
Pelangi mengikuti saran dari Gilang. Ia menghampiri Andrew ketika pria itu berada di ruang kerja seorang diri saat sore harinya.
"Ehem." Pelangi berdeham, berusaha menarik perhatian Andrew yang sibuk membaca sebuah buku di balik meja kerja yang ada di ruangan itu. Wajah Andrew terlihat serius dan lelah. Namun, senyum seketika tersungging di bibirnya saat ia melihat kedatangan Pelangi.
"Hai," ujar Andrew, menyapa Pelangi setelah ia melihat kehadiran wanita itu di dalam ruangan.
"Aku ingin bicara," ucap Pelangi, tanpa basa-basi. Ia berusaha bersikap sebiasa mungkin pada Andrew.
Andrew menaikan sebelah alisnya. "Berbicara denganku? Tumben. Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Andrew, ia menutup buku yang sedang ia baca dan memperhatikan Pelangi dengan kedua matanya yang memiliki tatapan tajam.
Pelangi menghela napas, ia kemudian duduk di hadapan Andrew. "Ini masalah penting, Ndrew."
"Ya, aku tahu pasti sesuatu yang penting, karena kamu tidak akan mungkin datang menghampiriku jika tidak ada sesuatu yang penting. Katakan saja."
Pelangi mengatur napas kemudian berkata, "Apa kamu benar-benar mencintaiku?"
Andrew tersentak. Ia tidak menyangka jika Pelangi akan mengajukan pertanyaan itu padanya. Andrew sekarang bahkan tidak bisa berkata-kata, lidahnya terasa kelu dan ia merasa dadanya sakit karena Pelangi mengajukan pertanyaan yang membuat ia ingin merengkuh wanita itu seperti dulu.
"Ndrew, aku bertanya padamu. Apa kamu tidak bisa menjawab atau kamu tidak mendengar?" Pelangi mengibaskan tangan di hadapan wajah Andrew.
Andrew meraih tangan Pelangi dan menggenggamnya sejenak sebelum ia melepaskan tangan Pelangi dan bangkit berdiri dari kursi yang tengah didudukinya.
"Haruskah kujawab?" Andrew balik bertanya.
"Tentu."
"Kamu ingin aku menjawab jujur atau berbohong?" Andrew sekarang berdiri di samping Pelangi dengan tangan yang terlibat di depan dada.
Pelangi memutar bola matanya dengan malas, kesal karena Andrew terlalu bertele-tele. Bukannya menjawab pertanyaannya, pria itu malah melempar sebuah pertanyaan lagi padanya.
"Begini saja. Tidak masalah jika kamu tidak mau menjawab, tapi tolong dengarkan aku. Aku tidak mencintaimu, Ndrew. Maaf, jika selama ini aku telah membuatmu salah paham dan akhirnya kamu menyukaiku. Aku telah menikah, begitu juga denganmu. Apa kamu tidak merasa bersalah pada Delia? Tolong lupakan saja semua perasaanmu itu dan fokuslah pada Delia. Dia sedang mengandung, dan hal seperti ini akan berakibat negatif pada kehamilannya."
Andrew menyimak setiap penuturan Pelangi dengan penuh perhatian. Ia bahkan tidak mengalihkan pandangannya sama sekali dari Pelangi.
"Sudah selesai?" tanya Andrew.
Pelangi mengangguk. "Ya, aku sudah selesai."
Andrew menghela napas panjang, lalu kembali duduk di kursinya. "Keluarlah, Pelangi!"
"Tapi, Ndrew--"
"Kamu tidak berhak untuk memerintahkan dan mengendalikan perasaanku. Apa menurutmu aku tidak berusaha menyingkirkan perasaan menyiksa ini, hah? Asal kamu tahu saja, Pelangi, di antara kalian berdua, akulah yang paling menderita. Aku sadar di mana posisiku, tapi untuk menyingkirkan perasaan ini aku merasa sulit sekali. Aku berusaha menahannya asal kamu tahu saja, karena jika aku tidak menahannya aku pasti tidak akan menikah dengan Delia, aku pasti tidak akan membiarkanmu terus hidup bersama Gilang, dan yang pasti aku pasti akan terus mendekatimu karena kondisi Gilang yang sekarang pastilah membuatmu tidak tersentuh, 'benar? Tapi aku tidak melakukannya, aku tidak menggodamu dan bahkan aku tidak membuatmu agar tidur denganku--"
"Drew! Apa yang kamu katakan?"
"Aku mengatakan yang sebenarnya kurasakan dan yang sebenarnya ingin kulakukan, tapi aku menahannya hingga saat ini. Jadi, berhentilah menyalahkanku jika kamu tidak ingin aku bertindak nekat."
Pelangi mundur selangkah, tidak percaya pada pikiran Andrew yang begitu kotor. "Aku mencintai suamiku. Kamu harus tahu itu."
"Aku tahu. Itulah sebabnya aku menghargai kalian berdua."
"Apa kamu tidak mencintai istrimu, Ndrew?" tanya Pelangi dengan suara pelan. Ia masih begitu terkejut akan ucapan Andrew.
"Aku menyayangi Delia. Tidak mungkin tidak. Sekarang keluarlah. Jangan khawatirkan aku. Aku masih memiliki akal sehat dan tahu di mana batasanku." Andrew kembali meraih buku yang ada di atas mejanya dan mulai membuka halaman terlipat yang tadinya tinggalkan.
Pelangi memandang Andrew selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia keluar dari ruangan itu dan melangkah menuju teras. Ia tidak siap kembali ke kamar dan bertemu dengan Gilang sekarang. Ia butuh waktu untuk memenangkan diri.
Sesampainya di teras, Pelangi memilih untuk duduk di kursi taman yang ada di teras, ia tidak terlalu memperhatikan sekitarnya, hingga ia tidak sadar jika Farhan Andreas sedang duduk di teras juga.
Farhan memperhatikan wajah Pelangi yang muram. Wajah cantik yang sangat mirip dengan wanita yang pernah mengisi hati Farhan.
"Ada masalah apa, Nak? Wajahmu terlihat sedih sekali."
Pelangi terkejut, ia segera menoleh ke asal suara dan langsung bangkit berdiri begitu melihat Farhan sedang duduk seorang diri di teras.
"Ayah, maafkan aku karena tidak melihat, Yah." Pelangi membungkuk sedikit, lalu segera menghampiri Farhan dan duduk di sebelah pria itu.
Farhan tertawa. "Kamu ini kenapa, Nak, seperti baru mengenalku saja. Bersikaplah biasa, aku ini mertuamu, bukan majikanmu. Ada-ada saja."
Pelangi ikut tertawa. "Maaf, Ayah, aura ayah itu terlalu bersinar. Terkadang aku lupa jika kita berada di rumah, bukannya sedang di kantor."
Farhan mengangguk. "Ngomong-ngomong masalah kantor. Apa Gilang masih sering datang ke kantor sebulan belakangan ini?"
Pelangi menggeleng. "Tidak, Ayah, terkadang Gilang hanya datang dua hari atau tiga kali sehari. Selebihnya aku yang datang dan menggantikan tugas Gilang."
Farhan mengacungkan ibu jarinya. "Luar biasa. Sepertinya kamu berbakat."
Pelangi tertawa. "Gilang banyak mengajariku apa yang harus aku lakukan saat aku di kantor. Dia juga memberitahuku beberapa pekerjaan penting yang harus kukerjakan agar kondisi perusahaan tetap stabil, Ayah. Anak ayah itu yang luar biasa, bukannya aku."
"Aku senang sekali karena hubungan kalian semakin membaik, padahal dulu kalian berdua itu seperti kucing dan tikus. Dan aku juga merasa beruntung karena kamu tetap memilih berada di samping Gilang bahkan setelah setumpuk cobaan yang terjadi. Terima kasih, Pelangi."
Pelangi meraih telapak tangan Farhan dan meremasnya dengan lembut. "Jangan berterima kasih, Ayah, karena akulah yang seharusnya mengatakan itu. Terima kasih karena telah memungutku dari kubangan lumpur. Keputusan Ayah saat itu telah menyelamatkan hidupku yang telah benar-benar kacau."
Farhan mengusap puncak kepala Pelangi. "Aku tidak pernah salah menilai orang," ucap Farhan, lalu kembali berkata. "Oh, ya, apa kamu tidak berencana untuk mengucapkan selamat pada Suster An?"
Dahi Pelangi mengernyit. "Selamat untuk apa, Yah?"
Farhan mengehela napas, wajah keriputnya terlihat bimbang. "Entah haruskah kita mengucapkan selamat atau sebaliknya. Aku bahkan belum melihat keadannya setelah dokter pulang."
"Dokter? Apa ada Dokter yang datang kemari?" tanya Pelangi. Ia benar-benar tidak tahu karena menghabiskan waktu di kamar dengan Gilang sejak selesai sarapan hingga sore hari.
"Ya, baru saja dokter pergi. Aku hanya mendengar dari Amara kalau Suster An sepertinya tengah mengandung."
"Ck, kapan aku membohongimu, Nak. Aku tidak pernah berbohong padamu."
"Ya ampun," gumam Pelangi, sembari menutup mulut dengan tangan. "Ayah, bolehkah aku ke atas sekarang? Atau Ayah mau kuantar ke kamar dulu sebelum aku naik ke kamar Suster An."
"Farhan menggeleng. " Tidak, Nak, kamu ke atas saja dan temui dia. Aku tidak apa-apa di sini. Akan aku panggil pelayan jika aku ingin kembali ke kamar."
Pelangi mengangguk dan segera bangkit berdiri. "Baiklah, Ayah, aku ke atas dulu. Daah, Ayah." Setelah mengatakan itu Pelangi segera berbalik memunggungi Farhan dan berlari masuk ke dalam rumah lalu menaiki tangga dengan cepat.
***
Anneth tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Beberapa minggu terakhir ia memang merasa tidak enak badan dan setiap pagi merasa mual setengah mati, dan malam harinya ia akan merasa lapar luar biasa. Tidak jarang ia mengendap-endap ke dapur hanya untuk mengambil beberapa potong roti atau buah yang ada di dapur dan membawanya ke kamar.
Anneth pikir semua itu karena selera makannya sedang bagus saja. Tinggal di rumah mewah dengan segala kebutuhan yang terpenuhi membuat pikiran Anneth menjadi sedikit lebih tenang. Ia pikir karena hal itulah yang membuat dirinya menjadi rakus. Namun, ternyata bukan. Seorang janin yang sedang berkembang di rahimnyalah yang membuat selera makannya membaik, dan sekaligus ia merasa mual di pagi hari.
"Sus--"
"Panggil aku Anneth saja, Amara. Aku bukan Suster lagi sekarang, dan kita sudah berteman. Tidak perlu ada formalitas kurasa." Anneth memotong pembicaraan yang akan dimulai oleh Amara.
Amara tersenyum. "Kamu harus makan dan minum obat agar sakit kepala juga rasa mualmu menghilang. Besok pagi-pagi aku akan mengantarmu untuk memeriksakan kandungan ke dokter obgyn."
"Anneth menangis. "Haruskah aku memeriksakan kehamilanku?" tanyanya pada Amara.
"Tentu. Si bayi harus sehat, 'kan?"
"Entahlah, Amara, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan pada bayi ini. Mengatakan bahwa aku tidak menginginkannya terasa begitu kejam, tapi aku memang tidak menginginkannya."
Amara diam saja. Ia mengerti bagaimana perasaan Anneth sekarang. Mengandung tanpa memiliki suami pastilah berat, terlebih lagi kehamilannya disebabkan oleh sebuah tindak pelecehan seksual oleh seseorang yang benar-benar asing bagi Anneth.
"Sus!" Pelangi membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Napasnya terengah-engah karena berlarian dari teras di lantai satu hingga ke kamar Anneth di lantai dua.
"Pelangi. Kamu dari mana? Apa kamu habis marathon? Lihatlah kamu berkeringat," tanya Amara.
Pelangi menggeleng. "Tidak. Aku dari teras dan aku bertemu ayah di sana. Ayah bilang kalau ... dokter baru saja datang dan kembali ... ayah memberitahuku kalau ... maksudku--"
"Aku hamil." Anneth menyelesaikan kalimat yang tidak bisa Pelangi ucapkan. "Aku hamil anak haram."
"Shuut!" Pelangi menghampiri Anneth dan duduk di tepi ranjang. "Jangan katakan hal itu. Kenapa kamu kejam sekali. Bayi itu tidak bersalah, Sus."
"Panggil aku Anneth saja. Aku bukan Suster sekarang," ujar Anneth, sembari menyeka air matanya yang mulai mengalir deras.
Pelangi mengangguk, lalu menyentuh pundak Anneth. "Kami ada bersamamu. Jangan sedih."
"Bagaimana aku tidak sedih. Aku terpuruk, Pelangi, sangat terpuruk. Apa kata orang jika aku melahirkan tanpa seorang suami, dan pria mana yang mau menikah dengan wanita hamil sepertiku sesegera mungkin? Aku rasa tidak ada, benar?"
Pelangi diam sejenak, kemudian ia berkata dengan hati-hati, takut jika perkataannya menyinggung dan malah menyakiti Anneth. "Apa kamu akan mengatakan kepada Arya tentang kehamilanmu?"
"Tentu tidak! Apa kamu pikir aku ini Gila!Setelah semua yang dia lakukan padaku, aku tidak akan membiarkan dia merasa menang. Aku tidak akan memberitahunya bahwa usahanya untuk memperoleh keturunan akhirnya berhasil. Sama sekali tidak akan kuberitahu. Pria sialan itu benar-benar kejam. Dia menghancurkan hidupku dalam sekejap. "
"Oke, jika itu keputusanmu kita harus merahasiakan semua ini dengan sangat rapat. Aku yakin Arya masih mencari keberadaanmu hingga sekarang, dan jika dia tahu kamu tinggal di sini, dia pasti akan mengirim orangnya untuk mengawasi rumah ini."
"Benar, dan jika Arya tahu kalau Anneth hamil, maka dia pasti akan berusaha untuk merebut bayi Anneth bagaimanapun caranya." Amara menimpali. "Mereka itu orang-orang kaya yang pasti akan melakukan apa pun sesuka mereka bahkan dengan cara keji sekali pun."
Pelangi mengangguk. "Aku akan bicara pada semua orang termasuk pelayanan, sekuriti dan tukang kebun agar tidak bicara pada sembarang orang kalau kamu tinggal di sini," ujar Pelangi. "Sekarang beristirahatlah, aku akan mengatur jadwal agar dokter obgyn dapat datang untuk memeriksamu besok."
Anneth diam saja. Melihat Pelangi begitu antusias, entah kenapa ia merasa tenang dan bahagia, tetapi tetap saja ia tidak ingin melahirkan dan merawat bayinya. Sama sekali tidak.
***
Pelangi keluar dari kamar Anneth bersama dengan Amara. Keduanya melangkah menuju perpustakaan pribadi yang ada di rumah besar itu.
"Bisa temani aku sebentar?" tanya Pelangi pada Amara.
"Tentu. Apa yang tidak akan kulakukan demi dirimu wahai tuan putri." Amara menjawab sembari tersenyum lebar.
Pelangi tersenyum masam. Ia sedang tidak ingin bercanda sekarang, pikirannya sungguh campur aduk dengan segala macam hal yang membuatnya sakit kepala.
"Sepertinya ada masalah yang serius sekali," tebak Amara, begitu mereka telah tiba di perpustakaan.
Pelangi mengangguk, laku memilih duduk di salah satu kursi. Amara melakukan hal yang sama. Ia memilih kursi yang berhadapan dengan kursi yang Pelangi duduki.
"Jadi, katakan padaku apa ada masalah serius selain masalah yang tengah dihadapi Anneth?" tanya Amara.
Pelangi menggeleng. Ia merasa tidak pantas membahas masalah Delia dan Andrew, karena itu adalah masalah rumah tangga mereka dan ia tidak berhak ikut campur apalagi menceritakannya ke Amara.
"Tidak ada masalah penting sebenarnya. Justru aku ingin membicarakan tentang kehamilan Anneth sekarang ini. Aku ingin menanyakan bagaimana pendapatmu tentang sesuatu."
Amara terlihat mulai penasaran. Ia menautkan alisnya dan tidak mengalihkan pandangan dari Pelangi. "Sesuatu itu apa tepatnya?" tanyanya.
"Apa menurutmu Anneth akan merawat bayinya seorang diri tanpa kehadiran seorang suami?"
Amara terkejut. Ia menegakkan duduknya dan menatap Pelangi dengan mata melotot. "Jangan bilang kalau kamu berencana untuk menjadikan Anneth istri kedua Gilang?"
Pelangi memukul Amara dengan bantal sofa. "Kamu gila? Mana mungkin aku rela berbagi suami!"
"Ah, syukurlah. Aku juga tidak setuju dengan gagasan itu."
Pelangi mengangguk. "Aku berniat untuk mengadopsi bayinya saat bayi itu lahir bagaimana?"
Bersambung.