
Farhan Andreas tersenyum sembari menatap kesibukan yang terjadi di hadapannya. Pria tua itu saat ini sedang duduk di atas kursi rodanya di tuang tamu lantai satu. Ia bahagia melihat Pelangi yang mengantarkan Gilang hingga ke depan pintu, lalu Amara yang berjalan bergandengan dengan Toni menuju teras, kemudian Delia dan Andrew yang sibuk memperdebatkan sesuatu yang kelihatannya serius di tengah ruangan.
"Kalau kubilang tidak, ya, tidak," ujar Andrew, sembari memasang jasnya dengan terburu-buru.
Delia cemberut, lalu menendang tulang kering Andrew hingga pria itu meringis kesakitan.
"Argh, Delia, kenapa menendangku?" tanya Andrew, sambil mengusap kakinya yang terasa berdenyut tak keruan.
"Itu karena kamu tidak setuju kalau aku bekerja. Padahal taman kanak-kanak yang ada di komplek ini sedang membutuhkan tenaga pengajar tambahan. Aku sudah mendaftar dan akan ada tes hari ini. Tapi kamu malah bilang tidak boleh. Memangnya kenapa tidak boleh?"
Andrew menghela napas, berusaha menghadapi Delia yang ternyata cerewet sekali. Berbanding terbalik dengan wajahnya yang lugu dan terlihat penurut.
"Delia, aku tidak mengizinkanmu bekerja, bukan karena apa-apa. Aku hanya tidak ingin kamu kelelahan. Itu saja. Jika Exel masih ada, dia juga pasti akan melarangmu. Lagi pula, aku lebih senang jika kamu berdiam diri di rumah daripada harus bekerja."
Delia berdecak. "Mana bisa aku diam saja di sini seharian, Ndrew."
Andrew menaikan sebelah alisnya. "Kenapa tidak bisa? Pelangj saja seharian hanya berdiam diri di rumah."
"Itu karena dia menantu di rumah ini. Sedangkan aku ... memangnya aku inj siapa selain orang lain yang sedang menumpang." Delia mengungkapkan alasan yang menurutnya sangat masuk akal. Orang yang menumpang tidak boleh malas bekerja.
Mendengar hal itu, Andrew pun terdiam. Bukannya ia tidak memiliki jawaban atas pernyataan Delia, tetapi untuk saat ini ia masih bingung untuk melakukan langkah selanjutnya. Beberapa hari yang lalu ia memang telah meminta Delia untuk menikah dengannya. Lalu, setelah itu apa? Andrew terlalu bingung, karena sebelumnya ia tidak pernah melamar seseorang untuk dijadikan pasangan hidupnya. Terlebih lagi ia tidak memiliki seseorang untuk ditanyai, seperti ibu atau ayah. Hubungannya dengan sang ayah tidaklah seharmonis itu, hingga ia bisa membahas tentang pernikahan.
"Kenapa diam saja?" tanya Delia.
Andrew maju selangkah dan menyentuh wajah Delia. "Nanti kita bicarakan lagi setelah aku pulang dari kantor Sekarang aku sudah terlambat." Andrew mengecup kening Delia, kemudian berbalik pergi meninggalkan wanita itu.
Farhan tersenyum di atas kursi rodanya. Ia turut bahagia karen akhirnya Andrew jatuh cinta pada wanita lain dan berhenti mengejar Pelangi.
"Nak, Nak, duduklah di sini," titah Farhan, setelah beberapa saat.
Delia terkejut begitu mendengar suara Farhan. Ia tidak menyangka jika pria tua itu masih berada di ruang tengah.
"Matilah aku. Apa dia mendengar semua yang kuucapkan tadi?" Dekia memukul keningnya dengan tangan, ia merasa malu sekali karena tidak bisa mengendalikan perasaan dan ucapannya.
"Ada apa, Nak? Kemarilah dan mari kita mengobrol," ujar Farhan lagi.
Delia membalik tubuhnya, menghadap Farfan yang tengah tersenyum ramah padanya, lkau melangkah mendekati pria itu. Setelah tiba di hadapan Farhan, Delia menbungkuk hormat pada pria tua itu. "Selamat pagi, Tuan," sapa Delia.
Farhan berdecak, terlihat tidak setuju pada ucapan Delia. "Panggil aku ayah, jangan tuan. Kamu kan akan menjadi menantuku."
Delia menegakkan tubuh dan menatap Farhan dengan kedua mata yang melotot. "Maksud Anda?"
"Bukankah kalian saling mencintai. Tentu saja aku akan menikahkan kalian.Tentukan saja tanggal dan waktunya, aku akan menyediakan segalanya."
Delia masih tidak percaya akan apa yang ia dengar. "Anda setuju?"
"Memangnya kenapa aku harus tidak setuju?" Farhan nyengir, memperljhatkan susunan giginya yang putih dan masih utuh di usianya yang tidak lagi muda.
Delia mendekat, lalu berlutut di hadapan Farhan. "Tapi latar belakangku, Pak ... maksudku, aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanyalah seorang perempuan yang besar di panti asuhan. Aku bukan berasal dari keluarga terpandang. Saat Andrew melamarku, tentu saja aku bahagia, tetapi saat aku kembali memikirkan siapa dia dan siapa Anda, aku menjadi sadar diri dan tidak lagi berharap banyak."
"Itulah hebatnya ayah. Dia tidak pernah memandang manusia lain berdasarkan status." Pelangi masuk ke dalam rumah dan bergabung dengan Delia dan Farhan begitu Gilang meluncur ke kantor bersama dengan Toni dan Amara.
"Apa kamu pikir aku ini berasal dari keluarga terpandang?" Pelangi bertanya pada Delia. "Tidak, Del, aku pun sama sepertimu, bahkan lebih parah. Ayah dan ibuku memiliki utang yang banyak dengan para rentenir. Ayah Farhanlah yang membantuku untuk melunasi semua utang-utang itu. Dia bahkan menikahkanku dengan Gilang. Padahal aku ini bukanlah siapa-siapa."
Farhan tersenyum. "Kamu berharga bagiku, Nak, jangan katakan bahwa dirimu bukanlah siapa-siapa. Aku bahagia menerimamu sebagai bagian dari keluarga. Begitu juga denganmu, Delia. Andrew adalah putraku, apa yang membuatnya bahagia, pasti akan membuatku bahagia juga. Terlebih lagi Andrew selama ini terlalu menutup diri. Saat ia mulai membuka diri, tentu saja aku akan mendukung hal apa pun yang membuat es di hatinya itu mencair, termasuk pernikahan kalian."
Delia meneteskan air mata. Ia tidak menyangka jika Farhan Andreas yang kaya raya dan terlihat angkuh ternyata memiliki hati yang begitu baik.
"Kalau begitu, bolehkah aku memeluk Anda?" tanya Delia, sembari terisak.
Farhan Andreas tertawa. "Tentu, Nak, tentu boleh." Farhan membuka lengannya lebar-lebar, membiarkan Delia memeluknya dan seketika itu juga wanita itu memeluknya sembari menangis.
"Terima kasih, Ayah, karena bersedia menerima kehadiranku," isak Delia.
Pelangi terharu melihat apa yang tengah terjadi. Ia paham betul bagaimana perasaan Delia saat ini. Ia pun dulu merasakannya. Perasaan hangat dan disayangi yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya dan memenuhi ruang kosong di hatinya saat Farhan Andreas memintanya untuk menjadi istri Gilang. Beruntung saat itu ia menerima tawaran Farhan, jika tidak, mana bisa ia merasakan kebahagiaan yang sekarang tengah ia rasakan saat Gilang berada di sisinya.
***
Atika tidak berani bergerak. Ditempatkan satu sel dengan Gisela sama saja artinya dengan mati secara perlahan. Bagaimana tidak, Gisel akan melakukan kekerasan fisik padanya saat petugas jaga sedang tidak ada di tempat. Entah itu menampar, meninju, menendang, bahkan menjambak dan meludahi wajah Atika.
Atika bukannya tidak berani melawan, tetapi ada aura kejam yang meliputi diri Gisel, yang membuat Atika merasa takut pada Gisel. Jangankan untuk membalas perbuatan Gisel, untuk menatap kedua matanya saja Atika tidak berani.
"Jadi, selama ini kamu hidup di mana, hah? Kudengar dari petugas di ruang interogasi bahwa kamu telah mengatakan semuanya pada Toni dan Andrew. Kamu mengatakan semua rencanaku yang telah kususun untuk mencelakai Pelangi. Aku dengar juga kalau kamu mengatakan pada mereka bahwa selama beberapa bulan aku menyekap dan menyiksanmu. Betul?" Gisel menginjak kaki Atika, memaksa Atika untuk berbicara.
Beberapa saat kemudian Atika mengangguk. Namun, bibirnya tetap terkunci rapat. Ia tidak mengeluarkan suara sama sekali walaupun rasanya ia ingin berteriak sekarang ini.
Buk!
Gisel meninju rahang atika hingga wanita itu tersungkur di lantai. "Bodoh! Kenapa kamu katakan, hah? Gara-gara ucapanmu itu, bisa-bisa hukumanku menjadi lebih berat."
Atika gemetar. Ia berusaha untuk bangkit dan menggeser tubuhnya ke sudut ruangan, lalu meringkuk di sana.
Gisel meludah, lalu menghampiri Atika dan menjambak rambut wanita itu dengan kasar.
"Lepas katamu? Oke, aku lepaskan." Gisel mengantupkan kepala Atika di dinding, kemudian menjauh dari Atika yang sekarang terlihat begitu kesakitan.
"Ka0an kamu akan bertobat, Gisela. Bahkan saat sudah tersudut di tempat ini, kamu tetap saja angkuh dan masih terus menyakitiku. Apa kamu itu tidak punya hati?"
Gisel tertawa. "Jangan berkhotbah di hadapanku jika tidak ingin kubuat tanggal semua gigimu itu. Tobat, tobat, kamu pikir aku ini pendosa? Tidak, Atika, tidak. Semua ini terjadi karena kesalahan Gilang sendiri. Jangan salahkan aku dan sudutkan aku. Aku tidak akan rela. Dasar sialan! Lihat saja, aku pasti akan menemukan cara untuk membalas semua yang telah Gilang lakukan padaku."
***
Gilang, Andrew dan Toni sedang menyantap makan siang di sebuah restoran mewah yang letaknya tidak terlalu jauh dari kantor. Baru beberapa menit yang lalu ketiganya bertemu dengan klien di restoran jtu, dan saat pertemuan telah selesai, Gilang memutuskan untuk menyantap makan siang dj restoran itu saja. Daripada harus berpindah ke tempat lain, pasti akan sangat melelahkan dan memakan waktu.
Gilang mengernyitkan dahi saat dilihatnya Andrew hanya menusuk-nusuk daging steak yang ada di hadapannya dengan garpu dan pisau.
"Apa yang kamu lakukan? Makan yang benar," ujar Gilang.
Toni mengulurkan tangan dan mengambil beberapa iris daging dari piring Andrew dan melahapnya dengan cepat. "Jika tidak mau, berikan saja padaku."
Andrew mendorong piringnya mendekat ke Toni. "Makanlah, aku sedang tidak ingin makan."
Toni terkekeh. "Padahal aku hanya bercanda, tetapi malah kamu beri sungguhan."
"Ada masalah apa?" tanya Gilang, yang terlihat penasaran pada tingkah aneh Andrew.
Andrew menatap Gilang, wajahnya terlihat serius dan juga bingung. "Jika kukatakan padamu, apa kamu akan mengerti dan menganggap serius ucapanku?"
Gilang mengangkat kedua bahunya. "Tergantung sepelik apa masalahnya. Jika memang serius sekali, ya, pasti akan kutanggapi dengan serius juga. Memangnya ada apa, sih?
"Apa yang harus dipersiapkan terlebih dahulu jika seseorang hendak menikah?" tanya Andrew, tanpa berbasa-basi lagi. Ia butuh solusi secepatnya untuk masalah yang terengah ia hadapi.
"Serius kamu menanyakan hal ini padaku? Bukankah kamu yang lebih berpengalaman. kamulah yang mengatur pernikahanku dengan Pelangi dulu sekali kan."
Andrew menghela napas. "Jelas berbeda. Aku merasa sangat gugup sekarang. Aku ingin menikahi Delia, tapi aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Sedangkan saat mempersiapkan pernikahanmu, aku hanya menjalankan semua instruksi dari ayah."
"Kalau begitu bicaralah pada ayah, dia pasti punya seribu solusi untuk masalahmu ini."
Andrew menggeleng. "Dia tidak akan membantu."
"Jangan bicara begitu. Biar bagaimanapun kamu adalah anaknya juga. Ayah adalah sosok yang adil."
Kali ini Andrew yang mengerutkan dahi. "Apa aku tidak salah dengar? Baru saja kamu mengatakan kalau aku ini anak ayah juga. Padahal biasanya kamu selalu mengatakan kalau kita bukan saudara. Aneh sekali."
Gilang meletakkan garpu dan pisau steaknya, lalu meletakkan tangan di bawah dagu. "Semua orang akan berubah pada waktunya, Ndrew. Kuakui, aku dulu sangat egois, aku bahkan menolak kehadiranmu saat ayah membawamu ke rumah kami. Padahal kamu tidak bersalah atas keadaan yang terjadi. Ayahlah yang salah karena memiliki istri di mana-mana. Siapa yang memilih untuk terlahir ke dunia jika statusnya tidak jelas dan akan ditolak oleh orang terdekatnya. Dalam hal ini, kamu sama sekali tidak bersalah. Sebenarnya aku menyadari hal ini saat Pelangi mengandung. Seorang bayi kecil tidak pernah meninta untuk dikandung dan dilahirkan."
Toni meraih tisu di atas meja dan mengusap tisu itu ke sudut matanya. "Ah, aku terharu sekali. Rupanya lupa ingatan sementara dapat memperbaiki sistem kerja otakmu juga, ya. Baguslah kalau kalian berdua akur, setidaknya aku dapat mati dengan tenang nanti."
Gilang dan Andrew tertawa mendengar ucapan Toni.
"Apa pertikaian kami selama ini membuatmu hidup tidak tenang? Ada-ada saja." Andrew mengambil kembali piring steaknya dari hadapan Toni dan mulai melahap potongan-potongan steak dengan rakus.
"Oh, ya, Toni, setelah ini aku ada tugas untukmu," ujar Gilang.
"Ya, katakan saja. Toh selama ini kamu memang selalu memberiku tugas."
"Aku butuh asisten secepatnya. Karena kamu sekarang bertanggung jawab pada setiap operasional kantor cabang, kamu jadi sulit untuk diandalkan jika aku membutuhkan bantuan-bantuan kecil di ruanganku.
Toni mengangguk. "Benar juga, karena Raina sekara lng sudah berhenti dan sibuk melakukan pekerjaan hanya di dalam kamarmu, maka kamu harus seger mendapat asisten baru. Akan kucarikan nanti."
Gilang mengangguk. "Aku tunggu kabar darimu secepatnya, dan ayo cepat habiskan makanan kalian, kita harus kembali ke kantor.
***
Delia memandang wanita yang duduk di hadapannya dengan tangan di borgol. Wanita itu adalah Gisel, sahabat dekatnya saat ia masih kecil. Dulu Gisel adalah anak yang manis, saat tumbuh menjadi remaja pun, Gisel tetap terlihat manis dan menggemaskan. Tidak heran jika saat beranjak dewasa Gisel sukses menjadi model papan atas. Wajahnya yang cantik dan bentuk tubuhnya yang proposional membuat banyak agensi yang menawarkan pekerjaan sebagai model pada Gisel.
Akan tetapi, sekarang Delia hampir tidak mengenali wanita yang duduk di hadapannya itu. Gisel terlihat berbeda dan kejam. Sorot matanya liar dan menakutkan.
"Katakan, ada perlu apa?" tanya Gisel.
"Aku hanya ingin melihatmu. Sudah lama sekali kita tidak bertemu."
Gisel tertawa. "Sudah lama apanya? Bukankah saat itu kita bertemu di Hotel Savari. Kamu sekarang menjadi antek Pelangi rupanya. Dibayar berapa kamu, hah? Apa kamu lupa kalau gara-gara wanita itulah Exel jadi meninggal."
"Exel meninggal karena perbuatanmu, Sel, bukan karena Pelangi." Delia berang. "Bahkan setelah mengetahui bahwa Exel meninggal dunia, kamu terlihat tidak menyesal sama sekali. Kamu tidak meminta maaf padaku. Setidaknya kamu menangis untuk Exel sekarang!"
Gisel tertawa terbahak-bahak. "Mau kuberitahu sebuah rahasia?"
Dahi Delia mengernyit. "Rahasia?"
"Dengarkan aku!"
Bersambung ....