
Kali ini Nena benar-benar mengikuti saran Siska, datang dengan lewat 10 menit, dan benar saja, wajah wanita yang duduk di kursi resto dekat tirai pemisah itu benar-benar terlihat kesal, Nena jadi menahan tawa.
"Maaf saya terlambat, jalanan macet sekali." Nena memberi alasan klasik setelah berjabat tangan dengan wanita itu. Padahal, sudah sejak pagi dia berada di kantor sang suami, yang mana restoran tempat mereka sambangi adalah yang terletak di lantai atasnya.
Setelah melihat Nena menduduki kursi di hadapannya, Lily bertanya, "mau pesan apa?"
"Saya sudah makan, minum saja," ucap Nena saat Lily memanggil pelayan, Nena menyebutkan pesanannya.
Obrolan basa-basi seputar cuaca yang tidak jelas mengalir setelahnya, kemudian menyerempet ke cerita masa lalu Lily yang membuat Nena menahan napas.
"Saya ingat waktu itu dia sedang mengerjakan kuis, dan malah berlari keluar kelas hanya ingin memastikan saya tidak ketakutan dengan suara petir. Dia dulu memang seromantis itu." Lily menceritakan masalalu manisnya dengan pria yang kini telah menjadi masa depan Nena.
Nena ikut tersenyum di kursinya, mencoba tidak terpengaruh, menahan rasa ingin mengutarakan beberapa kalimat kasar yang bercokol di kepalanya. "Oyah," tanggapnya singkat saat Lily kembali menceritakan bagaimana mereka menyebut nama panggilan sayang masing-masih dengan mesranya. Sabar, Na, sabar. Rapalnya dalam hati.
Lily kembali bercerita tentang seberapa populer hubungan mereka di kalangan kampus, yang kemudian terpotong oleh kedatangan pelayan yang mengantarkan pesanan Nena, jus jeruk tanpa gula, kecut-kecut dah, pikir Nena, yang sudah mulai panas karena api cemburu.
Hingga cerita wanita itu semakin erotis yang katanya begitu besar nafsu seorang Justin pada dirinya dulu, Nena tidak mau terpancing. Dia ikut sedikit tertawa dengan cerita Lily yang sebenarnya tidak ada lucu-lucunya. Benar dugaannya, wanita ini pasti ingin membuat dirinya jengkel. Pikir Nena yang memang sudah mulai merasa kesal. Dia tetap tersenyum.
"Dia paling suka bagian leher saya, katanya sensitif, dan dia suka saat mendengar saya melenguh," Lily terkekeh sendiri dengan ceritanya, dan Nena terus berusaha untuk tidak merubah ekspresi tenangnya itu. "Kamu sendiri, bagaimana Justin memperlakukanmu? Saya jadi ingin tahu." Lily menatap wanita di hadapannya dengan intens, merasa menang dengan apa yang ia ceritakan.
Nena menopang dagu, tatapannya terkesan menantang, Lily tampak balik melemparkan tatapan yang meremehkan. Jika ungkapan sebuah tatapan bisa membunuh itu adalah benar, mungkin salah satu dari mereka pasti akan ada yang terkapar di lantai, entah siapa, tunggu saja.
"Sebenarnya tidak ada yang terlalu menarik, tidak seperti kisah kalian dulu, romantis sekali saya jadi iri." Nena mulai memuji, dan sepertinya wanita di hadapannya tampak sedikit berbangga diri.
"Iya, dulu kami memang pasangan yang serasi." Lily kembali menanggapi.
Nena mengaduk jus di gelasnya dengan gerakan elegan, kemudian melirik wanita di hadapannya dengan sedikit senyum, "setiap pasangan suami-istri itu punya cerita yang sama, tidak ada yang istimewa sebenarnya," ucap Nena, kembali mengarahkan pandangan pada segelas jus di hadapannya. "Suami saya itu memang manja, benar jika kamu bilang begitu. Karena setiap apa yang ia mau tidak bisa untuk saya jawab dengan kata tidak, terlebih jika sudah ingin." Nena melirik wanita di hadapannya, dari senyumnya yang tampak memudar, dan gerakan tubuh yang sedikit gusar, Nena tahu lawannya itu mulai terpengaruh.
Nena melipat kedua tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat, baginya apa yang ingin ia katakan, tidak untuk di perdengarkan oleh banyak orang. "Saya sebenarnya tidak terlalu suka menceritakan hal seperti ini, tapi sepertinya kamu sangat ingin tahu sekali."
"Ya, saya cukup penasaran." Lily ikut melipat tangannya di atas meja, mendengarkan dengan seksama.
"Suami saya itu ahli dalam bercinta, apa kalian pernah melakukannya?" Tanya Nena, tidak ada jawaban dari Lily, wanita itu tampak berusaha untuk tetap tersenyum.
"Kesukaannya terhadap saya cukup berbeda denganmu, dia bilang suka leher kamu kan? Dia malah suka apa saja yang ada di bagian tubuh saya." Nena sedikit terkekeh, mencontoh apa yang wanita itu lakukan beberapa saat yang lalu. Dan Lily tampak tegang di depan sana.
"Saat dia telah mencapai puncaknya, racauannya begitu lucu, saya hampir tidak bisa melupakan itu, apa kau ingin tahu?" Nena sengaja memberi pertanyaan hingga wanita yang tampak memikirkan sesuatu itu kembali memfokuskan tatapan pada mata Nena.
"Apa?" Tanya Lily, jelas sekali tanpa minat.
Nena tersenyum, "dia bilang. Sayang kau begitu memikat, aku rela mati kehabisan cairan cinta di atas tubuhmu yang begitu hangat." Nena sedikit terganggu saat mendengar kegaduhan di belakang tirai pemisah, seperti ada benda jatuh. Tapi wanita itu lebih tertarik menatap wajah Lily yang tampak kaku.
Lily berdehem, "wow, lucu sekali," ucapnya tanpa tertawa, tersenyum pun tidak. Wajahnya tampak kesal.
"Iya, dia memang seerotis itu." Nena kembali memanas-manasi.
Lily tampak mengeluarkan uang lembaran seratusan dan menaruhnya di atas meja, "sepertinya saya ada urusan lain, terimakasih atas waktunya," ujarnya. Dan setelah mendengar Nena mengembalikan rasa terimakasih yang sama, Lily pergi.
Nena mengusap bibirnya, merasa najis dengan apa yang diucapkan oleh mulutnya sendiri, "Astagfirullah," sebutnya, kemudian berlari mencari kamar mandi, dia benar-benar mual sekali.
Di kamar mandi yang tersedia di restoran itu Nena benar-benar memuntahkan isi perutnya, baru kali ini dia bisa muntah hanya karena sebuah kata-kata, atau memang dirinya tengah kurang enak badan, dia juga sering merasa pusing akhir-akhir ini.
Nena belum selesai dengan urusannya di salah satu bilik kamar mandi itu, saat beberapa wanita yang sepertinya tengah mencuci tangan di resroom, tertawa-tawa merasa lucu dengan sesuatu.
"Sumpah lucu banget, Pak Justin jatuh dari bangku, sayang banget tadi aku nggak vidioin, viral deh pasti, muka cool gitu abis jatuh pun tetep aja keren."
Nena yang baru selesai mencuci mulutnya mau tidak mau ikut menyimak obrolan tentang sang suami itu. Merasa ikut penasaran dengan maksudnya jatuh dari bangku itu apa.
"Iya, entar abis viral lo dipecat."
Obrolan masih berlangsung saat Nena memilih keluar dari bilik kamar mandi yang membuat kedua wanita itu terkejut setengah mati, menundukkan kepala dan meminta maaf pada Nena.
"Memangnya Pak Justin jatuh di mana?" Tanya Nena, yang ditanya malah diam dan saling berpandangan. "Nggak usah takut, saya nggak marah kalian ngomongin suami saya, saya cuma mau tanya saja."
"Eu, i, itu Bu tadi di meja nomor 40 dekat tirai pemisah, yang saya lihat Pak Justin terlalu mundur, bangkunya sampe ngangkat gitu eh abis itu kejengkang, maaf Bu saya nggak bermaksud—"
"Udah nggak apa-apa," Nena memotong ucapan wanita yang ternyata petugas cleaning service itu. Kemudian berpamitan pergi setelah mengucapkan Terimakasih yang membuat keduanya melongo.
Nena bingung harus merasa lucu dengan jatuhnya sang suami dari bangku, atau malah kesal karena ternyata pria itu sudah menguping obrolannya dengan sang mantan. Dan saat Nena membuka ruangan Justin, pria itu tengah duduk di kursi putarnya tampak sibuk dengan pekerjaan, dan dia tahu pasti itu hanya pura-pura.
Nena meletakan tas di atas meja, melipat tangannya di depan dada dan menyandarkan tubuh ke meja kerja sang suami.
Justin menoleh, tersenyum, "hay," sapanya yang membuat Nena melengos.
"Nggak usah pura-pura, Mas. Kamu nguping kan tadi."
Justin mengerutkan dahi, "nguping apa?" Tanyanya kemudian berdiri di hadapan sang istri, mengurungnya degan kedua tangan bertumpu ke atas meja.
Nena mendorong tubuh sang suami menjauh, memilih untuk merasa kesal pada pria yang cengengesan di hadapannya itu. "Tadi ada yang liat kamu jatuh dari bangku, kamu nguping kan? Apa yang kamu denger, Mas?"
"Oh, tadi aku denger katanya ada yang rela mati kehabisan cairan—"
Nena menutup mulut sang suami dengan telapak tangannya, "tolong jangan bahas ini lagi, Mas. Aku mual," ucapnya yang membuat Justin tertawa setelah Nena menurunkan tangannya.
"Tadi nanya, tapi nggak boleh dibahas, gimana si." Justin menepuk pelan mulut sang istri dengan jarinya, Nena tampak mengerjap terkejut. "Dapet dari mana sih kata-kata kaya gitu, perasaan aku belum pernah ngomong gitu."
Nena yang awalnya membuang muka tampak melirikkan matanya sekilas, wajahnya bersemu merah. "Dari komik," jawabnya singkat.
"Komik mesum dibaca."
Komentar Justin membuat Nena sepenuhnya menoleh, "enak aja," sungutnya yang membuat sang suami kembali tertawa, dan mencondongkan wajahnya pada Nena.
"Aku mau coba dong gimana rasanya hampir mati kehabisan cairan cinta."
"Mas!" Nena melotot, namun bukannya takut Justin malah memeluknya dengan erat.
"Beneran Sayang aku mau coba," ucap Justin mulai menyerang wanita di pelukannya.
Justin mengikutinya dengan menahan tawa. "Kenapa si?" Tanyanya, bukannya duduk di sebelah sang istri, Justin lebih memilih berlutut di hadapan Nena yang duduk cemberut di sofa, dan meraih jemarinya untuk ia genggam. "Kamu marah sama omongan Lilyana?" Tanyanya.
"Aku kesel dia manas-manasin aku terus," jawab Nena.
"Tapi kamu kan berhasil membalikan keadaan, aku rasa sekarang dia yang kesel." Justin coba menghibur.
"Iya tapi cerita aku itu ngarang, sedangkan dia?" Nena menatap sinis sang suami di hadapannya, tidak berniat melanjutkan kata-kata.
"Memangnya aku yang pandai bercinta itu ngarang?" Pertanyaan Justin mendapat tabokan di lengan.
"Mas, bukan yang itu."
"Oh, yang hampir mati—"
"Cukup, Mas, nggak usah dijelasin."
Justin menghela napas, memainkan kedua tangan sang istri di genggamannya, "kalo boleh jujur, mungkin itu juga yang aku rasakan setiap malam, hanya saja aku terlalu sulit untuk mengungkapkannya, aku nggak bisa semanis William dalam hal merangkai kata, apalagi sampai kepikiran buat bilang hampir mati kehabisan sper—"
Nena kembali membungkam mulut sang suami dengan keras, hingga pria itu terjengkang ke belakang dan terduduk. "Sayang, pinggang aku patah."
"Dibilangin jangan dibahas lagi." Nena mengomel, tapi melihat sang suami yang terduduk pasrah di lantai dengan memegangi pinggangnya dia jadi tidak tega, Nena ikut berhambur ke lantai, menahan tawa dan membantu suaminya itu naik ke sofa.
Wanita itu mengambil salep untuk menghilangkan rasa nyeri, kemudian dengan telaten mengoleskannya, "gimana Mas, rasanya jatuh dari bangku?" Tanya Nena pada pria yang memunggunginya itu, tangannya dengan pelan mulai memijat.
"Ngilu." Justin menjawab singkat.
"Makanya jangan suka nguping," sindir Nena yang tidak mendapat balasan dari sang suami, pria itu lebih sibuk meringis dan menyuruh sang istri untuk memijatnya lebih pelan. "Bener Mas kata cewek itu, kamu paling suka sama leher dia?" Nena bertanya.
"Iya," jawab Justin, "aduh," pekiknya kemudian saat pijatan Nena dirasa sedikit menekan.
"Boong dikit kek jawabnya, biar aku nggak kesel."
"Nanti aku jawab enggak kamu tuduh bohong, giliran aku jawab jujur malah disuruh bohong, kamu maunya aku jawab jujur apa bohong."
"Ya jujur, tapi liat sikon dong."
"Kenapa jadi laki-laki seserba salah ini si, besok aku pake rok aja." Justin berucap pasrah.
Nena jadi tertawa, "kenapa harus leher?" Tanyanya.
"Karena aku nggak bisa pilih yang lain."
"Kalo dari aku, kamu paling suka apa?"
"Kan aku pernah bilang. Semuanya."
"Kenapa semuanya?"
"Karena aku nggak bisa buat pilih salah satu." Justin jadi bingung, kenapa seorang wanita selalu menanyakan hal-hal yang mereka sendiri sudah tahu jawabannya.
"Kamu pacaran dua tahun beneran nggak ngapa-ngapain dia, Mas."
Justin berbalik badan, menyandarkan tubuhnya ke Sofa, "kalo aku macem-macem dia juga pasti tadi cerita."
Nena mulai berpikir, benar juga si, "kenapa kamu pacaran sama dia sedangkan kamu tau kalian itu berbeda."
Justin menghela napas, melirik sang istri yang entah kenapa begitu gencar mengintrogasi masalalunya. "Jadi ceritanya dulu kan papa dia dosen pembimbing aku, buat melancarkan semuanya, aku deketin anaknya. Eh keterusan, dianya nyatain perasaan."
"Terus kamu terima?"
"Kalo aku tolak, dianya kabur, terus nilai aku acak-acakan dong."
"Nggak murni berarti nilai kamu, Mas," tuduh Nena.
Justin berdecak, "ya nggak juga, dulu itu papanya galak banget, tapi sejak aku deket sama anaknya jadi jinak."
"Kok lama banget sampe dua tahun."
Justin berpikir sejenak, "apa ya? Ke enakan kali."
Nena berdecih, lama-lama suaminya ini menyebalkan sekali, "lebay banget kamu dulu, apa manggilnya, My Justin, My Lily, puiihh geli aku dengernya." Nena mengolok, dengan bahasa yang dibuat manja, diakhiri dengan berlagak meludah pula. Justin jadi tertawa.
"Sini-sini My Nena." Justin mengulurkan tangannya, hendak memeluk yang kemudian ditolak mentah-mentah oleh sang istri.
"Idih, geli banget."
"Kamu sendiri kenapa berhubungan sama William, padahal kalian berbeda?"
"Aku nggak pacaran ya, Mas."
"Tapi dia bisa dapet ciuman pertama, gimana coba ceritanya."
"Aku udah pernah bilang, nggak usah nyerang balik." Nena beranjak berdiri namun Justin menarik tangannya hingga terduduk lagi.
Justin mengunci tubuh Nena dengan kedua lengannya."Gimana coba ceritain, praktekin sekalian."
"Nggak!" Nena memberontak.
"Nolak dosa ya." Keduanya terus bergulat, berdebat masa lalu siapakah yang paling memalukan di antara keduanya.
**bukan iklan**
Author: Bentar lagi ending, author mau minta kenang-kenangan dari kalian para netizenku. Berkomentarlah meskipun cuman nulis next, karena beberapa hari kedepan author pasti bakalan merasa kesepian pas buka hp, nggak ada komentar kalian.
Netizen; next thor.
Author ; udah gue bilang ini bukan iklan.
Netizen; tapi gue pengen nongol thor.
Author; gue lagi sedih ini ceritanya, kalo ada lu bawaannya sewot.
Netizen ; next thor 😭
Author; bodo amat.