
Gilang mendongak agar dapat menatap Pelangi yang menangis di sebelahnya.
"Jangan salahkan dirimu. Bukankah kamu juga mengalami masa sulit saat itu. Aku bersyukur karena kamu masih selamat dam kita bisa bertemu lagi, Pelangi. Jangan pernah minta maaf atas sesuatu yang di luar kuasamu." Gilang membelai tangan Pelangi, meminta wanita itu untuk ikut duduk di sebelah.
Pelangi berlutut dan membiarkan kepalanya bersandar pada pundak Gilang. Ia butuh kekuatan saat ini, membayangkan kembali bagaimana rupa bayinya yang membiru dan tidak bernyawa membuat hatinya seperti ditusuk oleh ribuan belati. Sakit dan perih sekali. Perlahan tangannya terulur, menyentuh batu nisan di makam bayinya. Gilang membelai puncak kepala Pelangi dan berusaha agar tidak lagi menangis. Bagaimana pun ia merasa harus lebih tegar saat Pelangi ada di sebelahnya, karena Pelangi membutuhkannya, karena hanya dirinyalah tempat Pelangi untuk berkeluh kesah.
"Dia pasti senang sekarang, karena ayah dan ibunya datang menjenguk." Gilang tersenyum sembari meraba gundukan tanah itu.
"Ya, dia pasti senang." Pelangi menjawab dengan suara yang begitu lirih.
"Raina. Raina, kamu kah itu, Nak?" Suara serak seorang wanita tua mengejutkan Pelangi dan Gilang. Keduanya segera memisahkan diri dan bangkit berdiri untuk melihat siapa yang datang.
"Ya, Tuhan, ternyata benar kamu." Bu Siti menghampiri Pelangi dan segera memeluk Pelangi dengan begitu erat. Pelangi bahkan sampai kesulitan bernapas, tetapi ia membiarkan. Pelangi tahu betapa sayangnya wanita tua itu padanya walaupun mereka berdua tidak memiliki ikatan darah sama sekali.
"Bu, maaf baru datang," ujar Pelangi, sembari meraba punggung Bu Siti yang mulai membungkuk karena usia.
Bu Siti melepaskan pelukannya, lalu beralih menatap Gilang yang berdiri di samping Pelangi. "Dia bos kamu yang waktu itu datang ke sini juga, 'kan?" tanya Bu Siti sembari menunjuk Gilang.
Pelangi mengangguk, kemudian berkata, "Dia suamiku, Bu. Rencana Tuhan memang luar biasa. Aku dipertemukan dengan Gilang yang ternyata adalah suamiku."
Bu Siti terlihat bingung. "Itu artinya kamu sudah ingat siapa dirimu, Raina?"
Pelangi kembali mengangguk. "Ya, Bu, aku adalah Pelangi, menantu dari Farhan Andreas, istri dari Gilang Andreas pemilik perusahaan tempat aku, Alia, dan Joko bekerja."
Bu Siti terlihat bahagia, tetapi ia tidak menunjukkan keterkejutannya sama sekali. "Syukurlah, Nak. Ibu senang karena kamu akhirnya bisa mengingat semua yang seharusnya memang kamu ingat. Ayo kita masuk ke dalam. Kita bicara lebih banyak di dalam rumah," ajak Bu Siti.
Pelangi mengangguk, lalu menggenggam tangan Gilang dan menuntun pria itu berjalan menuju rumah.
Rumah sederhana itu masih tetap sama. Tidak ada yang berubah sejak terakhir kali Pelangi melihatnya, kecuali munculnya beberapa perabotan mewah yang ada di dalamnya seperti sofa, kursi pijat, dan beberapa barang elektronik yang sebelumnya tidak dimiliki oleh Bu Siti. Pelangi juga melihat atapnya telah terganti dengan atap baru yang tidak akan pernah bocor saat hujan mengguyur.
"Duduklah, Nak, ibu buatkan teh dulu." Bu Siti menyentuh lengan Gilang sembari tersenyum ramah, meminta Gilang untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
Gilang membalas senyuman dari Bu Siti dan segera duduk bersama dengan Pelangi.
Gilang memperhatikan sofa, kursi pijat, juga lemari hias yang ada di ruangan itu dengan dahi mengernyit.
"Ada apa?" tanya Pelangi, saat melihat kebingungan di wajah Gilang.
"Tidak apa-apa, hanya saja aku merasa tidak asing pada semua benda-benda ini." gilang menjawab.
"Oh, ya?!"
Gilang mengangguk. "Semua barang ini adalah keluaran The Luxurious, salah satu brand yang bekerja sama dengan semua jaringan hotel kami."
"wah, kalau begitu semua barang ini adalah barang mahal?"
"Tentu, harga sofa ini saja bisa mencapai 70 juta."
Pelangi terbatuk mendengar penuturan Gilang. Ia pun mulai berpikir dari mana Bu Siti mendapatkan uang sebanyak itu untuk membeli sofa dan barang lainnya. Apalagi sekarang Bu Siti memiliki barang elektronik, itu berarti Bu Siti memiliki genset sendiri, karena desa itu memang belum dialiri listrik. Listrik hanya akan ada di malam hari yang berasal dari genset milik beberapa warga. Rumah Bu Siti hanya menumpang beberapa lampu dan membayar iuran bulanan saja yang nominalnya pun tidak banyak.
Tidak lama kemudian, Bu Siti memasuki ruang tamu dengan membawa nampan berisi teh dan biskuit yang kemudian ia letakan di atas meja.
"Minumlah, Nak, hanya ini yang bisa ibu beri untuk kalian."
"Tidak usah repot-repot, Bu, ini saja sudah cukup." Gilang menjawab seramah mungkin, lalu segera meraih cangkir dan menyeruput teh hangat itu perlahan.
Bu Siti tersenyum, kemudian berkata, "Kamu sopan sekali, Nak, sama seperti ayahmu ketika dia datang kemari beberapa bulan lalu."
Gilang dan Pelangi saling tatap dengan bingung.
"Ayah kemari?" tanya Pelangi.
"Ya, dia kemari sehari setelah kepergian kalian dari sini. Dia menjelaskan banyak hal yang membuat aku merasa lega dan bahagia, jika dia tidak datang dan menjelaskan segalanya padaku, mana mungkin aku melepasmu hingga berbulan-bulan tanpa kabar, Nak, aku pasti akan mencarimu hingga aku menemukanmu."
"Apa yang dikatakan oleh ayah?" tanya Gilang.
"Dia menanyakan segalanya tentang Raina dan juga menceritakan padaku tentang kecelakaan yang terjadi dengan kalian berdua. Setelah dia menjelaskan panjang lebar barulah aku percaya kalau Raina memang menantunya yang hilang satu tahun lalu. Ajaib memang kalian bisa bertemu lagi. Ibu sangat bahagia saat mengetahui bahwa kamu pergi ke kota dengan suamimu sendiri, walaupun ayah mertuamu mengatakan suamimu juga sedang hilang ingatan saat itu."
Pelangi tersenyum. "Ingatannya sudah kembali sekarang, Bu, begitu juga dengan ingatanku dan orang yang telah melakukan semua ini pada kami pun telah tertangkap dan masuk penjara."
"Baguslah, Nak, baguslah." Bu Siti membelai wajah Pelangi sembari menangis. Ia sungguh bahagia karena Pelangi yang ia anggap seperti putrinya sendiri telah menemukan kebahagiaan.
"Oh, ya, kami membawa sedikit oleh-oleh untuk warga di desa ini, apa Ibu bisa membantu kami untuk memberikan kepada warga." Gilang berujar.
"Kalian ini kenapa repot-repot, sih, kalian datang saja ibu sudah senang sekali. Apalagi Nak Gilang memanggil ibu dengan sebutan ibu. Ibu merasa seperti memiliki putri dan menantu sungguhan."
Gilang tertawa. "Anggap aku sebagai menantumu kalau begitu, Bu, bagaimana pun juga Ibu sangat berjasa pada keluarga kami. Dan aku ingin mengucapkan terima kasih pada semua warga di sini. Toh, selama istriku tinggal di sini, keberadaannya disambut dengan baik. Aku tidak akan melupakan itu semua."
"Sebenarnya tanpa kamu lakukan pun, ayahmu sudah melakukan semuanya untuk kami, Nak. Banyak sembako dan pupuk tanaman hingga bibit tanaman yang dikirimkan Pak Farhan untuk kami setiap bulan. Pak Farhan itu sangat dermawan sekali. bersyukurlah karena kamu memiliki ayah sebaik dirinya, Nak."
"Benarkah?" tanya Pelangi.
Bu Siti mengangguk. "Desa kami bahkan memiliki listrik sekarang. Dan barang-barang di rumah ini adalah pemberian Pak Farhan. Padahal ibu sudah menolaknya, tapi Pak Farhan memaksa."
Pelangi mengusap pundak Bu Siti. "Rezeki jangan ditolak, Bu."
Bu Siti terkekeh, kemudian berkata, "Kalau begitu ayo kita ke kebun saja. Di sana kan ada pondok, nanti kalian bisa berbagi di sana. Joko dan Alia juga ada di sana."
"Joko bilang mereka diliburkan beberapa hari, tapi ibu tidak tahu mereka diliburkan karena apa."
"Oh, begitu."
"Ya, sudah, yuk kita ke sana. Mereka pasti suka melihatmu datang, Nak." Bu Siti kemudian mengalihkan pandangannya ke Gilang. "Raina ini dulunya kembang desa, hampir semua lelaki di sini suka sama dia. Ibu jadi bingung harus menjaga dia seperti apa. Ibu takut kalau sampai ada yang nekat dan bertindak yang macam-macam sama anak ibu," ujar Bu Siti, sembari berjalan menuju perkebunan diikuti oleh Gilang dan Pelangi.
Pelangi tertawa melihat wajah cemberut Gilang saat Bu Siti mengatakan jika dirinya adalah kembang desa saat masih tinggal di desa itu. Genggaman tangan Gilang di tangan Pelangi semakin erat saja, menandakan bahwa pria itu sedang cemburu berat. Padahal sebenarnya Gilang tidak perlu merasakan demikian, karena bagi Pelangi, Gilang adalah segalanya dan tidak akan pernah terganti oleh siapa pun.
Setibanya di pondok yang terdapat di tengah perkebunan, Alia dan Joko yang sedang sibuk bergosip tiba-tiba saja menghentikan obrolan mereka. Alia memfokuskan pandangan begitu melihat dua sosok tidak asing yang berjalan di belakang Bu Siti. Setelah ia yakin bahwa sosok itu adalah Pelangi, ia segera berlari menyeberangi perkebunan sembari berteriak-teriak riang.
"Raina! Raina! Aku merindukanmu, Raina."
Pelangi melambai sembari tertawa melihat tingkah Alia, temannya yang satu itu belum berubah. Masih juga suka berteriak dan berlarian jika sedang bahagia. Terkadang Alia bahkan tidak peduli saat kakinya menginjak tanaman di bawahnya. Jika hal itu terjadi, Alia akan mendapat omelan dari mandor dan upahnya akan dipotong sedikit.
"Oh, ya Tuhan." Pelangi terkejut saat Alia tiba-tiba menghambur ke dalam pelukannya dan segera menangis tersedu-sedu.
"Syukurlah kamu datang. Aku sangat merindukanmu tapi tidak tahu bagaimana cara untuk menghubungimu. Aku khawatir sekali karena Joko mengatakan padaku bahwa kamu sempat dirawat di rumah sakit."
"Aku sehat sekarang, aku sempat dirawat karena saat itu aku jatuh pingsan di mal. Tapi aku tidak tahu kalau Joko datang ke rumah sakit."
"Dia datang bersama perwakilan kantor cabang untuk meminta tanda tanganku. Aku lupa memberitahumu, Sayang." Gilang menjelaskan singkat ke Pelangi yang terlihat bingung.
Mendengar Gilang memanggil Pelangi dengan sebutan Sayang, Alia langsung melepas pelukannya dari tubuh Pelangi. Ia kemudian menatap Pelangi dan Gilang bergantian.
"Sayang? Itu berarti sudah ... maksudku kalian sudah saling mengingat?" tanya Alia.
Pelangi mengangguk, dan seketika itu juga Alia kembali menangis sembari berteriak, "Ya, Tuhan, syukurlah. Aku benar-benar ikut bahagia dan iri padamu. Bagaimana bisa kamu memiliki suami setampan Pak Gilang. Padahal aku naksir padanya."
Pelangi tertawa, begitu juga dengan Gilang. Namun, tidak dengan Bu Siti yang segera menjewer telinga Alia hingga wanita itu menjerit semakin keras.
Setelah pertemuan dramatis antara Pelangi dan Alia, selanjutnya Pelangi bertemu dengan beberapa warga yang berkumpul di pondok dan membagikan oleh-oleh yang dibawanya. Mereka semua bahagia karena Pelangi yang selama ini mereka kenal sebagai Raina telah mendapatkan ingatannya kembali, dan dugaan mereka sebelumnya tidak salah bahwa Pelangi berasal dari orang terpandang berstata sosial kelas atas. Banyak yang mengatakan bahwa Pelangi sangat beruntung karena memiliki suami setampan Gilang dan juga kaya raya.
Pelangi hanya tersenyum. Tidak dapat dipungkiri jika dirinya memang sangat beruntung. Memiliki Gilang di dalam hidupnya adalah keberuntungan yang sangat mengejutkan bagi Pelangi yang dulunya hanya seorang office girl di kantor milik suaminya itu. Cinta memnag tidak memandang status.
***
Matahari beranjak turun, cerahnya langit berangsur memudar, digantikan dengan cahaya keemasan yang mulai memenuhi langit senja.
Pelangi dan Gilang pamit undur diri kepada warga yang mengantarnya hingga ke kediaman Bu Siti. Sebelum kembali ke kota, Gilang dan Pelangi kembali menghampiri makam bayi mereka untuk berpamitan dan berjanji akan lebih sering berkunjung.
Sekarang keduanya sedang dalam perjalanan menuju kota. Pelangi yang merasa lelah, memilih tidak banyak bicara dan hanya diam bersandar menahan kantuk.
"Aku akan memindahkan makam anak kita. Bagaimana menurutmu?" tanya Gilang pada Pelangi.
"Aku setuju, asal ayah setuju."
"Ayah pasti setuju. Setelah pernikahan Andrew, mari kita pindahkan makamnya. Aku merasa jarakku dengan anakku sangat jauh sekarang ini."
Pelangi menegakkan tubuhnya dan menghadap ke Gilang, ia lalu menyentuh dada Gilang sembari berkata, "Dia ada di sini, bagaimana bisa kamu merasa dia begitu jauh."
Gilang menyentuh tangan Pelangi dan mengecupnya. "Aku hanya merasa sedih saja. Dia harus pergi secepat itu."
"Percayalah, dia sudah mendapatkan tempat yang baik di sisi Tuhan."
Gilang tersenyum. " Semoga Tuhan mengizinkan kita untuk memiliki anak lagi secepatnya."
Pelangi mengangguk. "Ayo kita berusaha lebih keras. Saat tiba di rumah nanti aku akan memasrahkan tubuhku padamu, Gil, terserah mau kamu apakan, aku suka dengan kejutan."
Gilang tertawa dan kembali mendaratkan kecupan di punggung tangan Pelangi. Ia tahu jika sekarang wanita itu sedang berusaha untuk menghiburnya, walaupun dirinya sendiri merasa sedih. Ya,ibu mana yang tidak sedih saat kehilangan anaknya. Hati Pelangi pasti lebih hancur dari Gilang, tetapi melihat ketegaran yang Pelangi tunjukan dan usaha Pelangi dalam menghibur Gilang membuat Gilang semakin mencintai Pelangi.
"I love you," ujar Gilang.
"I love you to." Pelangi menjawab, dan mengecup pipi Gilang dengan lembut. "Semoga kita tidak akan terpisah lagi, Gil, apa pun yang terjadi jangan pernah tinggalkan dan lupakan aku."
"Tidak akan pernah. Aku tidak akan pernah melupakanmu."
***
Stasiun bus, pukul 19.05
Seorang pria yang duduk di salah satu kursi besi yang berjejer di stasiun menggerak-gerakkan kakinya dengan tidak sabar. Sudah hampir dua jam ia menantikan seseorang yang katanya akan menjemputnya di stasiun begitu langit gelap, tetapi orang yang dimaksud tidak kunjung datang, membuatnya kesal setengah mati.
Ia lalu bangkit berdiri, melangkah dengan kakinya yang pincang sembari menggotong ransel besar di pundak.
"Sialan, tidak bisa dipercaya. Dasar brengsek!" omel pria itu, lalu meludah ke samping.
langkahnya tiba-tiba berhenti saat ia mendengar suara dari ponsel seseorang yang juga duduk di salah satu kursi stasiun.
Tersangka kasus pembunuhan berencana terhadap Gilang Andreas dan istrinya, Pelangi Aulia Andreas, akhirnya tertangkap. Polisi masih mengumpulkan bukti dan saksi lainnya untuk dimintai keterangan sebelum kasusnya dibawa ke persidangan.
Tersangka sendiri merupakan seorang model papan atas berinisial GS yang merupakan mantan kekasih Gilang Andreas, sampai saat ini motif pembunuhan berencana itu dilatarbelakangi sakit hati.
"Waah, menarik." Pria itu bergumam.
Bersambung.