
Nena terbangun lebih dulu, menatap seseorang yang masih terlelap di sebelahnya itu, dia kemudian tersenyum.
Wanita itu mengambil sesuatu di dalam laci, sebuah salep obat luka yang sebelum tidur semalam juga sempat ia oleskan di tubuh suaminya. Mengingat kejadian itu, Nena jadi geli sendiri, pria yang mengaku akan menyerangnya itu tidak pernah tahu bahwa dirinya akan memberikan serangan balik, alhasil dua gigitan di lengan dan beberapa cakaran di dada suaminya itu dapat menjadikan bukti autentik bahwa pria tampan itu telah bergelud dengan kucing dapur tadi malam.
Selepas mandi dan sedikit berdandan, Nena kembali menaiki ranjang, membangunkan suaminya. "Mas, bangun, udah subuh," ucapnya.
Justin mengerang "Sebentar lagi, sayang." jawabnya dengan suara serak, matanya masih rapat terpejam.
"Udah mau siang, Mas. Nanti kamu ketinggalan salat." Nena menyingkap selimut Justin. Merasa terganggu, pria itu berbalik badan dan menarik sang istri hingga terjatuh ke dalam pelukannya. "Mas! Lepasin. Aku udah rapi nih."
Bukannya menurut, Justin malah semakin erat mendekap tubuh Nena dari belakang. "Siapapun butuh bersantai di hari minggu, sayangku." Bisik Justin tepat di telinga Nena, membuat wanita itu menggeliat geli.
Nena memukul lengan yang melingkar di perutnya. "Udah siang, Mas. Aku mau ke rumah ibu." Nena terus memberontak. "Kalo Mas nggak mau bangun biar aku ke rumah ibu sendiri aja," tukas Nena yang mau tak mau membuat Justin membuka mata dan melepaskan pelukannya.
Nena menuruni ranjang. "Sana mandi, aku bikin sarapan dulu," usirnya. Dengan malas Justin menurut dan melangkah ke kamar mandi. "Jangan tidur di kamar mandi ya, Mas."
"Iya." Sambil menguap Justin terus mengoceh, "yang benar saja, masa tidur di kamar mandi."
Setelah hampir setengah jam, Nena sudah merapikan dapur, menunggu sang suami yang belum juga keluar, akhirnya ia putuskan untuk membawa sarapannya ke dalam kamar.
"Mas! Kamu masih mandi?" Tidak ada jawaban. Nena meletakan piring di tangannya ke atas meja.
"Mas!" Nena mengetuk pintu, setelah beberapa saat ia putuskan membukanya. Sumpah demi apa? Suaminya itu tidur di bathtub. Ya ampun.
Nena membasahi tangannya, berniat menyapukannya ke wajah Justin namun tanpa disangka pria itu sigap menangkap pergelangan tangannya, membuat Nena terkejut. "Kan udah dibilang jangan tidur di kamar mandi," omelnya.
Justin yang sudah membuka mata, tersenyum. "Aku nggak tidur," belanya.
"Terus, ini?"
"Ketiduran."
Nena menarik tangannya dari genggaman Justin. "Sama aja," balasnya. "Ayo cepetan mandinya." Nena mengambil shampo dan berinisiatif membantu suaminya itu mandi, biar cepet pikirnya namun wanita itu tidak pernah tahu bahwa hal itu malah akan semakin membuat acara mandi seorang Justin menjadi amat lama. "Udah selesai, kan. Ayo pake handuk. Aku tunggu di luar."
Bukannya mengiyakan, Justin mengulurkan tangan. "Bantu aku bangun," pintanya.
Tanpa curiga sang istri yang polosnya melebihi batas maksimal, meraih tangan sang suami untuk membantunya berdiri, tapi malah dia yang terseret, limbung, tercebur ke dalam bathtub penuh sabun, dan disambut tawa menyebalkan dari pria yang berstatus suaminya itu. "MAS!" teriaknya marah.
Justin yang mendapat pukulan di bahu terus tertawa, "kamu mau ikut mandi?" Tanyanya jahil.
"Aku tuh udah mandi tahu, udah rapi, udah cantik udah wangi." Nena terus mengomel sembari memukul-mukulkan kedua tangannya pada sang suami yang entah kenapa sepagi ini sudah teramat sangat menyebalkan.
Justin menangkap kedua tangan sang istri, "salah siapa kamu sudah cantik. Mancing aku buat cari pahala pagi-pagi?" Justin tersenyum mesum, Membuat Nena mengerjap beberapa kali mencari arti. "Kita coba di sini."
"NGGAK!"
***
Setelah melewati perdebatan sengit dan pergulatan yang dimenangkan oleh pihak Justin, dan mengaharuskan Nena keramas sekali lagi. mereka akhirnya berangkat ke rumah ibu Nena, dan terkejut karena sang ibu sudah kedatangan tamu lebih dulu.
"Tante Linda?" Nena menyalami sang tante dengan Justin yang mengikuti setelahnya.
"Ngapain Tante ke sini?" Tanya Justin ketus yang mendapatkan sikutan dari sang istri.
Ibu Nena yang duduk tidak jauh dari Linda ikut berdiri. "Tantemu ini jauh-jauh ke sini buat kalian," belanya. Kemudian menyuruh semuanya untuk duduk. Mereka sudah mengobrol cukup lama, dan sang ibu pun menuturkan maksud kedatangan Linda ketempatnya.
"Resepsi?" Adalah Justin yang merespon lebih dulu.
"Lagi?" Nena bertanya tidak percaya.
"Tentu saja, kemarin itu kan bukan pesta kalian," ucap Linda yang membuat Nena menoleh pada sang suami yang tampak tenang di tempatnya. "Pokoknya kalian tenang saja, biar tante yang urus, kalian pasti sibuk kan? Tante Rania juga mau bantu sewain gedung. Kalian tinggal ikut sesi foto pre-wedding dan fitting baju pengantin saja. Selebihnya kita yang urus."
Ketiga wanita itu kembali mengobrol beberapa saat, dan setelah Linda pulang, Nena ke dapur untuk membuatkan suaminya secangkir kopi.
"Ternyata si Monika bohong, Na." Ibu Nena yang tengah mencuci piring di sebelah putrinya mulai menggosip.
Nena menoleh setelah meletakan panci berisi air ke atas kompor. "Bohong kenapa?" tanyanya meski belum tahu Monika itu siapa.
"Dia pura-pura hamil ternyata," jawab sang ibu dengan nada kesal. Seolah dirinyapun ikut tertipu.
"Parah banget." Nena menjawab, mengambil gelas dan menaruh bubuk kopi dan gula ke dalamnya
"Iyah, tapi ketahuan sama mertuanya."
"Terus?"
"Ibu mertuanya didorong dari atas tangga."
"Astagfirullah!"
"Meninggal ibunya tuh."
"Innalillahi!"
Marlina yang sudah selesai mencuci piring mengambil lap di sebelah Nena. "Kesel banget deh ibu, pengen ibu bejek itu orang kaya gitu," ucapnya dengan penuh kebencian, lap tangan di genggamannya ikut merasakan betapa gemasnya wanita itu pada si Monika.
"Dipenjara dong, Bu?" Tanya Nena, ikut prihatin. Menuangkan air panas ke dalam gelas berisi racikan kopi dan mengaduknya.
"Enggak lah, kan belum ketahuan."
Nena mengerutkan dahi. Bingung. "Kok, ibu bisa tahu," tanyanya, mulai curiga.
"Ya kan ibu nonton."
"Lah, Ibu lagi ceritain sinetron?"
"Iya, dong. Seru banget tahu, Na. Judulnya tuh "anakku anak suamiku bukan anakku" kira-kira anak siapa yah, Na?"
Nena mendengus kesal. "Mana Nena tahu, yang nonton kan, Ibu," jawabnya yang membuat sang ibu terkikik geli sendiri. "Lagian apa sih, Bu, serunya sinetron? Yang pemeran utamanya dizolimi terus, menderita, nangis-nangis dan bahagianya itu cuman di akhir cerita, udah sebentar, langsung tamat pula. Hidup nggak sekejam itu juga kali."
Sang ibu tampak berpikir, "iya juga ya," ucapnya. "Kalo gitu ibu nonton film India aja deh," tambahnya kemudian.
Nena memutar bolamata, "sama aja, Bu!" Tukasnya. Sang ibu terkikik lagi. "Ah iya, Bu," Nena teringat sesuatu. Sang ibu menoleh. "Nena mau pindah ke apartemennya Mas Justin," ucap Nena sembari menatap wanita di sebelahnya.
"Oh," Marlina tampak sedih, namun demi untuk memberikan kesan tidak apa-apa pada putri semata wayangnya, sesaat kemudian wanita itu tersenyum manis. "Bagus itu, biar mandiri," komentarnya.
"Ibu ikut, yah," pinta Nena, yang membuat sang ibu menggeleng.
"Nanti Ardi sama siapa?" Marlina memberi alasan. Menyentuh pundak Nena dan mengusapnya pelan. "Nggak apa-apa, nanti sering-sering main ke sini aja."
Nena mengangguk, "kata Mas Justin nanti rumah ini mau direnovasi, nggak apa-apa kan, Bu?" Tanyanya.
"Bagus, dong. Nanti sekalian taruh kolam renang di belakang, biar ibu bisa ngadem."
"Ibu."
"Bercanda, Na."
—————