OH MY BOSS

OH MY BOSS
BERDEBAR



Justin memasuki kamar mandi, membasuh wajahnya dan sedikit merapikan rambut yang terlihat acak-acakan.


Saat ia keluar, Nena tengah mengamati sebuah foto, "itu foto mama saya," ucap Justin yang membuat gadis itu menoleh. Pria Berpiyama doraemon itu menanggalkan sendal tidurnya di tempat tadi. Malu barangkali.


"Maaf, Pak." Nena meletakan benda itu pada tempatnya, kemudian berjalan menuju sofa ruang tv, begitu pula dengan Justin, namun, alih-alih memilih duduk di sofa tunggal, pria itu malah duduk di sebelah Nena, reflek gadis itu akan pindah, namun Justin menangkap pergelangan tangannya.


"Tidak  usah menghindar, saya sudah jinak," candanya. Bukannya tertawa Nena malah mengerjap panik. Justin terkekeh pelan, hanya dengan gadis itu sepertinya dia bisa banyak tertawa.


"Mamanya muda banget yah, Pak. Bule lagi."


"Foto itu diambil saat saya belum ada barangkali, karena tidak lama saya lahir, mama saya meninggal." Justin menoleh, menatap gadis di sebelahnya yang tampak antusias. Dia akui, Nena sangat mirip dengan foto mendiang mamanya, mungkin karena hal itu, Justin punya perasaan yang menurutnya cukup aneh pada gadis itu. "Kakek saya ada keturunan Belanda gitu, tapi nggak nurun ke saya."


"Mungkin bapak mirip Mr Juan." Hibur Nena yang berhasil membuat pemuda yang duduk di sampingnya itu mengarahkan pandangannya pada bingkai foto yang tertempel di dinding, tampak lebih besar  bergambarkan dirinya dan sang papa.


"Selama ini belum pernah ada yang bilang kalau kami itu mirip," ujarnya, dan Nena tampak mengiyakan. Dilihat dari segi manapun, kedua pria dalam foto itu memang cukup berbeda.


"Menurut saya nggak masalah sih, di keluarga saya juga nggak ada yang mirip sama saya," ungkap Nena yang kembali membuat atasannya menoleh.


"Oyah? sama dong," canda Justin dan berhasil membuat suasana di antara mereka tampak lebih santai. "Kamu sudah makan?" Tanyanya kemudian, saat meraih sendok di hadapannya, namun pria itu sedikit ragu menyendok makanan berbahan dasar nasi itu.


"Sudah, Pak."


"Ini apa?" Akhirnya dia bertanya.


"Nasi goreng, Pak Justin."


"Iya saya tahu, tapi biasanya nasi goreng itu kan banyak macam namanya."


"Nasi goreng gila, katanya."


"Dari sekian banyak nama, kenapa harus gila?" komentarnya, kemudian mulai menyendok nasi goreng yang katanya gila itu.


Nena menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "mana saya tahu," jawabnya, Justin tidak menanggapi, fokus dengan makanan di hadapannya. "Maaf kalo nggak sesuai selera bapak, habisnya bapak bilangnya apa aja asal bisa dimakan. Bingung saya."


Justin menoleh, senyumnya tampak spontan, tapi lebih manis dari biasanya, "terus, apa lagi yang saya tuliskan di sana?" Tanyanya yang sontak membuat Nena mengerutkan dahi.


"Jangan bilang kalau yang chatt saya tadi siang bukan bapak?!" Tebak Nena, dan Justin menggeleng.


"Calon adik tiri saya," jawab Justin di sela menyuapkan makanan kedalam mulut, tampaknya pria itu benar-benar lapar.


Nena menghembuskan napas, tampak lega mengingat chat mengerikan itu bukan benar-benar dari atasannya, namun sedikit merasa bersalah sudah mengatai bosnya itu gesrek. Nena reflek menepuk jidat. Dan hal itu tidak luput dari perhatian pria tampan di sampingnya.


"Kenapa? Kalian chat apa saja?"


Nena menoleh, telapak tangan ia turunkan. "Bapak baca sendiri saja Nanti." Suruhnya, Justin tersenyum, kemudian melanjutkan suapan ke sekian.


"Serena?" panggil Justin tanpa menoleh, "kenapa kamu panggil saya bapak? Saya sudah bilang kan, di luar kantor jangan panggil saya begitu," lanjutnya, masih dengan tidak menoleh.


"Sudah kebiasaan, Pak."


"Saat di Panti dulu, kamu bisa, tidak memanggil saya bapak,"


Nena menghela napas. "Itu sebelum saya jadi PA bapak, sekarang udah susah, lidah saya maunya begitu," keukeuhnya. Justin tampak mengangkat alis, pasrah dengan apa yang gadis itu mau. Kemudian kembali menekuni acara makannya yang sisa sedikit.


"Tadi siang, bapak makan apa? Di sini nggak ada assistant rumah tangga?" Tanya Nena iseng.


Justin menggeleng, "maunya bukan assistant lagi, tapi istri," ungkap nya yang entah mengapa mendengar itu hati Nena memanas. Gadis itu ber oh tanpa suara. "Tapi calonnya belum ada," lanjut Justin, Nena tidak berminat meneruskan topik itu, dulu hal ini pernah dibahas saat kondangan di gedung batik couple itu.


"Tadi Karin masak bubur, saya cukup terkejut, anak seperti itu ternyata bisa diandalkan." Justin menoleh, tatapanya seolah bangga, "termasuk membuat kamu bisa sampai di sini," lanjutnya, Nena tertegun. Dan setelah tersenyum, pria itu mengambil gelas dan meneguk isinya.


"Dia perempuan?" Tanya Nena.


Justin mengangguk. "Kelas tiga menengah pertama." Jawabnya.


"Masih muda banget dong yah?"


Justin menoleh, pertanyaan gadis di sampingnya itu menjurus ke arah lain sepertinya. "Memang kenapa?"


"Tua saya jika harus menunggu bocah itu, setidaknya lepas masa puber," tuturnya, masih diselingi dengan tawa pelan, dia menoleh. "Saya maunya kamu."


Deg!


Jantung Nena merosot, lututnya terlalu lemas jika ia memilih berlari meninggalkan bosnya yang ngaco itu. Gadis itu dengan sekuat tenaga menguasai perasaannya sendiri.


"Saya harus pulang, Pak." Izinnya, mencoba bangkit dari sofa empuk yang mulai terasa panas. Dan keringat Nena juga mulai membanjir, bahkan dengan pendingin ruangan yang menyala sejak lama. Aneh bukan.


"Mau kemana?" Justin menoleh, tatapannya seolah tidak rela, "bahkan bekas makan saya belum dirapikan," ujarnya.


Nena melirik piring kosong di hadapan pria itu, kemudian dengan cepat meraihnya dan membawa ke dapur. Dengan cekatan mengambil sabun dan mencuci piring dan sendok itu dalam diam, sampai tidak menyadari bahwa Justin terus mengekorinya dan saat ini berdiri di sebelahnya, menelengkan kepala.


"Kenapa pipi kamu memerah?" Tanyanya yang berhasil membuat Nena terkejut setengah mati, reflek melepaskan piring dan kedua telapak tangannya langsung memegang pipi, alhasil wajahnya jadi penuh busa. Dan membuat gadis itu semakin panik luar biasa.


"Hey!" Justin menghapus busa di pipi Nena dengan kedua tangannya, dan gadis itu membeku seketika. Wajah mereka begitu dekat, untuk sesaat keduanya saling berpandangan dalam diam. "Apa kamu berdebar-debar?" Justin bertanya kemudian dan berhasil membuat kesadaran Nena memulih, gadis itu mundur satu langkah.


"Bagaimana mungkin saya nggak berdebar-debar," terang Nena dengan sedikit sewot. "Ini rumah bapak, dan kita hanya berdua, apa jadinya nanti jika ada setan dan menjadi orang ketiga?" Lanjutnya, kemudian melengos meninggalkan Justin yang masih berdiri di tempatnya.


"Kesempatan dua minggu, Serena!"


Nena menghentikan langkahnya, jantungnya yang semula berdebar-debar semakin menjadi-jadi. Gadis itu berbalik. "Maksudnya?"


"Kamu memberikan waktu dua minggu kepada Bimo, agar bisa membuat jantung kamu berdebar-debar," Justin melangkah perlahan. "Berikan saya kesempatan yang sama."


Nena terbelalak, tentu saja dia begitu terkejut. Darimana pria itu tahu tentang kesempatan dua minggu saja membuat keningnya berkerut kusut. Dan yang lebih membuat gadis itu tercengang adalah permintaan kesempatan dua minggu yang sama, apa itu berarti Justin mempunyai perasaan untuknya?


Justin meraih kedua tangan Nena saat keduanya begitu dekat.


Nena yang masih tidak percaya menerima perlakuan itu dengan linglung. "Boleh, saya meminta waktu untuk membuat kamu bisa menerima perasaan saya?" Tanya Justin.


Nena melepaskan kedua tangannya dari genggaman Justin, perasaan sama, yang selama ini dia simpan untuk atasannya itu, ia lesakkan dengan begitu dalam, ini tidak bisa begini, pikirnya. "Nggak bisa, Pak." Nena membuang muka, menatap pria di hadapannya lebih lama hanya akan membuat pendiriannya goyah. "Saya nggak bisa menerima perasaan bapak," lanjutnya dengan mata terpejam, kalimat itu meluncur dengan sedikit bergetar.


"Kenapa? Apa saya tidak bisa membuat jantung kamu berdebar-debar?" Tanya Justin, dan Nena menggeleng. "Lihat saya Serena, tolong katakan itu dengan melihat kearah saya," pintanya, tentu saja Nena tidak bisa, dia juga memiliki perasaan yang sama sejak lama, dan kedua bola matanya itu pasti tidak bisa berbohong.


"Seberapa lama waktu yang saya perlukan hingga bisa membuat jantung kamu berdebar-debar?" Tanya Justin.


Perlahan Nena menoleh, keduanya saling tatap satu sama lain, sedetik, dua detik dan jantung Nena bergemuruh tidak karuan. Justin mencondongkan wajahnya, perlahan hembusan hangat yang keluar dari hidung pria itu menerpa ujung bibirnya, mereka terlalu dekat, hingga....


"Serena!!" Panggil Justin panik, gadis itu berlari terbirit-birit meninggalkan apartemennya.


***


Dan di sinilah Nena berada, merenungi apa yang terjadi dengan langkah tak tentu arah, dia tidak menangis meski perasaannya begitu kacau, kenapa seperti ini, dia yang menolak perasaan Justin, lantas apa yang membuatnya begitu nelangsa, apa tentang beda kasta, atau bahkan penyesalan atas penolakannya.


Apa gunanya UUD dilarang baper yang ia buat waktu lalu, percuma saja toh perasaannya sudah menjalar sejak lama, terlebih lagi mendapati perasaan yang sama dari pria itu, lantas dia harus bagaimana.


Nena merasakan kakinya begitu pegal, sudah berapa jauh dia menghindar? Bahkan gedung apartemen tempat dimana pria itu tinggal sudah tidak terlihat, Nena mengedarkan pandangannya, kemudian berbalik dan terpaku melihat seseorang yang tidak ingin ia temui saat ini.


"Pak Justin?" Ucap Nena lirih, pandangannya mengarah pada kaki telanjang pria itu, sepertinya kakinya terluka, ada bercak darah di sana. Beberapa gadis muda yang lewat tampak menoleh cekikikan, bagaimana tidak? Seorang pria dewasa dengan piyama doraemon bertelanjang kaki, ganteng pula. Apalagi jika mereka tahu dia adalah seorang Ceo, gempar Dunia.


Justin diam, Nena juga. Pandangan keduanya saling mengunci. Hingga salah satu dari mereka mulai mendekat. Justin.


Nena melirik kakinya sendiri, dia masih mengenakan sendal jepit rumahan Justin. "Bapak mengejar saya sampai sejauh ini karena sendal bapak saya ambil?" Tanyanya, dan berhasil membuat Justin tertawa lemah tanpa suara.


"Bukan karena sendal saya kamu ambil saya mengejar kamu sampai sejauh ini. Tapi hati saya yang sudah berhasil kamu ambil, Serena," ungkap Justin, Nena membuang muka, gadis itu tampak menggigit bibir, entah apa yang berusaha ia redam. "Mari, saya antar," tawarnya kemudian, dan berhasil membuat Nena menoleh.


"Tapi, bapak kan sedang sakit."


"Kamu bahkan tidak tahu, hati saya jauh lebih sakit."


"Pak Justin."


***