
Delia berdiri di ambang pintu sebuah panti penampung gelandangan yang terletak di pinggiran kota. Wanita berparas cantik dengan mata sendu itu menggigiti ujung kukunya untuk mengurangi rasa gelisah yang tiba-tiba saja menyerangnya sejak semalam.
Tiga bulan sudah ia tidak berhubungan dengan Andrew, baik bertemu atau pun berkomunikasi melalui telepon, karena pria itu sibuk mengelola perusahaan bersama dengan ayah dan saudaranya. Sementara beberapa bulan sebelumnya hubungan mereka memang mulai renggang dikarenakan Andrew sangat terpukul atas kejadian nahas yang menimpa Pelangi. Saat itu nasib Pelangi tidak jelas. Tidak ada yang tahu apakah Pelangi masih hidup atau sudah mati, sedangkan Gilang--suami Pelangi--mengalami hilang ingatan. Keluarga Andreas kacau sekali saat itu.
Sekarang mereka akan kembali bertemu setelah beberapa hari yang lalu Andrew menghubungi Exel dan meminta Exel untuk membantu mencari keberadaan Atika.
Walaupun merasa sedikit kecewa karena Andrew baru menghubunginya saat butuh sesuatu, tetap saja Delia merasa bahagia. Wanita mana yang tidak bahagia saat akan bertemu dengan pria yang dicintai dan dirindukan.
"Hai, Del, masuklah. Sudah berapa jam kamu berdiri di sini. Apa tidak lelah?" Exel yang mendadak muncul di sebelah Delia berkomentar, membuat wanita itu terkejut.
"Aku akan masuk kalau dia telah tiba." Delia menjawab dengan tatapan kosong, seolah berusaha menerawang di mana gerangan keberadaan Andrew sekarang.
Exel tersenyum dan mengusap puncak kepala Delia yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri. "Dia akan tetap datang, mau kamu duduk atau pun berdiri akan sama saja. Jadi kusarankan duduk saja di dalam."
Delia mengalihkan tatapan dari halaman berlumpur yang terhampar di hadapannya. sekarang ia menatap Exel yang berdiri di sebelahnya. Perlahan kedua mata Delia mulai berair dan bulir-bulir bening menetes jatuh ke pipinya yang kemerahan.
"Aku tahu apa yang kamu lakukan adalah sebuah kesalahan. Tapi, saat polisi bertanya nanti, aku akan mengatakan pada mereka bahwa kamu melakukannya demi pengobatanku. Seharusnya akulah yang mereka tangkap, bukan dirimu."
Exel mengusap bulir di kedua pipi Delia sembari tersenyum kecut. "Praturan dari mana yang mengharuskan polisi menangkapmu alih-alih menangkapku? Aku pantas mendapatkan apa yang seharusnya kudapatkan sejak beberapa tahun lalu. Saat itu aku mencelakai Pelangi dan membuat wanita itu hampir mati. Ya, memang Gisela yang memerintahkan, tetapi aku yang menyetujui, maka aku pun bersalah dan pantas menerima hukuman."
"Kamu telah merawatku sejak kamu keluar dari panti asuhan. Kamu membiayai semua biayai pengobatanku. Jika bukan karena aku ... aku tidak tahu harus dengan cara apa aku menebus kesalahanku, Xel, aku sungguh merasa tidak berguna sekarang dan merasa sangat bersalah padamu. Seharusnya aku mati saja sejak dulu."
Exel merangkul Delia dan mengusap punggung wanita itu dengan lembut. "Jangan katakan hal itu. Bagaimana bisa kamu menyesali kehidupanmu di depan diriku yang terus berjuang agar kamu bisa terus bernapas. Jika ingin berterima kasih padaku, maka hiduplah dengan bahagia, Del, bahkan saat aku tidak ada di sisimu."
Suara decit ban mengalihkan perhatian Exel dan Delia. Keduanya memisahkan diri dan segera menghampiri sebuah sedan yang berhenti tepat di halaman panti.
Andrew dan Toni keluar dari dalam sedan, di sambut dengan uluran tangan Exel.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Exel, saat Andrew menyambut uluran tangannya.
"Baik. Kalian juga sepertinya baik." Andrew beralih menyalami Delia, dan segera merangkul wanita itu yang seketika menangis teredu-sedu. Tidak dapat dipungkiri jika dirinya sangat merindukan Delia, tetapi perasaannya pada Pelangi juga bukan sesuatu yang bisa ia sepelekan. Biar bagaimanapun Pelangi adalah sosok wanita pertama yang mengisi hatinya.
"Dia sangat merindukanmu, sampai-sampai saat mendengar kabar bahwa kamu akan bertemu dengan kami, dia tidak tidur semalaman," ujar Exel, menatap Delia dan Andrew yang masih berpelukan.
Toni terkekeh. "Untuk apa kamu merindukan Andrew. Buang-buang waktu saja."
Andrew memisahkan tubuhnya dari Delia, lalu melayangkan tinju ke perut Toni, membuat Toni meringis kesakitan. "Hati-hati kalau bicara. Aku ini memang pantas dirindukan."
Delia tertawa, lalu mengusap air matanya. "Ayo kita masuk. Atika sudah menunggu di dalam." Delia menggandeng lengan Andrew dan menuntun pria itu memasuki panti.
Ruang utama panti itu sangat besar, semacam aula yang memiliki jendela-jendela besar dan berlangit-langit tinggi. Terdapat sofa-sofa panjang di setiap sudut ruangan dan juga di depan jendela-jendela besar yang biasanya dibiarkan terbuka saat cuaca sedang cerah.
Sekarang, mereka mulai berjalan di lorong sempit, melewati puluhan pintu kamar yang saling berhadapan dengan nomor yang berurutan. Hingga mereka tiba di sebuah kamar yang pada pintunya tecetak angka 333.
"Dia di dalam," ujar Delia, kemudian mengetuk dengan sebelah tangannya, sementara sebelah tangannya lagi masih terus menggenggam tangan Andrew sejak tadi, seolah ia tidak ingin Andrew jauh darinya dan kembali menghilang tanpa kabar berita.
Pintu berayun membuka, memperlihatkan ruangan serba putih dengan ranjang besi di ujungnya. Terdapat meja besi juga yang terletak di samping ranjang yang menghadap ke jendela berteralis.
"Kalian datang, Pak." Atika menatap Toni dan Andrew dengan mata melotot. Sementara Toni dan Andrew terlihat bingung saat melihat Atika. Penampilan wanita itu sungguh bebeda. Tubuhnya kurus, matanya cekung dengan lingkar hitam yang cukup gelap di bawahanya, menandakan bahwa wanita itu selalu terjaga setiap saat, dan pada sorot matanya selalu terlihat ketakutan saat menatap siapa pun.
"Apa yang terjadi?" tanya Toni spontan.
"Gisel hendak menghabisi nyawanya sebelum Gisel bergabung dengan Alex dan Surya. Namun, dia berhasil melarikan diri setelah disekap dan disiksa hampir satu bulan di gudang yang ada di tengah hutan." Exel menjelaskan.
"Gisel melakukan itu?" Andrew terlihat tidak percaya. Gisel memang jahat, tetapi menyekap dan menyiksa rasanya mengerikan sekali.
"Dia lebih kejam daripada monster. Kalian harus berhati-hati," desis Atika. "Ayo, masuklah dulu." Atika kemudian memasuki ruangan, yang disusul oleh Toni, Andrew, Exel dan Delia.
"Duduklah, Pak, duduklah." Atika menarik sebuah karpet berwarna putih dari bawah kolong ranjangnya dan memasang karpet tersebut pada lantai keramik.
Toni dan Andrew duduk di tempat yang disediakan dan kembali menatap Atika.
"Ada yang ingin kutanyakan padamu, Atika, ini tentang Gisel," ujar Andrew.
"Ya, Pak, tanyakan saja."
"Katakan padaku semua yang telah Gisel lakukan dari awal hingga akhir. Semua rencana jahat Gisel yang ia rencanakan untuk mencelakai Pelangi."
"Tapi katakan dulu padaku, Pak, bagaimana keadaan Pelangi. Apa dia baik-baik saja?" tanya Atika, kedua air matanya berair mengingat kejahatan yang telah ia lakukan pada Pelangi. Sejak ia melarikan diri bersama dengan Gisel, sejak saat itu juga ia tidak pernah mendengar kabar tentang Pelangi.
Andrew menggeleng. "Tidak ada yang baik-baik saja, Atika. Semuanya berantakan, sangat berantakan. Terlalu panjang jika kuceritakan sekarang, yang jelas Pelangi telah kehilangan bayinya karena perbuatan Surya, Alex dan Gisel. Sayangnya tidak ada bukti yang kuat dan juga saksi untuk memenjarakan Surya dan juga Gisel, itulah sebabnya kesaksianmu sangat berharga bagi kami."
Atika menutup mulut dengan tangannya dan menangis sejadi-jadinya. "Ya, Tuhan, Padahal Pelangi sangat bahagia saat mengetahui jika dirinya mengandung. Semua gara-gara kebodohanku. Andai saja aku mengatakan pada Pelangi, bukannya malah bekerja sama dengan Gisel ... maafkan aku, Pak. Aku sungguh menyesal."
"Kalau begitu bersaksilah. Hanya itu cara agar kami semua dapat memaafkanmu," ujar Andrew.
Atika mengangguk. "Aku pasti akan bersaksi dan mengatakan semua kebenarannya."
Delia meremas telapak tangan Exel yang duduk di sebelahnya. "Berakhir sudah," gumamnya, sembari menahan tangis dengan susah payah.
Bersambung ....