
"Gisela?" tanya Andrew, sambil mengernyitkan dahi
"Ya, Gisela. Apa kamu kenal? Ah, tapi sepertinya tidak. Ada banyak nama Gisel di dunia ini. Gisel sahabatku, belum tentu Gisel yang kamu kenal." Delia menarik kesimpulan sembari tersenyum manis. Senyum yang menawan menurut Andrew. Walaupun wajah Delia tidak secantik Pelangi, tetapi ada sesuatu dalam diri gadis itu yang membuat Andrew ingin terus menatapnya.
"Oh, ya, boleh aku menanyakan sesuatu?" tanya Delia lagi.
"Tidak. Jangan banyak bertanya dan tidurlah di kamar." Exel muncul dari dapur sambil menutul-nutulkan obat merah di sudut bibirnya menggunakan kapas. Pria itu telah berganti pakaian yang lebih bersih dan mencuci wajahnya, sehingga ia terlihat sangat tampan walaupun wajahnya selalu cemberut.
"Kebetulan kamu datang. Duduklah di sampingku. Aku sungguh penasaran apa yang kali ini membuatmu bertengkar dengan seseorang lagi," ujar Delia, sambil menepuk-nepuk sofa di sebelahnya.
Exel menurut, pria berambut gondrong itu lantas memilih untuk duduk di samping Delia, kemudian menatap gadis itu lekat-lekat.
"Jangan tatap aku seperti itu, seolah aku akan mati besok." Delia menutup mata Exel dengan telapak tangannya. Ia tidak suka ditatap dengan penuh rasa iba, karena hal itu akan mengingatkan dirinya bahwa ia adalah manusia yang tidak berdaya, dan ia benci pada fakta itu.
Exel segera menepis tangan Delia dan bertanya, "Bagaimana keadaanmu setelah ditendang olehnya?" Exel mendelik ke arah Andrew.
Mendengar pertanyaan Exel, Andrew menjadi tidak enak. "Aku kan tidak sengaja." Andrew membela diri.
"Sengaja atau tidak, tetap saja kamu telah menyakitinya," ujar Exel dengan sengit.
"Ngomong-ngomong masalah menyakiti seseorang. Aku ingin bertanya padamu. Kenapa kamu menyakiti Pelangi dan siapa yang memerintahkanmu? Aku jauh-jauh datang kemari setelah melacak keberadaanmu, aku harap kamu memberikan jawaban yang benar dan jangan mengarang apa pun."
Exel menggelengkan sedikit kepalanya agar Andrew tidak mengatakan lebih jauh apa yang telah terjadi. Namun, Andrew seolah tidak mau mengerti. Ia tidak peduli pada apa pun, termasuk pada keberadaan Delia di hadapannya.
"Pelangi hampir mati. Dia kritis dan kehilangan banyak darah. Dia harus dirawat selama satu minggu di rumah sakit karena perbuatanmu. Beruntung dia dan bayinya selamat, jika tidak, aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu,” ujar Andrew lagi, dengan suara yang gemetar karena menahan amarah.
Sebenarnya tangan Andrew sudah gatal, ia ingin segera menghajar Exel habis-habisan hingga pria itu pergi ke neraka. Namun, tatapan kebingungan yang terlihat di kedua mata sendu Delia, membuat Andrew mengurungkan niatnya. Mata indah itu menurut Andrew, tidak pantas untuk melihat adegan kekerasan.
"Apa maksud perkataannya, Xel? Kamu telah mencelakai seseorang? Tapi kenapa?" tanya Delia, yang masih tidak habis pikir. Mana mungkin Exelnya dengan sengaja mencelakai seseorang, terlebih lagi orang itu sedang hamil. Exel tidak sejahat itu.
"Hmm, tidak ada apa-apa, Del. Ini semua hanya salah paham. Ayo, aku antar kamu ke kamar." Exel bangkit berdiri, kemudian membantu Delia untuk berjalan menuju kamarnya. Walaupun pada awalnya gadis itu menolak, tetapi Exel adalah tipe pria yang tidak suka dibantah. Ia tetap memaksa Delia untuk pergi ke kamar, karena ia tidak mau jika Delia lebih banyak mendengar apa yang akan Andrew katakan.
Setelah Delia berada di dalam kamar, Exel kembali menghampiri Andrew, dan tanpa menunggu lagi, Andrew langsung bangkit berdiri dan melayangkan satu bogem mentah di wajah Exel.
Exel meringis kesakitan. Namun, ia tetap tidak membalas perbuatan Andrew, sama seperti sebelumnya.
"Jika bukan karena gadis tadi, aku pasti sudah akan menghabisimu!" desis Andrew, setelah ia puas menghajar Exel, sambil mencengkram kuat kerah pakaian Exel.
"Terima kasih kalau begitu, karena kamu masih memikirkan perasaan Delia. Bukannya aku mau menjadikannya tameng sebagai pelindungku, tapi pada kenyataannya, Delia memang tidak memiliki siapa pun lagi selain aku untuk sekarang ini." Exel menghela napas. "Aku tahu aku salah. Aku minta maaf, dan perlu kamu ketahui bahwa aku sangat menyesal. Tidak masalah jika hanya nyawakulah yang bisa menebus semua rasa bersalahku pada Pelangi, tetapi sebelum itu aku harus memastikan dulu di mana Delia akan tinggal setelah kematianku. Hanya dia yang kupikirkan sekarang ini."
Andrew melepas cengkraman tangannya pada kerah pakaian Exel, lalu mendorong pria itu hingga jatuh tersungkur di lantai. "Katakan saja padaku kalau begitu, atas perintah siapa kamu melakukan perbuatan sialanmu itu?"
Exel diam saja, membuat Andrew berang. Andrew membungkuk, lalu kembali mencengkram kerah pakaian Exel. "Katakan padaku, jika tidak, aku akan memberitahu gadis tadi apa pekerjaanmu."
Exel terlihat terkejut begitu mendengar ancaman dari bibir Andrew.
"Jangan memasang tampang bodoh seperti itu, Gondrong. Aku tahu semua tentangmu, sebelum aku datang kemari untuk mencarimu, aku mencaritahu latar belakangmu terlebih dahulu. Kamu adalah seorang pembunuh bayaran yang profesional. Kamu sudah membunuh lebih dari belasan orang. Apa kamu tidak malu, berpura-pura menjadi orang baik di depan gadis tadi, padahal kamu adalah sampah di dunia ini."
Pintu kamar yang tadinya tertutup rapat mendadak terbuka, dan Delia muncul dengan wajah yang sepucat batu karang paling pucat di lautan. Kedua matanya merah dan berair, tangannya gemetar, berpegangan pada daun pintu yang masih mengeluarkan suara derit.
"Apa aku tidak salah dengar? Pembunuh bayaran? Apa maksudnya pembunuh bayaran, Xel? Bisakah jelaskan sedikit saja padaku bahwa semua itu tidak benar. Tidak benar, 'kan?" desak Delia.
Exel mendorong Andrew yang masih mencengkram kerah pakaiannya, lalu ia segera menghampiri Delia dan menahan tubuh gadis itu agar tidak terjatuh. "Kenapa keluar? Aku kan sudah memintamu untuk tidur, Del."
Delia menepiskan tangan Exel dengan kasar, lalu ia mulai menangis. "Bagaimana bisa kamu melakukan pekerjaan itu, Xel? Bagaimana bisa kamu menghilangkan nyawa orang lain hanya demi uang?! Jangan bilang kalau kamu melakukan semua itu untuk pengobatanku, untuk biaya rumah sakitku. Bukan seperti itu, ’kan?"
Exel diam saja, ia hanya menatap Delia tanpa mengatakan sepatah katapun. Melihat Exel tidak bereaksi atau membela diri, Delia menjadi histeris. Tiba-tiba saja ia membenci nyawa yang masih menempel di tubuhnya hingga saat ini. Jika ia tahu bahwa setiap perawatan terbaik yang didapatnya di rumah sakit adalah hasil dari mengorbankan nyawa orang lain, ia tidak akan mau melakukan semua perawatan itu. Lebih baik ia mati.
Delia mengacak rambutnya dengan frustrasi, lalu menangis histeris hingga tubuhnya perlahan merosot dan ia pun jatuh tak sadarkan diri.
Melihat tubuh Delia yang mulai limbung, Andrew dengan cepat berlari ke arah gadis itu dan menahan agar tubuh Delia tidak menghantam lantai yang keras di bawahya. "Dia pingsan," ujar Andrew.
Exel panik, ia berusaha menyadarkan Delia dengan mengguncang tubuh gadis itu. Namun, tidak ada respon. "Kita harus membawanya ke rumah sakit."
Andrew mengangguk. "Mobilku terparkir di jalan utama. Memang agak jauh dari sini, tapi aku bisa menggendongnya."
Exel mendorong Andrew dan mengambil alih tubuh Delia yang tak sadarkan diri. "Biar aku yang gendong dia. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, maka aku tidak akan segan-segan mengambil nyawamu untuk menggantikan nyawanya!"
***
Suasana hati Pelangi sedang berada di tingkat yang bisa dikatakan sangat baik. Bagaimana tidak, jika Gilang memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Setelah memandikan Pelangi bak memandikan seorang bayi, Gilang meminta Pelangi untuk berpikir apa yang ingin dibeli oleh gadis itu. Gilang bahkan mengatakan, jika Pelangi meminta bulan dan bintang sekali pun, pasti akan dibelinya. Gombal yang sangat murahan menurut Pelangi, tetapi tetap dapat membuat hatinya berbunga-bunga.
Pelangi menghentikan kegiatannya, lalu berpikir sejenak. "Perlengkapan bayi saja, bagaimana?"
"Apa tidak terlalu cepat?" tanya Gilang. "Perutmu bahkan belum terlalu buncit, kita juga tidak tahu jenis kelaminnya laki-laki atau perempuan."
Pelangi berbalik agar dapat bertatapan langsung dengan Gilang. "Tapi aku ingin beli. Saat pergi ke pusat perbelanjaan beberapa waktu lalu bersama dengan Amara, aku melihat banyak sekali perlengkapan bayi yang lucu-lucu di baby shop. Sebenarnya saat itu aku ingin beli, karena kartu kreditmu sampai ATM-mu semua ada padaku. Tapi, di saat yang bersamaan, aku juga ingin kamu menemaniku ketika aku membeli semua perlengkapan bayi itu. Makanya aku tidak jadi beli," ujar Pelangi dengan bibir mencembik, membuat Gilang gemas setengah mati.
Gilang mencubit kedua pipi Pelangi dengan gemas. "Baiklah, baiklah tuan putri. Mari kita pergi ke baby shop kalau begitu. Kita beli semua yang kamu inginkan, bahkan kalau perlu kita beli tokonya juga."
Pelangi tergelak. "Punya suami kaya raya memang menyenangkan," teriak Pelangi, lalu keluar dari kamar sambil bergandengan tangan dengan Gilang.
Pelangi dan Gilang menuruni tangga, lalu menuju ruang makan. Aroma lezat yang berasal dari meja makan memancing Pelangi untuk segera mendekat. Selain karena perutnya yang sudah sangat lapar, ia juga terkesima karena ia tak lagi merasakan mual saat mencium aroma masakan yang begitu menyengat.
Farhan tersenyum saat melihat menantu tersayangnya memasuki ruang makan. Senyumnya semakin semringah saat dilihatnya Gilang mengekor di belakang Pelangi.
"Kalian terlihat berbeda hari ini? Apa kalian sudah baikan?" tanya Farhan, sembari terkekeh.
Pelangi tidak menjawab pertanyaan Farhan Andreas, ia hanya tersenyum lalu menarik kursi tepat di sebelah Farhan. "Maafkan aku, karena semalam aku meninggalkan Ayah begitu saja di taman belakang."
"Tidak masalah, Nak, toh ada Suster An, dan tidak lama setelah kamu masuk, Toni juga datang kemari."
"Syukurlah, Ayah jadi tidak merasa kesepian," ujar Pelangi lagi.
"Tidak terlalu kesepian lebih tepatnya. Aku yakin, hari-hari tuaku pasti akan lebih menyenangkan setelah cucuku lahir." Farhan kembali tersenyum.
"Sabar, Ayah, aku pasti akan melahirkan lima cucu untuk Ayah." Pelangi melirik Gilang sambil mengedipkan matanya. Ia sengaja melakukan hal itu, karena Suster An yang duduk di seberang Farhan, terus menatap Gilang tanpa henti. Seperti seekor predator yang siap menerkam mangsanya.
Gilang yang merasa bahwa Pelangi sedang memancingnya, membalas kedipan mata Pelangi dan berkata, "Aku akan dengan senang hati mencetak anak setiap malam bersama denganmu, Sayang."
Mendengar ucapan Gilang, Suster An langsung memasang wajah cemberut dan segera meletakkan sendoknya tanpa berhati-hati, membuat kuah sup yang masih ada di mangkuknya terciprat ke mana-mana.
Pelangi tersenyum puas melihat ekspresi Suster An.
"Oh, ya, Gil, apa agendamu akhir pekan nanti?" tanya Farhan.
Gilang menggeleng. "Belum ada agenda apa pun. Ada apa?"
"Bagaimana kalau kita berkemah saja. Sudah lama sekali kita tidak berkemah, bukan?" Farhan Andreas memberi usul. Ia dan Gilang memang rutin melakukan kegiatan di alam terbuka setiap akhir pekan dalam beberapa bulan sekali. Kegiatan itu terhenti sejak Farhan sering mengalami sakit, ditambah lagi dengan sibuknya Gilang dengan Gisel, lalu Andrew yang semakin hari semakin menjaga jarak darinya. Terkadang Farhan hanya melakukan kegiatan itu dengan Tito, entah mendaki gunung atau memancing di danau. Namun, apa gunanya pergi memancing dan mendaki jika tidak ada satu pun putranya yang turut serta.
Mendengar usul dari Farhan, Pelangi terlihat antusias. Ia meletakan sendok dan menatap Farhan dengan penasaran. "Berkemah yang Ayah maksud apakah berkemah seperti anak-anak pramuka?"
Farhan Andreas mengangguk. "Ya, seperti itulah. Akan ada api unggun, barbeque, hiking, berenang di danau dan memancing."
"Wah, keren sekali."
"Ya, memang keren, tapi makanlah sambil menyimak, Sayangku, jika tidak nanti makanannya keburu dingin." Gilang menyuapkan sesendok penuh nasi dengan kuah sup daging ke dalam mulut Pelangi.
Pelangi melempar kecupan jauh untuk Gilang, setelah pria itu menyuapinya. Sementara Gilang melakukan gerakan seperti sedang menangkap kecupan dari Pelangi dan menyimpannya di dalam saku celana.
"Iish, lebay," gerutu Suster An. Namun, tidak dihiraukan oleh Gilang dan juga Pelangi. Akan tetapi, Farhan Andreas diam-diam memperhatikan prilaku Suster An yang menurutnya sangat aneh.
"Tahukah Ayah, dulu sekali saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, aku sangat ingin ikut berkemah, tetapi ayah dan ibu melarang," ujar
Pelangi setelah menelan makanannya.
"Benarkah? Lalu kenapa tidak ikut berkemah jika memang ingin, apa masalahnya?" Gilang yang bertanya, karena sang ayah terlihat sedang sibuk menyuapkan kuah sup ke dalam mulutnya.
"Tentu saja karena masalah biaya, memangnya karena apa lagi?! Bagi siswi sepertiku, bisa ikut kegiatan belajar setiap hari saja sudah beruntung. Karena kegiatan ekstrakurikuler membutuhkan biaya tambahan. Selain uang iuran, ada beberapa peralatan yang harus kumiliki. Itulah sebabnya aku hanya bisa memendam keinginan." Pelangi menjelaskan dengan polos seperti biasanya, khas Pelangi.
Gilang menyentuh puncak kepala Pelangi dengan lembut, ia merasa iba akan kisah Pelangi, dan ia juga yakin sekali jika apa yang Pelangi katakan adalah hal yang sebenarnya, bukanlah rekayasa. "Di mana aku saat itu. Seandainya saja kita sudah saling mengenal, aku mungkin akan meminjamkanmu uang."
Pelangi meraih tangan Gilang yang masih berada di puncak kepalanya, lalu mengecup punggung tangan pria itu. "Kenapa hanya meminjami, seharusnya kamu berikan saja dengan cuma-cuma, toh ternyata saat aku dewasa, kita berjodoh."
Farhan terkekeh mendengar ucapan Pelangi. "Seandainya kita semua bisa membaca masa depan. Aku pun tidak akan membuatmu menderita, Nak."
Pelangi dan Gilang memusatkan perhatiannya pada Farhan. Keduanya terlihat bingung pada kalimat yang Farhan ucapkan.
"Maksud Ayah?" tanya Pelangi.
Bersambung ....