OH MY BOSS

OH MY BOSS
TENTANG JUSTIN



"Lagi-lagi kamu benar," aku Justin, pandangannya kembali ke depan. "Mereka dididik dengan kasih sayang dan penuh kelembutan, pasti kelak mereka akan menjadi pribadi yang luar biasa. Seperti kamu."


"Kamu juga luar biasa," puji Nena.


"Luar biasa apa?" Justin menolehkan kepalanya, sudut bibirnya terangkat.


"Pencapaian kamu yang luar biasa, semuda ini sudah jadi bos besar." Nena tidak berani membalas senyuman Justin, gadis itu lebih memilih menatap anak-anak yang masih asik bermain. Ternyata selain anjing tetangganya yang luar biasa galak, senyuman Justin juga berhasil membuat jantungnya itu berdebar-debar.


"Manis banget si, deket lo kalo nggak diabetes pasti jantungan, mati muda gue bisa-bisa." Nena membatin.


"Semua ini bukan murni kerja keras saya, kalau saja saya tidak terlahir dari keluarga kaya, mungkin saya tidak akan sukses di usia semuda ini, kesuksesan memang buah dari kerja keras, tapi tanpa uang prosesnya akan lama."


"Kamu realistis banget yah."


"Tentu saja, pendidikan itu butuh banyak uang kan?"


"Ada juga yang dapat beasiswa."


"Sandang, pangan dan papan itu tidak termasuk ke dalam hitungan beasiswa. Mereka tidak bisa bertahan hidup hanya dengan menelan rumus," gurau Justin, dan Nena tampak tertawa dan mengangguk mengiyakan.


"Beruntung dong kamu, lahir dari keluarga Mr Juan yang kaya?"


"Bukan ayah saya yang kaya."


"Oyah?" Nena menolehkan kepalanya, merasa tertarik dengan cerita kehidupan bosnya itu.


"Kalau saya ceritakan, apa beritanya tidak akan masuk koran pagi besok?" gurau Justin.


"Kalau begitu nggak usah cerita, saya takut khilaf menjual berita ini untuk menutupi hutang-hutang saya," sergah Nena, dengan nada yang dibuat-buat tersinggung, Justin terkekeh pelan, gemas dengan gadis di sebelahnya itu.


"Jadi yang kaya itu ayah dari ibu saya, kakek saya terlalu menjunjung prinsip, bahwa yang harus menerima warisannya itu haruslah seorang anak laki-laki. Tapi sayangnya ketiga anaknya itu perempuan, termasuk ibu saya." Justin menoleh memastikan pendengar setianya itu tidak tidur di bangku selama proses bercerita.


Nena tersenyum, raut wajahnya begitu antusias, bibirnya terkatup rapat, mungkin gadis itu berjaga-jaga takut kalau mulutnya itu gatal untuk berkomentar.


"Emang kakeknya itu nggak kenal Raden Ajeng Kartini yah, nggak tahu emansipasi wanita kayaknya." Nena membatin.


Benar saja, Nena sangat ingin melontarkan kalimat-kalimatnya itu.


"Untuk itu hartanya itu tidak diwariskan pada ketiga anaknya sampai cucu dia lahir."


"Ibu kamu anak keberapa?" Nena tidak tahan jika hanya terus mendengarkan, rasa penasarannya terlalu besar jika harus menunggu bosnya dengan kalimat-kalimat yang kadang sulit dimengerti itu sampai selesai bercerita.


"Dia anak bungsu, dan kedua kakak perempuannya itu masing-masing mempunyai dua anak, dan semuanya perempuan." Justin menipiskan bibirnya, mengingat hal itu membuat hatinya terasa amat perih.


"Jadi kamu cucu laki-laki satu-satunya?" Tanya Nena sedikit terkejut.


"Iya, saat saya lahir, bukan hanya akta kelahiran yang saya dapat atas nama saya, tapi, seluruh aset kekayaan kakek saya juga semua diganti menjadi atas nama saya," tutur Justin, entah kenapa tidak ada nada bangga dalam kalimatnya itu. Nena sedikit takjub, ternyata masih ada keluarga yang seperti itu.


"Terus, kenapa sepertinya kamu nggak suka?"


"Bukan itu yang saya mau, tidak lama setelah saya lahir, ibu saya meninggal yang alasannya sampai sekarang saya tidak pernah tahu. Dan setelah kakek dan Nenek saya juga meninggal, saya hanya benar-benar hidup dengan kemewahan itu, saudara saya semua menjauh, saya tidak punya siapa-siapa."


"Beruntung kamu masih punya Mr Juan," hibur Nena, tidak ingin bosnya itu berlarut dengan kesedihan.


"Saya tidak mau mengatakan bahwa ayah saya itu bukan sosok ayah yang baik, kamu bisa menilainya." Justin menoleh, tersirat luka dalam sorot teduh kedua bola matanya. Nena mengerutkan dahi, tidak berkomentar dan membiarkan saja pria yang kembali memfokuskan pandangannya ke depan itu, kembali bercerita.


"Ayah saya mendidik saya begitu keras, dia tidak menerima kekalahan dalam bentuk apapun, sedikit saja saya membuat kesalahan maka bagian tubuh dalam saya akan memar dipukulnya."


"Maksudnya bagian tubuh dalam?"


"Semua yang bisa tertutup baju saya, jadi orang tidak ada yang tahu, pernah juga dia melempar kan saya ke sudut ruangan membentur meja, sampai tulang rusuk saya patah."


"Kenapa kamu tidak minta tolong, menceritakan hal itu pada siapa saja yang mungkin bisa menolong kamu," Nena geram sendiri. Tangannya terkepal kuat, entah kenapa dia jadi ikut terbawa emosi.


"Tidak ada yang bisa melawannya, juga tidak ada yang bisa menolong saya," ungkap Justin, tersenyum getir. Dan Nena baru ingat beberapa detik lalu bosnya itu bercerita bahwa saudaranya semua meninggalkannya karena warisan.


"Saya tidak menyangka, ternyata hidup kamu sesulit itu," tutur Nena setelah berhasil menguasai diri dari kekesalannya. "Saya pikir kamu orang yang sangat bahagia."


Justin tertawa mendengus, "mungkin seperti itu pandangan setiap orang yang melihat saya."


Nenabterdiam beberapa saat, kemudian kembali bertanya."Apa sampai saat ini Mr Juan masih begitu?"


"Tentu saja tidak. Saya tidak sepatuh dulu. Saat masuk kuliah saya memutuskan pergi ke LA, Amerika. Untuk menghindari ayah saya."


"Dan di sana kamu bertemu William?" Tanya Nena, Justin yang sejak tadi menatap gadis di sampingnya itu mendengus.


"Tolong yah jangan bahas bule gila itu sekarang, saya masih dendam dengan anak itu." Ucapnya seraya membuang muka, Nena terkekeh pelan.


"Ternyata kalian sedekat itu."


"Kenapa kamu berpikiran begitu?"


"Karena hanya orang terdekat yang akan tahu betapa menyebalkannya William," ungkap Nena, sudut bibirnya terangkat lebar, Justin menyambutnya dengan tertawa ringan.


***


Sepulang dari panti, Justin mengantar Nena ke rumah sakit, tapi sebelum itu mereka mampir ke apartemen Justin lebih dulu, tentu saja dengan persetujuan gadis itu.


"Ayo masuk." Justin membuka pintu apartemen lebar-lebar. Nena melangkah ragu, pandangannya disambut dengan furnitur ruangan yang begitu mewah, khas orang kaya banget. Pikir Nena.


"Tenang saja, saya tidak akan macam-macam. Dan lagi, ini bukan apartemen saya," ungkap Justin, Nena menoleh dengan raut penasaran. Kedua kakinya yang sudah mantap melangkah masuk tiba-tiba terhenti. Namun pemuda di hadapannya tidak menjelaskan apa-apa.


"Ayo sini, saya tidak akan lama." Justin meninggalkan Nena setelah mempersilahkan gadis itu duduk. pria itu berjalan tergesa menghampiri pintu yang Nena yakini itu sebuah kamar.


Nena duduk di atas sofa empuk yang dia taksirkan harganya itu setara dengan gajinya selama beberapa bulan, pandangannya menyapu segala penjuru, takjub dengan interior apartemen mewah itu.


kekaguman gadis itu teralihkan dengan suara siulan seorang laki-laki dari arah belakang, Nena menoleh dan beranjak dari duduknya.


Dilihatnya seorang laki-laki dengan kulit putih pucat tengah menggosok-gosokan handuk pada rambut coklatnya yang basah. Pria itu?


"Aaaaa!" Teriak Nena, pandangannya yang suci itu merasa telah dinodai.


"ASTAGA!!" Seseorang yang sepertinya baru selelsai berenang itu pun tidak kalah terkejut. William. Pria itu reflek menutupi bagian bawah perutnya dengan handuk.


"Serena? kau?" Gadis yang merasa kenal dengan suara itu sontak membuka telapak tangannya yang menutupi wajahnya yang mulai memerah.


"Ada apa?" Justin membuka kembali pintu kamarnya, pria yang sudah menanggalkan kemeja putihnya itu berhasil membuat kedua bolamata Nena kembali membelalak.


Dua orang pemuda yang luarbiasa tampan tengah bertelanjang dada di hadapannya. Sabar-sabar ini ujian. Pikir Nena.


"William, ada apa?" Justin bertanya pada pemilik apartemen itu.


"Tidak ada Just, hanya.... Serena melihat ini."


"WILLIAM!!!" Pekik Nena saat bule yang dia beri predikat sinting atas kekonyolannya itu kembali membuka handuk yang menutupi bagian bawah perutnya.


Sebenarnya pria itu tidak benar-benar telanjang, dia mengenakan boxer ketat yang ia gunakan saat berenang tadi.


William tergelak, lucu melihat ekspresi sahabat lamanya itu. Justin hanya menggeleng dan memberi peringatan dengan telunjuknya pada William yang kembali menutup bagian yang menurutnya paling sexi itu dengan handuk.



Jangan lupa di like ya, terus bagi komentar dikit dong, biar authornya semangat 😄😄😄


 


***