
Di pagi hari, Lily terbangun lebih dulu, dan terkejut saat mendapati dirinya tertidur di atas dada bidang seseorang, dan orang itu adalah....
"WILLIAM!" Lily berteriak histeris, membuat pria yang semula tidur itu terjatuh ke lantai dan memegangi ke dua telinganya. Belum sempat merespon, Lily kembali berteriak sembari memukul pria itu dengan bantal sofa. "Brengsek, bajingan, berani-beraninya kau!"
"Aku bisa jelaskan, Ly. Aku bisa jelaskan." William yang berusaha menghindari pukulan-demi pukulan terus berceloteh memberikan alasan. "Kau yang memaksaku," ucapnya kemudian, terdiam sesaat karena pergerakan wanita itu sempat terhenti.
Bukan karena paham dengan apa yang dijelaskan pria itu Lily menghentikan amukannya, selimut yang melorot membuat wanita itu menyadari bahwa dia tidak mengenakan apa-apa di dalamnya. Reflek Lily melilitkan kembali selimut ke tubuhnya dan kembali menyerang pria itu. "Brengseeek, tega sekali kau melakukan ini padaku, Will. Jika begini bagaimana aku bisa mendapatkan Justinku kembali. Sialan sialan sialaaan." Lily terus mengumpat, memukul, kemudian mulai menangis yang membuat William semakin merasa bersalah.
"Maaf kan aku, aku sudah mencoba menolak tapi kau terus memaksa. Aku tidak berdaya," ucap William yang kembali mendapatkan pukulan bantal sofa di bahunya.
William terus menjelaskan bahwa wanita itulah yang dengan amat berusaha menggrayangi tubuhnya, dan bahkan meminta nambah, sebagai lelaki yang kelewat normal tentunya pertahanan William pasti jebol. Dan Lily tidak mau percaya hingga pria itu beranjak memutar rekaman cctv beberapa jam yang lalu.
Lily menggigit ujung kukunya saat yang tampak pada layar adalah dirinya yang begitu bernapsu pada pria bule itu. "Cukup, ok aku mengerti," ucap Lily kemudian menyuruh William untuk menghapus bagian itu, "tapi tetap saja, kenapa kau tidak menolaknya Will."
William menggaruk rambut kepala, "aku bisa apa? Kau kan tahu sendiri bagaimana lemahnya aku menolak hal semacam itu."
Lily berdecak kesal, amat jengkel pada pria yang duduk bertelanjang dada di sudut sofa itu, terlebih jengkel juga pada dirinya sendiri. Selama puluhan tahun ia menjaga eksistensinya ini, dan harus ia relakan pada lelaki se brengsek William. Oh tiidaaak, ini benar-benar sial.
Lily hendak beranjak pergi hingga kemudian mengernyit sakit dan duduk kembali, dia menoleh pada William yang tampak menatapnya dengan tanpa ekspresi. "Berapa kali?" Tanya Lily ambigu.
William mengerutkan dahi, "apa?" Tanyanya.
"Jangan pura-pura bodoh, berapa kali Kau melakukannya!"
William menelan ludah, takut-takut melirik wanita yang sepagi ini sudah amat galak kepadanya itu. "Dua," jawabnya yang membuat Lily kembali mengamuk. William kembali menjelaskan bahwa dirinyalah yang juga meminta lagi. Dan Lily memilih untuk tidak percaya kali ini.
***
Siang ini Nena mengajak Siska makan siang bersama di tempat biasa, wanita itu menceritakan tentang permintaan Lily yang ingin bertemu dengannya. "Gue mesti gimana dong?" Tanya Nena sembari menggigit-gigit ujung sedotan, merasa gemas sendiri.
Siska yang sibuk dengan semangkuk baksonya jadi menoleh pada sahabatnya yang tampak kebingungan. "Ngapain lo takut si, biar gimanapun juga dia itu masa lalu laki lo, dan lo itu bininya, yang harusnya takut tuh dia."
"Gue nggak takut Sis, cuman, gimana ya, nanti kalo dia panas-panasin gue gimana, ceritain masa lalu dia dulu mesra-mesraan sama laki gue."
"Ya lo panas-panasin balik lah, ribet amat. Kalo perlu lo ceritain tuh gimana panasnya pertempuran lo setiap malem sama si ganteng, gimanapun juga lo menang banyak lah, Na." Siska berucap santai, kembali menikmati kuah bakso yang membuat Nena jadi kesal. Memangnya segampang itu apah, dirinya kan tidak biasa mengumbar kemesraan.
"Minta saran dari lo, gue bisa ketularan nggak waras ini."
Siska tertawa, kembali fokus pada sahabatnya. "Gue emang menolak waras, Na. Gue capek harus mikirin yang biasa dipikirin orang waras," ucapnya ngaco.
Nena merasa benar-benar salah konsultasi. harusnya dia minta saran pada Anggi, tapi sama juga, gadis itupun sama tidak warasnya. Lalu dia harus gimana.
"Udah pokoknya lo santai aja, cool, harus keliatan elegan dong. Kalo emang lo ngerasa dia ngajak ketemuan buat bikin lo kesel terus berantem sama si ganteng, ya lo harus balikin, bikin dia yang kesel karena ternyata lo semakin lengket sama suami lo itu." Siska menasehati, Nena mulai berpikir, omongan temannya itu ada benarnya juga sih.
"Gitu, Ya."
"Salah, kalo lo malah ngambek sama suami lo itu, jaman sekarang tuh nggak ada Na, mengalah untuk menang, yang ada ntar lo ditikung."
"Anjir, jangan ngomong gitu lah."
"Eh tapi, nggak papa Na. Lo pisah sama si ganteng dia yang jadi gembel, kan lo yang kaya. Gembel-gembel juga nggak papa dah gue tampung."
"Ko jadi lo yang ngebet banget sama laki gue si." Nena mulai sewot.
Siska tertawa, "bercanda yaelah," ucapnya kemudian kembali makan, di sela mengunyah, Siska kembali bertanya. "Laki lo masih suka mimisan, Na?"
Nena mengaduk jus di gelasnya dengan sedotan. "Udah nggak si, tapi jadi sering muntah, gue jadi khawatir."
"Ngidam kali." Siska menebak.
"Masa iya dia yang mabok si?"
"Ada tau kaya gitu,"
"Nggak tau, nggak ngerti, gue juga belum ada tanda-tanda," ucap Nena, merasa tidak tepat membahas hal itu dalam keadaan gusar seperti ini. "Jam dua siang nih gue janjian," lanjutnya mengubah arah pembicaraan.
"Yaudah lo datengnya lewat sepuluh menit."
"Kok gitu?"
"Biarin, bikin dia kesel duluan," Siska menjelaskan."Kaya apa sih mantan laki lo itu, coba gue liat," pintanya kemudian.
Nena mengambil ponselnya, setelah beberapa hari kemarin ngepoin abis gadis bule itu, Nena sempat menyimpan satu foto di hpnya. Wanita itu menunjukan pada Siska.
"Anjir cantik gila, gue aja yang cewek demen ngliat yang begini bening."
"Yah lemes gue, Sis. Lo gimana si, nggak mihak ke gue gini jadinya. cantikan mana sama gue?"
Siska tertawa, "cantik mah selera sih, menurut gue, kalian sama-sama cantik lah." Siska coba menghibur.
"Tumben lo agak beneran dikit." Nena curiga.
"Iya nih biar dibayarin ini bakso gue."
"Sialan."
Siska melirik sahabatnya yang terlihat gusar dengan terus menggigit sedotan di mulutnya, dia jadi kasihan. "Emang tu orang ngomong apa aja pas nelpon kemaren."
"Masa begitu sih? Ngeselin juga tu orang."
"Lo aja kesel apalagi gue coba."
"Udah orang kaya gitu mah diemin, doain aja udah."
"Doain biar dapet hidayah apa azab?"
"Doain, abis itu tusuk pake media boneka."
"Buset, lo nyuruh gue main dukun."
Siska tertawa, "ya kali."
"Eh tapi boleh juga tuh, Sis, lo ada nggak kenalan orang pinter gitu." Nena sedikit berbisik mendekat pada sahabatnya di sebelah.
"Ada sih, tapi-"
Doni yang baru saja datang, dan tidak sengaja menguping pembicaraan mereka menyatukan dua kepala di hadapannya itu hingga terbentur satu sama lain.
"Anjir, pala gue nyut-nyutan, ini." Siska mengomel.
Nena mengusap kepalanya, tatapannya mengikuti pergerakan Doni yang kemudian duduk di hadapan mereka. "Heran gue, udah jadi bini bos masih aja lo nistain gini, Don." Nena protes.
"Nih, kalian berdua nih, contoh emak-emak yang rajin banget nonton sinetron hidayah ama azab, tapi bukannya tobat malah hafal lagu ungu." Doni berceloteh membuat kedua wanita yang duduk di hadapannya itu mengerutkan dahi.
"Emang itu lagunya ungu ya? Gue kira lagunya Opik." Nena berkomentar.
"Lagunya Krisye tau itu." Siska ikut memberi jawaban.
Masih dengan perdebatan lagu siapakah yang dijadikan sountrack sinetron hidayah yang sering tayang siang bolong itu, ketiganya menoleh ke arah pintu kantin dan melihat Alvin juga Indira yang kedapatan memasuki area dan duduk di sana, jauh dari mereka.
"Si Alvin nggak sepik lo lagi, Sis?" Pertanyaan Nena malah membuat Doni menoleh antusias.
"Duda tau Na, dia."
"Widih, mateng dong, kan lo maunya yang kaya begitu, pengalaman." Nena berkomentar.
"Kalo kaya raya si, nggak apa-apa. Yakali gue jadi ibu tiri, adek kandung gue aja gue zolimi terus."
"Emang jiwa mak lampir mah susah," ucap Nena yang membuat Siska berdecak, Doni tampak ikut tertawa di hadapannya. "Tapi mending jangan deh, entar kalo lo jadi sama dia cintanya terbagi dua sama anak." Nena menambahkan.
"Justru itu, masih mending kalo anak sendiri, lah anak mantan coba lo bayangin."
"Udah lah, Sis. Lo sama gue aja," ucap Doni yang membuat Nena tersedak minuman di tangannya.
"Buset, ini siapa yang disepik jadi gue yang keselek." Nena menyikut Siska yang entah kenapa berubah kalem. "Ngomong, Sis. Biasanya juga nyaut mulu."
"Ngomong apan."
"Na, lo jadi Saksi, ya. Gue nembak Siska nih." Doni berkata tanpa ragu.
"Jangan bercanda, Don. Nggak lucu." Siska mulai salah tingkah.
"Gue nggak bercanda." Doni meraih tangan Siska, meremasnya pelan, "gue emang suka sama lo," ucapnya.
"Sejak kapan, selama ini lo selalu nyepikin cewek di depan gue."
"Sejak gue selalu godain Nena, buat liat reaksi lo."
"Ini gue jawabnya boleh mikir-mikir dulu nggak?"
"Boleh, tapi jangan lama-lama, gue bukan jemuran. Jadi tolong jangan digantung."
Nena menopang dagu, "ini gue jadi saksi bisu apa boleh ikutan ngomong," ucap Nena yang membuat keduanya menoleh. "Ngeliat adegan ala abg bucin ini dari kalian yang udah kelewat kadaluarsa, gue enek banget. Sumpah."
***
Author; Satu-satu udah mulai dapetin pasangan masing-masing.
Netizen;gue dong thor, pasangin sama siapa ke ini.
Author; trek gandeng mau.
Netizer;mati dah gue kelindes.
Author; biarin ntar gue kasih judul sekalian.
Netizen; asal jangan judul sinetron hidayah aja thor.
Author; bukan hidayah, tapi Azab.
Netizen; sama aja –_–