
Menjelang malam, Nena yang baru pulang main dari rumah ibu mertua rasa ibu kandung itu diajak ke apartemen William, kata Justin, ada barang yang perlu diambil di kamarnya.
Apartemen William itu memang mereka beli bersama-sama, namun Justin hanya meminta satu kamar saja untuknya, jika sewaktu-waktu ia ingin menginap dulu. Tapi itu dulu sebelum ia menikah, dan sekarang ia lebih sering pulang ke apartemennya, karena pasti ada sang istri yang menunggunya di sana.
"Kamu mau ikut?" Tanya Justin sembari membuka pintu kamarnya, mereka berdua sudah beradaa di dalam apartemen mewah William yang sedari tadi tidak tampak batang hidungnya.
"Ikut masuk kamar? Lama nanti urusan kamu nggak kelar-kelar. Cepet sana ambil sendiri." Nena mengomel, membuat Justin tertawa pelan.
"Jangan terlalu jauh kamu melangkah, nanti tersesat," ucap Justin yang entah kenapa begitu puitis yang membuat sang istri geli sendiri.
"Lebay banget kamu, Mas. Emangnya ni apartemen seberapa luas si."
"Nggak luas sih, cuman banyak ranjaunya."
Merasa ucapan suaminya itu tidak jelas, Nena hanya berdecak malas, dan menyuruh Justin untuk segera mengambil apa yang ia perlukan. Sementara itu Nena mulai berjalan-jalan mencari dapur.
Sesampainya di dapur, Nena membuka kulkas dua pintu dan tidak menemukan air putih di sana, hanya ada beberapa minuman kaleng, soda dan bir. Melihat kaleng terakhir itu, Nena mengernyit. Isi kulkas William aneh-aneh saja.
Nena menutup kembali, menoleh ke arah pintu yang ternyata menghubungkan ke area taman dan kolam renang, benar-benar apartemen idaman. Dan saat ia ingin berbalik, wanita itu mendengar suara tawa William, teman bulenya itu ternyata tengah duduk di kursi malas sebelah kolam renang.
Nena melangkah, hendak menghampirinya sebelum akhirnya berbalik dan bersembunyi di balik tembok yang memisahkan dapur dan area itu. William ternyata tidak sendirian.
Nena kembali melongok, mendapati seorang wanita berpakaian amat sexi keluar dari kolam renang, naik ke pangkuan William dan mencium pria itu. Dan seorang Serena malah lebih sibuk memikirkan kenapa wanita berrambut pirang itu berenang malam-malam, Memangnya nggak kedinginan.
Nena kembali menarik tubuhnya, takut ketahuan, tapi kemudian melongok lagi, kali ini mereka tampak lebih panas, si wanita melucuti kaus yang di kenakan William, dan William.... Ya Tuhan William, Nena kembali bersembunyi, tidak percaya dengan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
Selama ini dia tidak pernah tahu kehidupan teman bulenya itu seperti apa, dan ia pikir lurus-lurus saja. William tidak pernah bercerita apa-apa jika sedang dekat dengan seorang wanita, lalu sebenarnya dia menganggap pertemanan mereka itu apa, sampai William punya pasanganpun Nena sampai tidak dikenalkannya.
"Ini gimana ya, diliat dosa, nggak diliat penasaraan, iiih." Nena jadi sebal sendiri. Dan saat ia ingin melongokkan kepalanya lagi, sebuah telapak tangan menutup kedua matanya dari belakang. Nena terlonjak menyingkirkan telapak tangan yang ternyata milik Justin kemudian reflek berbalik badan.
"Nonton, Mbaknya." Adalah komentar sang suami yang membuat Nena mengerutkan dahi, seolah pemandangan seperti ini tidak membuat suaminya itu terkejut.
"Mas!"
"Ssstt." Justin menempelkan telunjuk di bibirnya sendiri, "ayo pulang," ajak nya, kemudian menarik sang istri yang mengikutinya dalam diam.
***
Di dalam mobil, Nena yang masih tampak memikirkan sesuatu membuat Justin tersenyum geli. Pria itu menyentuh pipi sang istri yang reflek menoleh, "mikirin apa sih?" Tanyanya.
"Emang kamu tadi nggak bilang sama William kita mau kesitu?" Tanya Nena.
"Aku udah bilang kok, tapi nggak bilang kesitunya sama kamu." Justin menjawab.
"Kamu pasti udah tau yah, William bawa perempuan kesitu, makanya tadi bilang banyak ranjau."
"Kalo itu aku nggak tau, dia terlalu sering bawa perempuan, aku nggak hafal lah jadwal pastinya kapan dia kedatangan tamu atau nggak." Justin berkata sungguh-sungguh, merasa bersalah juga karena istrinya itu harus tahu sisi gelap dari sahabatnya. "Jangan bilang siapa-siapa, ini rahasia." Justin mengingatkan.
"Kok William gitu ya, Mas." Entah pertanyaan atau pernyataan, Nena sendiri mengucapkan itu dengan bingung.
Justin yang sama bingung menjawab singkat, "ya emang gitu."
"Perempuan itu pacarnya William, Mas? Kok dia nggak pernah cerita, apa ceritanya sama kamu aja?" Tanya Nena beruntun dan membuat Justin menoleh sekilas, kemudian kembali fokus ke kemudi. Kenapa istrinya itu terlihat penasaran sekali. Pikirnya.
"Bukan pacarnya," jawab Justin.
"Kok, mesra gitu?" Nena semakin bingung.
Justin tertawa pelan, "mereka menyebutnya itu, one night stand," ucapnya.
"Wan, apa?"
Mendengar pertanyaan itu reflek Justin tertawa dan mengacak rambut Nena, istrinya itu kenapa polos sekali si. "Cinta satu malam, Sayang."
"Kok, kaya judul lagu dangdut," ucapnya, kemudian mulai berpikir dan menoleh. "Kamu juga dulu gitu kali ya, Mas," todongnya.
"Hah? Enggak lah."
"Kok, aku kaya mencium bau-bau dusta."
***
Sampai mereka berdua akan tidur pun, Nena masih menanyakan hal yang sama. "Beneran, Mas. Dulu kamu nggak kaya gitu?"
Justin menghela napas, membawa kepala sang istri bersandar di dadanya. "Aku emang tahu William se bebas itu, tapi nggak ikut-ikutan," jawabnya.
Nena mendongak, dari sorot mata suaminya itu sepertinya tidak ada kebohongan, Nena tersenyum. "Dulu William nggak kaya gitu tau, Mas."
"Ya dulu dia umur berapa? Sekarangkan dia punya kebutuhan."
"Kenapa nggak nikah aja si?"
Justin menoleh pada sang istri yang balik menatapnya, "nikah itu kan nggak mudah. Aku aja dapetin kamu sampe jungkir balik."
Nena terkikik geli, mengingat kisahnya dulu memang tidak pernah menyangka bisa sampai sejauh ini. "Tapi, Mas. Aku kok nggak pernah denger ada perempuan yang ngaku mantan kamu, kamu nggak pernah pacaran ya?"
Sebelum menjawab, Justin mengarahkan pandangan pada langit-langit kamar, mencoba untuk mengingat. "Ada, sih. Tapi di LA."
Tiba-tiba Nena menjauhkan diri, berbaring di bantalnya sendiri, membuat suaminya itu menoleh. "Kehidupan di sana pasti bebas kan, Mas?" Tanyanya.
"Ya enggak juga, tergantung orangnya." Justin menjawab.
"Tapi denger-denger di sana emang gitu, kamu udah ngapain aja selama pacaran di sana?" Tanya Nena berbaring menghadap suaminya.
Justin ikut menghadap pada Nena, "udah, deh. Jangan mulai, nanti kamu juga yang marah-marah," jawabnya dengan menahan senyum.
"Ah, bilang aja iya." Nena menyimpulkan sendiri. "Tapi kata Eci kamu sering bawa perempuan ke salon dia."
"Eci?" Justin mengerutkan dahi.
"Iya, yang tukang salon itu loh."
"Oh, itu. Apa yah namanya, kencan buta kali. Anak rekan papa. Tapi nggak sampe ada yang serius, aku nggak cocok."
"Kamu ikutan kencan buta." Nena tertawa.
Keduanya terdiam, lama, hingga hembusan napas masing-masing, juga suara pendingin ruangan tampak lebih mendominasi di antara mereka.
"Kenapa William nggak mau serius sama satu perempuan, Mas?" Adalah Nena yang lebih dulu mengeluarkan suara.
Justin berdehem, "mungkin dia takut kisahnya akan sama seperti orang tua dia," jawabnya.
Nena tahu, sejak Sma dulu orang tua William sudah berpisah, dan tidak lama kemudian mereka memiliki keluarga masing-masing. Membuat seorang William remaja dulu selalu merasa hidup sendirian.
"Mas, kamu kok, tahu banyak kisah William. Kalian deket banget yah?"
Justin tersenyum, mengangguk. Kemudian menyentuh pipi sang istri di hadapanya. "Kamu tahu, dulu William pernah cerita, bahwa dia sempat depresi dan nyaris merusak dirinya sendiri. Tapi ada satu perempuan yang membuat hidupnya lebih berarti. Dia sadar bahwa keadaannya itu tidak harus disesali. Tahu nggak perempuan itu siapa?" Tuturnya panjang lebar, kemudian bertanya.
"Siapa?" Nena balik bertanya.
"Kamu."
"Aku?"
"Udah ah jangan ngomongin dia terus."
"Kenapa si? Kok kayaknya kamu nggak suka gitu? Cemburu."
"Iya, aku cemburu, emangnya kamu, cemburu nggak mau ngaku."
Nena tertawa, "kok nyerang balik gitu si."
"Kalo gitu, sekarang gantian," ucap Justin membuat Nena seketika waspada. "Ini, siapa yang nyoba pertama kali." Justin menyentuh bibir sang istri dengan telunjuknya.
Nena menahan napas, menggeleng.
"Siapa? Bimo?" Tebak Justin.
"Mana mungkin, dia mana berani." Nena menyangkal.
"Terus siapa?"
"Kamu nggak usah tahu lah, Mas. Masa lalu."
"Semakin kamu nggak mau jawab, semakin aku penasaran."
"Nanti kamu marah." Nena membalikan tubuhnya, memunggungi sang suami.
Justin menarik pinggang sang istri dan membalikan tubuh wanita itu sepenuhnya menghadap padanya. "Mau jawab apa tiga ronde."
Mendengar itu reflek Nena memukul bibir suaminya gemas. "Kaya kuat aja," omelnya.
"Jeuh, nantangin. Ayo jawab." Justin terus mendesak.
"Janji kamu nggak bakalan marah?"
"Iya, siapa si? Palingan aku cuma bilang oh aja."
"Janji cuma bilang oh, aja."
"Iya." Justin sudah berjanji tapi Nena masih tetap diam, kembali pria itu mendesak mengatakan siapa, tanpa mengeluarkan suara. Nena balas menjawab tanpa suara juga.
"Hah? Siapa? Nggak kedengeran."
Nena berdehem, melirik sang suami yang tampak tersenyum menggoda. Kemudian menjawab dengan lirih.
"William."
"Astagfirullah haladzim." Justin Reflek memegang dadanya, sudut hatinya tiba-tiba terasa nyeri. Senyumnya menghilang.
Nena menarik tangan sang suami dari dadanya itu. "Mas, kamu udah janji jawabnya oh aja." Nena mengingatkan.
"Oh iya, oh ya ampuun kambing bule sialan." Justin bangkit dan terduduk.
Nena tertawa. "Mas! Kamu mau kemana." Nena reflek melingkarkan kedua lengannya pada perut sang suami. Menariknya agar tidak kabur.
"Aku mau kasih pelajaran."
Nena terus tertawa. "Emang anak sekolah dikasih pelajaran."
"NENA...."
***iklan***
Netizen; Thor, mau nanya, tulisanmu yg like banyak juga ampe 800 kadang. Tapi yang komen mentok di 40, itu sisanya demit apa akun kloningan lu ya.
Author: buset, akun kloningan ampe ratusan, niat bener.
Netizen; tulis TAMAT aja lagi thor biar pada keluar.
Author; janganlah entar gue di demo. Disumpain dapet jodoh kaya bang Entin. Berat dong.
Netizen; apa gembok aja thor, biar yang mau baca suruh nonton iklan dulu.
Author; lo mau gue disantet online.
Netizen; Tenang thor dukunnya temen gue. Ntar gue bilangin.
Author; bilangin jangan disantet ya?
Netizen; nggak, bilang aja, nyantetnya pelan-pelan.
Author: terseraaah, sebahagia lu aja.