OH MY BOSS

OH MY BOSS
KARIN 2



Nena meletakan cangkir berisi racikan kopi ke atas meja di hadapan sang suami, bersamaan dengan itu terdengar salam dari arah luar yang membuat penghuni rumah menoleh dan menjawabnya.


 


 


Tanpa dipersilahkan masuk, si tamu tak diundang melenggang santai menyapa mereka.


 


 


"Hay! Semuanya." Adalah Karin dengan senyum ceria seperti biasa yang membuat suasana menjadi ramai seketika. Gadis yang tampak cantik dengan baju terusan selutut berwarna biru muda itu menyalami mereka satu-per-satu, kecuali Ardi yang memilih sibuk menyantap nasi goreng dingin jatah sarapan pagi yang  baru ia sentuh kala siang menjelang.


 


 


"Ngapain lo kesini?" Ardi bertanya sinis, tanpa menolehkan tatapan pada si tamu yang bibirnya mngerucut sebal.


 


 


Heran deh, Bu Marlina dulu waktu hamil anak itu, ngidamnya nyemilin cabe setan apa gimana si, mulutnya pedes banget, pikir Karin. Pedesnya sampe ke mata.


 


 


"Ardian!" Belum sempat Karin menjawab, Nena sudah menegur sang adik.


 


 


Karin tersenyum, "nggak papa, Mba Nena. Udah biasa," balasnya.


 


 


"Anak gadiskuuu!!" Seorang wanita paruh baya tergopoh-gopoh dari arah dapur menyambut Karin, semenjak gadis itu sering berkunjung, keduanya menjadi amat akrab, keakraban yang membuat Ardi semakin kesal. "Udah makan?" Tanyanya kemudian.


 


 


Karin tampak diam, dia memang belum sempat sarapan karena di rumah tidak ada apa-apa, tapi untuk menjawab iya, rasanya malu sekali. Gadis itu hanya tersenyum. Marlina menyuruh tamunya itu duduk di sebelah Ardi, berhadapan dengan Nena yang duduk di sebelah Justin yang sibuk dengan koran berita online, di tablet-nya.


 


 


Marlina meletakan sayuran yang hendak disiangi ke atas meja. "Tunggu sini, ibu ambilin nasi goreng, sekalian diangetin bentar."


 


 


"Eh, nggak usah, Bu!" Karin hendak menolak, namun Marlina sudah melesat meninggalkannya. Gadis itu pun kembali duduk dengan canggung.


 


 


"Karin bentar lagi lulus kan?" Tanya Nena. "Mau SMA di mana?" Lanjutnya kemudian.


 


 


"Eh, iya Mba Nena. Karin SMA Budi Luhur, udah diterima juga di situ."


 


 


"Wah, bagus, deket sama tempat Ardi kuliah dong."


 


 


"Nggak usah bawa-bawa gue!" Sambar  Ardi yang dengan malas menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Nafsu makannya mendadak hilang. Entah kenapa melihat gadis ceroboh di sebelahnya itu dia merasa sebal sekali.


 


 


"Nggak usah benci-benci lo sama gue, entar naksir." Karin bersungut tidak kalah sebal, hanya beberapa kali melakukan kesalahan padanya saja seolah bertemu dengan dirinya itu suatu kesialan untuk pemuda yang mengaku tidak suka perempuan yang ceroboh.


 


 


Karin ingat, dia pernah tidak sengaja menumpahkan jus pada ponsel cowok itu saat beberapa kali berkunjung ke rumah ini, untuk membantu Nena menyiapkan pernikahan beberapa hari yang lalu. Tidak sengaja menabrak cowok itu hingga terjatuh ke dalam parit, tidak sengaja juga menumpahkan kuah sayur saat membantu membawakan makanan ke prasmanan. Tapi kan tidak sengaja,  gitu aja baper.


 


 


"Ngarep lo!" Tukas Ardi sinis.


 


 


Justin mengalihkan tatapannya dari benda persegi di tangannya, ke arah dua remaja yang saling melempar tatapan sengit. Kemudian menoleh pada sang istri di sampingnya yang nampak menopang dagu tersenyum-senyum sendiri, menyaksikan perdebatan sang adik yang masih berlanjut di hadapannya.


 


 


"Kenapa sih, bukannya dipisahin, nanti cakar-cakaran loh," Justin berbisik pada Nena.


 


 


Nena menoleh "nggak bakalan, biarin aja," jawabnya. "Mereka tuh sebenernya cocok, Mas. Itu cara mereka buat mendekatkan diri."


 


 


"Cara mendekatkan diri harus se-menyebalkan itu?"


 


 


"Dulu juga Mas nyebelin banget."


 


 


"Masa?"


 


 


Nena melirik suaminya sebentar, "sekarang juga masih nyebelin sih."


 


 


"Tapi kamu suka, kan?"


 


 


 


 


Justin yang merasa gemas memeluk Nena dari samping, "sebel-sebel sayang, ya?" Godanya, lupa berbisik. Dan menjadi tontonan dua remaja yang haus kasih sayang di hadapannya.


 


 


"Khm!!" Karin berdehem membuat keduanya menoleh, "Karin mau ngomong, Bang."


 


 


Justin melepaskan pelukannya dari sang istri, "ngomong aja," suruhnya.


 


 


"Mungkin mulai besok Karin tinggal sama Papih Karin, jadi Abang nggak usah repot biayain sekolah Karin, biar papih yang tanggung." Karin berkata tanpa melihat lawan bicaranya, gadis itu tampak ragu, namun berusaha meyakinkan.


 


 


"Papih kamu bukannya udah nikah lagi, yah?" Tanya Nena, mulai menyiangi sayur di hadapannya untuk masak makan siang nanti.


 


 


"Iya Mba Nena, aku tinggal sama mamah tiri aku, nggak nyeremin kaya cerita upik abu kok, orangnya lumayan baik."


 


 


Nena mengangguk-angguk, menoleh pada pria di sebelahnya yang tampak diam, menatap gadis remaja di hadapannya dengan serius. "Bukannya kamu bilang papih kamu itu kasar, yah?" Nena bertanya lagi.


 


 


"Eum, i, iya sih, tapi kan itu dulu, mungkin sekarang nggak lagi." Karin berusaha tersenyum yakin.


 


 


"Nggak boleh!" Justin bersuara, membuat Ardi menoleh sekilas. Karin sedikit terperanjak, entah kenapa matanya berkaca-kaca.


 


 


"Mendingan kamu tinggal di sini aja, temenin ibu." Marlina yang baru muncul dari arah dapur berucap tiba-tiba sembari meletakan sepiring nasi goreng di hadapan Karin.


 


 


Ardi tersedak dan terbatuk-batuk di tempatnya. Pemuda itu lekas menandaskan air putihnya cepat-cepat. Ibunya memang tidak pernah ahli dalam bercanda.


 


 


"Itu lebih bagus, nggak aman kamu sendirian di rumah besar mamih kamu, lebih nggak aman lagi tinggal sama papih kamu yang brengsek itu." Justin berkata dingin. Karin membeku di tempatnya.


 


 


Marlina mengusap pundak gadis di sebelahnya, "anggap aja ibu, mamih kamu, kamu nggak usah sungkan."


 


 


Tangis Karin pecah, gadis itu sesenggukan di pelukan Marlina. Suasana yang berubah menjadi haru biru itu mau tidak mau membuat Ardi sedikit terenyuh, dia tahu sedikit tentang betapa beratnya hidup Karin, tapi bukankah itu bukan urusannya.


 


 


Pemuda yang telah menandaskan makanannya itu beranjak berdiri dengan membawa piring dan gelas kosong untuk di letakkannya di dapur, bersamaan dengan itu, sang kakak memanggil namanya, Ardi menghentikan langkah.


 


 


"Kamu nggak keberatan kan kalo Karin tinggal di sini?" Tanya Nena.


 


 


Ardi menghela napas pasrah, mau gimana lagi? "Terserah," jawabnya, kemudian pergi.


 


 


Nena bertepuk tangan. "Mulai sekarang kamu tinggal di sini, sikap Ardi nggak usah kamu masukin ke hati, dia emang gitu orangnya, nyebelin. Tapi sebenernya anaknya baik kok. Nanti juga kamu tahu." Nena berucap tulus, kemudian menyikut Justin. "Sama kaya abangnya."


 


 


"Hm?" Justin menoleh. "Kok, aku?" Tanyanya.


 


 


"Ardi kan adik kamu, sebelas dua belas deh sifatnya."


 


 


Karin tersenyum haru, dan ucapan terimakasih meluncur setelah itu.


 


 


"Nanti malam kamu ikut ke rumah Papa Juan, dia kangen sama kamu katanya." Justin berkata pada Karin, sebelumnya pria itu sudah menceritakan kebebasan sang papa pada Nena.


 


 


"Iya, Bang."


 


 


Jan lupa like nya ya 😘