OH MY BOSS

OH MY BOSS
HARI EKSEKUSI



Pelangi merasa perutnya seperti sedang diremas-remas oleh puluhan tangan gaib yang tak kasat mata. Itulah sebabnya ia mengabaikan pesan Gilang yang memintanya agar tetap tinggal di kamar selagi pria itu masih berada di kantor. Sebenarnya beberapa waktu yang lalu, Pelangi telah mencoba untuk tidur agar rasa nyeri di perutnya tidak semakin parah, setidaknya ia bisa menunggu sampai Gilang tiba. Namun, percuma saja, ia benar-benar tidak tahan dan segera memutuskan untuk membeli obat di apotek yang ada di seberang jalan.


Sekarang Pelangi telah berada di elevator bersama dua orang wanita yang tidak ia kenal. Wanita satunya yang tampil stylish dengan topi dan kacamata hitam terlihat cuek, tidak seperti wanita satunya lagi yang sejak memasuki elevator selalu mmenatapnya dengan tatapan khawatir. Pelangi berpikir mungkin karena ia terlihat sedang kesakitan maka wanita bermasker itu menatapnya dengan kasihan.


Pemikirannya itu terbukti benar, wanita yang tak lain adalah Delia menghampiri Pelangi dan segera menyentuh lengan Pelangi. "Anda sakit?" tanya Delia pada Pelangi.


Pelangi mengangguk sembari berusaha untuk tersenyum kepada Delia. "Sepertinya asam lambungku kumat."


Delia berdecak. "Seharusnya Anda jangan sampai melewatkan waktu makan. Kesehatan adalah segalanya. Jika sudah terlahir sehat, maka usahakan jangan sampai sakit. Sakit itu benar-benar tidak enak."


Pelangi menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Ia merasa bingung dan lucu karena baru kali ini ia diomeli oleh seseorang yang baru ditemuinya. Ia bahkan tidak kenal dengan seseorang itu.


"Maaf. Aku terbawa perasaan. Aku sudah menderita penyakit sejak kecil, dan hidup selama hampir tiga puluh tahun dengan beban penyakit ini sungguh membuatku ingin mati saja di setiap detiknya. Terkadang aku berpikir ingin mengulang waktu dan meminta Tuhan agar tidak menciptakan tubuhku dan aku."


Pelangi meringis, ia merasa kasihan pada Delia. "Jangan bicara seperti itu. Hidup itu penuh kejutan. Suatu hari nanti Anda pasti akan menemukan sesuatu hal yang membuat Anda ingin bertahan dan hidup untuk waktu yang lama."


"Benar. Aku sudah mendapatkannya, dan sekarang aku ingin hidup hingga seratus tahun." Delia tertawa dan menghentikan ucapannya saat pintu elevator terbuka dan menunjukan lobi yang ramai di hadapan mereka.


Delia menghela napas begitu melihat lobi hotel yang dipenuhi dengan orang-orang, karena ia berpikir jika dalam keadaan yang begitu ramai, Gisel pasti tidak akan berani macam-macam dengan Pelangi.


Gisel keluar dari dalam elevator, disusul oleh Pelangi dan Delia. Ketiganya berjalan menuju pintu keluar, tetapi saat hendak tiba di pintu keluar, Gisel berbelok, wanita itu melangkah menuju sofa yang berjejer di setiap sudut lobi.


Delia memperhatikan setiap gerak-gerik Gisel. "Dia pasti tadinya berniat untuk mengikuti Pelangi. Tetapi karena ada aku, dia tidak jadi mengikuti Pelangi." Delia membatin.


"Em, jika kau boleh tahu, Anda akan pergi ke mana?" tanya Delia pada Pelangi.


"Aku akan ke apotek di seberang jalan sana. Sepertinya beberapa obat akan membantuku untuk mengurangi rasa sakit ini, sampai nanti aku bertemu dengan dokter." Pelangi menjawab.


"Biar aku temani kalau begitu. Aku sungguh takut jika Anda nanti pingsan di tengah jalan."


Pelangi menatap Delia untuk sesaat, kemudian ia tersenyum dan berkata, "Baiklah, jika hal itu tidak merepotkan."


"Tentu tidak. Kebetulan juga aku sedang bosan di dalam kamar sendirian."


Pelangi tersenyum. "Oh, ya, kita belum berkenalan. Aku Raina. Teman-temanku biasa memanggilku dengan sebutan Rain." Pelangi mengulurkan tangan.


"Rain, hujan." Delia tertawa, lalu menyambut ukuran tangan Pelangi. "Aku Delia."


Pelangi menatap Delia lamat-lamat, seolah sedang berusaha mengingat sesuatu. "Delia, Delia, Delia." Pelangi mengulang kalimat itu di bibirnya. "Terdengar tidak asing," komentar Pelangi.


Delia tersenyum di balik masker yang menutupi sebagian wajahnya. "Memang."


***


Gisela memperhatikan kepergian Pelangi dan Delia dengan kesal. Ia tidak tahu siapa wanita yang bertingkah sok akrab pada Pelangi sejak mereka bertiga berada di dalam elevator. Karena wanita itulah rencananya untuk mencelakai Pelangi menjadi gagal, padahal ia telah memperhatikan kamar Pelangi sejak pagi, menunggu wanita itu keluar seorang diri tanpa ditemani oleh Gilang.


Sebenarnya Gisela bisa saja menyewa seseorang untuk mencelakai Pelangi, tetapi kali ini ia merasa harus melakukan hal itu seorang diri agar ia merasa puas.


Sekarang Gisela sedang sibuk dengan ponselnya, menggeser layar benda pipih itu hingga ia menemukan nama Antonio. Gisela menekan tombol hijau berlambang gagang telepon untuk melakukan panggilan telepon pada pria suruhannya itu.


"Ya, Nona." Suara berat Antonio menjawab panggilannya pada dering pertama.


"Kemarilah. Aku membutuhkanmu."


"Datang sajalah." Gisel memutuskan panggilan telepon.


Antonio berdecak kesal, lalu segera menghubungi Andrew.


"Ya, Antonio, ada apa?"


"Gisela memintaku untuk datang ke hotel sekarang, tapi dia tidak mengatakan padaku apa yang harus aku lakukan. Kamu di mana sekarang? Dan wanita yang sedang kamu coba untuk lindungi itu, apakah ada yang menjaganya sekarang?" tanya Antonio dengan khawatir. Ia takut jika Gisela memberinya perintah untuk mencelakai Pelangi saat itu juga, sementara wanita itu sedang seorang diri tanpa diawasi oleh siapa pun.


"Tidak ada. Kami semua sedang di kantor. Ulur saja waktu jika Gisel memaksamu melakukan sesuatu yang dapat membahayakan Pelangi. Aku akan segera kembali ke hotel."


"Ya, cepatlah, Ndrew."


Toni yang sedang sibuk memeriksa sebuah laporan segera bertanya pada Andrew begitu melihat kegelisahan di wajah pria itu. "Ada apa? Apa Gisel membuat ulah lagi?"


Andrew tidak menjawab, ia malah mengajukan pertanyaan lain ke Toni. "Gilang di mana?"


"Dia di Paris Resto dengan Tito, ada pertemuan dengan Tuan Edgar di sana."


"Aku akan kembali ke hotel kalau begitu."


"Laporan ini harus siap setengah jam lagi, Ndrew, aku tidak bisa menyelesaikan semuanya seorang diri."


"Tapi Gisel ada di hotel sekarang dan dia meminta Antonio datang sekarang juga. Aku yakin sedang ada sesuatu yang direncanakan oleh ular betina itu."


"Antonio adalah orangmu, dia pasti akan membantumu melindungi Pelangi bagaimana pun caranya. Tenang saja dan selesaikan ini dulu, atau kamu hubungi saja Delia, minta padanya untuk datang ke kamar Pelangi dan mengecek keadaan Pelangi. Toh, Pelangi tidak ingat pada Delia." Toni memberi saran yang lebih masuk akal.


Andrew kembali duduk dan meraih ponsel dari dalam saku jasnya dan menghubungi Delia.


"Tidak diangkat. Tolong selesaikan semuanya, Toni. Semangat!" Andrew menepuk pundak Toni dan segera berlari keluar ruangan.


"Hai, Andrew, awas saja kamu!"


***


Lima belas menit berlalu. Gisel mulai hilang kesabaran. Ia pun segera bangkit berdiri dan berjalan dengan cepat menuju area parkir hotel. Keputusan telah ia ambil, jika ia melakukannya dengan cepat, ia yakin tidak akan ada yang bisa melihatnya. Apalagi mobil yang ia gunakan sejak kemarin adalah mobil sewaan, bukan mobilnya sendiri.


Gisel masuk ke dalam mobil, menginjak pedal gas dan segera memutar menuju jalan besar. Di seberang jalan, ia melihat wanita yang belakangan ini telah banyak menyita waktu Gilang. Wanita itu tertawa sembari menyantap es krim pinggir jalan dengan wanita yang ditemuinya di elevator. Keduanya terlihat akrab dan bahagia.


"Ya, tertawalah sebelum malaikat mau datang menjemputmu Raina sialan." Gisel bergumam, lalu kembali menginjak pedal gas, mencari tempat untuk berbelok agar ia dapat berpindah ke sisi jalan lainnya di mana Pelangi sekarang berada.


"Nah, selamat tinggal," ujar Gisel, ketika ia telah berada di seberang jalan dan jarak antara mobilnya dan Pelangi juga si wanita baru itu sudah semakin dekat.


Gisel menginjak pedal gas semakin dalam dan ....


Bruk!


Tubuh seseorang terpental dan jatuh di kaca depan mobilnya sebelum tubuh itu jatuh ke aspal. Darah berceceran di kaca bagian depan mobil dan juga di aspal. Teriakan si wanita baru memekan telinga Gisel yang kaca jendela mobilnya sedikit terbuka.


Kedua mata Gisel merah dan berair, kemudian ia segera melaju dengan cepat meninggalkan kekacauan yang sedang terjadi.


Bersambung ....