. Namun, ia segera menepikan rasa khawatirnya. Toh, yang dilakukannya bukanlah sebuah kejahatan. Ia hanya mengunjungi dan ingin tahu bagaimana keadaan Gisel sekarang. Gisel adalah temannya, sahabat, saudara. Mana mungkin ia mengabaikan Gisel begitu saja. Apa pun kesalahan yang telah dilakukan oleh wanita itu ia tidak boleh mengabaikan Gisel dan membuat Gisel merasa tidak lagi disayangi.


Beberapa saat kemudian petugas itu kembali menghampiri Delia dan mengatakan bahwa ia diperbolehkan untuk bertemu dengan Gisel.


Delia mengangguk, lalu mengikuti langkah petugas yang menuntunnya menuju sebuah ruangan berukuran sedang di mana Gisel juga berada di ruangan itu.


"Hai, Sel," sapa Delia, pada seorang wanita yang duduk dengan kepala menunduk di sebuah kursi dan kedua tangan diborgol.


Gisel mengangkat kepalanya. Wajah cantik yang dulu selalu menampakkan senyum manis itu kini sungguh jauh berbeda. Gisel terlihat sangat kurus, kedua matanya cekung dengan lingkar hitam yang lumayan tebal di bawahnya. Kulit wajahnya juga sepucat mayat dan tidak ada senyum yang menghiasi wajah tirusnya.


Melihat keadaan Gisel, Delia merasa iba. Bagaimanapun juga ia yang paling tahu seperti apa kecantikan Gisel sejak mereka masih kecil. Gisel selalu unggul di segala bidang, termasuk kecantikan dan keanggunan. Tidak heran jika saat mereka telah tumbuh dewasa Gisel dengan mudah masuk ke dunia modeling yang kemudian membesarkan namanya. Selain cantik, Gisel juga sangat periang. Wanita itu tidak pernah terlihat bersedih, walaupun memang Delia akui bahwa Gisel memang sedikit sombong dan angkuh.


"Untuk apa kamu kemari?" tanya Gisel. Ia tidak suka melihat Delia yang kembali datang untuk menemuinya. Bagi Gisel, Delia adalah seorang pengkhianat, karena berteman dan menjalin hubungan baik dengan keluarga Andreas yang merupakan musuhnya. Padahal sudah jelas-jelas bahwa kematian Exel disebabkan oleh Pelangi. Jika saja Exel tidak begitu peduli pada Pelangi, pasti Exel masih hidup hingga sekerang.


"Aku hanya ingin menemuimu. Apa kamu sedang tidak sehat, Sel? Kamu kelihatan tidak baik-baik saja," tanya Delia, sembari duduk di kursi yang telah disediakan.


Gisel tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Delia, kemudian ia menatap Delia dengan tatapan sinis. "Pertanyaanmu itu tidak berbobot sama sekali, Delia. Kamu lihat saja tempat ini, apa menurutmu aku akan sehat jika tinggal di tempat yang seperti ini? Tidak, 'kan? Dan mana mungkin aku baik-baik saja. Aku sama sekali tidak baik-baik saja! Semua karena si Pelangi sialan itu."


Delia merasa bersalah karena telah mengajukan pertanyaan seperti itu pada Gisel. Bukannya menjawab dengan baik dan merasa diperhatikan, Gisel malah tersinggung sekarang.


"Maafkan aku," ujar Delia


Gisel menghela napas panjang begitu mendengar permintaan maaf dari Delia. Sejak dulu Delia memang selalu meminta maaf, kalimat itu begitu mudah keluar dari bibir Delia, yang bagi Gisel malah membuat Delia terlihat lemah dan tidak punya harga diri. Sedikit-sedikit meminta maaf. Padahal dirinya belum tentu bersalah.


"Jadi, apa kamu masih berhubungan baik dengan keluarga Andreas?" tanya Gisel.


Delia mengangguk. "Ya, aku tinggal dengan mereka."


"Hah! Apa katamu?" Gisel berang. Mengetahui bahwa Delia berteman dengan Pelangi dan Amara saja mampu membuat darahnya mendidih, apalagi mengetahui kebenaran bahwa sahabat masa kecilnya tinggal dengan keluarga yang paling ia benci di dunia ini.


"Aku istri Andrew sekarang dan aku sedang mengandung."


Nah, sekarang Gisel tidak bisa berkata-kata. Marah dan memaki saja rasanya tidak cukup bagi Gisel untuk mengungkapkan kekecewaannya pada Delia. Ia pikir Delia tidak jadi menikah dengan Andrew setelah ia meracuni pikiran Delia saat terakhir kali sahabatnya itu datang berkunjung, tetapi dugaannya ternyata salah. Sahabatnya itu tetap saja menikah dengan Andrew dan sekarang malah tengah mengandung anak dari pria menyebalkan seperti Andrew Andreas.


"Pergi dari sini, Del, dan jangan pernah kembali. Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi hingga hari kiamat tiba, dan kuharap di akhirat kelak kita juga tidak bertemu!" Gisel membentak Delia, membuat Delia terkejut.


"Sel, jangan begini. Aku sungguh tidak ingin hubungan kita berakhir. Walaupun kamu berada di penjara, aku akan lebih sering mengunjungimu hingga saat kamu bebas nanti, aku ingin hubungan kita membaik seperti dulu. Aku sungguh berharap saat keluar dari penjara nanti, kamu akan menjadi pribadi yang lebih baik dan--"


"Apa maksud ucapanmu, hah? Apa kamu pikir selama ini aku tidak baik? Aku selama ini jahat dan keluarga Andreas yang baik begitu?" Gisel berteriak. Ia terlihat marah dan tidak terima atas perkataan Delia yang melukai hatinya. "Aku tidak jahat, Del, sama sekali tidak. Merekalah yang jahat padaku. Ayah Gilang menjodohkan Gilang dengan wanita lain, padahal Gilang adalah kekasihku, dan wanita sialan itu menerima perjodohan yang diatur ayah Gilang, padahal wanita itu tahu kalau Gilang sudah memiliki kekasih. Wanita itu merebut Gilang dariku. Aku yang terluka. Kenapa jadi aku yang jahat?!" kedua mata Gisel mulai berair sekarang. Mengingat semua kejadian yang menimpanya membuat kesedihan di dalam hatinya menguar begitu saja, bagai gunung api yang meletus, hati Gisel memuntahkan segala rasa sakit dan amarah di dalam hatinya


Delia menunduk. Kedatangannya sama sekali tidak bermaksud untuk menyakiti hati Gisel dan membuat wanita itu bersedih, tetapi yang terjadi malah sebaliknya.


"Maafkan aku. Aku hanya ingin setelah semua ini berakhir kita bisa menjalani kehidupan yang normal, itu saja. Apalagi sebentar lagi aku akan memeliki anak, aku ingin kamu menjadi bibi yang baik untuk anakku. Kita besar bersama, Sel, hanya kamu keluarga yang kupunya saat ini. Aku ingin semuanya kembali normal. Aku ingin saat anakku lahir nanti, ayahnya tidak harus memusingkan hal lain yang berhubungan dengan seorang penjahat. Kamu harus berubah, Sel," ujar Delia, laku melanjutkan setelah ia mengatur napas sejenak. "Apa kamu sudah tahu kalau dua rekanmu sudah tertangkap dan salah satu dari mereka memiliki bukti video yang mungkin akan memberatkan hukumanmu."


Dahi Gisel mengernyit begitu mendengar perkataan Delia, karena setahunya ia hanya memiliki satu rekan lagi yang belum tertangkap yaitu Surya. "Dua rekanku?"


Delia mengangguk. "Ya, Alex dan Surya. Alex memiliki rekaman video saat kamu menembaknya berulang kali."


Wajah Gisel menegang dan seketika berubah menjadi semakin pucat. "Alex? Dia sudah mati. Mana mungkin dia hidup kembali. Kamu jangan mengada-ngada, Delia."


"Tidak, Sel, dia masih hidup. Andrew dan Toni memergoki mereka di depan rumah Ayah Farhan. Aku rasa Alex sudah lama memata-matai rumah Ayah Farhan. Aku menguping pembicaraan Andrew dan Alex juga Surya di gudang semalam. Alex mengakui bahwa dia sebenarnya tidak mati hari itu. Dia selamat dan memilih untuk memalsukan kematiannya. Sore ini Andrew akan menyerahkan kedua penjahat itu ke polisi beserta video yang Alex punya."


Gisel menggigiti kukunya dengan gelisah. Jika sampai video itu terbongkar di persidangan, maka hukumannya bisa jauh lebih berat. Gisel kemudian menatap Delia dengan tatapan tajam dan berkata, "Bantu aku jika kamu memang begitu peduli padaku. Hilangkan barang bukti itu bagaimana pun caranya."


***


Pelangi kembali ke kantor setelah mengantar Anneth ke rumah sakit dan memastikan agar wanita itu mendapatkan perawatan terbaik. Ia melangkah dengan gontai memasuki ruangan Gilang dengan pakaian yang terkena noda darah di mana-mana.


Gilang yang sedang sibuk di depan laptopnya bersama dengan Andrew terkejut begitu melihat keadaan Pelangi.


"Pelangi apa yang terjadi? Kamu terluka?" Andrew menghampiri Pelangi lebih dulu, lalu menyentuh lengan wanita itu. Wajahnya terlihat khawatir dan rasa khawatirnya itu terdengar jelas dalam suaranya juga.


Gilang diam. Jemarinya yang sudah bersiap menyentuh tuas pada kursi rodanya ia singkirkan begitu Andrew melewatinya dan menggapai Pelangi lebih dulu.


"Aku tidak apa-apa, Ndrew. Aku tidak terluka." Pelangi menjawab.


"Lalu darah ini darah siapa?"


"Suster An. Kami menemukannya tidak sadarkan diri dengan pergelangan tangan teriris di dalam apartemennya. Darah ini adalah darahnya," jawab Pelangi.


Wajah Pelangi yang terlihat sedih membuat Andrew merasa kasihan. Ingin sekali ia memeluk dan memenangkan Pelangi seperti dulu saat Pelangi bukanlah sosok yang terlarang baginya dan dirinya juga bukan sosok yang terlarang bagi Pelangi.


"Dia pasti baik-baik saja," ujar Andrew.


Gilang berpura-pura menatap layar laptop begitu dilihatnya Pelangi melangkah ke arahnya.


"Sedang apa?" tanya Pelangi, begitu ia tiba di samping Gilang.


"Tidak ada. Hanya sedang mengecek beberapa data." Gilang menjawab sembari tersenyum. "Bagaimana keadaan Suster An?"


"Dia sudah melewati masa kritisnya. Toni dan Amara berjaga di sana. Jika terjadi sesuatu, Amara atau Toni pasti akan mengabariku."


Alis Gilang berkerut. "Kamu meninggalkannya di sana? Lalu, dengan apa kamu kembali ke sini? Taksi?"


Pelangi berusaha menahan senyum di wajahnya. "Aku menyetir sendiri," ujarnya kemudian.


Gilang terlihat tidak setuju dengan tindakan Pelangi. Rahangnya mengeras dan gurat kekesalan tampak jelas di wajah tampannya. "Toni selalu saja membuat ulah. Awas saja nanti kalau sampai dia datang--"


"Jangan salahkan Toni. Aku dan dia harus berdebat selama setengah jam sebelum akhirnya aku berhasil merebut kunci mobil darinya dan segera berlari keluar dari rumah sakit."


Gilang menggeleng mendengar penuturan sang istri. "Apa pun yang terjadi seharusnya dia mengejarmu, bukan membiarkanmu pergi begitu saja."


"Oh, kalau itu ... Amara menahannya sementara aku berlari." Pelangi tersenyum nakal. Ia lalu duduk di pangkuan Gilang dan melingkarkan lengannya di sekitar leher Gilang. "Maafkan aku."


"Jika ingin kumaafkan, cium aku, Pelangi." Gilang sengaja mengatakan hal itu, karena Andrew masih berada di ruangannya, tengah memperhatikan kebersamaan antara dirinya dan Pelangi dalam diam.


Pelangi yang tidak menyadari jika Andrew masih ada di sana, segera melakukan apa yang Gilang minta. Pelangi memiringkan kepalanya dan menunduk agar bibirnya dapat meraih bibir Gilang.


"Eemh, eemh, eemh. Aku suka saat kamu memintaku untuk menciummu," ujar Pelangi, di sela-sela ciuman mereka.


Gilang menggigit telinga Pelangi dan berbisik, "Jangan bicara, cium saja aku."


Pelangi tertawa, lalu segera mendaratkan bibirnya kembali di atas bibir Gilang dan ******* bibir pria itu yang terasa lembut dan begitu menggoda.


Ada rasa tidak nyaman yang menusuk dada Andrew saat ia melihat kemesraan antara Gilang dan Pelangi. Ia segera keluar dari ruangan itu dan melangkah dengan cepat menuju ruangannya sendiri.


"Sial! Perasaan apa ini?! Sial, sial, sial!" Andrew meninju meja di depannya begitu ia tiba di dalam ruangan, membuat punggung tangannya tergores dan sedikit terluka.


Andrew menghempaskan tubuh di kursi kerjanya, lalu kedua tangannya meremas rambutnya dengan kasar. Bayangan Pelangi yang tengah berciuman dengan Gilang tadi sangat mengganggu, membuat perasaannya menjadi tidak nyaman. Ia kesal, ia marah melihat itu semua. Ya, dirinya cemburu. Bagaimana pun juga Pelangi adalah cinta pertamanya. Sulit sekali bagi Andrew untuk menyingkirkan Pelangi dari dalam kepalanya walaupun ia telah menikah dan memiliki Delia sebagai istri.


"Pelangi, Pelangi, Pelangi. Kenapa sulit sekali melupakanmu?!" Andrew menyandarkan kepala di sandaran kursi dan memejamkan mata, berusaha menyingkirkan bayangan tidak mengenakan tentang Pelangi dan Gilang dari dalam ingatannya.


***


Pelangi merapikan rambut Gilang yang berantakan setelah mereka selesai berciuman. Tidak lupa ia mendaratkan kecupan singkat di kening Gilang dan mencubit kedua pipi pria itu.


"I love you full, Sayangku," bisik Pelangi di telinga Gilang.


Gilang tersenyum. "Me to," ujarnya.


"Apa hari ini ada pekerjaan penting yang harus kita selesaikan, Bos?" tanya Pelangi.


"Apa tidak apa-apa jika kamu tetap bekerja denganku hari ini, sedangkan Suster An berada di rumah sakit?" tanya Gilang.


"Di sana ada Toni dan Amara. Jadi aku tidak terlalu khawatir. Lagi pula, Toni dan Amara pasti senang berada di sana, karena mereka bisa berduaan." Pelangi berucap sembari membayangkan kedua sahabatnya itu sedang saling menautkan jemari, mendekatkan wajah dan saling ******* bibir satu sama lain di koridor rumah sakit.


Gilang tertawa melihat Pelangi yang terlihat senyum-senyum sendiri. Ia tahu jika istrinya itu pasti sedang membayangkan sesuatu yang berlebel 21 plus.


"Apa hubungan mereka sudah semakin dekat?" tanya Gilang.


"Ya, aku rasa begitu." Pelangi menjawab, sembari meraih tablet dari atas meja dan membaca ulang jadwal Gilang.


"Apa menurutmu Toni benar-benar mencintai Amara?"


Pelangi mengangguk. "Mereka saling jatuh cinta dan saling mencintai. Terlihat jelas di mata keduanya."


Gilang mengangguk, lalu kembali bertanya dengan hati-hati. "Lalu bagaimana dengan Andrew? Apa dia benar-benar mencintai Delia?"


Pelangi mengangkat wajahnya dari layar tablet yang sejak tadi ia pandangi. "Tentu. Delia kan istrinya." Pelangi menjawab dengan yakin, walaupun ada keraguan di dalam hati Pelangi.


"Tidak. Aku rasa Andrew tidak mencintai Delia." Gilang berujar. Sekarang raut wajahnya kembali terluhat kesal.


Pelangi membuang muka. Ia tahu ke mana arah pembicaraan Gilang, karena ia pun merasakan hal yang sama seperti yang Gilang rasakan.


"Andrew masih mencintaimu, Pelangi."


Bersambung.